krimping luar biasa


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Blogger Bicara Ayah #11

 

Masa remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Dalam fase ini, jika tidak hati-hati, bisa membuat seseorang terjatuh ke dalam jurang kegagalan. Sebab, kelabilan jiwanya mendominasi dirinya. Orang-orang terdekatnya seharusnya mafhum dengan kondisi itu dan membantu si remaja untuk bisa melewati masa-masa kritis itu dengan baik.

Seorang blogger asal Medan yang berprofesi sebagai dokter sekaligus dosen di salah satu universitas di sana, pernah mengalami kegagalan masa remaja. Pemberontakan dan pencarian jati diri yang dilaluinya itu telah mengarahkannya ke jalan yang salah. Namun, ia beruntung memiliki seorang ayah yang sangat arif bijaksana. Kegagalan yang ia hadapi, disikapi dengan baik oleh sang ayah. Dengan sikap sang ayah itulah, ia akhirnya bangkit dan menjadi perempuan hebat seperti sekarang ini.

Hemma Yulfi itu nama aslinya, tapi di jagat maya ia lebih dikenal sebagai Marshmallow, pemilik blog http://hemmayulfi.blogspot.com. Kali ini ia akan bercerita tentang sebuah fase penting dalam hidupnya, yang mana fase itu ia lalui dengan baik berkat kearifan ayahnya.


Hemma Yulfi a.k.a Marshmallow a.k.a Siti Rahmah :D

Penasaran dengan ceritanya? Mari kita simak bersama…

===========================================

Krimping Luar Biasa
Oleh: Hemma Yulfi

 

Aku pernah marah pada Ayah. Karena di-PHK.

Aku ingat sekali masa-masa itu. Aku baru masuk SMP. Sore hari sepulang sekolah aku mendapati Ibu sedang menangis di dapur. Beliau mengajakku berbicara serius. “Ayah kena krimping…” kata beliau di sela derai air matanya. Krimping adalah istilah lain buat PHK, pemutusan hubungan kerja.

Sebagai anak yang baru beranjak remaja aku masih naif. Aku tahu bahwa PHK artinya Ayah tidak bekerja lagi, namun tidak terlalu dapat mencerna dampaknya lebih lanjut. Aku hanya berpikir bahwa orang dewasa pasti akan selalu dapat menemukan cara untuk mencari nafkah. Itu kan kemampuan alamiah, instingtif. Jadi saat Ibu menangis aku hanya merenung, bingung kenapa aku tidak ikut menangis.

Kekuatiran mengenai PHK sebenarnya sudah terdengar selama beberapa bulan terakhir, sejak kota tempat ayahku selama ini bekerja sudah tidak aman lagi karena ancaman gerakan pengacau keamanan. Selama 5 tahun terakhir Ayah memang bekerja di kota lain. Penghasilan Ayah di perusahaan tambang minyak asing lumayan baik, sehingga orang tuaku yang selalu hidup sederhana itu mampu membangun rumah yang layak dan membeli kendaraan dari hasil pekerjaan Ayah selama ini. Walaupun tidak mewah, namun sebagai anak kami dapat merasakan hidup yang berkecukupan.

Kehidupan yang serba cukup dalam waktu yang singkat itu ternyata telah membuat aku manja. Aku yang semula masih menyangkal bahwa ekonomi keluarga akan mengalami goncangan akhirnya sadar bahwa hal itu memang tak terelakkan. Dengan modal dana pesangon yang tak seberapa Ayah dan Ibu mulai berusaha mandiri untuk mencari nafkah. Karena latar belakang keduanya hanyalah asisten apoteker, maka orang tuaku membuka toko obat kecil. Tokonya hanya mampu disewa per tahun.

