back to school


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

7 ayah tentang ayah #1

 

Anda kenal dengan Bapak yang ada di gambar berikut ini?


Sedakep is the best :D

Kenal? Berarti anda termasuk blogger yang sangat beruntung… Kalau belum? Tanya rumput yang bergoyang deh, hehehe… :D (lebay.com)

Siapa yang tidak kenal dengan beliau? Aktivitasnya di jagat perbloggan tidak diragukan lagi. Blognya adalah salah satu blog papan atas. Dan beliau, seringkali menjadi makelar blog; yakni penyebab terjalinnya persahabatan satu blogger dengan blogger lain gara-gara pertemuan di blog beliau.

Tak perlulah kukenalkan lebih jauh dengan sosok ayah tiga anak ini. Kurasa, kita semua sudah dapat menebaknya… Dengan senyum khasnya ditambah gayanya yang eiylekhan ketika difoto, yakni SEDAKEP, tentu kita semua sudah sangat tahu.

Yups… beliau adalah Om NH18 a.k.a Om Trainer. Pemilik blog http://theordinarytrainer.wordpress.com ini akan bercerita dengan gaya khasnya kepada kita tentang “siapakah sosok ayah yang jantan” itu?

Mau tahu? Yuk mari kita simak tulisan dari Om Nh berikut ini… :)

 

======================================================

BACK TO SCHOOL
Oleh: NH18


Ini tentang peran Ayah dalam proses pendidikan formal anak-anaknya di sekolah.

Saya sering sekali mendengar komentar dari teman, handai taulan, tetangga juga kenalan-kenalan saya, yang intinya adalah bahwa … urusan datang ke sekolah itu adalah urusan Ibunya anak-anak.

“Ah itu kan urusan perempuan …”

“Itu bagian mamanya anak-anak”

“wah gua kan tugasnya cuma cari duit doang … untuk hal-hal tentang sekolah anak-anak, gua pasrahkan ke Nyokapnya anak-anak”

“Lho kan ada maminya anak-anak … masak saya ikut campur juga siiihhh …?”

Dan memang kalau Saya perhatikan, tidak banyak para Bapak yang turun tangan ikut datang ke sekolah anak-anaknya.  Entah itu untuk memenuhi undangan rapat di sekolah, undangan menghadiri sosialisasi program belajar, mengambil rapor, bahkan as simple as … menonton bazaar atau pentas seni sekolah anak-anaknya.  (Padahal undangan itu sengaja dijatuhkan pada hari Sabtu atau Minggu, dengan harapan akan banyak orangtua yang bisa datang).

 

Mengapa para Ayah tidak bisa datang ?  Alasannya apa ?

Macam-macam sodara-sodara.  Saya sering iseng ngobrol dengan para Ibu-ibu yang sedang antri mengambil raport anak-anaknya,  menunggu giliran menghadap walikelas.

Ketika saya tanya : “Bapak tidak ikut ke sekolah Bu ?”

Jawabannya macam-macam …

Ada yang menjawab …

“Bapaknya kalo hari Sabtu kerja pak …”

“Papanya si Badu sedang tugas keluar kota pak …”

 

Dua tipikal jawaban di atas wajar dan sangat bisa dimengerti.  Kesibukan membuat ada sementara Bapak-bapak yang tidak bisa datang ke Sekolah.

 

Namun coba simak jawaban tipe yang berikut ini …

“Bapaknya anak-anak lagi repot.”

“Iya tuh Ayahnya Fulan sedang oprek Motor Gedenya di rumah ?”

“Oh sedang ke Bengkel, masang Spiker Mobil … !!!”

“Anu … Mas X lagi main Tenis di Senayan …”

“Kalo hari libur sabtu gini … Papah hobbynya Mancing ke Ciganjur pak …”

“Dia lagi … Golep pak ?”

“Ada tu di rumah … lagi sibuk sama peliharaan Burung Cucak Rowonya …”

(Ya …  saya mengaku … satu dua kalimat diatas memang ada yang saya “hiperbolisasi” … di lebay-lebaykan … namun intinya tetap sama … Ada “keperluan lain” yang sepertinya lebih penting ).

