tak cukup hanya menjadi ayah biologis

7 ayah tentang ayah #5

 

Tahukah anda bahwa ternyata kata “ayah” dan “bapak” itu memiliki perbedaan makna yang sangat signifikan? Untuk menyebut seorang lelaki yang menjadi penyebab kita ada di muka bumi ini, tepatnya kita menggunakan kata “ayah” ataukah “bapak”? Bingung? Tidak perlu… :)

Bapak Sawali Tuhusetya, seorang guru Bahasa Indonesia di Kendal – Jawa Tengah, punya penjelasan akan hal ini. Ayah tiga putra, pemilik blog http://sawali.info, yang sudah banyak menghasilkan karya tulis ini, kali ini hadir di tengah kita untuk menjelaskan bagaimana sebenarnya peran ayah tersebut yang diawali dari pengertian kata “ayah” itu sendiri.


Sawali Tuhusetya

Tidak usah berpanjang-panjang ya… Mari kita simak penuturan Pak Sawali berikut ini…

=================================================

Tak Cukup Hanya Menjadi Ayah Biologis
Oleh Sawali Tuhusetya

 

Tanggal 23 April 1992, saya resmi menyandang predikat sebagai ayah biologis. Itulah saat pertama saya merasakan kebahagiaan yang begitu sempurna sebagai seorang ayah. Ya, ya, predikat ayah memang berbeda dengan bapak yang konon telah mengalami perluasan makna. “Bapak” tidak selalu identik dengan “ayah”. “Bapak” bisa disandang oleh siapa pun, tergantung bagaimana masyarakat kebanyakan memberikan sapaan sosial kepada seseorang. Namun, berbeda dengan “ayah”. Dalam terminologi sosial dan kultural bangsa kita, “ayah” menunjukkan “kesempurnaan” makna seorang lelaki dalam menjalankan peran biologis, emosional, sosial, bahkan juga spiritualnya.

Sungguh, predikat “ayah” diperoleh melalui fase yang panjang. Ia tidak hadir begitu saja. Ada banyak faktor yang memengaruhinya. Ia tidak cukup didapat ketika seorang lelaki mendapatkan pasangan hidupnya. Betapa tidak sedikit kaum lelaki yang gagal mendapatkan predikat “ayah biologis” pasca-pernikahan ketika Tuhan belum memberikan kesempatan kepadanya. Tak jarang, kaum lelaki yang sudah demikian kuat hasratnya untuk mendapatkan predikat semacam itu harus menempuh berbagai cara, bahkan rela melakukan tindakan yang tidak rasional sekalipun dengan memercayai berbagai mitos yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Pertanyaan yang muncul kemudian, apa yang mesti dilakukan oleh seorang lelaki setelah predikat ayah biologis itu berhasil disandangnya? Cukupkah predikat ayah biologis “disakralkan” secara sosial begitu saja tanpa ada upaya serius untuk memaknainya sebagai peran emosional dan religius yang mesti dijalankan?

***

Ketika anak pertama saya lahir, saya hanya berpikir bahwa saya telah “sempurna” secara fisik yang sukses menaburkan benih kejantanan ke dalam rahim istri saya. Namun, seiring bergulirnya waktu, hingga akhirnya lahir anak saya yang kedua dan ketiga, tugas dan peran keayahan sudah jauh mengalami pergeseran. Memang, bisa dibilang, saya telah sukses menjalankan peran sebagai “ayah biologis”. Tiga anak yang saya yakini kelak akan menjadi ahli waris saya yang sah jelas membuktikan hal itu. Namun, sudahkah saya mampu menjalankan peran sebagai “ayah emosional”, “ayah sosial”, dan lebih-lebih “ayah spiritual”? Itulah pertanyaan yang hingga kini belum juga bisa terjawab.