Toko obat kecil itu tak akan cukup memenuhi kebutuhan kami sehari-hari tanpa usaha sampingan lainnya. Usaha semacam ini bersaing ketat dengan apotek dan warung yang juga menjual obat bebas. Ayah harus mencari tambahan penghasilan, yakni dengan menyewakan mobil kami dan menjadi supir. Sebutannya adalah taksi gelap, yakni kendaraan pribadi yang disewakan tanpa lisensi. Ibu sendiri membantu menambah penghasilan dengan membuat kacang goreng yang dititipkan di warung-warung. Karena dikerjakan sendiri, jumlah produksinya tentulah sangat terbatas.

Sebagai supir taksi gelap pekerjaan Ayah cukup berisiko. Tak jarang aku mendengar kisah tragis teman-teman Ayah yang dirampok saat mengantar sewa, kendaraannya dilarikan, bahkan supirnya dibunuh. Tapi pekerjaan apa pun pasti ada risiko, jadi jalani saja sambil tak putus meminta perlindungan Allah, begitu kata ayahku selalu menenangkan keluarganya.

Selama ini kami terbiasa dengan keberadaan Ibu 24 jam di rumah bersama kami ketiga anaknya. Namun tugas baru Ibu menunggui toko obat kecil itu membuat beliau hanya ada di rumah pada malam hari. Aku yang beranjak remaja dan baru mengenal kehidupan SMP seolah hilang kendali. Karena kebetulan aku bersekolah siang hari, maka tanpa Ibu yang mengingatkan, aku kerap ketiduran di rumah sehingga terlambat dan akhirnya bolos sekolah. (Hei, dulu belum ada telepon genggam. Telepon rumah pun kami bahkan belum punya.)

Oh, kehidupan di SMP ternyata sungguh menarik. Bertemu teman-teman baru, kebiasaan baru, dan semuanya gaya! Hebat sekali rasanya berseragam putih biru. Di antara teman-teman bahkan banyak yang sudah bisa mengendarai sepeda motor, perempuan maupun lelaki. Mereka datang dengan cerita-cerita yang hebat tentang petualangan mereka sebagai remaja gaul.

Saat itulah aku marah pada Ayah. Kenapa harus di-PHK?! Itu kan sama saja artinya dengan menjadikanku pecundang di kalangan komunitas yang hebat ini. Coba kalau Ayah masih tetap bekerja dengan penghasilan lumayan, saat ini aku mungkin sudah mengendarai sepeda motor juga, berpakaian bagus, memiliki tas dan sepatu model terkini, dan punya uang saku yang lumayan buat jajan di kantin sekolah setiap hari.

Singkat cerita, aku benar-benar terbawa kehidupan ABG yang labil. Aku yang selama ini dikenal sebagai anak baik dan murid berprestasi lepas kendali. Aku berteman dengan orang-orang super cool. Mereka punya segudang cerita menarik, dan aku akan menceritakan cerita itu kepada orang lain sebagai kisahku. Peduli setan, siapa juga yang bakal tau? Aku sibuk berusaha menjadi pribadi yang keren di komunitas yang aku ikuti.

Di lingkungan rumah aku berteman dengan anak-anak yang beberapa tahun lebih tua usianya dariku. Oh, gadis-gadis SMA ini bahkan lebih hebat lagi. Mereka sudah pula berpacaran. Dan seorang kakak yang sering kutemani ini suka sekali bercerita tentang masa-masa indah pendekatan alias PDKT dengan calon pacar. Sepertinya berpacaran itu seru!

Aku berhasil menjadi remaja yang gaul, setidaknya aku pikir demikian. Aku bolos sekolah, suka nongkrong di kantin, jajan di mall, dan berkenalan dengan cowok. (Untung saja pada zamanku dulu belum lazim dikenal momok narkoba seperti sekarang) Modal gaulku berasal dari uang sekolah atau pembayaran buku-buku yang tidak aku setor atau minta beberapa kali kepada orang tua. Ah, paling berapa sih? Walaupun sedang susah, tak mungkin orang tuaku bangkrut hanya karena uang beberapa ratus ribu rupiah.

