gadis penjual korek api

Sajian pamungkas pagelaran seni “Art For Children (AFC)” di Taman Budaya Yogyakarta, 13 November 2011 adalah sebuah operet berjudul “Gadis Penjual Korek Api”. Operet ini merupakan hasil kolaborasi anak-anak kelas vokal, tari dan teater.

Dongeng Gadis Penjual Korek Api sudah cukup masyhur, terutama di kalangan umat Kristiani. Cerita ini biasanya mengiringi perayaan Natal. Karya pendongeng terkenal dari Denmark, Hans Christian Andersen (1805-1875) ini bercerita tentang kegigihan seorang gadis kecil yang tetap menjajakan korek api-nya di bawah guyuran salju. Dia melakukan itu atas paksaan dari ayah tirinya.

Karena tidak tahan dengan dinginnya salju, si gadis kecil itupun menyalakan satu persatu korek apinya, untuk menghangatkan badan. Setiap batang korek api yang menyala, membawanya kepada khalayan tentang ibu dan neneknya yang sudah meninggal dunia. Dan sampai pada batang korek terakhir, dia pun meninggal, menyusul ibu dan neneknya.

Cerita itu disajikan oleh anak-anak AFC dengan apik melalui gerak tari, lagu dan akting. Cerita yang sederhana itupun menjadi luar biasa. Seluruh lagu yang mengiringi operet tersebut diciptakan oleh Bapak R. Sigit Er dan operet itu disutradarai oleh Bapak Broto Wijayanto. Salut buat kerjakeras mereka, sehingga anak-anak itu pun bisa tampil dengan percaya diri.

Berikut beberapa foto penampilan mereka:

Ada banyak lagu yang mengiringi operet tersebut. Semuanya bagus dan sangat pas dengan operet tersebut. Salah satunya adalah lagu berjudul “Anak-anak Merdeka” karya Bapak R. Sigit Er yang menjadi pembuka dan penutup operet. Berikut cuplikannya:

Menyanyi menari tralala..
Gembira tertawa tralalala..

Kita semua berkumpul tralalala..
Memupuk rasa cinta bagai saudara

Walaupun berbeda tralalalala…
Kita semua sama anak yang merdeka

Tralala tralala tralalala…

Ah… senang sekali melihat penampilan anak-anak tersebut. Mereka benar-benar menikmatinya. Pemandangan lucu terjadi ketika operet telah selesai. Mestinya, anak-anak itu memberi salam hormat. Tapi tidak sama sekali. Mereka malah berlari-larian di panggung dan menangkap “salju” yang beterbangan. Ya…, salju dari styroform. Kacau memang, tapi di situlah letak indahnya, anak-anak bisa mengekspresikan dengan bebas apa yang ada di pikiran dan perasaannya.. :)

 
Satira dan Pak Sigit, guru vokal sekaligus pencipta seluruh lagu dalam operet

 
Bersama Pak Broto, sang sutradara, sesaat setelah usai pementasan

 
Full team, ikut nonton dan memberi support buat Satira :)

Semoga ini menjadi kenangan indah buat Satira dan kawan-kawannya dan menjadi salah satu catatan sejarah penting dalam hidup mereka… Semoga tahun depan bisa ikutan lagi, hehe… :)

About the author:

. Follow him on Twitter / Facebook.

18 comments on “gadis penjual korek api

  1. ya, cerita Gadis kecil penjual korek api biasanya ditayangkan menjelang Natal, dan aku senang mendengar anak Uda dan juga teman-temannya yang lain MAU membawakan cerita yang dikenal sebagai cerita Natal. Maklum kadang segala yang berbau Natal kan dianggap “haram” oleh orang-orang tertentu. Salut! (Dan itulah sebabnya juga aku merasa cocok sekali bergaul dengan Uda sekeluarga).

    • Sepakat dengan Imelda, di tengah keprihatinanku terhadap radikalisme buta yang dibangun teman-teman, Uda dan keluarga adalah anomali!


  2. Walaupun berbeda tralalalala…
    Kita semua sama anak yang merdeka

    Ini keren banget …

    Cerita gadis korek api juga keren sekali … dan saya rasa ini mengandung muatan nilai-nilai yang bersifat Universal … (hanya Settingannya saja yang kebetulan ada saljunya …)

    Dan yang lebih keren …
    Satira ditonton oleh Papa-Mama, Kakak dan Adik-adiknya … Ini pasti … sesuatu banget … !!!

    Salam saya Uda
    Sukses untuk Satira

  3. Gadis penjual korek api mengemas pesan budi pekerti tanpa kesan menggurui ya Uda. Wow Satira performnya sungguh keren akan jadi kenangan indah, Salam

  4. Uda..kayanya kalo nonton langsung seruu banget..
    SAtria,hebat main Operet..
    PAsti bangga tuh dan akan menjadi kenangan tak terlupakan..

  5. Nonton cuplikan videonya aja udah bikin merinding dan berkaca-kaca, terlihat jelas anak-anak itu sudah berlatih keras… Satira pasti akan mengenang pertunjukannya ini sampai ia dewasa nanti, Uda…
    Pasti membanggakan hatinya karena pertunjukannya ditonton oleh seluruh keluarga ya…

  6. Terus terang Uda, cerita Gadis kecil penjual korek api selama ini belum pernah saya dengar. Beruntung ambo membaca tulisan uda. Alangkah senangnya melihat anak-anak kecil kreatif seperti ini… :)

  7. pengen dech ina dimasukin ke sanggar tari seperti ini…tp di tempat tinggal aku ngga tau dimana ada sanggar yg seperti ini…soale ina sepertinya ada bakat menari dan menyanyi…

    salut utk satira yg udah sukses membawakan opera tsb dgn baik…..pasti mama papanya bangga yach punya anak sprti satira….

  8. Pingback: SURAU INYIAK » Blog Archive » mendadak yang tidak sia-sia

  9. It seems that the kids really rehearse very well to come up with good performance in the show. And I admire the effort they made with their costumes. Although the story seems sad, I agree that the girls’ performance is very neat, including their singing and acting. Thanks for sharing the video and good review of the show.

  10. dongeng yang saya pernah baca di tabloid kesayangan saya waktu kecil, ternyata masih sering di apresiasi melalui operet ya..

    salam

  11. Ahh senangnya Uda…anak-anak memang ekspresif dan disitulah letak daya tariknya.
    Membayangkan pasti menarik sekali..nggak dibuat video nya Uda?

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


5 − = 2

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>