ember pink

Tahun ini, sulungku akan memasuki babak baru dalam hidupnya. Ia akan masuk SMA. Sebetulnya aku berharap dia mau mengikuti jejakku, masuk pesantren. Tapi, karena dia punya pandangan sendiri, maka aku harus hargai keputusannya untuk bersekolah di SMA.

Sesungguhnya, tujuanku memintanya masuk pesantren hanyalah agar dia bisa mandiri, serta tentunya bisa memiliki imunitas yang cukup terhadap pergaulan remaja. Kita tahulah bagaimana pergaulan remaja masa sekarang ini. Jika tidak memiliki “kekebalan” yang memadai, akan sangat mudah terperangkap dalam lingkaran setan pergaulan tersebut. Aku tidak hendak membuat anakku “steril”, aku hanya ingin ia “imun”. Maka, pesantren menurutku adalah salah satu pilihan untuk memberikan imunitas tersebut.

Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya kami sepakat kalau sulungku itu bersekolah di SMA yang berasrama (boarding school). Dengan demikian, keinginan kami sama-sama dapat terpenuhi; ia tetap bersekolah di SMA, dan harapanku ia dapat belajar mandiri di asrama pun terwujud. Kami sama-sama senang dengan keputusan ini.

Demi menunjukkan dukunganku akan pilihan sekolahnya ini, maka sedari awal aku libatkan diri dalam setiap prosesnya. Mulai dari pendaftaran, ujian masuk, hingga membeli segala keperluannya tinggal di asrama, aku yang menemaninya. Hal ini sengaja kulakukan, karena menurutku di sinilah sebetulnya peran penting seorang ayah. Sebuah keputusan yang diambil oleh seorang anak harus mendapat penguatan dari orang di sekelilingnya yang tidak memberinya ruang untuk mundur atau merubah keputusan tersebut. Dan orang yang mampu untuk itu menurutku adalah sang ayah.

Mengapa kok ayah?

Karena secara natur, ayah lebih tegas dari ibu terhadap anaknya, bisa lebih tega melihat anaknya bersusah-payah. Berbeda dengan ibu, gampang luluh begitu melihat anaknya melemah. Maka, sering kita temui seorang anak mundur begitu saja dari keputusan yang telah diambilnya, karena mendapat dukungan dari sang ibu yang tidak tega melihat kesusahan anaknya.

Kondisi ini banyak kujumpai ketika nyantri dahulu. Banyak yang berhenti di tengah jalan, lantaran ibunya tak kuat melihat kesusahan yang dialami anaknya selama jadi santri. Sangat sedikit kasus yang kutemui, sang ayah yang memintanya pulang.

Agar hal itu tidak terjadi pada anakku, maka sedari awal segala urusannya di sekolah baru tersebut, aku yang menemani. Aku khawatir, naluri keibuan istriku akan menyurutkan semangatnya untuk tinggal di asrama…

Nah, seharian kemarin, aku menemani Afif berbelanja segala keperluannya. Berbekal “daftar perlengkapan” yang diberikan pihak sekolah, kami pun mengobok-obok Pasar Beringharjo, Progo dan beberapa toko di Malioboro. Aku jadi ingat ketika dulu waktu pertama kali tinggal di Pesantren, Papaku juga yang mengantar membeli segala keperluan. Bedanya, kalau dulu kami cukup berbelanja di toko koperasi pesantren, sehingga tidak perlu berlelah-lelah keliling pasar.

Ada peristiwa lucu yang menutup sesi belanja kami kemarin. Ketika membeli keperluan mandi dan cuci di Pasar Progo, aku sedikit heran dengan pilihan Afif,

“Lho, kok embernya warna pink, Fif?”

“Biarin, kan keren”

“Keren dari mana? Itu kan warna cewek?”

“Siapa bilang pink cuma milik cewek?”

“Kan emang biasanya gitu”

“Kalau yang ini di luar kebiasaan, Pa”

“Gak takut dikira punya kelainan”

“Yeee… enak aja…!”

“Trus, ngapain milih pink?”

“Di asrama kan cowok semua. Mereka pasti nyarinya kalau gak warna biru, hijau atau merah. Gampang ketuker itu nanti. Kalau punya kita beda sendiri, gampang ngebedainnya. Lagian, mana mau mereka makai yang warna pink. Jadi, punya Afif bakal aman, gak bakal ketuker…..”

“Hahaha… bisa aja kamu…”

Begitulah, akhirnya sesi belanja kemarin ditutup dengan membeli ember, gayung, kotak sabun dan hanger berwarna pink… Hahahaha… ampun deh…. :D

26 comments on “ember pink

  1. wah, bisa2 Afif jadi penerus Pak Mars sebagai orang anti-biasa hehehe iya dah, alesannya manteb banget, pink among the blues or greens hehehe …. dari kejauhan langsung ketauan, good choice, Fif!

    soal ibu, walau saya belum jadi ibu, tapi pernah punya pengalaman menjadi wali seorang teman yg tingal di luar pulau, dan anaknya dikirim ke salah satu pesantren di Jakarta, dan saya yang bukan ibunya saja tidak tega dengan aktivitas di sana yang menurut saya sangat jauh dari manusiawi, maaf! saya katakan begitu karena anak2 yang baru saja lulus SD itu langsung digeber tidur larut dan bangun 1jam sebelum waktu subuh. hasilnya? ngantuk di kelas :D positif nya ada sih, si anak diajar mandiri, cuma para ibu harus tega, itu aja.
    salut deh buat Uda yang terus mengawal si sulung meraih masa depannya!

