anak simpang


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Pada salah satu postingan, aku pernah menyinggung soal istilah anak simpang dan anak kompleks yang pernah kualami di masa kecil dulu di Kota Duri. Kali ini aku kembali teringat akan hal tersebut, gara-gara kejadian kecil tadi malam.

Istilah anak simpang dan anak kompleks itu muncul di masa kecilku, di era 70-an. Sebutan anak kompleks ditujukan bagi anak-anak yang hidup dalam kompleks sebuah perusahaan minyak terkemuka di negeri ini yang telah bercokol di Duri sejak puluhan tahun yang lalu. Anak simpang, ditujukan bagi anak-anak yang hidup di luar kompleks perumahan perusahaan minyak tersebut.

Kehidupan di dalam kompleks itu memang aduhai. Segala fasilitas modern sudah ada sejak zaman dulu itu. Karena perusahaan tersebut berasal dari negara adikuasa, Amerika, maka standar kehidupan mereka juga standar kehidupan Amerika. Intinya, tanpa harus berletih-letih keluar kompleks, anak-anak kompleks tersebut sudah sangat tercukupi kebutuhannya.

Kehidupan di luar kompleks, sangat jauh berbeda. Bahkan, sampai sekarang pun, kondisi kota Duri sangat kontras dengan kekayaan alamnya yang sudah dikuras tanpa henti oleh perusahaan minyak tersebut. Tidak tahu, di mana letak kesalahannya, tapi memang begitulah kenyataannya. Malah, pemandangan kendaraan yang antre bermeter-meter di SPBU, bukanlah hal yang aneh di Duri, karena sudah sangat sering terjadi.. Lucu ya, daerah penghasil minyak, mengalami kelangkaan minyak… :D *geleng-geleng kepala*

Kembali ke anak simpang vs anak kompleks…

Sebagai anak simpang, aku sering merasa minder jika berkumpul dengan anak kompleks. Dalam keluarga besarku, ada beberapa orang sepupu yang menjadi anak kompleks. Sikap mereka, sangat terlihat jelas menunjukkan sikap yang meremehkan kami, anak simpang. Dan sikap semacam itu, hampir merata pada anak-anak kompleks lainnya.

Kondisi itu, secara perlahan memunculkan kebencian di hatiku. Aku tidak bisa terima diperlakukan seperti itu. Tapi, apa dayaku. Sebagai anak kecil, tentu hanya bisa menyimpan semuanya itu dalam hati.

Namun, kondisi itu secara perlahan mengalami perubahan, seiring dengan sikap yang semakin terbuka dari pihak perusahaan. Sekarang, sudah ada beberapa fasilitas dalam komples yang bisa digunakan oleh masyarakat umum, termasuk sekolah. Beberapa keponakanku pun ada yang bersekolah di dalam kompleks. Oleh karenanya, istilah anak simpang vs anak kompleks itu sekarang sudah tidak dikenal lagi. Tapi, kenangannya tidak bisa menghilang begitu saja dari diriku.

Lantas, kejadian apa yang membuat kenangan itu kembali menyeruak?

Kemarin malam, 21 Juli 2011, aku janjian akan bertemu dengan Ria. Kami sepakat akan bertemu di Library Cafe yang terletak di dalam kompleks. Aku berangkat dengan adikku menggunakan sepeda motor. Ketika sampai di gerbang kompleks (gate), kami diperiksa. Barangkali hal itu sesuai dengan standar operasi mereka. Aku memakluminya. Tapi, gara-gara kaca spion sepeda motor yang kubawa hanya satu, maka kami tidak diperbolehkan masuk.

Jengkel, marah, geram… Campur aduk deh rasanya. Masa hanya gara-gara kaca spion kami tidak bisa memasuki kompleks tersebut? Lebay deh, pikirku…

Kejadian itulah yang memicu kenangan pahitku akan masa-masa kecil dulu. Kenangan soal anak simpang vs anak kompleks…

Tanpa pikir panjang, akupun telpon Ria dan memintanya untuk bertemu di luar saja.

Hanya dalam hitungan menit, kamipun sudah berkumpul di Original Cafe yang menyajikan masalah laut (seafood). Demi melihat hidangan yang disajikan dan rasanya yang benar-benar enak, kejengkelan dan kemarahanku terhadap “kesombongan” orang kompleks itu pun sirna. Kepiting, udang, cumi dan makanan yang dipesan benar-benar mampu membayar lunas segala kekecewaan tadi itu.

