catatan kecil bersama papa


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

7 ayah tentang ayah #4

 

Durasi kebersamaan kita dengan ayah, tidaklah menentukan seberapa dalam kesan kita akan perannya dalam hidup. Ada yang terus hidup bersama sang ayah, namun tak banyak pembelajaran yang ia peroleh. Sebaliknya, ada yang hanya sebentar bisa hidup bersama sang ayah, namun kesan yang ia peroleh sangatlah dalam dan selalu mewarnai hari-harinya hingga dewasa.

Seorang blogger asal Pesisir Selatan – Sumatera Barat, memiliki kesan yang sangat dalam terhadap ayahnya. Meski sang ayah sudah berpulang selagi ia berumur 10 tahun, namun inspirasi yang ditinggalkannya, melekat kuat dalam ingatannya, sehingga menjadi arahan luar biasa dalam hidupnya.

Dia adalah Zulmasri, seorang guru Bahasa Indonesia di SMPN 2 Talun Pekalongan – Jawa Tengah. Meski bekerja di daerah terpencil, ayah satu putra, pemilik blog http://zulmasri.wordpress.com ini, memiliki dedikasi yang sangat tinggi terhadap profesinya. Agaknya, hal ini terinspirasi dari sang ayah yang juga seorang guru.


Da Zulmasri dan keluarga

Lebih lengkapnya, mari kita simak penuturan Da Zulmasri berikut ini…

=====================================================

Catatan Kecil Bersama Papa
Oleh: Zulmasri

 

di serambi itu masih ada
kepul asap rokok daun nipah
dan tatap ke atas sana
pada awan, matahari, dan jelaga
sejenak ada angin di sela daun jambu
meluruhkan daun kuningnya

tiga puluh tahun lebih sudah, papa
kau duduk di serambi, mengaji
seperti tanyaku dulu: apa yang kau cari?
dan kau jawab pula, lewat tanya
:mengapa kau bertanya?

(ya, ya. aku mengerti
tak semua harus ditanyakan
melainkan untuk direnungkan)

kini tiga puluh tahun sudah
masihkah di sana kau mengaji?

***

Oktober 1980.

Hari masih sangat pagi. Seperti biasa aku bersiap berangkat ke sekolah. Di dapur, mak sedang menyiapkan sarapan. Asap mengepul dari api tungku.

Sesaat pintu diketuk disertai suara memanggil mak. Mak pun segera beranjak, menemui tamu di pagi itu.

Tidak lama, suara mak pun pecah. Aku dan uda Zul Akmal, kakakku, kaget. Berita itu pun kemudian segera kudengar. Papa sudah berpulang, tadi malam di tempat etek, adik kandung papa. Beberapa bulan terakhir papa memang sedang sakit dan mendapat perawatan di tempat etek.

Mak pun segera mematikan api di tungku. Aku, uda Zul, serta Tuti adikku disuruh sarapan. Setelah selesai, kami pun berkemas.

Sekitar pukul 09.00 kami sampai di tempat etek. Jarak dari tempat kami tinggal ke tempat etek lumayan jauh, sekitar 25 km. Tidak ada mobil atau motor. Sepeda termasuk barang mewah.

Di pintu rumah etek aku termangu. Air mata menetes. Orang-orang sudah ramai, duduk sambil membaca kitab suci Alquran.

Sekitar pukul 12.00 jasad papa segera dibawa ke pemakaman. Meninggalkan aku, anak laki-lakinya yang masih duduk di bangku kelas 3 SD.

***

Memori masa kecil bersama papa bagiku amatlah membekas. Bagiku, papa selain mak juga, adalah sosok yang tiada taranya.

Ada momen-momen yang tak akan pernah hilang dalam ingatanku.

Papa memang seorang petani. Sebagai petani, papa memiliki ladang yang cukup luas. Selain berladang, papa juga bersawah.

Hasil panen dijual sendiri oleh papa ke pasar dengan menggenjot sepeda. Kadang ke Pasar Kambang yang berjarak sekitar 10 km, atau ke Pasar Surantih yang jauhnya 15 km dari rumah. Menempuh jalan tanah ataupun bebatuan kerikil. Belum ada aspalan jalan ketika itu.

Pada malam harinya, papa mengajar mengaji. Murid-murid papa datang dan pergi silih berganti. Cukup banyak murid mengaji papa.

