naik ojek makan sushi


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

Sesuai kesepakatanku dengan Nechan Imelda, Senin 25 Juli 2011 kami akan bertemu kembali. Dan jika waktunya memungkinkan, kami akan berangkat menuju Serang, bertandang ke Rumah Dunia, asuhan penulis terkenal, Gola Gong.

Maka, begitu urusanku selesai pada pagi itu, akupun segera menuju ke pangkalan ojek terdekat. Kok ojek? Ya… kalau di Jakarta, aku lebih suka naik ojek ketimbang transportasi umum lainnya. Sebab, ojek relatif lebih bisa membebaskanku dari jebakan macet. Sehingga, waktu bisa dimanfaatkan secara maksimal. Bukankah kalau dalam perjalanan, manajemen waktu perlu benar-benar diatur?

“Bang, Kebayoran Baru”, ujarku pada supir ojek.

“Boleh, Pak”, jawabnya.

“Tahu alamat ini gak Bang?”, tanyaku sambil menyodorkan sebuah kartu nama.

“Wah, kalau yang itu saya kurang tahu Pak”

“Ya udah, kalau gitu antar saja saya ke Blok M, nanti dari sana saya minta jemput”.

“Ok…!”

Dugaanku benar sekali. Senin pagi di Jakarta adalah jadwal macet yang paling hebat. Si abang ojek ternyata lihai sekali mengambil jalan di celah-celah kendaraan yang merayap di jalanan Jakarta. Dengan begitu, tidak perlu berlama-lama, akupun sampai di Blok M.

Setelah membayar sejumlah uang yang diminta si abang ojek, kutelpon nechan Imelda. Ternyata rumah beliau tidak seberapa jauh dari sana. Akhirnya, kuputuskan untuk menunggu saja. Warung pinggir jalan lumayan asyik untuk nongkrong sambil menunggu kedatangan nechan dan rombongan.

Tidak sampai sepuluh menit dan teh botol yang kubeli belum habis kuminum, nechan sudah menelpon dan mengatakan sudah berada dekat Plaza Blok M. Setelah memahami titik koordinat beliau berada, akupun segera menuju ke sana. Begitu bertemu, nechan pun mempersilahkanku untuk menaiki mobil.

Di dalam mobil, kujumpai hanya Kai dan pak supir.

“Lho, Riku mana? Gak ikut ya Nechan?”

“Ah, dia kalau sudah ketemu sepupunya, susah diajak jalan. Maunya main sama mereka”

“Hahaha… bentar lagi, Kai juga gitu dong?”

“Sepertinya gitu… Tinggal mamanya aja yang bengong sendirian”

“Yah, begitulah kehidupan, nechan. Jika anak-anak sudah dewasa, kita harus siap menerima kenyataan bahwa mereka akan punya kehidupan sendiri. Oleh karenanya, kita harus pintar-pintar cari kesibukan, sehingga tidak merasa kesepian”.

“Yups…”

“Eh, ternyata penerbanganku bukan jam 5 sore lho nechan. Aku salah lihat”

“Jadi, jam berapa?”

“Jam 7 malam”

“Hwaaa… asyiiiikk… berarti kita bisa nyantai ke Serang, tidak perlu buru-buru. Kalau gitu, aku mau ajak Uda makan Sushi. Uda bisa makan sushi?”

“Gak… gak nolak… hahaha….” :D

Sejujurnya, aku baru sekali makan sushi. Waktu pertama kali itu, agak sedikit aneh rasanya di lidah. Tapi, dasar tukang makan, mau makanan jenis apapun, aku tetap ingin mencobanya. Sebab, bagiku, untuk memahami sebuah budaya, merasakan apa yang mereka rasakan adalah salah satu cara untuk itu, makan makanan mereka adalah di antaranya.