Nilai raporku menurun drastis. Ralat: berangsur-angsur menurun tiap caturwulan hingga nyungsep di akhir tahun. Setiap kali orang tua mempertanyakan, pasti aku menyalahkan pelajaran yang sulit dan guru yang sering mangkir.

Karena tertunggak SPP berbulan-bulan serta uang pembayaran buku aku akhirnya terancam tidak dapat ikut ujian. Nyatanya, aku memang tidak ikut ujian. Sudah jelas nilai raporku terbakar semua dan aku dinyatakan tinggal kelas.

Ayah yang mengambil rapor waktu itu. Ayah yang tidak pernah menyangka bahwa putri sulungnya yang selama ini penurut dan selalu dikenal sebagai bintang kelas bisa berlaku begitu nakal.

Karena takut aku malah lari saat pengambilan rapor. Ke mana? Aku tidak tahu. Aku hanya ingin lari, menjauh dari Ayah dan Ibu dan keluargaku yang pasti sangat kecewa. Keputusan yang salah pastinya, karena betapa pun seorang anak sudah mengecewakan keluarganya, tak kan pernah orang tua membencinya.

Singkatnya aku kembali ke rumah. Aku tak mampu memandang Ibu dan Ayah. Barisan dosa terbayang di hadapanku. Dosa kepada kedua orang tua yang sudah begitu hancur hatinya kuperlakukan seperti ini. Aku sungguh telah durhaka tidak menghargai usaha mereka yang tak kenal lelah demi memberikan penghidupan yang layak bagi keluarganya. Namun apa balasanku? Hanya setahun merasakan hidup serba terbatas karena ayah di-PHK, lantas aku lupa bahwa sesungguhnya aku masih jauh lebih beruntung ketimbang anak-anak lain yang mungkin orang tuanya tak punya penghasilan sama sekali? Bagaimana dengan anak-anak yang hidup di jalanan, di kolong jembatan, di pinggir rel kereta api, yang tidak bisa makan dengan layak, apalagi bermimpi untuk bersekolah?

Menjelang tahun ajaran baru Ayah memberikan pilihan: tetap di sekolah lama atau pindah ke sekolah lain?

Sekolah lama adalah sekolah negeri yang sudah pasti biayanya jauh lebih murah ketimbang sekolah swasta. Namun tetap tinggal di sekolah itu pasti akan berat menghadapi teman-teman lama yang tetap naik kelas. Pindah ke sekolah swasta akan menghindarkan aku dari masalah tersebut, namun apakah aku masih tega merongrong orang tuaku dengan bersekolah di swasta yang pastinya mahal? Dilema.

Ayah tidak mendesak. Beliau membiarkanku berpikir dan memutuskan sendiri. Penyesalan sepertinya sudah sangat jelas terpancar dari diriku, dan bijaksananya orang tuaku adalah memberiku keleluasaan berpikir, memberi ruang. Aku diajak berbicara dari hati ke hati tanpa tekanan. “Kami tidak menyalahkanmu. Petik pelajaran dari pengalaman berharga ini. Ini adalah proses pendewasaanmu,” begitu kata-kata Ayah kepadaku.

Tepat seminggu sebelum tahun ajaran baru aku datang kepada Ayah dan Ibu. “Saya akan tetap bersekolah di sana, saya tidak akan pindah.”

Pada awalnya mereka kaget dan menanyakan kesungguhanku, tapi tekadku sudah bulat. Aku tidak akan bersembunyi. Aku akan hadapi konsekuensi perbuatanku dengan tetap bersekolah di tempat lama sebagai anak tinggal kelas, namun dengan semangat baru.

Ayah tersenyum mendengar keputusanku. Aku ingat melihat mata lelahnya berkaca-kaca saat menarikku ke dalam pelukannya.

Walaupun berat pada mulanya, tetapi aku berhasil menjalani tahun pertama sebagai anak tinggal kelas dengan mulus. Aku malah mendapat juara kelas dan juara umum sekolah, berganti-ganti dengan dua orang teman lain yang cemerlang, hingga aku menamatkan pendidikan di SMP. Aku benar-benar ingin menghapus jejak hitam tahun pertama bersekolah di sana dengan menoreh prestasi sebaik mungkin.