Satu kebiasaan penduduk kampung yang tidak akan kulupa adalah tata cara penyerahan anaknya untuk dididik dan diajar mengaji. Anak yang diserahkan untuk diajar papa seringkali disertai dengan satu ikat lidi. Penyerahan ini bermakna, apabila si anak nakal maka papa dipersilahkan untuk melecut/memukulnya.

Papa sangat tegas dan terkesan ‘galak’ saat mengajar. Anak-anak yang berciloteh dengan temannya saat belajar pasti kena tegur. Teguran papa sangat ampuh. Ikatan lidi atau rotan dipukulkan ke lantai rumah yang terbuat dari kayu. Suara yang menggelegar cukup membuat nyali anak yang bergurau tadi ciut.

Sehabis mengaji papa suka bercerita pada murid-muridnya. Cerita tentang nabi-nabi maupun hikayat dari tanah Arab. Di akhir cerita biasanya ada keteladanan yang disisipkan oleh papa.

Selain itu, pada hari Jumat papa juga sering menjadi khatib dan imam. Begitu juga pada saat salat taraweh di bulan Ramadan.

Yang aku tahu, tidak ada kegiatan yang tegas apa yang dilakukan warga NU dan Muhammadiyah di kampungku. Istilah NU dan Muhammadiyah tidak dikenal di sana. Kegiatan keagamaan saling menunjang. Perbedaannya paling hanya pada salat taraweh. Papa biasanya menjadi imam taraweh 8 rakaat ditambah witir. Akan tetapi pada saat perayaan Maulid Nabi, papa ikut menabuh rebana, menyanyikan kebesaran dan kecintaan akan sang nabi.

Walau bersama papa tidak lama, bagiku papa telah memberi sisi lain bagaimana menjadi seorang ayah yang baik bagi anak-anaknya. Sebelum dipanggil oleh Yang Mahakuasa, aku selalu ingat satu pesan papa. “Bagaimanapun sulitnya, usahakan untuk tetap bersekolah. Seperti apapun kemiskinan menerpa, jangan lupa untuk selalu belajar dan belajar.” Pesan yang selalu kuingat dan terpatri di dada.

***

Kini aku telah menjadi seorang ayah. Sesuatu yang dulu belum pernah dibayangkan. Sesuatu yang kini harus kujalani.

Kalau dulu papa berprofesi menjadi petani dan guru mengaji, paling tidak aku juga meneruskan apa yang dulu juga telah dilakukan papa. Berbeda memang. Papa dulu menjadi guru mengaji di kampung, sedang aku menjadi guru di sebuah sekolah terpencil.

Dulu saat orang tua hendak menyerahkan anaknya guna dididik dan diajar papa, biasanya disertai dengan penyerahan satu ikat kecil lidi atau rotan. Sebagai guru mengaji, papa dipasrahi penuh oleh orang tua murid untuk dididik dan diajar. Apabila sang murid melakukan kesalahan, papa dipersilakan melecut atau memukulnya.

Meski sudah dipasrahi untuk diperlakukan semau papa, setahuku papa tidak pernah memukul murid-muridnya secara fisik pakai lidi atau rotan. Cukup dengan memukul lidi atau rotan ke lantai, murid-muridnya sudah ciut nyalinya.

Sungguh jauh berbeda kondisinya dengan sekarang. Baik di sekolah atau tempat belajar mengaji semacam madrasah/taman baca Alquran. Orang tua tidak lagi pernah menyerahkan lidi/rotan (walau bersifat simbolis sekalipun) saat mendaftarkan anaknya untuk belajar. Paling saat mendaftar orang tua diberikan formulir untuk diisi. Kemudian dilengkapi persyaratan dan tetek bengek lainnya. Bila suatu ketika sang anak dijewer gurunya dan melapor kepada orang tua, si orang tua biasanya akan datang ‘mencak-mencak’ mengumpati sang guru. Ironis sekali.

Di sisi lain, saat orang tua telah menyerahkan anaknya buat dididik dan diajar di sekolah tanpa disertai lidi/rotan, ada beberapa guru menyediakan alat sendiri. Ketika sang anak berbuat kesalahan, alat yang tadi disediakan sang guru langsung menghajar fisik si anak. Alangkah jauh berbeda model dan penerapan cara mendidik model dulu dan model sekarang.

