baca, baca dan baca…


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

7 ayah tentang ayah #6

 

Pentingnya membudayakan membaca di tengah-tengah keluarga kupikir sudah kita ketahui dan sadari bersama. Tapi, bagaimana implementasinya, tidak semua kita dapat merealisasikannya secara konsisten. Apalagi di tengah gempuran teknologi informasi seperti saat ini, kegemaran membaca buku menjadi semakin sulit diwujudkan.

Bapak Hendra Grandis, seorang narablog asal Bandung, dosen Geofisika di Institut Teknologi Bandung (ITB), memiliki teladan yang beliau tularkan kepada anak-anaknya, yakni kegemaran membaca. Ternyata,  kegemaran beliau membaca itu juga didapat dari ayahnya.


Pak Grandis bersama keluarga dan ayah-ibu beliau :)

Pak Grandis, begitu aku biasa menyebutnya, dulu sangat aktif ngeblog. Namun, barangkali karena alasan kesibukan, akhirnya blog beliau tersebut sudah tidak dapat diakses lagi. Beliau lebih banyak ngeblog untuk urusan perkuliahan, tapi masih tetap berkontak dengan sahabat-sahabat mayanya lewat media Facebook. Jadi, kalau sahabat semua ingin mengetahui lebih lanjut tentang beliau, sila berteman dengan beliau di Facebook ya.. :)

Ok, mari kita simak penuturan beliau soal budaya baca berikut ini…

=================================================

Baca, baca dan baca…
Oleh: Hendra Grandis

 

“Icha, rambut ayah kamu kok sudah putih semua? Kenapa sih enggak dicat atau diapain gitu?”

“Biar aja, entar kalau terpisah di toko buku biar gampang nyarinya, sudah keliatan dari jauh…”

Demikian penggalan pembicaraan anak kedua saya Raisha (Icha) dengan salah seorang temannya yang diceritakan anak saya sepulang saya mengunjungi Science Fair di sekolahnya. Cerita ini memang tidak ada hubungannya dengan rambut saya yang memang sudah memutih bahkan sejak belasan tahun yang lalu. Jawaban spontan anak saya yang seperti itu kiranya menyiratkan salah satu kebiasaan kami sekeluarga dalam mengisi waktu luang, yaitu dengan membaca buku dan tentu saja berbelanja ke toko buku.

Alhamdulillah saya dan istri dapat menanamkan kecintaan anak-anak pada aktivitas membaca buku sehingga kami selalu punya agenda hampir secara rutin berbelanja buku saat kami berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari lainnya. Sebagai orang tua kami sadar betul tentang pentingnya membaca sebagai “pintu masuk” pengetahuan. Apalagi bagi anak-anak yang sedang dalam masa sekolah. Meskipun begitu tidak berarti saat kita sudah tidak sekolah lagi yang namanya pembelajaran dan akuisisi pengetahuan khususnya melalui buku juga berhenti. Namun dengan kesadaran tersebut saya tidak lantas memberikan arahan bergaya indoktrinasi supaya anak-anak gemar membaca.

Kami hanya memberikan contoh, karena kebetulan profesi saya sebagai pengajar dan istri sebagai peneliti “memaksa” kami untuk membaca banyak buku. Selain buku yang berhubungan dengan pekerjaan saya juga senang membaca buku tentang manajemen, tentu saja yang isinya tidak “njelimet” dengan teori-teori tapi yang populer dan banyak kiat-kiat praktis, meskipun saya merasa tidak berbakat dan tidak ingin terjun ke dunia bisnis. Saya juga merasa perlu membaca buku menyenai pengembangan diri. Kadang agak khawatir juga ditertawakan orang saat memilih buku atau membayar di kasir meski cuma dalam hati, sudah umur segini tua (yang sangat jelas ditandai dengan rambut yang sudah uban semua) kok masih saja baca buku seperti itu. Namun saya cuek saja toh saya kadang memerlukannya untuk bahan pembicaraan baik di kelas maupun di luar kelas untuk memotivasi mahasiswa.

