jogja royal wedding

Beberapa hari yang lalu, tepatnya 16-18 Oktober 2011, Jogja menjadi pusat perhatian dunia Indonesia. Hal ini dikarenakan sang Raja, Sultan Hamengkubuwono X menggelar hajatan besar, yakni pernikahan putri bungsunya, GRAj Nurastuti Wijareni dengan Ahmad Ubaidillah (keduanya kemudian diberi gelar GKR Bendara dan KPH Yudanegara). Perhetalan ini diberi judul Dhaup Ageng Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sebagai orang yang tinggal di Jogja, tentu aku dapat menyaksikan dan merasakan secara langsung euphoria perhelatan ini. Ada banyak kesan yang dapat kurasakan. Tapi, ada tiga hal yang dapat kuceritakan di sini:

1. Publikasi

Karena ini adalah pernikahan anak Sultan, maka tentu saja prosesi adat yang mereka lalui sangat ketat. Melalui televisi lokal, aku menyaksikan setiap prosesi adat yang mereka jalani.

Terus terang, aku sedikit kecewa dengan televisi nasional. Peristiwa penting ini hanya diliput sambil lewat saja. Tidak ada yang menayangkannya secara langsung dan utuh. Coba bandingkan dengan Royal Wedding-nya Pangeran William dan Kate Middleton dari Kerajaan Inggris beberapa waktu lalu. Seluruh televisi nasional di negeri ini berebut untuk menayangkannya secara langsung dan utuh.

Sesungguhnya, pernikahan agung Kraton Yogyakarta ini tidak kalah “menjual”nya lho. Antusiasme rakyat Indonesia untuk mengetahui detail kegiatan budaya ini terlihat cukup besar. Setidaknya, itu terlihat di berbagai jaringan sosial media, topik mengenai perhelatan ini sangat banyak dibicarakan pada hari tersebut. 

Sayang sekali, pihak televisi nasional kita masih terlalu takut menyajikan tayangan berbasis budaya seperti ini. Padahal, itu akan sangat besar manfaatnya bagi kita semua, terutama generasi muda yang sudah semakin jauh dari budaya bangsa kita sendiri. Aku yang bukan orang Jawa, tercerahkan dengan tayangan yang kutonton dari televisi lokal tersebut. Aku jadi tahu filosofi setiap ritual adat yang dilalui, dan dengannya aku kemudian semakin memahami dan menyukai.

2. Pesta Rakyat

Perhelatan ini melibatkan banyak pihak, termasuk masyarakat umum. Itu terlihat pada kirab pengantin dari Kraton ke Kepatihan. Masyarakat Jogja tumpah ruah memenuhi ruas jalan Alun-alun Utara-Malioboro. Meski cuaca sangat panas pada siang hari Selasa, 18 Oktober 2011 tersebut, namun mereka tetap menunggu dengan setia. Mereka seolah ingin ikut merasakan kebahagiaan yang sama dengan sang pengantin.

Yang tak kalah istimewanya adalah digelarnya 150 angkringan gratis di sekitar kawasan nol kilometer. Tak sampai satu jam setelah dibukanya angkringan itu secara resmi, semua makanan yang tersaji habis diserbu para pengunjung. Dan perlu kita ketahui bahwa angkringan gratis ini bukan disediakan atau dibiayai oleh pihak kraton. Melainkan itu semua adalah sumbangan sukarela dari para pedagang angkringan tersebut. Mereka mempersembahkan itu semua sebagai kado bagi pernikahan putri Raja mereka. Maka, perhelatan ini adalah benar-benar pesta rakyat. Rakyat berpesta dengan sukacita, dengan cara mereka, dari dan untuk mereka. Salut..!

Aku urung mengikuti momen ini. Aku sudah berangkat menuju daerah Malioboro. Tapi, kemacetannya luar biasa. Aku terjebak cukup lama. Setelah menimbang sana-sini, akhirnya aku berbalik arah dan kembali ke rumah untuk kemudian menyaksikan semuanya melalui layar televisi.