***

Menjadi seorang ayah sebenarnya tidaklah sulit. Akan tetapi hal itu akan berbeda dan akan jauh lebih sulit  saat dituntut menjadi ayah ideal di mata anak-anak, baik anak-anak di rumah maupun anak-anak di sekolah.

Selamat menjadi ayah bagi yang sudah ataupun yang akan menjadi ayah. Selamat belajar dan mari terus belajar untuk menjadi ayah yang baik dan ideal. Mengantar anak-anak ke gerbang impian.

Buat uda Vizon dan Surau Inyiak, selamat berbahagia. Semoga tercapai segala harap dan pinta. Selamat ulang tahun.

=====================================================

Da Zul… Terima kasih atas partisipasi dan ucapannya dalam perhelatanku ini ya… Dan terima kasih yang tak terhingga sudah menceritakan “catatan kecil bersama papa” ini.. Bagiku, cara beliau mendidik, sungguh luar biasa… Bagaimana dengan sahabat narablog semua? Setuju denganku bukan? :)

.

Tulisan kelimabelas dari acara “Baralek Gadang”, klik di sini untuk melihat daftar tulisan dalam acara ini


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

43 comments on “catatan kecil bersama papa

  1. Aaahhhh …
    Ini benar-benar Reunian Blogger nih …

    Rangpasisia yang merantau ke Pekalongan

    Uda Mas Zul yang guru bahasa Indonesia itu telah mendemonstrasikan kepada kita semua … menulis dengan kaidah yang baik … dengan kata-kata yang efektif … Tidak heran jika tulisan Uda Mas Zul ini sudah sering muncul di media massa …
    bahkan mulai sejak Uda Mas Zul masih di sekolah menengah ..

    Ini sebuah kenangan yang indah …
    Walaupun Uda tidak lama bersama Bapak …
    Namun dengan ditulisnya postingan ini … saya pribadi mengetahui … sesungguhnya Bapaknya Uda Mas Zul selalu bersama Uda … paling tidak spiritnya …

    Salam saya Uda Mas Zul
    Salam saya Uda Vizon

    • Wah, wah, Pak NH berlebihan sekali nih. Saya malah agak khawatir saat mengirimkan tulisan ini pada Uda Vizon. Soalnya, mulai dari menulis hingga mengeditnya hanya butuh waktu sekitar setengah jam. Walaupun idenya sudah lama.

      Spirit dari papa jelas mempengaruhi jalan hidup yang saya jalani. Seperti kata uda Vizon, durasi kebersamaan tidaklah menentukan seberapa dalam kesan yang ada pada diri kita. Namun kebersamaan saya dan papa yang tidak lama sangat jelas dan terus membekas.

      Salam dan terima kasih Pak Trainer.

  2. Saya tidak hafal ini kali yang ke berapa saya menjadi Pertamax di tulisan Baralek Gadang …
    Saya rasa yang ketiga nih …

    :)

  3. Dan satu lagi ….
    Jika anda … para pembaca sekalian berkesempatan berkunjung ke Blog Uda Mas Zul ini …

    Coba perhatikan Slide Show Foto di sisi sebelah kanan …
    Disana ada Foto-foto yang menurut saya menarik …
    Rangkaian Foto berisi kegiatan luar ruang Anak-anak SMP … dan jika anda perhatikan textnya …
    Saya berasumsi … ini adalah murid-murid Uda yang sedang belajar menulis di alam bebas …

    Betul Begitu Uda Mas Zul ?

    salam saya

    • Pak NH benar. Ini pembelajaran di luar ruangan. Kebetulan materinya menulis puisi tentang keindahan alam. Nah, paling gampang dan cocok ya diajak ke luar, menikmati keindahan alam.

      Intinya, mereka saya suruh melihat, mendengar, dan merasakan apa yang ada dalam dada. Semuanya ditulis di buku masing-masing. Selanjutnya di kelas dan dilanjut di rumah, mereka merangkai kata-kata yang mereka tulis menjadi baris puisi.

      Hasilnya, puisi-puisi yang jauh lebih intens dan mendekati apa yang saya harapkan.

  4. Saya sudah menantikan tulisan Uda Zul di sini, dan rupanya hari ini beliau muncul.

    Saya tak pernah lupa betapa beratnya pekerjaan Uda sekarang, betapa Uda selalu berusaha menjadi guru yang baik dan disiplin. Rupanya itu semua adalah gemblengan dari bapak yang sebetulnya tak begitu lama hidup bersamanya. Meskipun petani/peladang, Bapaknya Uda adalah guru, sensei dalam berbagai hal.