Hesty, putri pertama Pak Sawali

Sebagai “ayah emosional” seharusnya saya bisa memosisikan diri sebagai sosok teladan yang bisa memberikan inspirasi buat anak-anak saya dalam mengembangkan potensi dirinya. Namun, secara jujur harus saya akui, saya belum bisa sepenuhnya menjalankan peran itu. Saya masih belum bisa bersikap “manjing ajur-ajer” yang bisa memahami kehendak anak-anak sepenuhnya. Celakanya, saya masih suka bersikap “otoriter” dengan memaksakan anak-anak agar mengikuti kehendak dan keinginan saya. Anak-anak hanya memiliki fisik semata, sedangkan hati, perasaan, dan jiwanya menjadi milik saya. Ketika anak sulung saya memutuskan untuk memilih sekolah atau perguruan tinggi yang dia inginkan, saya cenderung lebih dahulu mendiktenya. Saya sangat berharap, si sulung bisa melebihi kemampuan rata-rata teman sebayanya. Hal yang sama juga (nyaris) berlaku untuk anak saya yang kedua dan ketiga. Saya tidak peduli bagaimana perasaan anak-anak ketika saya memiliki kecenderungan untuk mendiktekan harapan dan keinginan saya. Anak-anaklah yang harus mengerti dan memahami harapan dan keinginan ayahnya sebagai kepala keluarga, bukan sebaliknya, begitu pikir saya.

Lantas, bagaimana peran saya sebagai “ayah sosial” dan “ayah spiritual”? Setali tiga uang. Anak-anak saya hanya memiliki fisiknya semata, sedangkan hati, perasaan, dan jiwanya menjadi milik saya sepenuhnya. Bisa jadi, saya terbilang seorang ayah yang gagal menjadi patron ideal bagi anak-anak. Saya terlalu otoriter, anti-demokrasi, sekaligus gagal menjadi anutan dan teladan bagi anak-anak saya. Sikap otoriter dan anti-demokrasi di ruang keluarga agaknya telah membuat hati, jiwa, dan perasaan anak-anak saya jadi tidak nyaman. Di depan saya, mereka tampak menjadi anak penurut, tetapi saya tak tahu pasti, bagaimana potret dan profil saya dalam dunia imajinasi anak-anak saya. Saya hanya mulai merasakan bahwa sikap otoriter dan anti-demokrasi yang selama ini saya terapkan, disadari atau tidak, telah membuat anak-anak saya merasa tidak nyaman, bahkan kehilangan rasa percaya diri. Hal itu bisa saya ketahui ketika secara tidak sengaja saya membuka facebook si sulung. Status di dinding facebook-nya selalu memancarkan kegelisahan. Setiap ujaran yang dipajang di dinding selalu berakhir dengan tanda seru (!).

Saya justru makin gelisah. Haruskah saya menjadi “monster” di depan anak-anak saya sendiri? Entah, tiba-tiba saya diingatkan oleh lirik Kahlil Gibran berikut ini.

 

Anakmu Bukan Anakmu!

 

“Anak adalah kehidupan, mereka sekedar lahir
melaluimu tetapi bukan berasal darimu.
Walaupun bersamamu tetapi bukan milikmu,
curahkan kasih sayang tetapi bukan memaksakan pikiranmu
karena mereka dikaruniai pikirannya sendiri.

Berikan rumah untuk raganya, tetapi tidak jiwanya, karena
jiwanya milik masa mendatang, yang tak bisa kau datangi
bahkan dalam mimpi sekalipun.

Bisa saja mereka mirip dirimu, tetapi jangan pernah
menuntut mereka jadi seperti sepertimu.
Sebab kehidupan itu menuju ke depan, dan
tidak tenggelam di masa lampau.

Kaulah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah mahatahu sasaran bidikan keabadian.
Dia menentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.

Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap”.

 

Sungguh, lirik Gibran benar-benar menyentuh kepekaan nurani saya sebagai seorang ayah yang sekian lama terninabobokan oleh “keperkasaan” seorang lelaki yang telah berhasil menjadi “ayah biologis”. Anak-anak telah menjadi “korban” otoritas dan kesewenang-wenangan ambisi yang ingin “menyihir” mereka menjadi anak-anak yang begitu sempurna. Padahal, anak-anak memiliki dunianya sendiri. Dengan menjadi sosok ayah yang otoriter dan anti-demokrasi, saya telah membunuh potensi anak-anak saya untuk berkembang menjadi pribadi yang matang dan dewasa.