3. Resepsi

Aku hampir melompat kegirangan begitu mendapatkan undangan untuk menghadiri resepsi yang akan digelar pada malam 18 Oktober 2011. Rasanya tak percaya, tapi itulah kenyataannya, aku dapat undangan. Tentu saja kehormatan itu aku manfaatkan dengan sebaik-baiknya.


Undangan resepsi, lengkap dengan pin kraton yang harus dikenakan

Dengan perasaan yang antah berantah, aku dan istri melangkah memasuki arena resepsi. Kuperhatikan di sekitarku, hampir tidak ada orang yang kukenal. Dan yang membuat nyaliku ciut adalah, sepertinya mereka dari kalangan atas semua. Aku merasa berada jauh di bawah mereka. Namun, aku berusaha menghilangkan perasaan itu. Toh, aku dan mereka sama-sama dapat undangan. Apa bedanya? ;)


Mesti merasa asing, tapi bakat narsis tetap harus disalurkan :)

Di tengah perasaan yang agak kikuk tadi, tiba-tiba ada tangan yang menepuk pundakku. Ketika kupalingkan wajah ke belakang, akupun melihat dua sosok yang tak asing lagi. Siapakah mereka…? Siapa lagi kalau bukan Bu Tutinonka dan Ata Chan a.k.a Chef Ata..! Hahaha… Perasaan kikukku tadi hilang seketika. Sekarang aku tidak merasa asing lagi. Ternyata, ada juga orang yang kukenal berada di sini. :D


Mendadak Kopdar dengan Bu Tutinonka dan Chef Ata

Maka, jadilah kami kopdar dadakan di lokasi resepsi tersebut. Dan, sebagai blogger, tentu saja pembicaan kami tak lepas dari seputar masalah blogging. Namun ada sedikit tambahan, yakni menilai menu makanan yang disajikan. Wajar saja, soalnya ada seorang Chef di antara kami, hahaha….. :D

.

PS. Jangan lupa ikutan MAINAN BOCAH CONTEST ya… Klik di sini untuk mengetahui detail kontes tersebut.. :)

48 comments on “jogja royal wedding

  1. wow..wow..wow..wow….Uda, Bunda, Ata dapat undangan dari Kraton….
    Huwaaaaaaa….kereeeeeen…….. *heboh*

    memang Kraton itu milik rakyat, makanya ketika kraton berpesta itu adl pesta rakyat dan benar-benar pesta rakyat. Rakyat pun gk segan menyumbangkan apa yg mereka punya. Ah, seandainya semua rakyat Indonesia punya loyalitas yg sama seperti loyalitas rakyat Jogja terhadap Sultan… *lah, ngelantur ke mana2*

    Semoga sakinah, mawadah, wa rahmah ya Bendara… :)

    • Itulah yang membuatku jatuh hati dengan Jogja, Ti…
      Raja mencintai rakyatnya dan rakyat menghormati sang Raja…
      Sebuah tauladan yang luar biasa.. :)

  2. ondeh, bundo kanduang rancak bana, basalendang songket sirah.
    jempol wat uni Icha..!

    betul tuh nyiak.. kenapa juga acara besar seperti ini gak dimanfaatkan oleh tv nasional yah..? takut gak ada yg nonton..? haduuwwhh.

    • Alhamdulillah bundo… Tapakai juo songket sirah tu, padohal lah lamo tasimpan dalam guluangan… :)

      Semoga televisi nasional kita dapat belajar dari peristiwa ini, bahwa sesungguhnya masyarakat kita juga sangat menginginkan tontonan berbasis budaya seperti ini. Bukan tontonan bernuansa internasional melulu..

  3. Anak-anak nda diajak, Uda? Apa mereka nda protes? Nda dong ya, mereka kan anak-anak yang manis.
    Menghadiri undangan keraton sekaligus kopdaran? bikin nganan dan ngiri nih, Uda.