Pada saat membeli buku itulah saya juga memberi kebebasan anak-anak untuk memilih buku yang mereka senangi. Sesekali saya menyarankan buku-buku tertentu yang mungkin berguna dan mereka sukai. Begitu mereka menemukan keasyikan dan manfaat membaca maka kecintaan terhadap buku dan kegiatan membaca akan tumbuh dengan sendirinya. Kadang keinginan mereka untuk ke toko buku bahkan harus agak di-rem karena kebutuhan lain juga memerlukan perhatian. Hal itu sekaligus untuk memberikan pengertian kepada anak-anak tentang pengaturan anggaran, pengendalian diri, mengisi waktu luang dengan cara lain yang bermanfaat dan lain sebagainya.

Pada kesempatan tertentu saya juga menceritakan bagaimana sulitnya jaman dulu untuk bisa mengisi waktu dengan membaca buku. Alhamdulillah di tengah keterbatasan ekonomi waktu itu saya dibesarkan dalam keluarga yang juga dekat dengan buku. Ayah saya yang terus belajar dan bahkan kuliah lagi secara formal meski sudah bekerja dan berkeluarga secara tidak langsung membuat saya juga gemar sekali membaca. Masa itu kondisi yang masih serba sulit membuat toko buku masih sangat jarang. Toko buku yang ada lebih banyak menjual buku-buku pelajaran sekolah. Tampaknya buku belum menjadi kebutuhan yang dianggap penting. Buku-buku yang dibelikan oleh ayah saya-pun terbilang masih sangat terbatas. Di luar buku pelajaran SD, saya masih ingat buku yang saya miliki adalah satu seri buku kisah para Nabi dan Rasul, yang lebih didominasi gambar-gambar dengan deskripsi dan narasi singkat di bawahnya. Meskipun bekerja di bidang kehutanan ayah saya kuliah lagi di bidang seni rupa untuk mengembangkan bakat seninya. Sebagai bagian dari tugas kuliahnya beliau juga membuat beberapa cerita anak-anak bergambar atau komik yang tentu saja saya ikut menikmatinya.

Keluarga saya tidak berlangganan koran, namun ayah selalu membawa pulang koran dari kantor keesokan harinya ketika sudah tidak ada lagi yang memerlukannya. Saya tidak pernah melewatkan untuk membaca koran yang sudah terlambat satu hari itu… Saat saya masih SMP pada suatu kesempatan saya diajak oleh seorang paman (yang usianya hanya beberapa tahun lebih tua sehingga kami lebih seperti sahabat) ke rumah temannya yang sudah lama sekali tidak bertemu. Saat mereka asyik ber-reuni dengan bercerita kesana-kemari, saya juga asyik membaca setumpuk koran dan majalah yang sebagian besar sudah lama yang teronggok di ruang tamunya. Teman paman tadi mentertawakan sambil bilang: lho itu kan koran dan majalah lama? Saya jawab kalem: kan saya belum pernah baca isinya…

Hampir semua orang menyadari pentingnya dan banyaknya manfaat membaca. Kita belajar melalui membaca. Kita juga bisa memperoleh kesenangan melalui kegiatan membaca. Dengan membaca banyak peluang yang bisa lebih terbuka. Tanpa membaca kita mungkin tidak bisa menulis atau berbicara di depan umum dengan baik. Namun, nampaknya generasi muda jaman sekarang tidak terlalu banyak membaca lagi. Jika saat mereka masih muda sudah tidak senang membaca, maka sebagai orang tua kelak mereka juga tidak akan menikmati aktivitas membaca. Lalu bagaimana mereka bisa mengajak anak-anak mereka untuk gemar membaca?