 

Ah ternyata tugas mengambil raport dan berbincang-bincang tentang perkembangan anak kita dengan Walikelas … masih KALAH PENTING dibanding … Motor, Spiker & Ampli Mobil, Raket Tennis, Golep, Mancing dan … Cucak Rowo … !!!.

 

Saya pribadi, (tanpa bermaksud untuk sok-sok an “concern” dengan pendidikan)  merasa bahwa … urusan datang ke sekolah itu sangat penting bagi para Ayah.

 

Ada banyak manfaat … yang disadari atau tidak disadari … langsung maupun tidak langsung … bisa kita dapatkan jika kita datang ke sekolah anak-anak kita

 

Yang pertama :
Tentu saja dengan datang ke sekolah, berbincang-bincang dan berdiskusi dengan wali kelas … kita bisa mengetahui perkembangan belajar anak kita.  Apa yang bisa kita perbaiki, mana yang harus kita perhatikan.  Apa kekuatan anak-anak kita dan juga bagaimana mereka bersosialisasi di kelas.

Yang ke dua :

Kita bisa secara langsung memberikan masukan kepada sekolah mengenai hal-hal yang berkaitan dengan proses belajar mengajar.  Kita bisa pula menyampaikan inputan kita mengenai fasilitas di sekolah tersebut … masalah kenyamanan di sekolah juga hal-hal lain yang berkaitan dengan sarana / prasarana sekolah anak kita.  Demi terwujudnya situasi yang kondusif untuk proses belajar mengajar yang optimal.  Hubungan komunikasi antara pihak sekolah dan orang tua murid pun diharapkan bisa terjalin dengan lebih akrab.

Yang ke tiga :

(ini yang mungkin kita lupa)
Dengan datangnya para Ayah ke sekolah … saya rasa … anak-anak kita akan merasa dihargai oleh orang tuanya.  Anak-anak akan merasa diperhatikan oleh kedua orang tuanya.  Ibu … dan juga Ayahnya.

 

Mungkin ada yang berpendapat … aahhh anak saya kan sudah besar … nanti mereka malah malu kalau kita datang ke sekolah …

No … Tidak sodara – sodara … menurut pendapat saya … anak-anak justru merasa bangga.  Ayahnya mau datang ke sekolah.  Kita kan tidak datang ke sekolah setiap hari.  Kita pun tidak nongkrong seharian penuh di sekolah untuk memata-matai anak kita bukan ?

Sekali lagi … mereka, anak-anak kita tercinta itu … akan merasa dihargai dan diperhatikan.  Datang ke tempat mereka bersekolah adalah sebuah bentuk pengejawantahan rasa sayang yang sangat sederhana … sebuah pemenuhan kebutuhan yang paling mendasar bagi setiap anak-anak … Merasa disayang oleh kedua orang tuanya … Termasuk oleh Ayahnya.

————–

So … Bapak-Bapak … Para Ayah sekalian …

Mari … kita datang ke sekolah anak-anak kita …

Jangan pernah merasa “turun wibawanya” … Jangan pernah merasa terusik egoisme “kelelakiannya” … hanya karena datang ke sekolah …

Bahkan sebaliknya … berbahagialah … berbanggalah … merasa “jantanlah” jika anda mau repot ikut antri mengambil Raport di sekolah …

Back To School is Fun things to do you know !!!

 

(Akhir-akhir ini saya mulai sering melihat …
Sudah banyak lelaki-lelaki Macho … lelaki-lelaki Jantan … Lelaki-lelaki Eiylekhan … Yang dengan langkah tegap dan pasti … melangkah menuju kelas tempat anaknya belajar … ikut duduk mengantri … untuk mengambil raport anak-anaknya …!!!)

======================================================

Sebentar lagi saatnya anak-anak terima raport. Nah… para ayah sekalian, yuk tunjukkan “kejantanan” kita dengan datang ke sekolah untuk mengambil raport mereka… ;)

.

Tulisan keduabelas dari acara “Baralek Gadang”, klik di sini untuk melihat daftar tulisan dalam acara ini


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

70 comments on “back to school

  1. Setuju sekali,

    dari sudut pandang seorang ibu, saya amat sangat setuju. Karena suami-suami itu hanya bisa mengeluh, marah. mengatakan “Kok begini, begitu” tentang sekolah anak-anaknya. Kalau sudah parah baru tergopoh-gopoh datang ke sekolah, cari siapa wali kelas anaknya (bahkan tidak tahu lupa anaknya kelas berapa). Marah-marah, gebrak meja segala :D

    Dengan secara reguler datang ke sekolah untuk ambil rapor, si bapak bisa tahu deh paling sedikit suasana sekolah, pembelajaran anaknya.

