bermain di rumah dunia

Gol A Gong dan Rumah Dunia sudah cukup lama kudengar. Melalui buku-bukunya yang sangat banyak beredar di pasaran, tidak sulit untuk mengenal siapa Gol A Gong. Bahkan, pada masanya dulu, serial Balada si Roy, sangat digemari dan digandrungi para remaja, termasuk diriku. Belakangan, melalui informasi dari sahabat-sahabat netter, aku mengetahui berita soal Rumah Dunia.

Maka, ketika Nechan Imelda mengajakku untuk berkunjung ke Rumah Dunia, tanpa pikir panjang langsung kuiyakan. Meski sesungguhnya ada sedikit kekhawatiran akan ketinggalan pesawat yang akan mengangkutku ke Jogja pada sore harinya. Tapi, aku tidak hendak mengurungkan niatku itu. Moment berharga bisa berkunjung ke Rumah Dunia, bertemu penulis favoritku, bersama sahabat dari Jepang pula, sangat sayang untuk dilewatkan. Kalaupun harus ketinggalan pesawat, tidaklah terlalu mengecewakan.

Begitu selesai makan di Sushi Tei, kami pun segera meluncur ke Serang. Tidak banyak yang kami obrolkan di dalam mobil. Barangkali karena sudah kekenyangan ditambah pula udara yang panas serta jalan yang lurus, membuatku susah untuk menahan kantuk. Sejenak kulirik pak supir yang duduk di sampingku. Sepertinya beliau juga lagi menahan kantuk. Melihat kondisi itu, akupun mengajak beliau ngobrol, sekedar membuat suasana tidak sunyi, sehingga kantukpun bisa hilang.

Hampir dua jam perjalanan, kami pun sampai di Serang. Kami sempat berputar-putar di sekitar daerah di mana Rumah Dunia terletak lantaran kebingungan mencari mulut gang untuk masuk ke area tersebut. Arahan Daniel Mahendra yang menuntun kami melalui telpon dari Bandung, cukup membantu, meski masih juga nyasar, hahaha… Akhirnya, tukang ojek lah yang menjadi penunjuk arah paling sahih. Si akang ojek berjalan di depan kami, sementara kami mengikuti dari belakang. Hanya dalam hitungan menit, kami pun sampai di lokasi Rumah Dunia.

Dari mobil, kami melihat segerombolan anak-anak yang tengah bermain di halaman. Di depan mereka terdapat panggung kecil berlatarbelakang “Pesta Anak di Rumah Dunia”. Rupanya, mereka tengah memeriahkan Hari Anak Nasional. Mereka mengelilingi seseorang yang sudah cukup kukenal. Dialah Aliyth Prakarsa a.k.a. Koelit Ketjil (KK). Mereka sepertinya sedang melakukan sebuah permainan. Asyik sekali kelihatannya. Tak sabar rasanya ingin segera turun dari mobil dan melihat dari dekat apa yang sedang mereka mainkan.

Begitu turun dari mobil, aku langsung menuju ke gerombolan tersebut. KK tengah membagi anak-anak itu dalam tiga kelompok.

“… ok, kelompok duren, berkumpul bersamaaaa…. Uda Vizooonn….”

What?? KK menodongku untuk memimpin kelompok kecil tersebut? Duh, nyawaku belum sepenuhnya terkumpul, sudah diberi amanah sedemikian rupa. Sanggupkah aku melaksanakannya? (lebaaaayyy….) :D

Perlombaan antar kelompok dimulai… Lingkaran terbesar, lingkaran terkecil, ular terpanjang, ular terkecil, jembatan beracun… Dan masih banyak lagi.

Anak-anak itu benar-benar menikmati acara tersebut. Meski matahari bersinar terik, tak sedikitpun menyurutkan semangat mereka. Semuanya bermain dan bergembira. Apalagi KK bisa memancing semangat mereka dengan teriakan motivatif… KITA SEMUAAAAA…. BERGEMBIRAAAA….


Bermain di Rumah Dunia

Karena keasyikan bermain, aku lupa belum bertemu dengan Mas Gol A Gong. Kulihat beliau tengah berbincang-bincang dengan nechan Imelda. Segera kutinggalkan kelompok itu, mengembalikan mereka ke si KK, dan kutemui Mas Gong. Kujabat erat tangannya. Hampir tak percaya, seseorang yang hanya kukenal namanya, sekarang benar-benar ada di hadapanku. Kusalami juga Mbak Tias, istrinya. Ah… mereka benar-benar pasangan yang sangat serasi dan saling dukung. Tak sanggup kututupi kekagumanku kepada mereka. Kesederhanaan hidup dan perilaku yang mereka tampakkan, patut kuteladani.