Sejurus kemudian, kami sudah berada di restoran Sushi Tei di bilangan Plaza Senayan. Nuansa Jepang sangat terasa di restoran tersebut. Aneka kain khas Jepang dijadikan ornamen penghias. Asyik sekali suasananya. Karena masih pagi, maka kami adalah orang pertama yang masuk ke restoran tersebut. Hmm… seharusnya dapat bonus tuh, hahaha… :D

“Mau makan apa, Uda?”

“Silahkanlah nechan yang pilihkan, aku gak ngerti”

“Ok..”

Selesai mencatat semua pesanan kami, sang pelayan menanyakan apakah ada di antara kami yang berulang tahun yang dekat dengan hari itu? Aha… Kai… ya, Kai berulangtahun pada 16 Juli.


Tidak berapa lama kemudian, sang pelayan tadi datang dengan sepiring sushi khusus yang didesain untuk hadiah ulangtahun bagi tamu. Dengan dihiasi sebuah lilin kecil, sang pelayan menyerahkan hadiah khusus itu kepada Kai. Terlihat sekali kalau Kai tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Lucu sekali melihat ekspresinya..

Seusai pesti kecil ulangtahun Kai, pesanan kamipun datang. Dua piring besar sushi yang sudah dibentuk sedemikian rupa terhidang di hadapan kami. Menggugah selera sepertinya.

Tadinya aku pikir, yang akan ku makan adalah benar-benar ikan mentah. Ternyata, pengetahuanku soal sushi masih nol besar. Setelah mencari tahu dari Mas Wiki, yang disebut Sushi (, , atau biasanya すし, 寿司) adalah makanan Jepang yang terdiri dari nasi yang dibentuk bersama lauk (neta) berupa makanan laut, daging dan sayuran, baik mentah atau sudah dimasak. Nasi sushi mempunyai rasa masam yang lembut karena dibumbui campuran cuka, beras, garam dan gula.

Sushi yang terhidang di hadapanku adalah yang matang. Maka, tentu agak mudah masuk ke dalam perutku. Apalagi ternyata rasanya bukan sekedar enak, tapi enak banget… hahaha… :D


Selamat makan… :)

Menurut nechan Imelda, orang Jepang sangat menghargai alam. Sehingga, mereka tidak banyak mengolah masakan dengan aneka bumbu. Mereka benar-benar ingin merasakan perbedaan yang nyata antara satu ikan dengan ikan yang lain. Bagi mereka, yang dinikmati adalah ikannya, bukan bumbunya.

Tepat pukul 12 siang, kamipun beranjak meninggalkan restoran Jepang tersebut. Menjelang pintu keluar, kami berpapasan dengan segerombolan remaja berseragam SMA. Tanpa dikomando, aku dan nechan saling bertatapan. Kami berpikiran yang sama…

“Hebat betul anak sekolah jaman sekarang ya nechan”

“Ho oh, mainnya ke mal dan makan di restoran mahal”

“Kayaknya dulu, cuma buat ntraktir teman semangkuk bakso kok berat amat ya? Ini malah makan siang rame-rame di restoran mewah, hahaha….”

“Hahaha…. ampun deh…”

Begitulah, makan siang kami di restoran Jepang tersebut, ditutup dengan “keprihatinan” gaya hidup anak zaman sekarang… *tepok jidat*

Nah… bagaimana pengalaman kami main dengan anak-anak di Rumah Dunia…?

OTW yaaaaa….. hahahaha… :D


Eits… sebelum berangkat, narsis-narsisan dulu ya…


 nb. semua foto diambil dari facebook Nechan Imelda

 


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

18 comments on “naik ojek makan sushi

  1. Membaca ceritanya yg penuh dengan “kalimat langsung”nya seakan ikut terbawa naik ojek dan makan sushi…
    Untung aja gak ikut beneran, karena bisa2 saya gak bisa cara makannya.
    Salam untuk Uda sekeluarga, dan juga untuk Bu Em sekeluarga

  2. Uda ..Pa kabar,baru mampir lagi..
    Semoga sehat selalu..

    Terpikir olehku makan sushi sambil naik ojeg,koq uda bisa ya..!
    Ternyata makan sushi nya sama Mba imelda tho,anaknya lucu bangget..
    Masih ngebayangin sushi di makan di Ojeg,hehhe…*mraktekin ahh*