***


Dhika, putra kedua Pak Sawali yang juga murid Pak Mars (www.marsudiyanto.info)

Menjadi seorang ayah ternyata juga butuh belajar dari pengalaman hidup keseharian, termasuk hal-hal yang dianggap sepele dan remeh sekalipun. Ayah seringkali dijadikan sebagai rujukan sang anak dalam setiap perilaku dan tindakannya. Hal ini makin menyadarkan saya bahwa sikap otoriter dan anti-demokrasi tak banyak manfaatnya dalam perkembangan kepribadian dan karakter anak. Yang harus lebih banyak dilakukan adalah memberikan keteladanan; menyatunya kata dan tindakan. Jika ayah bisa bersikap istikomah untuk memberikan keteladanan, tanpa banyak jargon dan khotbah pun seorang ayah dengan sendirinya akan mampu menjadi figur yang mengagumkan dan anutan anak-anak.

Seiring dengan bertambahnya usia anak-anak, saya juga makin menyadari bahwa seorang ayah tak cukup hanya menjadi “ayah biologis”; sekadar membesarkan dan mencukupi segela thethek-mbengek biaya hidup hingga kelak mereka dewasa. Namun, juga perlu menjadi “ayah emosional”, “ayah sosial”, “ayah spiritual”, bahkan jika perlu menjadi “ayah ideologis”.

Saya tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi terhadap nasib masa depan anak-anak saya kelak jika saya terus membiarkan sikap otoriter dan anti-demokrasi itu berlangsung di ruang keluarga. Seandainya saya tetap bersikukuh dan anak-anak tampak seperti menjadi “anak mami” dan penurut akibat mengakarnya sikap otoriter dan anti-demokrasi, saya yakin, suatu ketika bisa menjadi “bom waktu”. Dan kelak jika menjadi orang tua, bisa jadi mereka juga akan melanggengkan model kepemimpinan yang saya terapkan. Itu artinya, saya telah mewariskan pola “salah asuhan” yang membunuh potensi dan kreativitas keturunan saya dari generasi ke generasi. Syukurlah, saya telah diingatkan oleh lirik Kahlil Gibran itu sebelum sesuatu yang buruk menimpa anak-anak saya. ***

=================================================

So, para ayah sekalian… Mari kita bersama berbenah, agar bisa menjadi “ayah emosional”, “ayah sosial”, “ayah spiritual”, dan “ayah ideologis” buat anak-anak kita, karena kita  bukan semata “ayah biologis” buat mereka… :)

Terima kasih Pak Sawali..

.

Tulisan keenambelas dari acara “Baralek Gadang”, klik di sini untuk melihat daftar tulisan dalam acara ini

34 comments on “tak cukup hanya menjadi ayah biologis

  1. Wah mantap pak Sawali! (Pakai tanda seru yang menyatakan ketegasan pernyataan bukan kegelisahan)

    Syukurlah bapak menemukan lirik Kahlil Gibran yang memang begitu “ideologis” dan sebetulnya sulit untuk dilaksanakan. Jika saja setiap ayah menyempatkan membacanya sehingga mereka dapat menjadi ayah dalam berbagai aspek seperti yang pak Sawali tuliskan di atas.

    Sayang belum ada foto anak ketiga untuk melengkapi tulisan ini ya? :D

    tabik
    EM

  2. Ini dia penjelasannya. Pada bagian akhir tulisan yang saya tulis, saya katakan bahwa menadi ayah itu tidak sulit. Lain halnya bila menjadi ayah yang ideal. Nah, tulisan Pak Sawali ini secara gamblang telah menjelaskan sosok seperti apa ayah ideal itu. Termasuk syair Kahlil Gibran yang menggetarkan bila direnungkan lebih jauh.

    Buat mbak Imel, ini kan tulisan dari guru bahasa Indonesia yang mbak tunggu?

  3. Wah saya luput pertamax kali ini …

    Yang jelas Pak Sawali telah menyadarkan kita semua … bahwa menjadi ayah itu tidak sekedar menjadi Ayah Biologis …

    Ayah adalah sahabat sejati anak-anaknya … yang juga bertindak sebagai Ayah Emosional – Sosial – Spiritual dan Ideologis …

    And again …
    Saya baru melihat sosok pak sawali secara jelas disini … demikian juga Dua dari TIga anak-anaknya

    Salam saya Pak
    Salam saya Uda

  4. Dengan terminologi Ayah yang berbeda dengan Bapak, berarti Ibu dan Bunda juga sama ya Pak Sawali? — Ibu itu sebutan dan sapaan umum untuk semua perempuan yang lebih tua.