    Rapor di Jepang tidak diambil oleh orang tua. Tapi ada paling sedikit 2 kali waktu yang diberikan untuk konsultasi pribadi antara guru dan ortu murid. Serta 2 kali waktu penjelasan guru mengenai kemajuan kelas kepada ortu yang berkumpul di akhir semester (seminggu sebelum pembagian rapor). Selain itu ada sekitar 3-4 kali open school setahun untuk melihat langsung jalannya proses pembelajaran di sekolah. Dua kali pada hari biasa, dan 1-2 kali pada hari Sabtu/Minggu (sehingga bapak-bapak bisa datang, tanpa alasan hari kerja). Yang sulit adalah bapak yang tidak libur pada akhir pekan begitu seperti suamiku. Kalau bisa mengajukan cuti pasti akan cuti untuk mengikuti kesempatan itu. Sayangnya kemarin Gen tidak bisa cuti, karena universitasnya sendiri yang open campus :D

    (So, kemarin aku dan Kai berdiri dari jam 9:30 sampai jam 2:50 di belakang kelas mengikuti pelajarannya Riku…. capek bo. Kai bisa selonjoran di lantai, aku mana bisa? Memang bisa keluar masuk kapan saja, tapi Riku senang sekali kalau kami ada terus :) )

    Selamat Father’s Day untuk semua ayah.
    Dan foto 4boys :D di atas keren euy!!

    EM

    • Wow …
      Intensitas pertemuan antara Orang Tua dan Wali murid di jepang itu banyak juga ya EM …

      Ini belum termasuk acara-acara outdoor / olah raga yang pernah kamu ceritakan di Blog mu kan EM …

      Happy Fathers day juga

      salam saya

  2. Pak NH benar. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia kelas dan rapor (ealah…) saya memang bisa melihat sendiri, bahwa jumlah ibu-ibu setiap kali mengambil rapor anaknya lebih mendominasi dibanding sang ayah. Malah pada saat kedua orang tua diundang untuk membicarakan anaknya, yang datang cenderung hanya ibunya saja.

    Jangan pernah merasa “turun wibawanya” … Jangan pernah merasa terusik egoisme “kelelakiannya” … hanya karena datang ke sekolah …
    Suatu ungkapan yang betul Pak NH. Termasuk: Jangan pernah merasa “turun wibawanya” … Jangan pernah merasa terusik egoisme “kelelakiannya” … karena memilih untuk jadi guru…. He he, bagaimana Pak? Benar nggak ya?

    • Betul sekali Uda Mas Zul …

      Malah justru … saya merasa akan sangat lelaki ketika berdiri di depan kelas … hahhaa …

      Pengamatan saya didukung juga nih oleh Uda Mas Zul … dan ini pengamatan yang valid … sebab Uda ada disana …

      Salam saya Uda Mas Zul

  3. Alhamdulillah..suami saya termasuk yang mau mengikuti perkembangan anak-anak di sekolah. Beliau cerita, bahwa suatu ketika saat dia kelas 3-4 SD dan ikutan lomba balap sepeda yang iseng-iseng diadakan sendiri sama teman-temannya, beliau melihat kedua orang tuanya menonton dari kejauhan.
    Pertama beliau kawatir kalau ortunya akan marah, tapi ternyata mereka datang memberi dukungan walau lomba ini hanya antar teman saja. Beliau sangat ingat perasaannya saat itu, sehingga bertekad bahwa nantinya harus terlibat di semua acara anak-anaknya agar sang anak juga bisa merasa bangga.
    Kalaupun ternyata ada tugas keluar kota, beliau akan selalu monitor lewat telpon dan ikutan diskusi dengan guru (tentu saja saya yang nyampein ke gurunya)
    Ayo Para Ayah…..kita buat anak-anak menikmati kebersamaan dengan orang tuanya..

