patokan


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

7 ayah tentang ayah #7

 

Patokan…… istilah yang unik sekaligus menarik dari sahabatku Donny Verdian tentang fungsi ayah baginya selama ini. Menurutnya, apa yang dilakukan seorang ayah dalam hidup anaknya, sesungguhnya adalah dalam rangka meletakkan sebuah patokan bagi anaknya untuk kemudian si anak akan melakukan hal yang sama atau bahkan jauh melebihi apa yang sang ayah sudah lakukan. Dengan kata lain, keteladanan sang ayah akan menjadi barometer bagi anaknya.

Donny Verdian, narablog asal Klaten, yang tinggal cukup lama di Jogja dan saat ini tinggal di Australia, pemilik blog http://donnyverdian.net, ayah dari satu orang putri bernama Odilia, akan bercerita tentang “patokan” yang ia dapatkan dari sang papa. Meski secara lahiriah antara keduanya tidak terlalu dekat, namun DV sangat mencintai papanya. Teladan yang ditinggalkan sang papa, yang belum lama ini berpulang ke haribaan Sang Pemilik Hidup, sangat menginspirasinya.


Donny Verdian dan putrinya, Odilia

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan “patokan” itu? Mari kita simak tulisan DV berikut ini. Cekidot … :)

===============================================

PATOKAN
Oleh: Donny Verdian

 

Menulis tentang bagaimana aku bisa belajar dari Papa untuk menjadi ayah bagi anakku sebenarnya bukanlah hal yang mudah untuk saat ini kulakukan. Ketika tulisan ini kurawi, umur hari baru beranjak ke-41 setelah Papa meninggal dunia, 7 April 2011 silam sementara itu untuk tidak melongok ke perkabunganku atas kehilangannya hari itu, adalah satu hal yang mustahil, kan? :)

Namun aku sadar bahwa hidup ini akan terus berlanjut dan dijalankan tanpa pandang bulu sementara duka kehilangan seorang yang sangat berarti, seperti Papa, adalah sesuatu yang akan menetap dan pernah bisa hilang sama sekali.
Ia akan semakin terpendam ke lapisan-lapisan memori tertumpuk oleh hal-hal dan soalan-soalan terkini, namun sejatinya kedukaan itu, toh akan tetap ada.

Jadi, ketika Uda Vizon, sahabatku menawari untuk menuliskan tulisan ini, aku hanya minta waktu untuk lebih lama menunda menulis supaya duka itu agak sedikit teredam dan bukannya menolak karena menolak ataupun menerima tulisan ini, kenyataan yang kutulis di paragraf atas adalah sesuatu yang tak bisa dihindari, di-tutupmata-i.

Lagipula, menceritakan tentang bagaimana aku memiliki figur ayah yang menarik dari seorang Papa dan bagaimana caraku menempatkannya dalam rangka peranku sebagai ayah bagi anakku adalah suatu kebanggaan; karena apa ruginya berbagi ketika pembagian ini bisa berbuah hal yang manis bagi sesama?

Jadi, Uda, kawanku yang Padang nan Jogjanis itu, simaklah apa yang mengalur di otak beberapa hari terakhir yang menjadi persiapanku dalam rangka menyemarakkan hari jadi media pribadi yang sangat kau banggai ini!
Terimalah!

* * *

Bagiku, hidup ini terkadang seperti halnya sebuah lintasan lari di sebuah padang tak bertepi.
Manusia dan anak temurunnya saling melempar bilah kayu sekuat daya untuk mencapai jarak terjauh untuk menjadi patokan bagi keturunan selanjutnya melakukan hal yang sama.

Demikian, terus-menerus.


Donny dan Papa

Nah, dalam konsep pemahaman itu, bagiku, Papa adalah patokanku.
Ia, sepanjang hidupnya hingga ketika aku memutuskan untuk menikah dan memisahkan diri daripadanya, telah melempar bilahnya sejauh mungkin lalu menancap pada tanah, tepat di titik aku memulai untuk menjadi seorang suami dari istriku dan setahun kemudian menjadi ayah bagi anakku.

Yang namanya patokan, ia kujadikan sebagai cerminan sekaligus tolok ukur tentang bagaimana aku harus melempar bilahku sejauh mungkin ke depan untuk anak turunku.