    Pesan bapak yang ini: Bagaimanapun sulitnya, usahakan untuk tetap bersekolah. Seperti apapun kemiskinan menerpa, jangan lupa untuk selalu belajar dan belajar.” menunjukkan pandangannya terhadap pendidikan.

    Semoga Uda Zul bisa tetap menjalankan tugasnya sebagai guru di Pekalongan sana, yang kerap kubaca prasarananya tidak memadai (padahal masih pulau Jawa loh)

    Saya masih menunggu lagi tulisan seseorang yang berkecimpung di dunia pendidikan ;)

    Hormat saya
    EM

    • Belum lama ada seorang teman mutasi. Pada saat itu sang teman diberi waktu memberikan sambutan di hadapan anak-anak. Sang teman mengatakan, bahwa guru-guru yang mengajar di SMP 2 Talun termasuk luar biasa. Rata-rata berasal dari luar kecamatan Talun, menempuh jarak puluhan kilometer. Paling dekat sekitar 10 km. Sang teman kemudian mengatakan, sebenarnya saat berangkat separuh energi sudah habis di jalan yang penuh tanjakan, berlobang sana sini, dst.

      Saya sendiri melakukan semua dengan enjoi, menikmati perjalanan sekitar 40 km. Kadang sampai di sekolah malah sudah jadi sebuah atau dua karangan yang mengendap di kepala.

      Mbak Imel,
      Meski di Pulau Jawa, masih banyak sarana prasarana yang tidak memadai, terutama di daerah-daerah terpencil.

      O ya, untuk yang terakhir, menunggu tulisan dari rekan guru juga? Saya tahu, agaknya dari Kendal ya?

  5. Maaf ya Da, baru bisa berkunjung kesini meski saya sering sekali ketemu Uda di blog sahabat lain.
    Linknya sudah saya simpan diteropong.
    Salam untuk Uda sekeluarga, semua sahabat dan untuk semua AYAH se Indonesia.

    • Wah, Pak Mars. Meski di Kendal tapi saya belum pernah ketemu. Kalau dengan Pak Sawali sudah beberapa kali. Kapan ya Pak bisa berjumpa?

  6. Baru separo saya baca tulisan Pak Zul, merinding bulu roma di kepala … terenyuh, .. haru … nyaris menitik tetes2 air mata ini. Satu artikel yg ditulis apik dari tata & juga bahasanya. (harus dong, Guru B. Indonesia !) ????????, Allah masih mengkaruniai saya dg keuda orang tua. Saya jadi berpikir & membayangkan bagaimana ya akhir episode kami nanti.. ? Satu doa yang pasti, saya kah yang duluan atau beliau berdua, .. “semoga mencapai khusnul khotimah … amin …”
    Salut buat Pak Zul … Ini akan jadi bacaan wajib bagi anak saya …

    • Wah, wah, Pak Anang, jangan sampailah. Nggak ada ember untuk menampung air mata yang jatuh nantinya.

      Beberapa cerita dalam blog Pak Anang dengan anak murid juga mengharu biru perasaan. Saya yakin, Pak Anang termasuk dekat dengan anak-anak. Ya kan Pak?

  7. Salam kenal dulu uda… :)
    Senang sekali membaca tulisan ini, karena ternyata setelah uda membandingnya type mengajar jaman dulu dan jaman sekarang sudah dipastikan bahwa aku dididik dengan metode jaman dulu hehehehehehehehe….Papa kalo ngajarin anak belajar membaca dan hapalan perkalian galaknya minta ampun :D tapi gak pernah sampe benar2 menganiaya secara fisik, wong denger suaranya aja udah hands up hahahahaha….

    • Mbak Ria benar. Perbandingan yang kontras ya. Memang, pada saat seseorang kadang punya dan diberi kesempatan, justru tidak pernah melakukan kesempatan itu. Pun begitu sebaliknya. Hukuman fisik mungkin dibenarkan zaman dulu untuk mendidik. Namun hal ini tidak dilakukan. Jauh berbeda dengan zaman sekarang bukan?