    • … Beliau sangat ingat perasaannya saat itu …

      Dan rasa itulah yang akan selalu Beliau terbitkan di benak Detya Javas dan Wisam …

      Salam saya Bu Dewi A

  4. OM…saya setuju!!! sebagai seorang anak yang kuantitas ketemu dengan Papanya jarang, walah saya sangat senang baca postingan ini :D Rasanya om NH mewakili perasaan dan suara hari Saya sewaktu SD-SMP-SMU dulu hehehehe…

    dan yes indeed bahwa anak itu sangat bangga jika orang tua mengantarkan mengambil raport, jangankan mengambil raport nganterin berangkat sekolah aja rasanya seneng banget ;)

    Thanks udah mengingatkan para ayah OM…mereka perlu baca tulisan ini! This is the beauty of blogging ;)

    • Kalau Papa Ria tidak bisa datang setiap waktu itu … memang sangat bisa dimengerti karena tuntutan pekerjaannya … untuk mencari nafkah bagi keluarga …

      Walaupun saya yakin Ria dan adik-adik tentu ingin Beliau datang

      Salam saya Ria

  5. Perasaan dulu Papa lom pernah ngambilin rapor… eh kayaknya pernah sih lupa..

    Tapi yang jelas tak kulupa adalah, Papa dan Mama selalu datang ke sekolah (terutama SMA) beberapa kali saat aku kena hukuman skors yang mengharuskan Papa dan Mama datang untuk menghadap ke Kepala Sekolah..

    Hmm, bandelku dulu memang luar biasa hahahaha!

    • Hahaha …
      Datang kesekolah karena DV berulah ?
      aduh …

      Mudah-mudahan sekarang sudah tidak bandel lagi ya ?

      Salam saya DV

  6. bener om, dulu waktu saya masih sekolah, setiap pengambilan raport pasti ibu2 yang ngambil….boleh dibilang ngga ada dech bapak2nya…….

    tapi setelah baca postingan om ini, saya maunya suami juga ikut terlibat kalo anak2 udah sekolah nanti…biar ngga semua kerjaan menggantung di pundak emaknya hehhe……….

    • Saya rasa Papa Ina mau kok mengambil Rapor Ina atau Walu ke sekolah … nanti kalau mereka sudah sekolah …

      Biasanya Ayah itu lebih dekat dengan putrinya …

      Salam saya Mama Ina

  7. bener banget Mas, bisa dihitung jari bapak2 yang mau hadir di sekolah utk mengambil raport ataupun sekedar menghadiri acara PENSI disekolah.

    Ayahnya anak2 juga begitu, walau memang kemungkinan Beliau utk libur pd hari sabtu, sangat tdk mungkin, bahkan di hari2 besar seperti Hari lebaran ataupun lebaran haji pun, apalagi thn baru, beliau sangat tdk bisa diharapkan, utk mendapatkan libur, krn justru di hari2 liburlah banyak orang yg bepergian menggunakan pesawat terbang .

    dan, alhamdulillah, ketika kau msh sekolah, Ayahku yg selalu datang kesekolah utk mengambil raport atau keperluan lainnya yg memerlukan kehadiran ortu :)

    semoga banyak ayah2 yang membaca tulisan ini :)
    salam

    • Ini lain Bunda Ly …
      Tuntutan pekerjaan menyebabkan Papa Agus tidak bisa datang kesekolah …
      karena justru pada saat itulah pekerjaan sedang tinggi loadnya …

      Salam saya Bunda Ly

  8. Ya… dulu yg mengambilkan raport utk ku memang selalu Ibu, dan selalu Ibu yang update perkembangan ku ke Bapak.

    Bapak hari Sabtu & Minggu tetap kerja, maklum dg profesi Bapak, jika tidak kerja berarti tdk ada uang utk besok paginya

    Semoga saya besok bisa seperti Om NH yang selalu meluangkan waktu utk anak-anak.

    salam,

    • Betul Bro …
      Kalau case Swargi Bapak itu sangat berbeda …
      Beliau harus membanting tulang berdagang …
      apalagi justru mungkin hari Sabtu dan Minggu lah pasaran ramai

      Salam saya Bro

    • Betul Moe …
      Tak usah yang ribet …
      cukup dengan hal yang simple tapi menyenangkan ini …
      datang ke sekolah

      salam saya Imoe

  9. he…he..he.. cuma bisa nyengir doang baca tulisan ini..
    karena papa ku termasuk dari yang jarang datang ketemu guru di sekolah..
    bukan apa..apa..
    si Papa adalah orang yang gak suka ngomong,,
    jdi dia bingung kalau ngomong sama wali kelas mau ngomong apa..
    dan papa juga orang yang gampang terharu..
    kalau ada berita baik ttg anaknya dia pasti nangis..
    jdi kalau ada acara ambil raport papa pasti lebih milih nunggu mama dirumah…

    gak mau datang ambil raport bukan berarti papa gak pernah kesekolah..papa paling rajin kesekolah..
    jmput anak gadihnya kalau pulang malam..