“Mau keliling Rumah Dunia, uda?”, ajak Mas Gong

“Hayuk…”, sahutku

Kami memasuki area yang terletak di belakang tempat anak-anak bermain tadi. Area ini merupakan tempat pertama kali Rumah Dunia berdiri. Menurut Mas Gong, area ini didirikan dengan modal semangat dan niat tulus. Aku dapat merasakan aura semangat di area tersebut. Terasa kegembiraan anak-anak di situ.

Kami berhenti cukup lama di sebuah bangunan yang terdiri dari panggung kecil dan beberapa rak berisikan koran-koran bekas serta beberapa buku. Kulihat di atasnya bertuliskan “Perpustakaan Jendral Kecil”.


Panggung bersejarah Rumah Dunia

“Ini panggung bersejarah”, Mas Gong mulai menjelaskan.

“Bersejarah? Kenapa?”, tanyaku

“Dari sinilah semuanya bermula. Dari panggung kecil ini, anak-anak berlatih mengekspresikan dirinya. Mereka bebas bercerita apa saja kepada teman-temannya. Ada yang bisa bercerita sesuai imajinasinya, dan ada juga yang malah curhat, hahaha…”

“Oya? Asyik sekali ternyata…”

“Karena ini bersejarah, maka agak berat rasanya untuk merubuhkannya dan menggantinya dengan bangunan baru”

“Biar sajalah dulu Mas, jika tidak terlalu penting, buat apa dibikin bangunan baru”, usulku.

Kamipun ngobrol banyak hal. Dan salah satu yang terkesan di benakku adalah tentang keprihatinan beliau soal sikap pemerintah yang mengambil jarak dengan hasil karya para penulis. Menurutnya, seharusnya pemerintah bisa memanfaatkan tokoh fiksi yang diciptakan penulis yang kebetulan digandrungi anak muda. Sebut saja si Lupus karya Hilman dan si Roy karya Mas Gong sendiri. Seharusnya pemerintah bisa memanfaatkan kedua tokoh fiksi ini untuk ikon gerakan moral atau yang sejenisnya.

Misalnya, si Lupus dengan gaya khasnya berkata: “Dari pada nyabu, mending ngunyah permen karet… Asyik coy…”

Rasanya sangat efektif hal itu jika dilakukan. Karena, remaja sangat mudah dipengaruhi oleh tokoh idolanya. Sayang, hal itu tidak mendapat tanggapan dari yang berwenang, meski Mas Gong pernah mengutarakannya.

Tak terasa, senja sudah menjelang, dan aku harus buru-buru ke Bandara Soekarno-Hatta. Aku harus segera sampai di sana, jika tak ingin ketinggalan pesawat.

Dengan berat hati, kami pun pamit. Mas Gong dan kru melepas kami dengan lambaian hangat. Bahagia sekali rasanya bisa berada di tengah mereka. Dalam hati, aku berjanji akan berkunjung lagi suatu saat ke Rumah Dunia bersama anak-anakku, insya Allah… :)

Pukul 17.30, kami sampai di bandara. Alhamdulillah, masih cukup waktu. Awalnya kupikir cukup di-drop di depan pintu keberangkatan. Tapi ternyata, nechan Imelda dan Kai ikutan turun dan meminta pak supir untuk parkir. Ah, aku sangat tersanjung. Sepertinya pertemuan kami yang dua hari lalu itu masih terasa kurang. Ingin rasanya lebih lama lagi.

Akhirnya, kami benar-benar harus berpisah. Aku harus masuk ke ruang check-in. Nechan dan Kai melepas keberangkatanku dengan lambaian hangat mereka. Ada aliran hangat di hatiku. Bahagia sekali memiliki sahabat yang meski hanya terhubung lewat dunia maya, namun keakrabannya tidak kalah dengan sahabat yang terhubung di dunia nyata. Benar kata Om Nh, It’s the beauty of blogging. Persahabatan di dunia maya, akan semakin terasa indahnya, jika bisa dilanjutkan dalam dunia nyata.