    Salam Uda

  3. Tiga Hal Uda …
    1. Sushi
    Jujur …
    seingat saya … saya belum pernah makan Sushi …
    (atau mungkin pernah … tetapi tidak sadar kalau itu namanya sushi )

    2. Kai
    Itu Kai lucu banget … tiup sushi ultah …

    3. Yes Indeed …
    This is the beauty of blogging

    Salam saya Uda

  4. Kai…wajahnya imut sekali…..

    Hmm…sushi tei memang enak Uda…jadi ingat si bungsu, dulu suka nongkrong di PVJ (Paris Van Java) menikmati sushi sambil melihat orang berlalu lalang.

    Zamanku, paling-paling jajan nya es dawet di warung…hehehe
    Saat anak-anak sekolah (di SMA 6 dan SMA 70) yang dekat dengan Blok M Mal, gurunya suka Sidak, jadi pulang sekolah ya nggak berani jalan-jalan di dalam Mal.

  5. OTW, kali saya nda mau salah mengartikan lagi. Pasti, Ok, Tunggu Wae! Nggih, kan Uda? Hehehe..

    Kalau makan Sushi saya belum pernah Uda. Tapi kalau lihat sering, ” Sushi similikiti ” – nya Om Tukul! Hahahaha..

  6. Ha ha ha ha emang ojek yg terbaik,kai lucu banget aku naksir banget lucu Dan ultramannya. Itu,,, gak sabar nunggu cerita gola gong,,

  7. hahahaha…kan kan sudah kubilang uda itu pemakan segala :p

    lucunya yg ngajak Makan sushi itu Mbak Eka bukan Mbak imel. okeeee next tripku ketemu mbak imel aku mo todong diajak Makan sushi :D

  8. Pingback: SURAU INYIAK » Blog Archive » bermain di rumah dunia

  9. hahahah aku pikir Uda sukaaaaaa banget makan sushi, makanya nawarin sushi :D

    Memang untuk orang yang tidak biasa, jangan langsung diberi sushi yang mentah, apalagi yang telur ikan (ikura) seperti yang Kai makan tuh… Uda coba kan? Seperti levertran. :D

    Lalu hindari makan gurita mentah, karena aku pernah trauma banget makan gurita mentah..untung tidak sampai benci sushi.

    Jadi yang cocok untuk lidah orang Indonesia itu unagi (belut) karena matang dan manis. Lalu salmon juga enak tapi sebetulnya agak amis kalau mentah. Yang kita pesan salmon yang dibakar atasnya jadi setengah mentah.

    Tapi Uda sebetulnya makan salmon mentah waktu itu. yaitu yang saya beri potongan dari “sushi ultah” nya Kai. Itu mentah. Enak kan?

    Semoga ada kali lain mengajak makan sushi di tempat aslinya ya Uda :D

    EM

  10. siapa yang salah donk uda…kalau anak2 sekarang bisa traktir makan di restoran mahal??….mbak EM aja mungkin masih ingat makan di AH melawai aja udh muewah banget…nget….
    mungkin orang tua mereka memberi jajan ‘agak lebih’ sehingga bisa traktir di tempat yang ‘lebih’ ….hehehehe

  11. Kapan ke sini sama aku uda? :D
    Eh pesen apaan Da? Kayaknya California Roll yah?
    kalodi Sushi Tei faveku Salmon roll, satu pisiring isinya 3, salmonnya gede2 hehe

  12. Kai imyuut banget tampangnya ya Nyiak :)
    wah, asik banget Nyiak makan di shusi tei (ngiler)
    aku paling suka sushi salmon dan ikura (telor ikan kalau gak salah) :)
    dan…… anak2 zaman sekarang memang uang jajannya berlebihan sepertinya Nyiak :P
    salam

  13. Pingback: Twilight Express » Blog Archive » Pertemuan

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>