ayahku terabaikan (?)


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

7 ayah tentang ayah #3

 

Sudah jamak terjadi kalau anak cenderung lebih dekat kepada ibu daripada ayah. Kecenderungan tersebut sesungguhnya pada sebagian ayah justru menjadi “ancaman”. Mereka khawatir jika kelak sang ibu dipanggil Yang Maha Kuasa, anak-anak tidak akan lagi mendatangi sang ayah dan bahkan mengabaikannya.

Agaknya, kekhawatiran seorang ayah akan terabaikan oleh anaknya wajar saja. Tapi, benarkah semua itu?

Sahabatku Anderson Zubir, blogger asal Pekanbaru, ayah dua orang putra, bankir di salah satu bank pemerintah, pemilik blog http://soyjoy76.wordpress.com mempunyai cerita tentang kekhawatiran ayahnya akan diabaikan oleh anak-anaknya. Anderson, yang pandai meramu tulisan mengenai dunia perbankan dengan bahasa khasnya sehingga terasa lebih ringan dan menyenangkan, mencoba mematahkan kekhawatiran ayahnya tersebut. Menurutnya, itu hanya perasaan ayahnya saja…


Anderson dan keluarga

Baiklah, mari kita simak selengkapnya penuturan Anderson tentang hal tersebut, berikut ini… :)

===================================================

Ayahku Terabaikan (?)
Oleh: Anderson Zubir


“Kalau bisa memilih, papa lebih memilih untuk lebih dulu dipanggil Yang Maha Kuasa dibandingkan mama kalian” ucap ayah pelan. Kalimat itu diucapkan beliau menjelang berangkat haji  ke Mekah tahun lalu, ketika seluruh anak-anaknya telah berkumpul dirumah. Kalimat itu sebagai respon atas pesan ibu yang sebelumnya mengatakan,”kalau mama meninggal di tanah suci, tolong kalian jaga baik-baik papa ya.” Glek…kami tercekat. Dulu sambil bercanda ayah juga pernah ngomong begitu. Alasannya, seluruh anak-anaknya yang berjumlah 4 orang sangat dekat dan selalu berpihak ke ibu. Kalau Ibu yang duluan meninggal, ayah khawatir akan dicuekin sama anak-anaknya. Nah, kalau kalimat itu kembali diulang ayah saat akan berangkat haji, berarti memang kekhawatiran itu telah melekat menjadi pemikiran beliau.

Aku memutar kembali rekaman kehidupan masa lalu dan menemukan fragmen-fragmen kecil hubunganku dengan ayah yang membentuk tayangan utuh, seperti inilah aku saat ini.

Ayahku bukan guru, tapi sewaktu aku di sekolah dasar,beliau sangat gigih membantuku mengerjakan PR matematika dan tak akan berhenti mengajarkannya sampai aku bisa mengerjakan dengan baik.  Meskipun untuk itu tak jarang aku menangis dimarahi karena tak kunjung mengerti. Makanya kelak matematika menjadi ilmu yang paling kupahami.

Ayahku bukan tentara, tapi beliau menegakkan aturan dan disiplin dengan sangat keras di rumah kami. Meskipun untuk itu sabuk kulit milik ayah tak jarang mampir dipantat kami anak-anaknya ketika kami berkelahi dan melanggar aturan dirumah. Makanya kelak kami tak bermasalah dengan mematuhi aturan dan disiplin.

Ayahku bukan investor handal, tapi beliau memilih menabung hasil jerih payahnya bekerja untuk investasi yang akan menjamin kehidupan kami anak-anaknya dimasa depan. Meskipun untuk itu sewaktu kecil kami jadi jarang dilimpahi materi yang berlebihan dan lebih banyak ‘dipaksa’ ikut les ini dan itu. Makanya kelak kami semua menikmati pendidikan sampai tingkat yang lebih dari cukup.