Nechan, terima kasih atas pengalaman menarik kemarin itu ya…

Sampai jumpa di kopdar-kopdar berikutnya… :)

 

.

ps. foto-foto semuanya bersumber dari Facebook nechan Imelda 

 

30 comments on “bermain di rumah dunia

  1. Kesederhanaan mas Gong dan istri memang patut diteladani, ya uda.

    Aku senang baca tulisan ini. Semoga di lain kesempatan bisa berjodoh dengan rumah dunia :)

    • Benar banget Yes.. Beliau adalah sosok yang patut diteladani.. :)

      Dan semoga, ketika kesempatan itu datang, kita bisa barengan ya…

  2. Uda,
    begitu membaca status mbak Tias bahwa acara Pesta Anak itu diundur dari tgl 24 ke 25, aku langsung mengajak Uda ke sana. Biarpun sebentar ingin sekali pergi ke sana bersama Uda. Dan…aku merasa memang Tuhan sudah mengatur semuanya sehingga niat kita bisa terlaksana dengan lancar. Kita tetap bisa makan bersama, bermain bersama dan pergi ke bandara bersama. Tuhan Maha Baik.

    EM

    • Benar Nechan, Tuhan Maha Baik, sangat baik malah…

      Seperti yang sering dibilang DM bahwa tidak ada yang kebetulan, semuanya ada maksud dan pertanda. Tergantung kita, bagaimana bisa menangkap pertanda tersebut. Dan alhamdulillah, kita bisa menangkap pertanda di balik segala kebetulan tersebut; kebetulan aku kembali dari Sumatera dan kebetulan Nechan pulang dari Jepang, serta kebetulan acara di RD diundur… So, jadilah semuanya, hahaha.. :D

      Anyway, aku harus berterima kasih pada Ultraman. Berkat tokoh itulah, aku bisa ngobrol dengan Kai, meski dengan bahasa yang kami masing-masing tidak pahami… :D

      • trimakasih atas kunjungan singkat tapi penuh kesan di rumah dunia, sayang sekali aku gak bisa ketemu Riku ya! tapi sudah cukup terwakili dengan Kai. sebenarnya kalau agak lama, IKK juga kepingin ketemuan tapi tak apa, semoga titipan salam bisa menjadi perwakilan jabatan tangan dan peluk hangat

        ditunggu lagi kunjungan ke Rumah Dunia-nya
        trimakasih mbak Imel-Kai-uda.

  3. I like this Uda …
    I like this …

    Saya bisa membayangkan kebahagiaan anak-anak di hari anak itu …
    dan semoga mereka akan terus bergembira … bukan hanya di hari anak saja …

    Seperti yang pernah saya katakan disalah satu komentar di FB … jika saya ada disana … akan saya “garap” anak-anak itu … hehehe
    maksudnya … pingin sekali memimpin satu dua game untuk membuat mereka senang …

    Salam saya Uda
    once again … I like this !!!

    • Jujur, saya begitu ditodong sama KK, langsung teringat Om Nh. Seandainya ada Om Nh di situ, pastilah si KK dapat lawan yang sepadan, hahaha…

      Benar sekali Om, ini benar-benar menyenangkan, dan saya juga amat sangat suka sekali… :)

      • wah gak berani deh, lawan senior! hahhaaa
        tapi saya yang sangat senang sekali melihat ekpresi di muka Uda ketika ditodong jadi ketua regu duren..hahayy :p

  4. keren banget laporannya…apalagi waktu mas golagong menyatakan keprihatinannya. Tokoh2 yg disebutkan merupakan tokoh favorit kala saya masih remaja….sebenarnya di kawasan dekat rumah saya (kira2 10-15 menit), Dik Doank mendirikan Kandang Jurang Doank (KJD). Dik Doank dengan KJD nya memberikan kesempatan kepada anak2 yang tidak memiliki kesempatan (baca: pas2an) untuk mengembangkan kreatifitasnya. Awal saya kesana, dari mana dana menjalankan KJD yang cukup luas karena tidak seorang anakpun yg belajar disana ditarik bayaran….sepertinya saya akan menulis untuk membahas KJD ya uda…buat tambahan informasi…kira2 setuju ga?