Ria… terima kasih untuk pertemuan kemarin itu ya.. Pokoknya, untuk urusan kuliner di Duri, emang Ria deh jagonya… :D

 
Antara doyan dan lapar, sangat tipis bedanya… :D


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

19 comments on “anak simpang

  1. Untunglah ada kepiting itu yang bisa meredam kejengkelan Uda.
    Tapi kasian juga ya kepiting yg menjadi korban keganasan kalian berdua. hahaha.
    Itu fotonya dr atas siapa sih yang ambil? **bertanya-tanya** :D

    EM

    • yang ngambil namanya dimas Mbak, dosen baru di tempatku ngajar. temennya Evan adikknya uda vizon yang juga rekan mengajarku hehehehehe…*muter2 :D*

  2. ” Antara doyan dan lapar, sangat tipis bedanya ” Hahaha….betul, Uda. Yang membedakan salah satunya adalah rasa syukur saat menikmatinya.

    Membaca kisah anak simpang vs anak kompleks jadi inget kisahnya Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi nya. barangkali nda jauh berbeda.

    Oh ya, hampir saja lupa. Buku sudah saya terima hari Kamis kemarin. Jazzakumulloh! Dan untuk pertemuan di Semanggi besok, sepertinya saya benar-benar tidak bisa datang, semoga tidak mengurangi kebahagiaan sahabat yang bisa datang. Salam untuk mereka semua.

  3. Saya baru tahu Uda ada peraturan semacam itu. Apakah jalan di dalam kompleks itu termasuk jalan raya yang masih terikat hukum berlalu-lintas? Aneh.

    Jangan-jangan di Library Cafe itu setiap hewan yang dimasak harus dalam keadaan komplit (ada kepala, badan, tangan, kaki, dll) karena harus bisa masuk kompleks terlebih dahulu. :p

  4. wah, bisa kuliner juga di Duri ya Da?
    Sayang deh waktu saya ke Duri 3tahun silam blom kenal blogger,
    jadi aja ke sana ga wiskul, makan seadanya aja huaaa….

    ada anak kompleks, anak simpang dan satu lagi, anak kolong, Da :D

  5. uda…terimakasih sudah menyempatkan ketemu Aku, walaupun tidak panjang tapi tidak terlupakan apalagi kepiting saus Lada Hitamnya.

    btw, kalau uda anak kompleks Kita Makan ya di library cafe :D

  6. Ini kisahnya seperti kisah anak2 di Cilacap yg juga merasa termarjinalkan dengan adanya kompleks perusahan minyak negara dan banyak daerah lain sampe ke pelosok Papua tentu dengan Freeportnya.

    Ruginya, baik Cilacap dan Papua, mereka tak punya Ria ya, Uda hahahaha… Pipinya Ria nggemesin :D

    • hahahaha pipinya chubby mas..dan badan nya besar hohohoho…katanya mo diet tapi makanannya Kepiting ladang hitam + Udang + Cumi2 plus sepiring nasi…gimana tuh??? :D

  7. suka liat fotonya.. Ria memang paling jago atur pose yang menarik, harusnya Ria nyambi jadi pengarah gaya. :P

    waktu masuk Los Lambuang untung gak ada pemeriksaan kaca spion ya nyiak.. asalkan mirip shahrukh khan pasti lolos dan gratis pulo.. hyahahaha.

  8. begitu jengkelnya anak simpang, hampir semua anak komplek keluar dr kompleknya pasti akan diperasi oleh anak2 simpang.
    klo untuk kuliner duri mb ria lah mang jagonya, hampir semua pemilik warung di duri pasti kenal ma mb ria. heheheee

  9. Arogansi terejawantahkan dengan manisnya di sebentuk kaca spion …

    Saya geleng-geleng kepala …
    Siapa sih yang buat aturan itu …
    Apa hubungannya spion dengan izin masuk …

    Kalau periksa KTP tanda pengenal dan sebagainya … itu saya setuju … tapi Kaca spion kurang satu …
    Aaaaarrrrggghhhh !!!
    (geram !!!)

    Salam saya Uda

    • hubungannya gini om…

      setiap kendaraan yang ingin masuk camp terlebih dahulu harus punya Permit, nah untuk mendapatkan permit ini harus lengkap dokumen dan lain2 serta harus mematuhi peraturan safety yang di terapkan perusahaan minyak tersebut, salah satunya adalah ya spion dan helm. Jika tidak punya permit, orang luar boleh masuk tetapi harus mencatatkan nama di security yang menjaga gate, disitulah Uda kena usir…hihihihihi :D

  10. en BTW …

    Ini namanya Bu Bidan bertemu dengan Pasiennya
    hahahah

    Salam saya Uda

    THIS IS THE BEAUTY OF BLOGGING

  11. kalau saya pernah ngalamin itu jaman SMP dulu tapi dengan anak kolong alias tentara karena dulu rumah kami deket dengan pangkalan militer, dulu tuh baik disekolah atau diluar sekolah selalu ada gap antara anak kolong dan anak diluar komplek militer, tapi kayanya sekarang sich udah enggak…..

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>