  2. Ada Tiga Hal Uda …
    1. Pink …
    Huahahaha … saya ngakak membaca “stratekhi” Afif ini … Ini cara jitu menghindari ketertukaran …
    (pink ? hahaha … ndak kebayang …)

    2. Shopping
    Belanja ke Pasar … membeli perlengkapan di Asrama … bersama Ayah tercinta … saya bisa merasakan sekali betapa bangganya Afif …

    3. Wording
    Aku tidak hendak membuat anakku “steril”, aku hanya ingin ia “imun”
    I really like the words

    Salam Saya Uda
    Sukses selalu untuk Afif

    • wah “bakal” komeku sdh terwakili semua oleh Om NH, terutama masalah “steril” vs “imun”. Tepat sekali uda :)

      Wah Afif melanjutkan di mana Uda? Sekolah yg ada asramanya dimana ya???
      *nginget-inget sekolah sekolah di jogja lagi*
      Smoga Afif makin mandiri, dewasa dan bertanggung jawab

      Salam,

  3. Setuju dengan Uda, anak yang ‘steril’ malah rentan terkontaminasi
    semoga strategi ember pink-nya works well ya :D

  4. Satu….
    It’s Out Of The Box
    GUE SUKE CARA LO fif……..all about PINK

    Dua…
    The Way Of Thingking
    GUE SUKE CARA LO uda….Imun

    Tiga…
    Wassalam
    GUE IKUT CARA OM NH…..Tiga hal :)

  5. Hidup PINK wkwkwkwkwkwkw, rasain tuh uda kena batunya wkwkwkwkwk

    Hajar fif, kapan perlu sendal, lemari, selimut dan lainnya, ambil warna pink. Lagian tuhan gak pernah menciptakan warna dengan jenis kelamin tertentu lho wkwkwkwk

  6. Pilihan yang anti biasa…
    Dan seperti itulah yang seharusnya.
    Ketika yang lain berbondong2 ke Roma karena banyak jalan kesana, sebaiknya kita segera cari jalan buat ninggalin Roma sebelum keburu macet.
    Sukses buat Ananda.
    Salam!

  7. Kalau ndak jadi ke jepang nyusul tante imelda…Pulang keduri aja ya kerja di perusahaan Minyak sinih :D

    Semangat Afif…kalau dari awal cara berfikir kamu sudah beda pasti punya cara beda juga untuk mencapai sukses…

    Salam dari Duri ^^

  8. Afif memiliki cara pandang beda ya da Vizon. Itu membuktikan kepintarannya. Selamat….

    Masalah warna, saya nggak terlalu pilih. Apalagi hanya untuk sebuah ember. Kalau pakaian mungkin baru perlu diseleksi.

  9. ..
    hihi.. cerdik sekali Si Afif..
    dia gak perduli pandangan miring orang, biarlah guguk menggong-nggong, yang penting tetep pake’ pink.. ^^
    ..

  10. wah shebat dech afif, sudah tahu cara antisipasi dari awal, toh sekarang jangankan ember laki-laki yang pakai baju pink juga banyak dan itu bukan berarti mereka “BEDA”….selama memasuki babak baru Afif…!”

  11. hahaha… ketawa juga membaca argumentasinya. Tapi sebagai laki2, tetap saja saya lebih suka warna hitam. Hilang? gak masalah, nanti juga bisa beli lagi. :)

  12. untung aja dia jawabnya biar keren mas,
    coba dia jawabnya biar “unyu” aja, hehehehe
    semoga sekolahnya lancara, dan cepat lulus dan bisa memabahagiakan orang tuanya mas, amin….

  13. Uda,
    Konon katanya, anak laki-laki jika sudah besar (minimal usia 10 tahun) harus dekat dengan ayahnya karena ayahlah sebagai panutan. Jika ayah sudah meninggal, bisa diganti oleh om nya…..saya sempat diskusi lama dengan psikolog tentang hal ini, karena sulungku laki-laki, sedang ayahnya lebih banyak di Bandung, sedang saya dan anak-anak di Jakarta.

    Benar Uda, kadang ibu tidak tega, padahal rasanya saya dulu lebih siap, dan lebih tak punya apa-apa..entah kenapa (mungkin bawaan ibu-ibu ya), suka nggak tega aja.

    Jika Afif berani berbeda dengan temannya, Uda tak perlu kawatir..karena anak yang berani berbeda tak mudah dipengaruhi oleh aliran tertentu, narkoba dan lain-lain…karena dia lebih banyak menggunakan logika.

  14. Cerdas. :)
    Memilih warna pink yang jarang diminati oleh laki-laki. Eh, mungkin kelak Afif akan jeli melihat peluang untuk berwirausaha Uda?

    Hmmm. Maaf, tapi saya tidak suka tinggal di asrama. Entah kenapa seperti mengkungkung kebebasan saya untuk berpetualang. Namun memang sepertinya sekolah di asrama atau tidak sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan. :)

    Sukses selalu untuk Afif!

  15. Uda Vizon…saya juga mau banget anak saya yg cowo (meskipun baru kelas 5 SD saat ini) mau masuk pesantren. Rencananya Saya juga akan memasukkannya pas SMA nanti. Mudah2an dia mau yah….yg penting dari sekarang saya sudah sering memintanya…siapa tahu nantinya dia mau ke pesantren…

  16. afif….ternyata berpikir out of the box…mantap banget nih uda. Mudah2an bisa terus dijaga cara berpikirnya hingga nanti

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>