Aku melanjutkan ke SMA tetap dengan semangat belajar menggebu.

Sebagian karena ingin membahagiakan orang tua yang pernah kusakiti dan kecewakan, aku berusaha keras dapat memenuhi keinginan mereka masuk fakultas kedokteran. Berkat dorongan Ayah pula aku berhasil lulus saringan masuk PTN. Dan apabila saat ini aku mengecap kenikmatan menjalani profesiku, itu semua berkat Ayah dan Ibu yang tak putus-putus memotivasi, mendorong, dan memercayaiku. Pengalaman terbaik adalah saat aku berhasil “membangunkan” Ayah dari renjatan saat serangan stroke, berbekal pengetahuanku sebagai mahasiswa kedokteran tingkat akhir pada saat itu. Tak akan kulupakan bagaimana wajah Ayah yang berseri saat mengetahui apa yang terjadi. “Ayah bahagia kamu yang menyelamatkan Ayah,” katanya lirih setelah sadar dari renjatannya.

Tidak, Ayah. Ayahlah yang telah menyelamatkanku. Apabila Ayah bukan seorang yang bijaksana menyikapi kebandelan masa remajaku, mungkin aku bukan siapa-siapa saat ini.

Saat ini Ayah sudah tiada. Beliau meninggal dunia tanpa meninggalkan harta warisan yang melimpah. Tetapi warisan ilmu, pendidikan dan keberanian menghadapi tantangan hidup adalah bekal yang jauh lebih berharga yang kami terima. Terima kasih, Ayah. Terima kasih telah menjadi ayah yang begitu luar biasa. ***

===========================================

Luar biasa bukan? Ternyata, ketidaksetujuan ayah akan sikap anaknya tidaklah mesti ditunjukkan dengan suara tinggi ataupun tenaga keras. Tatap mata dan suara teduh dengan nada rendah serta jelas dan tegas, sesungguhya jauh lebih dahsyat ketimbang teriakan ataupun makian. Anda punya pendapat? :)

.

Tulisan kesebelas dari acara “Baralek Gadang”, klik di sini untuk melihat daftar tulisan dalam acara ini


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

48 comments on “krimping luar biasa

  1. benar komentar da Vizon. Tatap mata dan suara teduh dengan nada rendah yang jelas da tegas jauh lebih dahsyat ketimbang suara garang dan roman wajah sangar. Tapi baru tahu nih, uni Hemma pernah tinggal kelas? Ah, apa iya sih?

    • Tidak percaya ya Da Zul kalau Uni Hemma pernah tidak naik kelas? Saya juga berkali-kali mencoba mempercayainya, dan ternyata itu memang benar adanya. Justru di situlah inspirasi utamanya dari kisah ini… :)

  2. Subhanallah…
    Terharu banget saat membacanya…
    Sungguh warisan ilmu jauh lebih bermanfaat dan bermakna dibanding harta yang melimpah.

    • Benar sekali Kak…
      Warisan tersebut takkan pernah susut apalagi hilang, justru semakin ia diwariskan, semakin ia bertambah dan menggunung.. :)

  3. Kisah yang luar biasa…Aku semakin yakin, di setiap sosok sukses, ada kisah di baliknya yang membuat orang tsb berubah dan menjadi sangat termotivasi. Mantappssss

  4. Beruntungnya punya pengalaman yang luar biasa dalam hidup dan punya Ayah yang tidak hanya sabar tapi sabar luar biasa yang selalu ada saat mbak jatuh. Tulisan mba sangat inspiratif. Tapi seperti yg lain: masa iya sih mba pernah tinggal kelas, hehehe

  5. Sangat menarik! Saya membaca sambil membayangkan masa lalu itu. Kalau memang ini suatu hal yang pernah terjadi. Saya salut dengan Ibu Dokter. Kenapa? Karena beliau tidak pengecut, pindah sekolah karena malu. Namun, tetap disana dan akhirnya keluar menjadi pemenang.