    Saya bersyukur, meski tidak menganggapnya sempurna, Ayah saya memerankan peranya sebagai Ayah sebaik mungkin. Tidak hanya sekedar biologis saja.

    Berharap, Ayah anak-anakku kelak juga begitu.

    Pertanyaannya: Kapaaaaannn? *nangis kejer*

  5. Ini bener-bener dalam… barangkali karena sudah lama jadi ayah hehehe…

    Melalui tulisan ini aku tersadarkan bahwa tanggung jawab kita bukan melulu pada biologis saja tapi banyak yg harus diambil perannya ya…

    Makasih Pak Sawali.. Hakkkk! *senyum khas Pak Sawali :)

    • haks, mas don? bisa saja menggoda, nih. bukan lantaran lamanya menyandang predikat sbg seorang ayah, mas don, melainkan saya juga mesti belajar dari “kurikulum kehidupan” yang sesungguhnya.

  6. Salam kenal,

    Satu lagi pelajaran yang saya terima dari sharing para blogger di acara Uda Vizon ini. Salut utk para penulis dan juga Uda yg telah memfasilitasinya.

    Semoga sharing kali ini bisa menjadi bekal ketika saya menjadi ayah kelak.

    Salut utk Pak Sawali yang berani dengan jujur mengakui bahwa pernah bersikap otoriter kepada anak-anaknya. Tidak semua berani mengakui hal tersebut.

    Salam,

  7. Hai Pak Sawali..
    Seneng bisa ketemu lagi di baralek gadang uda Vizon.

    Aku memahami banget tulisan anda Pak, apalagi dihubungkan dengan puisi Khalil Gibran.
    Walaupun seorang ibu, aku memang seperti bapak dalam menerapkan “ayah emosional”.
    Aku belum terlalu terlihat otoriter banget, karena anakku masih 5 tahun.
    Tapi catatan ini akan menjadi notice sendiri buatku.

    Salam.
    Puak.

  8. percaya atau tidak pak, Semalam aku sempat berdiskusi dengan salah seorang temanku mengenai Puisi khalil Gibran itu, dia sedang bingung antara merantau ke tanah jawa atau tetap di Sini…alasannya dia takut meninggalkan orang tuanya. then Saya lalu teringat puisi ini, bahwa anak2mu adalah bukan milikmu tetapi milik diri mereka…dannn di tulis dengan langkap di postingan ini!.

    anak punya jiwa sendiri dan tidak bisa dimiliki oleh orang tua….sangat setuju!

    • oh, ya? dalam penafsiran awam saya, lirik kahlil gibran memang amat penting direfleksi di tengah maraknya “kekerasan psikologis” yang dilakukan oleh sebagian ortu yang ingin menjadikan anak2 sebagai “cloning” harapan dan impian ortu yang acapkali tak sebangun dengan dunia anak2.

  9. Lupa Bilang…
    Terima Kasih Pak Sawali…
    Terima Kasih juga uda yang telah merangkul blogger2 ini…mereka semua cihuy ;)

  10. Mantap pak Sawali…saya suka….!!! (pakai tanda seru).
    Kewajiban ayah tak sekedar ayah biologis…namun punya tanggung jawab yang berat (sebetulnya ibu juga sama). Bagaimana membesarkan, mendidik, memberikan pemahaman, juga mengambil manfaat dari pengalaman orang lain, ….yang tak mudah dilakukan. Kebanyakan nasehat membuat anak bosan, kadang kita lupa, membebani anak dengan segala macam hal, yang dimaksudkan untuk kebaikan.

    Dan saya percaya ungkapan..”Anakmu bukan anakmu”. Semakin tambah usia sekarang, saya makin memahami ungkapan tsb, kita hanya bisa memberikan wadah untuk anak-anak agar bisa tumbuh dan berkembang, namun mereka membutuhkan lingkungan demokratis agar bisa tumbuh dan menyesuaikan dengan kehidupan di alam lingkungan, yang akan berbeda dengan lingkungan tempat orangtua nya dahulu tumbuh kembang.

    • salam hormat buat bu enny. komentar ibu makin melengkapi “khazanah” keayahan dalam membangun sebuah keluarga yang “diidealkan” oleh anak2 masa kini.