    • Pada dasarnya anak-anak kami tidak suka diajak ke acara walimahan seperti ini Abi. Mereka suka gak betah. Makanya, mereka tidak ada yang merengek minta diajak ketika kami mengatakan akan berangkat ke resepsi tersebut..

      Alhamdulillah Abi, resepsi dan kopdar itu sebuah anugerah yang tak disangka-sangka datangnya :)

  4. putri Sultan yang belum menikah masih ada satu lagi ya Da…, mudahan aja ada liputan langsungnya ya
    melihat akad nikah yang berbahasa Jawa saja sudah unik, apalagi kalau ada penjelasan langsung dari pembawa acara yang mengerti budaya, pasti akan tambah kaya deh pemirsanya

    apakah Jogja selebar daun kelor he..he…, bisaaa aja kopdar blogger di tengah orang ramai seperti itu

    • Semoga saja ya Kak, kalau di pernikahan putri Sultan yang lain, tv nasional kita akan meliput peristiwa tersebut secara langsung. Insya Allah banyak manfaatnya untuk masyarakat kita, terutama generasi muda..

      Jogja sepertinya memang selebar daun kelor.. Selalu saja bisa kopdar dalam situasi apapun, hehe.. :)

  5. Yang ini sangat indah:
    “Dan perlu kita ketahui bahwa angkringan gratis ini bukan disediakan atau dibiayai oleh pihak kraton. Melainkan itu semua adalah sumbangan sukarela dari para pedagang angkringan tersebut. Mereka mempersembahkan itu semua sebagai kado bagi pernikahan putri Raja mereka. Maka, perhelatan ini adalah benar-benar pesta rakyat. Rakyat berpesta dengan sukacita, dengan cara mereka, dari dan untuk mereka.”

    Betapa raja dan rakyat saling mencintai… sungguh raja berpesta, rakyatpun ikut berpesta! Pesta rakyat yang sesungguhnya..

    Jujur, aku sebagai warga jogja di perantauan, pingin sekali merasakan pesta rakyat kemarin.

    Sedikit pertanyaan usil ke Uda: Apakah Uda itu “wong yogja”?

    Salam,

    • Poin itulah yang menjadi salah satu alasanku mencintai Jogja, bro.. :)

      Jawaban asalku atas pertanyaan usilmu: “Aku wong Yogja yang fasih berbahasa Minang”, hahaha… :D

  6. Hwaaaa… Senangnya dapat undangan itu… Ngiri :(

    Setuju sekali, Pak. Royal Wedding di negeri sendiri malah kalah pamor.

    Saya salut dengan kesetiaan rakyat Jogja dengan kesultanannya. Betapa cintanya mereka akan keraton dan budayanya. Keren!

    • Saya suka sekali dengan iklan sebuah produk, yang kira-kira bunyinya begini: “rumput gue lebih enak dari rumput tetangga”. Harusnya para pemilik tivi itu berpikiran seperti itu juga ya.. :)

  7. Tiga Hal uda …

    1. TV
    Yang uda katakan betul sekali …
    Masih membekas di benak kita bagaimana siaran langsung detik ke detik upacara pernikahan dari negeri sana.
    Namun ternyata untuk negeri sendiri … Waaahhh ???

    2. Angkringan
    Saya terharu melihat betapa cintanya rakyat jogya pada Sultan dan Keluarganya …
    Angkringan gratis itu kan butuh biaya
    Mereka rela mempersembahkan apa saja yang mereka bisa untuk memeriahkan perhelatan rajanya … (and I bet … ini juga sepertinya luput dari perhatian media)(maybe lho ya …)

    3. Undangan …
    Waaaahhh … Uda ganteng dan Uni cantik … mendapat kesempatan untuk diundang … Lagi … ini membuktikan bahwa Sultan juga tidak memandang latar belakang budaya … Siapapun yang layak diundang … akan diundang …
    Saya kalau jadi uda … akan saya simpan undangan dan pin tersebut. Tidak akan saya buang. Ini memorabilia yang tidak semua orang punya.