    Ternyata memang seorang pemenang selalu merasakan “cambukan” sebelumnya. Terima kasih untuk uda vizon yang udah publish dan terima kasih untuk uni hemma yang sudah mau berbagi. Sangat bermanfaat buat saya sebagai “cambukan” juga.

    • Setiap orang punya masalah, Cat.. Tapi, yang membuatnya berbeda adalah, bagaimana menyikapi masalah itu. Apakah menangisinya atau menjadikannya tantangan untuk menjadi lebih baik. Dan, ternyata Uni Dokter kita ini telah berhasil menjadikannya tantangan, sehingga jadilah ia seperti sekarang.. :)

      Btw, Catra mau saya cambuk? hahaha…. :D

  6. dari hari pertama baralek gadang Bundo ndak pulang-pulang gara2 nungguin hidangan dari Siti Rahmah ko ha.. :P

    hmm, siti rahmah dulu anak nakal..? bundo gak kaget tuh :D

    senang membaca tulisan ini, hemma.
    buat Inyiak, sukses yaaa..!

    • Bundo galia mah…. Hidangan si Siti se nan ka dikicok no… Nan lain lai lama lo no… hahaha… :D

      Terima kasih bundo…
      kapan-kapan bundo saya todong juga ya.. ;)

  7. Uni Siti Rahmah ini menurutku sudah layak menjadi Trainer dan Motivator untuk Super Teen. Pengalaman pribadinya sebagai anak yang tinggal kelas dan kemudian berubah menjadi sangat termotivasi hingga saat ini menjadi dosen dan dokter sungguh luar biasa. Melalui tulisan ini para remaja yang membacanya pasti akan memperoleh inspirasi. Dan akan lebih dahsyat lagi kalau Uni bisa keliling sekolah2 untuk memotivasi siswa2 yang putus asa dan bermasalah dengan perilaku dan nilai akademik. Mantap toh…..

    • Benar banget, bro…..
      Tapi aku khawatir beliau tidak punya cukup waktu untuk itu. Lha wong untuk menulis ini aja perlu ditongkrongin terus, kalau tidak, gak bakal kelar-kelar, hahaha…. :D

  8. “Kami tidak menyalahkanmu. Petik pelajaran dari pengalaman berharga ini. Ini adalah proses pendewasaanmu,”
    Untuk seorang Ayah yang mengatakan hal ini pada seorang siswa SMP, ini luar biasa…
    dan salutnya lagi … Ayah tersenyum mendengar keputusanku. Aku ingat melihat mata lelahnya berkaca-kaca saat menarikku ke dalam pelukannya

    kangennn uni dokterrr
    kapan kita makan pisang epek lagi :)
    Salut buat Ayah Uni n Uni

    • Ouw… sudah banyak yang curang ya…
      Ternyata si uni dokter ini sudah banyak kopdar dg para blogger. Sama saya gak pernah mau.. Baiklah, akan diatur siasat untuk bisa mengopdarinya, hahaha… :D

  9. Uni Melo … Uni Melo … Uni Melo …

    Tidak saya sangka perjalanan hidupnya begitu berwarna seperti ini …
    Saya sangat pujikan niat Uni untuk sharing cerita ini kepada kita semua …
    Sebuah cerita hidup yang berbuah sangat manis …
    romantika masa remaja … dengan segala pernak-perniknya …

    So … Anak-anak …
    Bagi mereka yang pernah tinggal kelas …
    This is not the end of the world …
    Bangkit …
    Raih cita-citamu kembali …

    Terima kasih Uni Melo

    and Once again …
    Terima kasih Uda Vizon yang telah memfasilitasi ini semua …

    Salam saya

      • And you know bro…
        Ada teman kita sesama alumni yang juga pernah tidak naik kelas. Tapi sekarang ia telah menjadi seseorang yang luar biasa…

    • Sama-sama Om…
      Ini sungguh melebihi espektasi saya…
      Terima kasih saya yang tak terhingga kepada semua yang telah menyumbangkan tulisannya di sini, termasuk Om Nh… :)

  10. Menyentuh sekali tulisannya…
    Kita kurang lebih sama… Papaku dipensiun dini waktu aku awal kuliah…

    Padahal, pada menyenangkan sebelumnya, aku terlanjur ‘jatuh’ sebagai anak mewah..