Tapi kalian jangan salah artikan bahwa ini menyangkut hal lomba jauh-jauhan melempar bilah, karena kalau demikian adanya kamu telah salah mengerti pemikiranku ini. Berpikirlah secara linier seperti halnya hidup ini yang terus maju ke depan; maka kau akan mengerti apa yang kupikirkan bahwa setiap bilah dilemparkan dan sejauh mana ia tertancap sebagai patokan, karena toh semua memiliki masa dan urusannya sendiri-sendiri.

Lagipula, kalaupun cara menjadi ayah yang ditunjukkan Papaku lebih buruk daripadaku, itu adalah hal yang tak mungkin karena bagaimana bisa hasil didikan yang buruk menghasilkan seorang yang luar biasa sepertiku? :)

Sebaliknya, kalau cara menjadi ayah yang kulakukan kepada anakku lebih buruk ketimbang Papa, bagaimana mungkin anak seluar biasa anakku bisa dididik oleh seorang yang tak terlalu baik menjadi Ayah padahal ia dulu dididik oleh orang tua yang baik? :)

Tak mungkin juga, kan? Tak tersangkut sedikitpun ke logika kita pula, kan?

Contoh gamblangnya begini,

Ketika terakhir bertemu pada liburan Januari 2011 silam, Papa begitu kagum melihatku bisa mengganti popok anakku dengan cekatan dan bergantian memberinya makan bersama istriku tanpa canggung dan ragu.

“Wah, aku kalah!” sergah Papa mengomentari itu.
Tapi tentu kalian tahu bahwa apa yang dikatakan Papaku itu tak terlalu benar. Nyatanya, masa dimana ia mengasuhku pada waktu aku masih seusia anakku berbeda dengan masa kini.
Kami waktu itu tinggal di Indonesia, negara dimana kita bisa begitu mudah untuk menggunakan jasa pembantu rumah tangga sekalinya kita memiliki uang dan kesempatan. Jadi, ketika Papa bisa membayar pembantu untuk melakukan hal-hal seperti mengganti popok dan memberi makan kepadaku, ia pun melakukannya.

Tapi kini, aku dan keluarga kecilku tinggal di Australia, negara dimana meski kita mampu secara finansial, tata atur perburuhan di sini sangat rumit untuk dipelajari sebelum digunakan. Maka, ketimbang pusing mikir bagaimana rumitnya mengatur hak dan kewajibanku sebagai tuan dan mengurus pula hak dan kewajiban pembantuku sebagai buruh, lebih baik mengganti popok dan memberi makan anakku saja sendirian, tak perlu pembantu sekalian ngirit uang dan ngirit spasi otak untuk memikirkan hal lain yang lebih berguna, toh!?

Contoh lain adalah soal bagaimana mengenalkan anak pada sosok Tuhan melalui agama.
Bukan perkara yang kurang baik kalau dulu Papa tak terlalu mengajarkanku agama untuk mendekati Tuhan karena latar belakang agamanya berbeda dengan Mama (meski pada akhirnya, semenjak tiga bulan sebelum ia wafat, ia berinisiatif untuk memeluk agama yang sama dengan yang dipeluk istri dan anak-anaknya). Meski demikian, tak jarang pula ia memperingatkanku ketika diketahuinya aku bolos ke gereja beberapa minggu lamanya.
“Opo ra isin karo Gusti?” (Apa nggak malu dengan Tuhan - jw) tegasnya kepadaku.

Kini, karena aku dan istriku seagama dan kami sepakat untuk mendidik anakku dalam naungan agama yang sama dengan orang tuanya, setiap malam aku selalu mengajak anakku untuk berdoa sesuai ajaran agama, mendekati Tuhan yang tak kelihatan, termasuk memohonkan doa untuk ketenangan jiwa Akungnya, Papaku.

Namun meski berbeda, tentu tak berarti hal itu membedakan semua sisi dari cara pendekatanku menjadi ayah dengan cara Papaku dulu mengurusku. Ada semangat yang sama yang melandasi sebaik maupun seburuk apapun yang aku dan papaku perankan sebagai Ayah.

Semangat itu kunamakan cinta, sesuatu yang muncul tiba-tiba dan berkobar sesaat setelah oleh kehidupan kami diteguhkan menjadi ayah bagi orok tak berdaya yang ada di pelukan ibunya.