  11. Ayah juga berperan sebagai guru,komandan,pelatih,pembina,pemimpin, kakak dan jabatan “selaku” yang lainnya.

    Dengan jabatan yang multi dimensional itu (niru ucpan pejabat..) maka ayah harus menjadi pribadi panutan yang bisa menjadi contoh bagi keluarganya terutama anak-anaknya.

    Ingat pepatah ” Bapak buriik, anake rintik ”

    Salam hangat dari Surabaya

    • leres sanget, pakdhe. matur sembah nuwun menggah sedaya tambahan seserepanipun. salam rahayu wilujeng pambagya mugi katur dhumateng pakdhe Cholik dalasan kulawarga.

  12. duh, jadi terharu. waktu baca tulisan ini saya masih berada di makassar. terima kasih uda vizon, saya telah diajak meramaikan “pesta baralek gadang” yang sangat, sangat mencerahkan. terima kasih juga kepada segenap sahabat yang telah berkenan memeriahkan diskusi ini. salam sejahtera dan sehat buat semuanya.

    • Kita semua senang sekali mendapatkan pencerahan seperti ini dari Bapak.. Maka, tidak ada kata lain selain terima kasih yang sedalamnya dihaturkan kepada Bapak.. Semoga silatulblog kita senantiasa terjaga ya Pak.. :)

  13. alhamdulillah, saya dan kedua saudara laki-laki saya dibesarkan oleh seorang ayah yang tak hanya menyandang status “ayah biologis” tetapi juga telah menjadi “ayah emosional”, “ayah sosial”, “ayah spiritual”, bahkan “ayah ideologis” bagi kami anak-anaknya.

    semoga lelaki pilihan saya pun bisa menjadi seseorang yang demikian bagi ketiga buah hati kami, amin.

    terima kasih tulisan indahnya pak.
    salam kenal

  14. tulisan Bapak membuat saya merenungkan, sudahkah Bapa saya menjadi bukan ayah biologis semata??
    Tapi yang terpenting buat saya sekarang, berharap semoga kelak suami saya dianugerahi kesempatan untuk menjadi ayah biologis, dan setelahnya belajar tentang bagaimana menjadi ayah yang ideal bagi anak-anak kami kelak, insya Allah :)

  15. Salam kenal Pak Sawali,
    adakah hubungannya antara rezim pemerintahan yang berjalan dengan pola didik para orang tua? Seingat saya pas zaman orba, para orang tua rata-rata bersikap otoriter dan cenderung ‘represif’ terhadap anak-anaknya. Pas orde reformasi, para orang tua banyak yang lebih demokratis dan memberi ruang gerak yang lebih bebas kepada anak-anaknya. Ini cuma teori saya aja lho, pak… :-)

    Ada plus minusnya masing-masing. Mana yang lebih baik? Entahlah…sama kontroversialnya dengan mempertanyakan mana yang lebih baik antar rezim pemerintahan itu, hehehe…..

  16. salam kenal, Pak Sawali
    tulisan2 di baralek gadangnya Inyiak Vizon, memang semuanya sangat bermanfaat utk pelajaran hidup sebagai orang tua.

    Istimewanya lagi tulisan Pak Sawali ini , berani utk menyatakan diri dgn jujur bahwa Pak Sawali adalah tipe ayah otorite dan anti demokrasi.

    sekaligus jadi mengingatkanku, betapa beruntungnya aku mempunyai seorang ayah yg tdk otoriter dan tdk anti demokrasi :)

    Terimakasih Pak karena telah berbagi hal yg sangat bermanfaat utk kita sebagai ortu agar mau instrospeksi diri :)
    salam

  17. Pingback: SURAU INYIAK » Blog Archive » ayahku (bukan) pembohong

  18. Aih, ini yang kutunggu-tunggu. Aku beruntung pernah menginap di rumah Pak Sawali dan bertemu serta berkenalan dengan anak-anak Pak Sawali. Paling tidak sedikit banyak dari apa yang Pak Sawali tuturkan pernah kulihat secara nyata. Dan sajak Kahlil Gibran itu, Pak Sawali, aku setuju tanpa syarat. Sedari kecil aku suka sekali dengan sajak Kahlil Gibran tentang anak tersebut. Haks!

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>