    Tapi ‘jatuh’ nya karir Papa waktu itu secara tak langsung malah menguatkanku.. hingga kini, hingga Papa telah tiada…

    • Dan kamu juga tak kalah luar biasanya, Don..
      Aku sudah dengar cerita itu dari mulutmu sendiri.
      Salut aku padamu… :)

  11. terima kasih sharing pengalamannya Uni, banyak pelajaran yg bisa dipetik

    sukses selalu buat Uni Dokter… oh ya.. kalo ada mahasiswanya yg tersendat-sendat.. suruh aja main ke barelek gadang di suraunya Uda Vizon ini…. pasti dapat motivasi baru :)

    salam,

  12. Uni Melo hebat….
    Sering kali memang orang hebat itu memiliki masa lalu yang bergejolak. Justru terlepas dari berbagai masalah itulah yang mematangkan mereka. Salut Uni Melo…

  13. Uni Melo …
    Perjalanan hidup Uni penuh warna ya? Pengalaman berharga seperti ini tak pelak lagi akan membuat seseorang menjadi pribadi yang kuat. Ayah pasti bangga sekali jika melihat Uni sekarang. Semoga beliau mendapatkan tempat yang sebaik-baiknya di sisi Allah SWT. Amiin …

    • Saya juga yakin seperti Bu Tuti, bahwa ayahnya Uni akan sangat bangga dengannya jika melihat apa yang telah dia capai sampai saat ini… :)

  14. Wouw uni, wouw…

    aku baca tulisan ini berulang-ulang, sekedar untuk juga menjadi cambukan untukku, bahwa tidak pernah ada kata terlambat jika kita ingin melakukan niat baik.

    makasih ya Uni udah sharing cerita ini.

  15. Un, sekarang masih bandel gak….?
    Orang sukses adalah orang yang cepat kembali bangkit saat kegagalan ada dihadapannya, makakekuatannya dua kali lebih besar untuk memacu yangtertinggal

    • Kayaknya masih tuh Moe…
      Buktinya, dia masih suka “malala”, dan jarang datang bertandang ke surau saya ini, hahaha… :D

  16. Uni…dapet suguhan ini jadi inget waktu raporku juga kebakaran sewaktu sma hahahaha…terus karena bandelnya semester 5 ipnya nyaris nasakom hihihihi :D

    bersyukur kita mempunyai orang tua yang bijaksana ya uni…dan aku salute dirimu mau nulis tentang tidak naik kelas disini 8 jempollll!

  17. Marsmallow…tak terasa saya berkaca-kaca membaca ceritamu, tak terbayangkan, Marsmallow pernah mengalami masa yang sulit.

    Orang tua tetap akan menyayangi anak-anaknya, seberapa buruk pun kelakuan anaknya…syukurlah ayah mu orang yang bijaksana, sehingga putri sulungnya bisa bangun dan tegar menatap masa depannya. Pasti ayahmu bangga Marsmallow.

  18. sungguh tidak mudah mengenang apalagi membeberkan pengalaman pahit kepada orang-orang. tulisan ini sendiri sempat terancam tidak terbit karena tiba-tiba saya merasa krisis pede luar biasa dan berniat menariknya kembali dari si Uda. tapi saya beruntung memiliki sahabat-sahabat luar biasa semacam Uda Vizon dan si Tukang Anyam yang justru menyemangati saya untuk terus maju setelah membaca naskah ini. moga-moga, seperti harapan mereka juga, tulisan ini akan memberi inspirasi dan motivasi bagi yang lain.