    Salam saya Uda

  8. Iya ya Uda… sayang banget TV nasional kita “cuek” pada perhelatan akbar ini…

    Kalau saya di Jogja saat itu, kayaknya saya bakal ikut tumplek blek di Malioboro dan ikut menyerbu angkringan itu deh… hehehe…

    Salut deh, itu kan berarti para penjual angkringan itu berani kehilangan sehari penuh pendapatan mereka ya… Tapi pastinya itu juga mereka lakukan dengan sukarela karena cinta dan bakti mereka pada Sri Sultan…

    Salut…!

    • Ekspresi rakyat Jogja itu, menurutku terjadi lantaran sikap Sultan juga. Beliau begitu dekat dengan rakyatnya, sehingga rakyat pun dengan rela melakukan apapun untuk sang Raja… Teladan yang patut dicontoh :)

  9. Gubrak! Iya Uda saya juga baru nyadar… padahal tempo hari saya salah satu yg antusias bgt loh liat royal weddingnya prince william…

    lagian di media massa beritanya gak seheboh prince william… *nyalahin media*

    kalau ada liputan dari a-z spt royal weddingnya inggris kayaknya aku bakal nonton juga…

    tentu saja adat Indonesia jauuuh lebih menarik utk ditonton…

    sayang ya… ^_^

    • Dalam perhelatan tersebut, tidak sedikit saya lihat turis asing ikut berdesak-desakan dengan masyarakat Jogja. Mereka juga sangat antusias mengikuti peristiwa budaya tersebut. Ini menunjukkan betapa tradisi kita sangat menarik untuk diikuti dan dipelajari :)

  10. Waaaa asik banget dapet undangannya >,<
    Menjawab komen di blogku, tulisan lama juga gapapa, tapi satu aja yaa yang dientri hehehe dan jangan lupa pasang link blogku hihi~ terimakasihh :)

  11. Udaaa….saya juga sependapat, knp publikasnya ga seheboh royal wedding orang lain ya? Pdhl saya nyari2 lho TV mana yg akan menayangkan live atw merekam semua prosesi secara detail dan lengkap :(

    Baru tau soal angkringan itu, mengharukan. Errr….ada yg begitu ga ya saat pak presiden hajatan? *ups* hihihi

    ALhamdulillah ya Uda diundang ke resepsi, pastinya sesuatu banget tuuh hohoho

    • Iya Orin, dapat undangan itu sesuatu banget deh, alhamdulillah yach… :D

      Hmm… kalau presiden yang hajatan, kayaknya gak bakal ada deh, kan protokolernya ketat sekali. Bahkan, barangkali radius 1 km dari lokasi acara harus steril dari masyarakat awam, apalagi pedagang angkringan… hehe.. ;)

  12. Saya ikut gemes dengan malasnya televisi nasional mengangkat acara kemarin sebagai warisan budaya yang tak sering terjadi…

    Mereka terlalu kebarat-baratan, Uda… mereka tak tahu bahkan di sini orang barat malah mendambakan sesuatu yang berbeda dari keseharian mereka…

    • Begitulah, Don… Rasa percaya diri bangsa kita masih rendah. Kita selalu menganggap bahwa yang datang dari barat adalah hebat dan luar biasa, dan sebaliknya, yang datang dari negeri sendiri adalah kuno dan kampungan.. :(

  13. TV swasta dalam negeri sepertinya memang lebih senang meliput event2 asing daripada event dalam negeri, Uda. Nggak cuma royal wedding kraton Jogja ini, sepakbola pun yang lebih banyak ditayangkan liga-liga asing. padahal nggak ada nilai tambah yang berarti bagi Indonesia. :(

    • Dulu pernah saya dengar kalau pemerintah menerapkan bahwa tv nasional kita harus memperbanyak konten lokal. Tapi sayangnya, aturan itu tidak diterapkan secara tegas.. :(

  14. idem sama komen sebelumnya.. waah, uda dapat undangan :3
    sayang sekali ya tidak ditayangkan secara nasional.. padahal penasaran,