  8. Saya baru melihat wajah Uda Zul di foto ini….

    Dan saya senang membaca tulisan Uda Zul, betapa membekasnya kenangan pada ayah, padahal saat itu Uda Zul masih kecil.

    Kondisi saat ini berbeda ya Uda, saya membayangkan menjadi guru sekarang lebih sulit, orangtua cenderung menyalahkan guru, padahal keberhasilan anak tergantung awalnya di rumah, baru lingkungan keluarga, tetangga, baru sekolah. Namun, menjadi guru suatu pekerjaan yang mulia…. di masa pensiun ini saya menjadi guru, ingin mengamalkan ilmu yang pernah saya peroleh, semoga bermanfaat.

    Selamat ya Uda Zul, ditangan mu lah, anak-anak diserahkan orangtua untuk dibimbing dan menjadi manusia yang berguna kelak.

    • Pengalaman bu enny yang luar biasa tentu sangat memahami dunia pendidikan, zaman dulu dan kini. Pendidikan utama memang di keluarga. Lingkungan sekitar dan di sekolah adalah penyempurnaan. Tapi hal itu kadang malah terbalik ya Bu?

      Terima kasih dengan segala dorongan dan motivasi dari Ibu. Semoga Bapak cepat pulih dan diberi limpahan kesehatan ya Bu….

  9. Tulisan yang bikin mata memanas, Uda….
    Makin suka berada di pesta mu ini, menyambut tulisan demi tulisan baru yang ‘bernyawa’, mengudar rasa tentang seorang ayah…

  10. Bicara Pekalongan…saya familiar
    Bicara Kab Pekalongan..sangat familiar
    apalagi bicara Talun..lebih familiar..
    saya pernah Dinas di Pekalongan selama 2 tahun, dan District yang saya handle adalah Kab. Pekalongan…
    so uda yang menjadi guru disana bisa saya bayangkan..
    mungkin kita pernah bertemu uda…salam kenal
    semoga warga talun nantinya lancar berbahasa indonesia ya uda :)

    • Hai, hai…. Pernah jadi warga dan tinggal di Kota Batik dan Kota Santri ya. Dinasnya di bagian mana, Mas? Lalu ke Talun juga sudah? Kalau Talun yang kecamatan belumlah apa-apa, teruslah ke Sengare hingga Perkebunan Teh Jolotigo. Nah, baru terasa…. pegalnya.

      Salam hangat selalu. Kapan ke Pekalongan lagi?

      • kantornya sih di Pekalongan Kota, di Jl Dr Wahidin, ke Talun jarang sih, yg paling sering ke Doro, hampir tiap minggu, krn jumat malam jadwal main badminton di Lapangan Badminton Doro :)
        jadi kangen ama pekalongan..doain deh uda bisa main kesana

  11. terlahir sebagai anak perempuan satu-satunya di keluarga membuat saya begitu dimanjakan olehnya. Jangankan disakiti secara fisik, dimarahi saja tidak pernah. kalau kepada kakak dan adik saya yang keduanya lelaki, mungkin pernah, tapi itupun sekali dua kali.
    Ayah juga tak pernah memaksakan kehendaknya kepada kami untuk menjadi anak yang pintar dan berprestasi. apalagi urusan ibadah, shalat, ngaji, puasa, beliau tak pernah memaksakan. lalu apa kami kemudian menjadi anak yang bodoh dan seenaknya dalam bersikap? alhamdulillah tidak.
    kami melakukannya sendiri tanpa diperintah dan dipaksa oleh beliau karena sejak kami kecil, beliau telah memberi keteladanan, memberikan contoh dan menceritakan bagaimana kerasnya dulu orang tuanya dalam mendidik. mendengarkan cerita beliau saja kami sudah ngeri, dan itu sudah cukup menjadikan cambuk buat kami untuk menjadi anak yang bisa ayah banggakan kelak tidak hanya di dunia, dan juga di akhirat InsyaAllah.

    tulisannya bagus sekali :)
    salam kenal Da ^_^

    • keteladanan memang lebih ampuh dalam mewujudkan keberhasilan di bidang pendidikan. Sikap dan perilaku serta kebiasaan yang dilakukan panutan lebih berdaya guna saat diterapkan, apalagi di lingkungan keluarga. Selamat ya mbak dan salam….