  5. Aku dari dulu penasaran pengen baca bukunya Gol A Gong…
    Dulu waktu Balada Roy, daku kan masih kecil dan imut :)

  6. mmmm…sayang sekali kali ini aku ndak bisa dateng kesana…
    semoga jika Uda bisa berhasil mengajak fantastic four dan Uni aku bisa nyelip sebagai pengganti evans sementara…hahahahahaha…

    aku sangat amat menyesal tidak bisa kejakarta dan belum ada schedule untuk kejakarta…huhuhuhuhu

  7. akulagi baca buku mas gong yang baru, tentang IBU heheheh asyikkkkkkkkkk diceritain tentang bagaimana mbak tias di matanya…enak bgt bacanya….

    kapan ya ke rumah dunia hehehehe

  8. Udaaa potonya kurang banyak :)
    Hmm aku juga pengen kesana lagi, kalo uda sama 4 jagoan mau kesana, aku ikutan yaaa

    *akhirnya bisa masuk sini juga tanpa ditolak hahaha*

  9. Desember 2010 lalu sebenarnya bersama kawan-kawan mau berkunjung ke Rumah Dunia. Sayangnya karena sesuatu, akhirnya batal. Jadinya ke Rumah Buku Dunia Tera Magelang.

    Suatu saat mungkin kan kujejakkan kaki di Rumah Dunia yang kesohor itu

  10. Gol A gong, nama yang sering saya dengar :)
    Seru sekali wadah yang menjadi panggung bersejarah itu :D
    Lebih seru lagi karena bertemu orang2 yang hebat :)

  11. terimakasih atas kunjungan Uda Vizon dan mbak Imel beserta sobat kecilku, Kai the ultraman :)

    pertemuan keduaku yang selalu berkesan dengan mbak imel dan Kai, tahun lalu mbk imel beserta rombongan DM dan Ria datang ke Rumah Dunia, kemudian menyusul Cerita Eka dan Misuanya. kami juga sempat memainkan beberapa games karena saat itu untuk memperingati hari ulang tahun Juragan DM sekaligus memperingati momen HUT RI

    pertemuan pertamaku dengan Uda Vizon adalah di Jogja, waktu itu saya dan IKK, janji bertemu dengan Goenoeng Moelyo beserta IGM, di Kasongan yg kebetulan tidak jauh dari rumah Uda, setelah ngobrol sambil ngicipi kue lebaran yang dibuat Uni, kami pun berpindah tempat ke pondok cabe, sebagai tuan rumah yang baik, uda dan uni memang patut diacungi jempol, terlebih dibagian traktir kami :)

    pertemuan kedua kebetulan bertepatan dengan Pesta Anak Rumah Dunia yang digelar oleh tuan rumah Kang Gol A gong dan mbk tias Tatanka, sebenarnya status saya menjadi fasilitator games juga hasil todongan mbk Tias :)

    pertemuan kedua kali ini pertemuan antara mbak imel, Kai dan uda! sebuah surprise! dari kejauhan ketika menangani games anak2 saya sempat terkejut setelah melihat mbak imel, kai turun dari mobil..loh kok ada uda!!

    ya sekalian saja langsung saya kerjain uda dengan menodong menjadi ketua regu duren, hahahha. masih terbayang ekspresi muka uda vizon yg baru turun dari mobil sehabis menghadapi macet di jalan tol, tiba2 langsung ditodong utk memegang kendali anak2… hahahhaa, tengkyu uda!

    setelah break dari menangani games saya sempatkan ngobrol sebentar, mungkin lebih tepatnya bergunjing! hehehe lalu sempat becanda-canda sebentar dengan sobat kecilku, Kai the little cute ultraman. berbeda dengan Uda vizon, aku dan kai tidak pernah mengalami permasalahan komunikasi, sekalipun Kai dengan bahasa Jepangnya sementara aku pake boso jowo..hahahha

    tengkyu juga mbak Imel, Kai, dan Uda atas kehadirannya yang sejenak namun memberikan kesan cukup mendalam

    Rumah Dunia menanti kehadiran kawan-kawan bloger lainnya, silakan berfoto di gerbang Rumah Dunia

  12. kapan saya bisa ke rumah dunia jg..seru sekali dan bibit kreatif sdh terlihat disana ya uda,,saya kagum dg gola gong karya2nya begitu meikat hati,,,jg lupus,,andai semua itu terbit kembali..ada lanjutannya gt..

  13. Pingback: Twilight Express » Blog Archive » Duniaku di Rumah, atau di Rumah Dunia

  14. wuih top lah rumah dunia ini.
    coba ja da dduri pasti g da anak2 dsana, soalnx anak2 duri lebih asik bermain game online.
    sptnx dduri ini merusak regenerasi saja.
    paling cm ada hinaan yg keluar dr mulut mereka tentang rumah dunia ini. heheee
    like this uda

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


− 2 = 0

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>