  15. baru ngeuh juga saya klo perhelatannya seheboh itu yah
    tau sih dari berita tivi sedikit2 alias sepotong2
    tapi berhubung pas prince william nikah saya jg ga nonton
    jadi wajar yah klo ga kecarian acr jogja royal wedding :D

    sepatutnyalah tv nasional lebih memprioritaskan peristiwa langka seprti ini, semoga pihak media ada yg memahami ini dan mau mengagendakan untuk meliput jogja royal wedding yang terakhir ketika sultan menikah putrinya yang tinggal 1 lg itu. *eh masih ada 1 lg kan?*

  16. Wah sayang sekali memang liputannya ga seheboh calon raja inggris….
    semoga ini bisa dijadikan catatan bagi duania pertelevisian kita yg memang daftar catatannya amat sangat panjang.

    Sayang saya tdk bs ke yogya untuk ikut merasaan kegembiraan masyarakat yogya dalam acara ini.

    Pinnya mantaaappp :)

  17. Bener uda….waktu itu saya sampai pulang kerja siang2 loch…sangking pengen lihat acara langsungnya…kirain ada TV nasional yg menyiarkan secara langsung arak2an pengantin dan angkringan itu…apalagi suami sy dulu lama banget tinggal di jogja…jd saya pengen tau suasananya kayak apa…eh udah digonta ganti itu channel trnyata ngga ada yg nyiarin…sungguh terlalu…….

  18. Saya 10 tahun tinggal di Jogja (2000-2010), tapi gak pernah liat pernikahan anak-anak Ngerso Dalem. Pas putri sulung Ngerso Dalem nikah, saya lagi magang di Novotel Solo. Dekat sih, tapi pas dapet jatah jaga pintu masuk, ya sudah cuma bisa liat di tivi dan koran. Pas tahun 2008 Sultan mantu lagi, ironisnya, saya malah gak tahu karena waktu itu sedang asyik jadi kalong yang tidur siang melek malam keasyikan ngeblog.

    Nah, royal wedding yang terkhir ini saya malah lagi liburan sama keluarga di Jambi. Lengkap sudah. hehehe…

  19. Asyik banget bisa dateng ke royal wedding ya uda…
    jadi sebel sama media, coba aja waktu pangeran dari inggris itu sampai live…ngundang orang keraton lagi untuk di wawancara…kenapa pas orang keratonnya yg merried gak ada liputan live ya? keterlaluan! :(

  20. woaaaa… akhirnya dapat undangan ya uda? keeeereeeen…
    aku kemarin balik ke jktnya terlalu cepat rasanya. hehe. nggak sempat menikmati angkringan gratis. dan aku terharu melihat antusias rakyat. ah, jadi kangen pulang jogja lagi nih

  21. Senengnya Uda beserta Istri di undag ke Perhelatan Akbar..
    sekalian kopdar pula ..

    Setuju banget,sayang ko acara royal wedding nya indonesia ga di siarin secara Live,,

  22. Wah, kemarin itu saya nggak nyangka lho, bakal ketemu Uda dan Uni. Ternyata kita sama-sama orang top yang dapat undangan dari Kraton ya *ge-er pol* :D

    Tapi kayaknya Uda belum sempat makan banyak tuh, buru-buru pulang. Padahal sajiannya enaks-enaks lho :D

    Sampai ketemu di kondangan berikutnya ya Da …

  23. itulah….kapan warga Indonesia bisa bangga dengan segala yang tradisional daerahnya ya? Jika tidak didukung media lokal/nasional. Kalau di Jepang, dengan bangga akan ditayangkan.
    (Jadi ingat dulu aku mengikuti pernikahan Charles & Lady Diana dengan antusias. Tapi pernikahan Princess Masako atau royal family Inggris lainnya aku biasa-biasa saja. Semakin bertambah umur, hanya suka yang real, tidak suka fairy tale :D

    Asyiknya yang mendapat undangan resepsi…… Pasangan yang keren tuh!

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>