    alhamdulillah ternyata sambutan rekan-rekan narablog juga sangat positif sehingga saya tidak merasa dikecilkan dengan pengalaman pahit saya. saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada teman-teman atas komentarnya, yang tidak dapat saya respon satu-persatu.

    di antara orang-orang yang diundang Uda Vizon untuk menyumbangkan tulisannya mengenai ayah, rasanya saya yang paling bengal deh. udahlah ngumpul tulisannya paling telat (malah lewat tenggat), tidak menyerahkan foto pula seperti diminta sehingga sepertinya si Uda musti berburu sendiri dari blog saya. hehe. udah gitu berkomentar juga paling lalai. duh, rasanya saya kok memang bandel ya. haha. mohon maaf ya, Uda.

    akhirnya, terima kasih tak terhingga kepada tuan rumah yang menggagas acara alek gadang ini sehingga saya akhirnya berani buka-bukaan mengenai satu cerita yang selama ini saya tutup rapat dari lingkungan saya. saya harap cerita ini bermanfaat.

    • Komentar apa ya… Hehe. Bingung. Ya pasti: hebat deh, Hemm.

      Ada yang bilang, orang luar biasa itu bukanlah orang yang ketika jatuh lalu bangkit berdiri lagi. Itu mah sudah biasa. Justru orang yang luar biasa adalah orang yang SETIAP jatuh, ia selalu bisa bangkit berdiri dan bangkit berdiri lagi. Itu baru luar biasa.

      Nah, lewat tulisan dan kisahmu, kamu sudah menunjukkan orang seperti itu. Oke, Hemm?

      (psstt… jadi waktu SMP nggak pernah pacaran ya? Ah yang beneeerrr… Hihihi!)

  19. Subhanallah, demikan hebat dan bijaknya Ayahmu Hemma, semoga sebagai ortu, aku bisa mampu mengikuti jejak Beliau yg sanggup berlaku bijak dgn segala kasih sayangnya …..

    salam

  20. salam kenal buat uni melo (kata om enha). …., saya membacanya selesai dengan berkaca-kaca di kedua mata saya.
    Terima kasih banyak sharing ceritanya, saya membayangkan apabila saya ada diposisi ayah anda mungkin sudah marah besar dan bisa stroke saking kecewanya…karena pengorbanan yang besar dibalas dengan prestasi yang mengecewakannya sang anak tinggal kelas…..
    Saya benar2 salut karena keputusan uni tidak pindah sekolah bahkanbisa bangkit menjadi murid yang berprestasi….tidak banyak orang bisa berubah sedrastis itu….semoga uni selalu diberi keberkahan oleh Allah SWT …..

  21. wah, luar biasa pengalaman hidupnya. saya pikir, cuma saya yang waktu remaja sediikit nakal, (meskipun nggak sampe senekat mba).
    ayahnya begitu sabar dan bijaksana menyikapi mba.
    meski pernah nggak naik kelas, toh sekarang bisa membuktikan diri bahwa itu hanyalah bagian kenakalan remaja. sekarang sudah berhasil menjadi seseorang yang sukses dan berprofesi mulia, berguna bagi banyak orang.
    semua itu berkat ayah juga kan mba?

    salam kenal :)

  22. Bu dokter yang cantik ini ternyata dulunya pernah tinggal kelas tho. Berarti aku lebih pinter karena tidak pernah tinggal kelas dan tidak bandeeeeeeeeel.

    Jatuh lalu bangkit lagi dan berakhir dengan cemerlang lebih bagus daripada yang jatuh dan tak mau bangkit lagi.

    Semoga ayahanda diterima di sisi-NYA.

    Sukses selalu bu dokter.

    Salam hangat dari Surabaya

  23. Uni…izin copas untuk saya sampaikan sama saudara dan teman yah…buat pembelajaran mereka juga dalam menghadapi anak2 remajanya…terimakasih sebelumnya

  24. Pingback: SURAU INYIAK » Blog Archive » ayahku (bukan) pembohong

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>