Perkembangan ekonomi dan kemajuan teknologi yang semestinya mendukung aktivitas membaca tampaknya justru menjadi penyebab menurunnya minat baca di kalangan anak muda. Siaran TV yang semakin variatif, permainan elektronik, Internet, gadget komunikasi dan lain-lain merupakan pengalih perhatian kebanyakan anak-anak dari keasyikan membaca buku. Banyak yang berkilah kalau semuanya sudah ada di Internet jika kita memerlukan informasi, berita dan bahkan bahan pelajaran atau kuliah. Di satu sisi ada benarnya juga karena buku sekarang sudah bisa dibaca dalam bentuk e-book. Namun di sisi lain ada faktor kecepatan saji dan volume informasi yang demikian besar yang sering melupakan kita pada hal-hal yang lebih substantif. Berapa banyak yang memperoleh informasi dari koran melalui internet dengan membaca keseluruhan isi berita?

Jaman memang sudah berubah. Sebenarnya masih untung kalau kita masih mau “membaca” dan menambah pengetahuan dengan memanfaatkan teknologi informasi yang ada saat ini. Namun, ibarat memerlukan air seteguk, informasi yang disediakan oleh internet itu mengalir seperti air bah. Kemungkinannya ada dua, kita disibukkan oleh kegiatan memilah informasi atau kita tidak punya waktu untuk memilahnya dan menganggap semua informasi itu valid. Selain itu banyak yang hanya berhenti setelah memperoleh informasi yang diperlukan. Padahal ada kegiatan yang juga tak kalah penting terutama dalam proses pembelajaran, yaitu mengubah informasi itu menjadi suatu pengetahuan atau “knowledge”. Untuk itu kita perlu mensintesakan informasi tersebut, memahami (meng-internalisasi) dan bahkan jika perlu menyajikan kembali hasil internalisasi tersebut sebagai informasi dan pengetahuan baru.

Tanpa perlu menafikan perkembangan teknologi yang mestinya bisa membantu dan memudahkan hidup manusia, ada baiknya juga kita berhenti sejenak dari “hiruk-pikuk” informasi, komunikasi dan kesibukan yang berkaitan dengan dua hal tersebut yang mendominasi keseharian kita. Di rumah perlu ada jeda dengan tidak menonton TV, tidak ber-telekomunikasi, tidak terhubung ke Internet untuk menyediakan waktu yang lebih berkualitas dengan berkomunikasi dengan orang-orang terdekat kita. Kita bisa juga menikmati keasyikan membolak-balik lembaran kertas dari buku yang kita baca secara komplit sampai ke detailnya sebagai bagian dari kegiatan menambah pengetahuan dan wawasan. Enjoying life in a slow(er) lane might improve our life too…

=================================================

Sebagai aktivis dunia maya (halah, istilah apa pulak itu :)), bagaimana minat baca anda? Apakah semakin menurun? Atau, jangan-jangan dengan aktif ngeblog, minat baca Anda semakin meningkat, terutama membaca postingan terbaru dari sahabat narablog :)

.

Tulisan ketujuhbelas dari acara “Baralek Gadang”, klik di sini untuk melihat daftar tulisan dalam acara ini


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

30 comments on “baca, baca dan baca…

  1. Kalau minat baca postingan terbaru sahabat blogger pasti dong meningkat, cuma belum berbanding lurus nih dengan menuntaskan membaca buku yang dibeli. Minat bacanya tentu saja ada, tetapi meluangkan waktu untuk menuntaskan itu yang agak sulit :(

    • Saya sering mulai dengan hanya “browsing” lalu mencermati bagian2 yg saya anggap penting untuk dibaca secara menyeluruh. Tapi kadang ada juga yg memang harus dibaca dari awal sampai tuntas, dan itu yg agak sulit di tengah kesibukan kita…

  2. Pak Hendra Grandis … !!!
    Ah kangen saya dengan tulisan beliau
    kangen juga dengan jepretan kamera beliau yang selalu saja bisa membuat saya tersenyum …

    Membaca ?
    Saya harus akui … minat membaca saya sejak saya bekerja ini jadi menurun … sepertinya harus saya galakkan lagi nih …

    Foto keluarga …
    As ussual … Ini adalah kehebatan dari Uda Vizon dan Blog ini …
    Rasanya baru sekali ini saya melihat keluarga Pak Hendra secara komplit … bahkan beserta Ayah Ibu beliau …