    • Ya …
      Saya bisa merasakan betapa Papa Put Moon ini sangat sayang dengan anak gadih satu-satunya …

      tak banyak kata bicara …
      tetapi … melalui tindakan nyata

      Salam saya Put Moon

  10. Nanti kan ku minta suamiku membaca postingan Om NH nan eilekhan ini, biar dia mau meniru Om NH untuk menjadi Ayah yang top markotop jika anak kami mulai sekolah nati.. :D

    PAra pria dalam foto diatas cakep-cakep ya, Om.. :P

    • Ah …
      Papa Valeska pasti dengan senang hati mengantar Valeska ke sekolah …
      Hawong Putri kesayangan jeh …
      Bukan Begitu Bu Dewi F

      Salam saya

  11. Top banget Om kritiknya buat para Ayah….
    Semoga semakin bisa memahami lah para Bapak ini tidak hanya bekerja tapi juga memperhatikan tugas sang Istri juga >_<

    • Ini sekedar mengingatkan untuk diri sendiri …
      agar selalu berusaha datang ke sekolah jika ada undangan …

      Terima kasih Tetik

  12. Hik3x…malu juga membaca postingan Om NH. Baru saja saya juga buat postingan tentang “Hasil UN” yang tadinya mengandalkan Asisten Pribadi alias isteri.
    Tapi setelah saya ajak anak saya diskusi ternyata cukup banyak kok saya punya waktu untuk mendampingi kegiatannya, mis : ngantar sekolah, jemput raport, ngantar ikut olimpiade sains kuak 2011, untuk pertandingan bola antar sekolah dan antar sekolah sepak bola dan banyak lagi….
    Untuk anak yang kedua saya malah tiap pagi ngantar ke sekolah, tp pulangnya dia naik mobil jemputan.
    [membela diri he3x]
    Terima kasih Om…..

    • Seingat saya Uda Ded pernah posting pengalaman waktu datang rapat di sekolah deh waktu persiapan UN si Sulung …

      Dan saya rasa … apa yang Uda ded tuliskan di komentar ini … sudah sangat banyak yang Uda lakukan untuk anak-anak …

      Salam saya Uda Ded

      • Oh ya, hal seperti ini yang membuat saya salut dengan kehebatan daya ingat Om NH.
        Bisa mengingat dengan baik postingan teman2 (dalam hal ini postingan saya) tentang hal2 tertentu.
        Jujur Om, saya sendiri baru ingat setelah Om bilang, bahwa saya pernah buat postingan tentang persiapan UN si Sulung. Ternyata juga ada “Lapangan Belalang” ketika ngantar anak saya bertanding bola, dsb.
        Terima kasih Om…. :)

  13. Dulu papa saya yang mengambil rapor waktu TK.

    Waktu SD rapor dibagikan langsung ke murid-murid. Rapor murid yang bermasalah dengan nilai atau perilaku diserahkan kepada orangtua yang diundang ke sekolah. Saya termasuk anak baik-baik sehingga rapor langsung bisa saya bawa pulang sendiri tanpa ada pemanggilan orang tua.