Ayahku bukan motivator ulung, tapi omelannya ketika memarahi kami tak jarang menjadi motivasi untuk menjadi yang lebih baik. Meskipun untuk itu sewaktu kuliah aku pernah ‘sakit hati’ waktu dibilang ‘sudah habis’ oleh Ayah karena prestasi akademisku, ditunjukkan oleh indeks prestasi (IP), tak secemerlang dulu lagi. Makanya aku sangat termotivasi untuk membuktikan bahwa prestasi akademis bukan jaminan untuk prestasi di kehidupan nyata. Dalam beberapa hal, aku telah membuktikan itu.

Fragmen-fragmen kecil kehidupan itu sesungguhnya tak seindah seperti ketika menuliskannya saat ini. Tapi  efek dari kepingan kejadian tersebutlah yang menjadikannya catatan abadi bahwa semua sikap Ayah dalam mendidik anak-anaknya bukan tanpa sebab dan bukan pula tanpa hikmah. Bahkan dari ketidaksempurnaan sikap atau cara mendidik Ayah pun selalu ada hikmah yang dapat dipetik.

Lalu apa alasanku untuk tak bangga pada Ayahku? Apa pula alasanku untuk mengabaikan Ayahku? Tak satupun. Maafkan kami Ayah, kalau sikap kami ‘terbaca’ seolah kami mengabaikanmu. Maafkan aku untuk menjadi anak yang paling sering berseberangan pendapat denganmu. Dibalik semua itu, aku sangat hormat dan bangga padamu, Ayah…

Bagaimana aku akan dikenang oleh anak-anakku kelak?

===================================================

Bagaimana dengan ayah kita? Apakah juga merasa terabaikan? Semoga saja tidak ya.. :)

.

Tulisan keempatbelas dari acara “Baralek Gadang”, klik di sini untuk melihat daftar tulisan dalam acara ini

 


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

26 comments on “ayahku terabaikan (?)

  1. Ahaaaa …
    Ada pak Anderson Soy Joy …

    Tulisan ini meninjau sosok Ayah dari sudut lain … (I never think about it)
    Semoga kita semua tidak mengabaikan Ayah …
    Sehingga Ayah tidak merasa dinomor duakan …

    Salam saya

  2. Dan ahhaa Lagi …
    Saya baru kali ini melihat foto Keluarga Pak Anderson secara lebih jelas …
    Plus Foto Ayahnya pula …

    Ini sekaligus menggambarkan bahwa Uda Vizon dan blognya ini dipercaya oleh sahabat-sahabatnya …

    Ada trust disini … pula sekaligus penghargaan terhadap Uda VIzon dan Blognya …

    Salam saya Uda

    • Dan ahhaa Lagi …
      Itulah hebatnya pengelola Surau Inyiak, kemampuan persuasif nya meluluhkan..hehehe…
      Setidaknya ada 3 benefit buat saya dengan undangan menulis di surau ini:
      1. Membangkitkan kembali gairah menulisku yang beberapa waktu terakhir tertutupi oleh tuntutan menulis advis perkreditan dikantor :-) Dan hebatnya, seperti mengerti dengan produktivitas menulis saya yang sangat rendah belakangan ini, Uda Vizon telah mengirim undangan menulis ke saya sejak 2 bulan yang lalu….
      2. Mempererat kembali silaturrahmi dengan sahabat-sahabat blogger.
      3. Meningkatkan traffic blog saya..hehehe.. Pagi-pagi iseng liat statistik, oalaah…banyak reference dari surau inyiak :-D

  3. Nah, Pak Anderson menuliskannya di sini bahwa sang ayah merasa terabaikan…. itu juga maksudku menulis “Syarat menjadi ayah yang baik”, bahwa ayah-ayah itu sering dihinggapi kekhawatiran apakah dia sudah memenuhi kategori “baik” menurut keluarga dan masyarakat.
    Jangan sampai ayah kita yang sudah berbuat sedemikian baiknya kepada kita merasa khawatir akan keberadaannya. (Dalam keluargaku sekarang mungkin mama yang merasa khawatir begitu, karena mama sudah tidak bisa berjalan dan “berfungsi” seperti dulu). Manula juga sering dihinggapi krisis identitas yang merasa dirinya tdak dibutuhkan lagi.

    Ya, saya senang sekali untuk pertama kali melihat foto keluarga pak Anderson. Foto bertiga itu dengan bapak dan siapa ya? adik atau kakak?