Cinta yang terkadang lalu tersamarkan oleh perangai pria yang sering dilukiskan sebagai sesuatu yang berkebalikan dengan definisi cinta menurut para ahli definisi itu.
Cinta yang terkadang, karena keadaan, lalu membuatnya tampak kabur padahal bukankah tak ada pemandangan gunung yang kabur kecuali permukaan kaca yang dipakai sebagai media pandang saja yang barangkali mengembun?

Cinta yang pada akhirnya kusyukuri dan kuyakini ada pada sosok Papa terhadapku yang sepenuhnya bisa kurasai setelah aku menjadi ayah. Karena bagaimana dalam dan besarnya cintaku kepada anakku, secara tak langsung menjawab semua keraguan dan keterbatasan akal budiku untuk mencerna dan menjawab satu pertanyaan klasik yang nyaris ada pada seorang anak pria terhadap papanya,
“Seberapa besar dan dalam cinta Papa terhadapku? Apakah selayak Ibu yang membesarkanku?”

===============================================

Menarik bukan? So, mari melakukan sebaik yang kita bisa untuk meletakkan patokan terbaik bagi anak-anak kita..

Donny… terima kasih atas persembahanmu ini ya… :)

.

Tulisan kedelapanbelas dari acara “Baralek Gadang”, klik di sini untuk melihat daftar tulisan dalam acara ini

 


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

24 comments on “patokan

  1. Cinta yang pada akhirnya kusyukuri dan kuyakini ada pada sosok Papa terhadapku yang sepenuhnya bisa kurasai setelah aku menjadi ayah.

    Kurasa inilah kata kuncinya. Kita baru bisa menyadari cinta dan teladan orang tua kita setelah kita sendiri menjadi orang tua. Meskipun tentu saja tanpa itupun kita bisa menyadarinya, tapi Gongnya di situ ya. Aku pun menjalani peran sebagai orangtua sambil terheran-heran mengapa orangtuaku bisa membesarkan aku sampai menjadi sekarang ini, dan kadang menjadikanku khawatir apakah aku bisa mengantarkan anak-anakku seperti aku sekarang ini.

    Patokan itu maya sekaligus nyata.

    Don, percaya dirimu itu memang mengagumkan ;)

    EM

  2. Patokan, tonggak, pancang. Patokan, ketentuan yang menjadi dasar atau pegangan untuk melakukan sesuatu (KBBI).

    Dari tulisan ini jelas, apa yang diterapkan mas Bung DV (ngambil model penyapaan Pak NH) bermula dari apa yang juga dilakukan orang tua, khususnya ayah, di masa lalu.

    Saya pribadi suka kalimat ini: Berpikirlah secara linier seperti halnya hidup ini yang terus maju ke depan; maka kau akan mengerti apa yang kupikirkan bahwa setiap bilah dilemparkan dan sejauh mana ia tertancap sebagai patokan, karena toh semua memiliki masa dan urusannya sendiri-sendiri.

    Ada semacam keterkaitan dengan apa yang dituturkan Pak Sawali, terkait puisi Kahlil Gibran.

    Terima kasih mas Bung DV….

  3. “Cinta yang pada akhirnya kusyukuri dan kuyakini ada pada sosok Papa terhadapku yang bisa kurasai setelah aku menjadi ayah”

    sungguh kalimat diatas menjadi momen yg saat ini aku nanti-nantikan, semoga bisa segera kurasakan

    Oh ya, jadi ingat ungkapan yg mengatakan jika ingin melihat kepribadian seseorang, lihatlah peilaku anak-anaknya

    Aku kira hal ini senada dg patokan patokan yg telah diungkapkan DV dg sangat indah dalam tulisan ini

    salam,

  4. Analogi tentang patokan yang mengena, Bro…
    Sekali lagi, patokan hanyalah petunjuk tentang darimana dirimu, penerus keturunan ayahmu, memulai babak baru sebagai ayah. Ukuran patok, jauhnya lemparan patok dan seberapa dalam patokmu itu tertanam bukanlah sesuatu yang harus diperbandingkan dengan patokan dari ayahmu. Wise man.. :-)

  5. Meskipun sebenarnya sudah menyadari betapa berharganya seorang Bapak, dan orang-orang terkasih, namun saya ingin merasakan bagaimana ketika saya menjadi seorang ayah nanti..