    Waktu SMP ada kebijakan rapor harus diambil oleh orang tua. Papa saya yang datang ke sekolah, untuk ambil rapor saya dan rapor kakak.
    Saya ingat betul, saya bangga sekali melihat papa saya datang ke sekolah, abis diantara ayah-ayah lain, papa paling tinggi gede dan ganteng sih…hehehe…

    Mama nggak pernah ambil rapor kami karena mama saya guru dan harus membagikan rapor di sekolah tempatnya mengajar :)

    Salam hangat selalu, Om NH dan Uda…

    • See …
      apa saya bilang …
      Seorang anak pasti akan bangga jika Ayahnya … Bapaknya … Papanya … datang kesekolah …

      Salam saya Nana

  14. Muncul pertanyaan dalam benak saya : bagi para Bapak Guru, pernah nggak ya mereka datang ke sekolah anak mereka? Atau mungkin tidak terpikir juga, lha wong di sekolah mereka sendiri, yang datang adalah ibu-ibu :)

    Setuju sekali Om, para ayah juga seharusnya memiliki peran yang sama dengan para ibu dalam memperhatikan pendidikan putra-putrinya. Jangan kalau anak nakal lalu teriak “Mama, gimana sih mendidik anak-anak?!” dan giliran anak berprestasi, menepuk dada sambil berkata “Siapa dulu bapaknya … ” :(

  15. “Mama, gimana sih mendidik anak-anak?!” …

    Ini kalimat yang sering saya dengar di Sandiwara TV dulu … juga di sinetron masa kini …

    Dan saya rasa … anggapan ini perlu sedikit diluruskan di secara propporsional …

    salam saya Bu Tuti

  16. Alhamdulillah, kami berdua bagi tugas datang ke sekolah anak2 karena sekolahnya berbeda dan agak jauh, dan kalau ada pr prakarya si papa yang bantuin, karena hasil karyanya lebih rapi dariku he..he..
    buktinya udah diceritain di Hari Minggu mencari kodok, .:D

    • (jujur sebelum mereply komen ini … saya ngacir baca Kodok Ceban dulu …)

      Saya terlewat postingan Kak Monda tentang Kodok … dan ceban ituh …

      hahaha

      Salam saya Kak

  17. Setuju Om… Saya juga udah menerapkannya sejak Alif masuk playgroup bbrp waktu yang lalu. Setiap ada konsultasi guru (eh…istilahnya apa yah?) dengan ortu, saya usahain ikut mendampingi mama Alif. Cuma ya gitu deh…mungkin karna gurunya juga beranggapan bahwa perkembangan anak biasanya dilaporkan ke ibunya, akhirnya Bu Guru ngomongnya ke mama Alif terus…sementara papanya manggut-manggut :-)

    Setuju juga sama poin ketiga Om… Alif jadi makin heboh gerakannya pas ngeliat saya datang saat lg performance di playgroupnya… Jadi sumringah dibuatnya :-D

    • See …
      Betulkan Pak Anderson …

      Tanpa kita sadari .,..
      Dangan hadirnya kita menonton acara anak kita … mereka jadi semangat …
      makin percaya diri

      Salam saya Pak

  18. Om… kalau saya justru Bapak yang selalu mengambil raport di sekolah, Bapak yang menonton saya saat ikut pertunjukkan agustusan di sekolah, Bapak yang mengantar saya daftar ke SMU, Bapak juga yang menghadiri saya Wisuda. Karena Mamah saya yang sibuk di rumah mengurus adik2 :D

    • Aaahhhh …
      Salut sama Bapaknya Orin
      Ini pasti menyenangkan sekali Rin …
      Pasti sangat menyenangkan dan membahagiakan

      BTW
      Bapak pernah nonton kamu tanding basket nggak Rin … :)

      Salam saya Rin

  19. Pertama. Anak2 om trainer ganteng2 deh, itu yakin bukan turunan dari Ayahnya aja kan? :p

    Kedua. Papaku melakukan hal yang sama, om. Beliaulah yang lebih sering mengurus sekolahan kami, dan mama sebagai pengganti saja jika beliau berhalangan.

    Ketiga. Postingan ini reminder juga buat suamiku.

    :D

    • Puak …
      Keren … walaupun suka manjat Pohon … Puak tetap anak kesayangan Papa …

      hehe

      Salam saya Puak

  20. Kalau saya sendiri: saya dari SD (ortunya guru di sekolah), SMP sampai SMA, terima raportnya langsung, pernah waktu SMA sekali, yang mengharuskan ortu/wali hadir, dan karena jauh dari ortu, saya pinjem ortunya teman :D.
    sekarang jadi ortu : walaupun saya di rumah aja, tugas ke sekolah junior tetap bergiliran, justru kalau emaknya yg sering nongol, anaknya malah jadi sedikit cengeng :D.