  12. Salam kenal,

    Puisinya bagus…

    Uda, saya selalu salut kepada semua guru. Orang-orang luar biasa yang rela mengabdikan dirinya untuk para anak didik.

    salam hormat saya untuk Uda dan rekan-rekan korps guru, terutama yg berdinas di daerah-daerah terpencil

    salam,

  13. Ah.. Ternyata Da Zul ada di Jawa. Aku pikir ada di kampuang nan jauah di mato itu. :D

    Aku senang baca tulisan uda ini. Walaupun Papa sudah pergi berpuluh tahun lamanya, tapi rasa sayang papa masih terasa sampai sekarang dan yang penting uda meneladani kebaikan yang beliau ajarkan sejak dulu.

    • Iya mbak, masih di daerah perantauan. Di kampuang alunlah baguno.

      Terima kasih dengan apresiasi dari mbak. Spirit papa yang meski sudah tiada senantiasa menjejeri setiap langkah.

  14. Semoga ayahanda diterima di sisi Allah Swt.

    Sebagai ayah dan guru tentu ayahanda adalah sosok panutan dan teladan ya mas. Andapun juga harus seperti itu agar anak2 bangga.

    Salam hangat dari Surabaya

    • Terima kasih doanya Pakde.

      Papa tinggal di pelosok kampung dulunya. Peran sebagai guru ngaji, imam dan khotib salat Jumat menjadikan Beliau sangat dihormati. Saya masih ingat, saat berpulang, para murid papa berdatangan memenuhi rumah dalam jumlah yang cukup banyak dan ikut mengantar ke tempat peristirahatan terakhir.

      Salam dan terima kasih sekali lagi Pakde

  15. meski tak bisa berlama-lama hidup bersama ayah, tapi pak zul telah mendapatkan banyak pelajaran berharga dari almarhum. semoga almarhum diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. kini, zaman memang sudah jauh berubah. tapi semangat utk melakukan perubahan melalui dunia “pendidikan” sebagaimana yang pernah dilakukan oleh almarhum sebagai guru ngaji akan terus mewaris dari generasi ke generasi.

  16. Saya terharu membaca kisah Uda Zul dan ayah. Betapa di balik kesederhanaan sikapnya tergambar sebuah sosok yang besar.

    Dan puisinya itu lho, khas Uda Zulmasri banget. Apakah kemampuan itu turun dari sang ayah juga?

    • Terima kasih uni dokter. Kalau puisi, wah, saya tidak tahu. Papa tidak pernah menulis puisi, setidaknya saya tidak pernah menemukan puisi Beliau. Kalau nyanyian berupa puji-pujian terhadap Yang Kuasa sering dilakukan papa sambil menabuh rebana besar. Sampai sekarang, rebana yang usianya lebih tua dari saya itu masih tersimpan rapi di rumah.

  17. salam kenal, Uda Zul

    membaca tulisan ini bikin mataku terus berkaca2,
    dan bersyukur bahwa ayahku alhamdulillah dlm keadaan sehat2 saat ini.

    Terbayangkan betapa Ayahnya Da Zul seorang ayah dan guru yang sangat2 layak jadi panutan, semoga aku dan suami bisa jadi panutan bagi anak2ku,amin
    salam

  18. Pola pendidikan anak zaman dulu dan zaman sekarang memang berbeda ya, Uda Zul …
    Zaman dulu, anak dipukul guru adalah hal biasa, tak ada yang berani melawan. Sekarang, anak dipukul guru, bisa-bisa gurunya dilaporkan ke polisi …

    Perkembangan pemahaman ilmu psikologi dan humaniora agaknya mempengaruhi pola pendidikan di mana saja. Anak adalah individu yang membutuhkan penghargaan dan penghormatan juga, sehingga pola pendidikan dengan menerapkan kekerasan nampaknya tidak sesuai lagi, karena hanya akan menghasilkan pribadi yang juga menyukai kekerasan.

    Salam hormat Uda Zul, semoga sukses dan selalu diberi kemudahan dalam mendidik anak-anak di rumah maupun di sekolah :)

  19. Uda Zul ditinggal papa jauh lebih kecil. Sejak SD. Tak terbayangkan olehku. Barangkali aku patut mengucapk syukur karena masih bisa merasakan sosok seorang ayah hingga dewasa. Bagaimana pun, ditinggal sejak kecil ataupun setelah dewasa, mempengarhui perkembangan seseorang. Kurasa Uda Zul jauh lebih kuat dari apa yang kualami.

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>