    Jadi kalau dulu saya bandel sama Bapak, berarti saya juga dibandeli sama anak saya kelak ya? :(

    • nggggg.. lebih tepatnya, kalau kamu dulu bandel ke bapak, ketika kamu punya anak nanti dan anakmu bandel ke kamu, kamu bisa merasakan seperti apa rasanya jadi ayahmu dulu yang dibandeli kamu :)

  6. Ada tiga hal

    1. Patokan …
    Saya berkali-kali membaca paragraf mengenai hal ini …
    ” jangan salah artikan bahwa ini menyangkut hal lomba jauh-jauhan melempar bilah …”
    Awalnya saya berfikir demikian … namun … saya baru sadar ini bukan paralel … tapi linier …

    2. Sejarah
    Dari cerita ini … saya jadi lebih mengetahui latar belakang keluarga DV secara lebih jauh …

    3. Odilia
    She is very beautiful … indeed
    Matanya indah sekali

    Semoga sehat-sehat selalu

    Salam saya

  7. Don,
    Anakmu cantik sekali…ada Donny nya….

    Patolan, tonggak…tadinya saya pikir istilah lain untuk menggambarkan ayah sebagai panutan. Ternyata patokan disini adalah sebagai patok, langkah awal….dan menarik menyimak pendapatmu Don…ayah sebagai patokan, untuk melempar bilah…dan saya melihat semangatmu, untuk berbuat lebih baik lagi pada Odi. Ayahmu telah mengajarimu sebagai anak yang baik Donny, kemudian juga memberikan semangat dan panutan untuk menjadi ayah yang baik.

    • Makasih, Bu. Ibu berhasil menyimpulkan tulisan saya dengan baik dan benar! ;)

      Doakan kami selalu ya.. nyuwun pangestu!

  8. anakmu lucu banget mas!!!! dan ceritamu well khas Mas DV ;)

    Perumpamaan yang kita ambil dari seseorang memang terkadang ampuh untuk mencambuk diri sediri agar berbuat lebih baik dan semoga dirimu bisa jadi ayah yang excellent Odilia….

  9. cantik sekali putrinya pak. :)
    tak ada yang memungkiri, bahwa cinta seorang ibu seluas samudera, bahkan lebih dari itu, tak berbatas, tak bertepi.
    tapi saya percaya, setiap lelaki yang telah diberikan kesmpatan memegang amanah berupa mutiara kecil dari Tuhan, akan berusaha mencintai titipanNya itu seperti sang ibu mencintai anaknya. meski dengan cara yang berbeda.

    salam kenal pak :)

  10. Pingback: Penghargaan Untuk Sahabat1 « Batavusqu

  11. Patokan…
    ya menunjukkan bahwa baik buruk orang tua, pasti akan dijadikan patokan bagi anaknya. Tentunya ingin menjadi lebih baik dari yang telah dilakukan oleh orang tua kita dulu…

    dan nantinya, saat anak2 kita udah besar.. bergantilah posisi itu.. giliran generasi kita yang jadi patokan bagi generasi setelahnya…

    ya semacam estafet. :)
    sebuah analogi yang menarik :)

  12. Aiih …. Odilia mungil dan cantik sekali ya Don. Siapapun akan gampang jatuh cinta melihatnya :)

    Tulisan khas Donny selalu menyenangkan untuk dibaca. Ada perenungan (yang kadang-kadang tidak terlalu mudah dipahami, tapi unik dan menarik). Aku suka membaca tulisan-tulisanmu :)

    Patokan, ya? Kalau aku menyebutnya ‘mile stone’. Pengertiannya sama sih. Tapi selama ini aku tidak pernah memikirkannya dalam konteks pendidikan ayah (orang tua) kepada anak.

    Btavo, Don!

  13. Walah, Su, jebul anakmu jauh lebih lucu ketimbang bapake, yo. Huehehe. Sekarang peranmu sudah beda. Sudah jauh lebih matang. Justru kini engkaulah yang jadi figur bagi anakmu. Dan kalimat ‘hidup ini terkadang seperti halnya sebuah lintasan lari di sebuah padang tak bertepi’, setujua banget, Su.

  14. Pingback: Dear Papa* — Donny Verdian

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>