    • Pinjem Ortunya Teman ?
      Hahahaa …
      ada-ada saja …
      Tapi bagaimana lagi ya … jarak yang jauh memang sedikit meyulitkan

      Salam saya Bu YSalma

  21. Anak adalah tanggung jawab ayah dan ibu….
    ayah saya sering ke sekolah, diskusi dengan guru, dan tahu perkembangan anak-anak nya. Bahkan ayah suka senyum-senyum kalau dilapori guru tentang kenakalan anak-anaknya (ayah sendiri seorang guru).

    Mengambil rapor di sekolah, kadang oleh ayah dan kadang oleh ibu.

    Setelah menikah, saya dan suami, kadang berdua sering datang ke sekolah anak-anak. Dan guru sangat senang jika orangtua datang ke sekolah, mereka merasa dihargai….

    • Ayah Bu EDratna seorang guru rupanya …
      saya baru tau bu …

      Dan saya setuju sekali …
      Jika orang tua datang ke sekolah … Guru-guru akan merasa sangat dihargai

      Salam saya Bu

  22. Aku tergolong beruntung karena papaku masih sempat mengambil raporku pada jaman dahulu, Om :D

    Naaah, sekarang giliranku untuk merayu kekasihku agar mau ngambil rapor Jumat besok :mrgreen:
    Ee, tapi kok Jumat yak? Cuti yak? :(

    • Wah iya ya …
      Jadwal ambil raport kita sepertinya sama …

      Namun kalau anak-anak saya …
      Hari Sabtu besok …

      Salam saya Bu Choco

  23. alhamdulillah, dulu saya dibesarkan oleh ayah yang jantan dan justru sangat antusias setiap penerimaan raport. Beliau selalu merasa bangga hadir dan mendengarkan nama kami selalu disebut sebagai juara kelas. kami anak-anaknya tidak pernah dididik secara otoriter, harus belajar keras, harus rangking, harus ini harus itu, tapi dengan segala kelembutan, kesederhanaan, kearifan dalam bersikap membuat kami ingin selalu menjadi yang terbaik dan membuat ayah bangga mempunyai kami, anak-anaknya.

    btw, semua amanah dariNya jagoan yah pak! cakep2 lagi, semoga kelak menjadi kebanggaan tidak hanyadi dunia tapi juga di akhirat, InsyaAllah amin

    • Wah … saya yakin … baik Ayah maupun Putrinya … pasti sama-sama bangga
      Ayah mau datang kesekolah membanggakan sang Putri … dan Putrinya juara kelas … tentu saja akan membanggakan Ayahnya

      Saya rasa ini suatu hal yang indah bukan ?

      Dan Iya Bu …
      Anak-anak saya semua laki-laki …
      Bundanya jadi Wanita paling cantik di rumah … dan pastinya dimanja oleh lelaki-lelaki tersayangnya ini …
      hahaha

      salam saya

  24. Pembahasan yang sungguh eileykhan… :D

    Di rumahku “budaya- ibu pergi ke sekolah” juga sudah menjadi hal biasa, dan mungkin sudah biasa di kalangan masyarakat sini… Hingga pada suatu ketika, mama pernah mutung gak mau ke sekolah, baru deh si papa yang berangkat, weleh2…

    Mudahan aku besok bisa mengikuti jejek om trainer :)

    • Amiiiinnn …
      Saya doakan Prim …

      Just like I said …
      Ke sekolah itu menyenangkan lho Prim …
      Sumpah …

      :)

      Salam saya Prim

  25. papaku sering datang ngambil rapor lo..dan saat itu aku akan sangat bahagia sekali..(meskipun juga takut kalo nilainya jelek )

  26. Saya termasuk yang rajin mengambil raport anak-anak sekalan berkenalan dengan ayah-ayah mereka dan juga wali kelas dan guru2 yang lain.

    Namun setelah mereka kuliah saya tak serajin dulu karena saya sudah pindah ke Jakarta dan keluarga tnggal di Surabaya. namun saat wisuda anak-anak saya ikut hadr mendampingi mereka dengan bangga.

    Sayangnya anak2 saya lahir duluan, jika tidak tentu oom saya ajak besanan ha ha ha ha.

    Posenya mantep oom.