    EM

    • Papah saya sudah ‘pulang’ sejak lama tapi dugaanku dia tidak merasa terabaikan. In fact, saya merasa lebih mengerti jalan pikiran papah daripada mamah saya…. *hiks jadi kangen*

    • Betul mbak, sayapun kadang suka mikir, apa saya udah jadi ayah yang baik untuk kedua buah hati. Apa saya udah meluangkan waktu yang cukup untuk mereka. Apakah gelombang rasa sayang yang saya pancarkan udah diterima dengan baik dihati mereka.

      Difoto kedua itu, yang satunya pake baju item kakak saya, mbak. Salah seorang yang sangat saya hormati, dan saya akan menulis tentangnya suatu saat…

  4. Meski tanpa status sebagai guru, tentara, investor, maupun motivator, sosok ayah yang disampaikan Bung Anderson melebihi peran seseorang yang memiliki status itu. Bangganya punya ayahyang demikian tentunya.

    Ada sesuatu yang tersirat di balik yang tersurat. Ada makna yang tidak disampaikan di balik yang dikatakan. Ada perbuatan yang lain yang menunggu untuk dilakukan di balik yang terlihat. Dan ops, ada harapan yang menggelembung di balik rencana-rencana yang telah dilaksanakan.

    • Betul mas, saya sangat bangga dan menghormati ayah saya. Beliau bertindak dengan caranya yang kadang berseberangan dengan pemikiran saya, tapi saya tahu pasti intinya beliau menginginkan yang terbaik buat saya, buat keluarganya…

      Salam kenal mas…

  5. Hingga meninggalnya Papa, aku sering berpikir demikian, apakah kira2 Papa pernah berpikir bahwa aku mengabaikannya ketimbang Mama?

    Pada kenyataannya, secara lahirilah kecenderungan ‘anak lanang’ memang lebih dekat ke Mama ketimbang ke Papa, tapi itu kan cuma secara lahirilah.

    Batin dan kesatuan hidup (lahir batin) tetap mencoba dekat ke keduanya…

    Tulisan yg menarik. khas anak cowok.. ‘anak lanang’ :)

    • Mudah-mudahan Papamu, yang juga ‘senior’ku udah paham bahwa kamu tak pernah mengabaikannya. Kadang yang terpikirkan dihati tak terucap lewat kata-kata. Apalagi anak lanang, ya Bro? :-D

  6. Wahhh senang membaca tulisan ini karena sifat papa ku yang keras juga mirip2 :D apalagi jaman dulu waktu menghapal perkalian dan belajar membaca witsss anak2nya sampe ketakutan kalau gak bisa hehehehe :D

    btw,kapan2 kalau aku ke PKU kita KOPDAR yuk mas…masak paling deket gini gak pernah ketemuan hehehehehe ^^

    • Orangtua jaman dulu umumnya emang mendidik anak dengan keras, Ri.. Eh, berarti Ria anak jaman dulu donk? *kabur*

      *balik lagi* Iya nih, sama pemiliki Surau Inyiak yang dari Jogja aja saya udah pernah ketemu…hehehe

  7. Assalamualaikum Uda Vizon,
    Makasih udah ngasih kesempatan untuk nimbrung di blog kesohor ini. Suatu kehormatan buat saya, ikut menulis bersama penulis-penulis hebat lainnya dalam Baralek Gadang ini. Bukan berarti saya lantas merasa udah jadi penulis hebat. Ini hanyalah upaya persuasif yang brilian dari Uda Vizon untuk menggugah saya kembali belajar menulis.. Makasih, Bro :-D

    • Wa’alaikumussalam Son…

      Saya juga sangat senang dan berterimakasih sekali atas kesediaan Son berpartisipasi dalam acara ini. Insya Allah akan banyak manfaat yang kita peroleh…

      Sekali lagi terima kasih ya.. :)

  8. Bung Anderson,

    apa yang dialami oleh ayahanda mungkin sama dg yang dirasakan oleh ibuku beberapa waktu yang lalu

    Ibu sempat menyampaikan keinginannya untuk masuk panti jompo saja jika sdh tua. Beliau tidak mau menjadi “beban” anak-anaknya.