    Salam saya

    • Pak eNHa saya juga sebenarnya kangen nge-blog lagi dan juga baca blog teman2, bukan sok sibuk tapi lebih karena sering macet ide…

      Soal foto keluarga, di FB ada kok komplit…

  3. Dan asal tau saja ya Uda …
    Pak Hendra ini adalah salah satu Alumni Pelajar / Siswa Teladan Nasional lho …

    bangga juga punya teman sehebat Pak Hendra Grandis

    Salam saya

  4. Benar-benar ajang kangen para blogger da Vizon. Sahabat dan guru dalam banyak hal, Pak Hendra Grandis, kali ini hadir dengan menu kebiasaan membacanya, sesuatu yang saya angan dan inginkan saat anak-anak sudah beranjak agak besar: membeli dan memasuki toko buku secara rutin dan mempersilakan anak memilih buku yang disukainya.

  5. Wah senang sekali bisa bertemu pak HG lagi di sini. Biasanya cuma ber-“hai-hai” di FB saja.

    Saya sedang kewalahan membuat waktu untuk membaca sekarang. Dulu saya membaca di kereta dalam perjalanan mengajar. Sekarang waktu di kereta lebih terpakai untuk tidur, atau…. membalas email/FB/twitter. Padahal ada begitu banyak buku yang melambai-lambai minta dibaca.

    Saya memang setuju sekali membaca buku itu justru yang mengasyikkan adalah membalik lembaran kertas, mencium bau kertas, terkadang sambil tengkurap/telentang, kadang mencari kata/adegan yang ingin dibaca lagi dengan membalik-balik ke muka dsb. Kegiatan yang tidak bisa dilakukan dengan komputer/ipad.

    Dengan mengendarai mobil di slower lane, kita bisa melihat pemadangan yang ada, sambil bercakap-cakap tentunya.

    Dan ya, saya memang masih lebih menghargai pajangan berupa deretan buku daripada crystal swarosvky dll ;)

    EM

    • Kalau saya jarang bawa buku di perjalanan karena males bawaan jadi berat, tapi biasanya saya beli majalah yg jarang saya beli di waktu2 yg lain…

      BTW, mending mana crystal swarosvky atau Bohemian crystal, hehehe…

  6. Thanks and apologize to Uda Vizon due to i just access your blog even you told me about this event few weeks ago. :-p

    quote “Tanpa membaca kita mungkin tidak bisa menulis atau berbicara di depan umum dengan baik.”

    Apa yang dituliskan oleh Bapak Hendra Grandis pernah saya dengarkan dari Beliau ketika masih menjadi mahasiswa beliau. Hal itu benar sekali dan sangat saya rasakan sekarang ini berhubung kerjaan sekarang yang penuh dengan laporan dari laporan harian, mingguan, bulanan, dan laporan akhir apalagi semuanya harus disaji dalam English :(. (jadi ingat ketika draft tugas akhir saya penuh dengan tinta merah :P, saya yakin kalo sekarang ini laporan-laporan saya dikoreksi oleh Bapak Hendra, tinta merah masih akan menempel di laporan-laporan tersebut :-p)

    Pernah saya bingung harus menulis apa tetapi hal itu bisa sedikit teratasi setelah membaca beberapa jurnal yang berkaitan dengan yang akan ditulis seperti yang Bapak Hendra tuliskan di atas.

    Sampai sekarang ini, minat saya untuk membaca “jurnal-jurnal ilmiah” masih sangat rendah sekali. Jurnal-jurnal tersebut baru akan dibaca jika mentok dalam penulisan laporan. Hasrat membaca novel yang tinggi berbanding terbalik dengan hasrat membaca jurnal-jurnal ilmiah. hehehehehe :-p

    Anyway, thanks a lot Sir for your sharing. I like last quote “Enjoying life in a slow(er) lane might improve our life too”

    Cheers

  7. dari kecil sampai sebelum nikah aku rajin baca buku paling tidak dalam 1 bulan aku beli buku baru 1, tapi setelah menikah dan punya anak aku jadi jarang baca buka waktunya semakin berkurang…