    Salam hangat dari Surabaya

    • Hahaha ..
      Iya ya pak De … secara anak-anak Pak De Perempuan semua .. sementara saya Laki-laki semua

      And BTW …
      Saya yakin anak-anak Pak De juga bangga … Bapaknya mau datang ke sekolah mereka …
      Sambil bilang pada teman-temannya …
      “Eh … eh … itu yang tinggi besar gagah itu bapak ku lhooo ….”

      (bukan begitu pak de)

      Salam saya Pak De

  27. SETOJOOO, OM!!! Anak juga pasti bangga tudemeks kalau sesekali ayah iku ngambilin rapor atau hadir ke sekolah. Apalagi tiap pulang ayah suka bawa jalan-jalan ke toko buku atau makan. Kalau pergi sama ibu kan saklek tujuannya, abis ibu itu gak bisa bawa mobil, jadi perjalanan kurang fleksibel. (ini perasaan saya curhat banget, yak? ingat masa-masa sekolah dulu. hihi)

    Dari cerita-cerita Om di blog tentang anak-anak, saya tau bahwa Om Trainer tipe ayah yang gak gengsian dan concern soal perkembangan anak-anak. Hebat, Om!

    • Terima Kasih Uni Melo …

      Kalau bukan kita yang concern ? siapa lagi ?
      Dan masak sama anak sendiri mesti gengsian … apa kata duniaaa ???

      hahaha

      Salam saya Uni Melo

  28. Kalo yang saya perhatiin sih gini: di kelas kecil (1-4 SD) kebanyakan Ibu yang ngambil rapot. Biasanya yang didiskusikan segala macem. Dari nilai (kalo sama ibu suka nilai diprotes apakah menurutnya kekecilan atau bahkan kegedean. Menurut beliau, anaknya gak segitu nilainya, deh!) tingkah laku, sampai segala hukuman sepanjang tahun Ibu itu inget semuanya yang gurunya udah gak ngeh lagi. Di kelas besar (kelas 5-6) biasanya sama Ayah. Mungkin bagi2 tugas juga sama ibu. Nah, kalo kelas 5 semester dua, seringnya sama dua-duanya. Juga bagi tugas pula. Ibu merhatiin nilai saat ini Ayah seru tanya-tanya mengenai persiapan UN.

    Tapi kalo ambil rapot itu emang enakan sama Ayah, Om. Kalo nilainya bagus langsung dikasih hadiah yg biasanya Ayah gak mau ribet, uang! Kalau nilainya bagus ngomelnya gak sepanjang jalan. Kalo Ibu, nilai bagus diomelin karena menurut beliau kita bisa jaaaaauh lebih bagus lagi, nilai jelek ngomelnya bukan sepanjang jalan lagi, bersambung-sambung sampai di rumah.

  29. Iya juga ya… yang sering datang ke sekolah itu biasa nya memang ibu2 banyak nya.. jarang ada bapak2 yang datang..

    tapi memang sih… lebih asik juga kalau ayah yang ngambil rapot… kesan nya kaya nya beda gitu kali ya.. ahahaha :)

    Tapi… lebih asik lagi kalau dua-dua nya yag datang ke sekolah… ayah sama ibu.. kalau saya sih biasa nya cuma ibu saya aja sih yang ngambil rapot :)

  30. Wah, senang jadinya karena ternyata saya termasuk lelaki macho, jantan dan eylekhan versi Om Nh. Sudah beberapa semester saya datang untuk mengambil raport Sabila, apalagi sekarang setelah umminya tiada. Tahun lalu, waktu Sabila diminta ikut mengisi acara perpisahan kelas enam, saya dan almarhumah sengaja datang dari pagi demi melihat dan sekaligus memberikan dukungan kepada Sabila. Benar juga yang Om bilang, sebagian besar wali murid yang datang ke sekolah adalah kaum ibu-ibu, hanya sebagian kecil kaum bapak, namun saya tak pernah mempersoalkan hal ini karena saya datang ke sekolah adalah demi Sabila, bukan yang lainnya.

  31. Weh, rupanya urusan sekolah anak-anak Om NH punya andil tak kalah penting. Aku pribadi waktu SD urusan sekolah dipegang mama. Waktu SMP bapak unjuk gigi. Waktu SMA, malah tidak kedunya. Apa-apa sudah sendiri. Tapi jadi terlatih juga sih jadinya :)

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>