    Namun dengan penerimaan dan perhatianku dan kakakku, akhirnya ibu mencabut lagi statementnya utk ke Panti Jompo

    salam,

    • Huaa…itu the last thing on my mind… Nggak kepikiran mau nitipin ortu di panti jompo. Syukurlah BroNeo berhasil menunjukkan ke Ibu kalau beliau ngga akan pernah dititipin ke panti jompo…

      Salam

  9. Ayah ibuku juga seorang guru…entah kenapa guru, selalu dipersepsikan tokoh yang penuh disiplin. Saya bisa membayangkan kehidupanmu, seperti kehidupan masa kecil sampai remajaku.

    Disisi lain, ayahku justru paling memahami jika nilai anaknya jelek….saya pernah dapat nilai merah pada satu mata pelajaran di rapor, dan menangis di tempat tidur sepanjang sore. Ayah kebingungan, membujukku agar tak sedih, karena itu bagian dari proses. Tapi ayah langsung mencarikan guru (di sekolah lain), untuk les privat, sampai nilai raporku di triwulan berikutnya menjadi tinggi dan berwarna biru.

    Ayah pula yang mendorongku berani melanjutkan ke PTN yang saat itu dianggap masih jauh dari rumah, dengan perjalanan KA 15 jam ditambah bis 1,5 jam.

    Disadari, anak-anak cenderung lebih dekat sama ibu, apalagi saat sedih, tapi ayah biasanya dekat dalam hal diajak diskusi untuk masa kini dan masa depan. Bagaimanapun, ayah yang merasa terabaikan, sebetulnya dalam hati bangga pada isterinya, saya ingat perkataan suami…”Saya tak mungkin menyaingi kedekatan anakmu…karena engkaulah yang mengandung mereka selama 9 bulan.”

    • Betul Bu… Itu juga yang saya sadari (tapi nggak pernah diucapkan) bahwa “Saya tak mungkin menyaingi kedekatan anakmu…karena engkaulah yang mengandung mereka selama 9 bulan.”….

  10. semoga ayah saya nggak pernah merasa terabaikan.
    saya sejak kecil sangat dekat dengan ayah, bahkan mungkin saat remaja lebih akran dengan ayah daripada ibu. ibu saya juga lebih dulu meninggalkan kami, bahkan saat saya masih duduk di bangku sma. sebagai satu2nya anak perempuan dari 3 bersaudara, otomatis peran ibu langsung berpindah di pundak saya dan membuat kami (saya dan ayah) jadi semakin dekat.

    sampai sekarang, saya sudah berkeluarga dan mempunyai anak, kami (saya dan suami) masih sangat dekat dengan ayah.

    salam kenal

  11. Maklum, anak laki2 biasanya”agak” mengabaikan orangtua setelah dipeluk isterinya, kecuali saya karena saya memegang kendali penuh. Ha ha ha ha.

    So, jangan mengabaikan orangtua lho, berkata “ach” saja sudah termasuk “durhaka”.

    Ingat selalu” ridho Allah tergantung pada ridho orangtua dan murka Allah tergantung pada murka orangtua”

    Salam hangat dari Surabaya

  12. Singkat namun sarat pesan, Uda Son. Di balik ketidaksempurnaan sikap seorang ayah dalam mendidik dan menerapkan disiplin bagi anak-anaknya, pasti tersimpan hikmah dan kebaikan yang luar biasa. Jadi tidak ada alasan bagi anak untuk menomorduakan apalagi mengabaikan beliau.

  13. Pingback: SURAU INYIAK » Blog Archive » ayahku (bukan) pembohong

  14. Soal siapa yang lebih dulu, rasanya aku dulu pernah juga memikirkan hal seperti itu. Yang tak terbayangkan kalau mamaku yang pergi lebih dulu. Tak terbayang. Karena sejak kecil mama yang tau betul dari A sampai Z urusan anak-anak. Tetapi pada akhirnya memang bapakku yang lebih dulu pergi. Semua itu tetap memberikan arti.

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>