  8. Wah tulisan Pak Hendra ini jadi mengingatkanku akan beberapa buku yg sdh aku beli tp belum sempat aku baca :(

    Maklum sekarang tinggal di kota kecil yg jauh dari toko buku, klo sempat ke toko buku jadi kalap gak karu-karuan beli buku tapi ujung ujungnya belum terbaca juga

    salam,

  9. Wahh pak Hendra….
    Jadi kangen tulisannya…
    Dan saya punya hutang…bapak udah mampir ke rumah saya di Bubat…tapi saya belum sempat ke rumah bapak…maklum setelah si bungsu ke LN, saya jarang ke Bandung, hanya suami yang sering ke Jakarta.

    Baca…baca…dan baca…
    Ini penting dalam semua lini kehidupan…
    Untuk bayar asuransi, baca dulu aturannya yang ditulis pada huruf kecil-kecil itu….sehingga saat klaim lebih mudah.

    Dan kebiasaan membaca harus dimulai sejak dini, saya bersyukur anak-anak suka membaca, karena bagi saya buku lebih penting daripada isi rumah yang mewah…
    Nikmatnya baca, di hari libur, sambil selonjor kaki dan mendengarkan lagu….atau sambil memeluk guling…sedaaap.

    • Tenang aja Bu Enny, saya tidak akan nagih hutang kok, hehehe… Tapi bukan berarti Ibu nggak boleh ke rumah saya… Mudah2an lain kesempatakn kita bisa saling mengunjungi lagi.

  10. senang sekali rasanya jika punya orang tua yang selalu menanamkan kecintaan kepada kita anak-anaknya dalam segala hal kebaikan sperti kecintaan akan buku, bacaan yang sejatinya amat sangat bermanfaat bagi diri sang anak kedepan kelak.

    sejak kecil, saya juga sudah sangat menyukai buku bacaan, bahkan sebelum saya berusia 5 tahun, sudah sangat lancar membaca. sayangnya, ekonomi keluarga waktu itu masih sangat pas-pasan. untuk membeli buku baru, adalah kebutuhan mewah dalam keluarga kami, maka ayah yang seorang guru hanya bisa memberikan buku pelajaran yang beliau ajarkan kepada anak didiknya dan koran bekas untuk memuaskan keinginan saya akan bacaan.

    dan kini, saya telah menjadi orang tua, kecintaan akan bacaan itu tiodak pernah memudar, bahkan semakin menggila. mudah2an sifat itu tertular apada anak-anak saya. amin

    salam kenal Pak Hendra. putri2nya manis banget, :)

  11. Salam kenal, Pak Hendra.
    alhamdulillah, kebetulan aku juga dari keluarga yg senang sekali membaca buku apa saja,
    krn dulu sulit uangnya kalau pingin beli buku, jadi dulu kami biasa membeli buku2 dari tukang loak buku bekas yg ada dipasar :)
    dan, ibu selalu mengajak kami bergiliran ikut kepasar, agar semua anak kebagian bukunya masing2 utk dibaca dirumah :)

    Dan, alhamdulillah, anak2 ku yg berdua kini juga suka membaca , krn telah diperkenalkan dgn bacaan sejak dr kecil, mula2 dibacakan dongeng, setelah bisa membaca , merekapun membacanya sendiri.

    Dan, kini kamipun punya anggaran yg selalu disisihkan khusus utk beli buku setiap 2 bulan sekali.
    Kegiatan berburu buku inilah yg paling favorit di keluarga kami :)
    salam

  12. Pingback: SURAU INYIAK » Blog Archive » ayahku (bukan) pembohong

  13. Wow! Wow! Wow! Pak Hendra Grandis keluarga buku. Keluarga pembacaa rupanya. Iri. Iri setengah mati. Pasti menyenangkan berada dalam keluarga yang memiliki minat baca seperti itu. Karena bisa melakukan sesuatu yang menyenangkan secara bersama-sama. Aku? Hobi baca dan kegilaanku akan buku justru tidak berangkat dari keluarga. Salut, Pak Grandis!

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>