perjalanan ajaib


Warning: Illegal string offset 'single_featured_image' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 69

“Jika tak bisa berada di tempat terbaik, maka berusahalah menjadikan tempat di mana kau berada sekarang, sebagai yang terbaik”.

Aku cukup lama termenung begitu mendengarkan kalimat itu diucapkan. Bukan semata karena kalimat itu terasa dahsyat, tapi juga karena si penuturnya yang mengagumkan.

Siapakah dia?

Dia adalah Arif Iskandar, alias Arif “aurora”. Aku mengenalnya melalui postingan Imoe berjudul “makhluk ajaib dalam gerbong“. Kami pernah bertemu sekali waktu, ketika aku ke Padang dalam rangka menyalurkan bantuan untuk korban gempa, September 2009 lalu. Kemarin, Minggu 18 Desember 2011, kami bertemu kembali karena bersama-sama ingin menghadiri acara pernikahan Imoe di Pariaman.

Lantas, apanya yang mengagumkan?

Sebagai pemuda usia 18 tahun, kalimat yang dia produksi itu, terasa hebat menurutku. Terlihat sekali betapa dia memiliki ambisi namun tetap realistis dan selalu berpikir positif. Cara berpikir bijak yang tak biasa bagi pemuda seusia dia. Jujur, aku salut sekali dengannya.

Kalimat itu meluncur dari mulutnya, ketika Arif, bersama dua orang sahabat anggota Forum Anak Sumatera Barat, Teguh dan Ihsan, semobil bersamaku menuju Pariaman, tempat akad nikah Imoe dilaksanakan. Ketiga remaja itu tidak henti-hentinya berbicara sepanjang perjalanan hampir 2 jam itu. Ada saja yang mereka bincangkan. Dari candaan khas remaja, sampai ke ide-ide konyol yang menggelikan.


Bersiap mengantar Imoe ke acara akad nikahnya

Salah satunya adalah ide untuk memisahkan diri sejenak dari iring-iringan rombongan yang mengantar Imoe ke acara akad nikahnya. Ketika itu kami melewati Nagari Ulakan, di mana terdapat sebuah makam seorang tokoh penting di Sumatera Barat, yakni Syekh Burhanuddin Ulakan. Beliau adalah salah seorang tokoh pembaharuan Islam di ranah Minang. Setiap bulan Safar, makam beliau ramai dikunjungi. Hampir sama dengan keberadaan makam-makam para Walisongo di tanah Jawa. Selengkapnya tentang beliau, dapat dibaca di sini.

Kami berhenti sejenak karena ingin membeli rakik (peyek) dan sala lauak, makanan khas Ulakan. Makanan tersebut berbahan dasar seafood seperti kepiting dan udang yang merupakan komoditi utama daerah itu karena berada di daerah pantai.

Di saat aku membeli makanan tersebut, ketiga pemuda tadi tiba-tiba menghilang. Aku bingung juga mencarinya. Setelah berkeliling sejenak, ternyata mereka tengah bernarsis-narsis ria di komplek makam tersebut.


Belanja rakik dan sala luak di kompleks pemakaman Syekh Burhanuddin Ulakan

“Hei, kalian ini… kok sempat-sempatnya foto-foto dalam kondisi seperti ini”, sapaku bercanda.

“Tenang, Uda… Ini namanya mengambil segala kesempatan dalam kesempitan. Jarang-jarang lho kita lewat sini”, jawabnya dengan santai.

“Haha… benar juga.. Aku ikutan ah…”, balasku.

Dan, jadilah kami berfoto-foto di lokasi tersebut. Terus terang, ini adalah kali pertama aku memasuki kompleks pemakaman yang sangat terkenal di Sumatera Barat itu. Ide brillian ketiga makhluk tadi, ada benarnya juga. Toh, kami masih bisa mengejar rombongan. Dan kalaupun tertinggal, kami sudah tau lokasinya. Jadi, tak ada masalah besar bukan?


Narsis sejenak di kompleks makam Syekh Burhanuddin Ulakan

Benar saja, ternyata kami masih bisa menyusul rombongan dan bisa mengikuti seluruh proses akad nikah Imoe secara utuh. Bahkan, di sela-sela acara tersebut, sambil menunggu kedatangan Kepala KUA yang bertugas mencatat berita acara pernikahan tersebut, kami masih sempat bernarsis ria di sebuah surau tua yang terletak tidak jauh dari lokasi.


Selamat menempuh hidup baru untuk Imoe dan Silvi :)

Jelang maghrib, acara selesai dan kami kembali ke kota Padang. Imoe ikut kembali ke Padang, karena memang kesepakatannya begitu, bahwa dia baru akan dijemput kembali keesokan harinya untuk acara Baralek. Malam hari setelah akad nikah tersebut, masih ada acara adat khusus untuk anak daro (pengantin wanita). Maka, dengan demikian, marapulai (pengantin pria), belum boleh menginap dan akan dijemput besok paginya oleh keluarga anak daro. Ribet ya? Tapi begitulah budaya kita yang harus tetap kita hargai dan hormati. Sebab, leluhur kita menerapkannya tentu memiliki alasan tertentu.

Dalam perjalanan ke Padang itu, kembali muncul ide gila dari Arif.

“Da, kita culik Bang Imoe yuk”

“Culik..? Mau ngapain?”

“Ya, kita kan belum kopdar, hehe..”

“Benar juga ya, tapi nanti dimarahin ninik mamak lho”

“Kita lihat saja nanti”

Sesampai di Padang, aku tanyakan ke Imoe tentang kesediaannya untuk keluar sebentar bersama kami. Ternyata, Imoe pun setuju. Kebetulan dia masih harus mengurus beberapa hal untuk acara baralek-nya nanti. Jadi, bisa sekalian.. :)

Dan, akhirnya kopdar itupun terlaksana dengan sukses di sebuah rumah makan yang tidak jauh dari tempaku menginap dan dilanjut ke penginapanku tersebut. Kali ini, kami bebas ngobrol dan bercanda serta mendengarkan celotehan ajaib dari Arif. Sampai kemudian aku minta untuk menyudahi pertemuan kami malam itu. Sebab, malam sudah mulai larut, Imoe tentu butuh istirahat cukup untuk baralek-nya besok, dan juga aku harus istirahat karena sebelum subuh aku sudah sampai di bandara untuk kembali ke Jogja dengan penerbangan pertama.


“Menculik” marapulai untuk kopdar.. :)

Begitulah, perjalananku di hari Minggu kemarin menjadi ajaib, lantaran berjumpa dengan makhluk-makhluk ajaib..

Buat Imoe dan Silvi, selamat atas pernikahannya. Semoga bahagia dan diberkahi selalu.

Untuk Arif, Teguh dan Ihsan, terima kasih atas kegilaan kalian yang membuatku merasa lebih muda 20 tahun, hahaha.. Sampai jumpa di lain kesempatan.. Khusus untuk Arif, segeralah sembuhkan blogmu, banyak khalayak yang rindu akan tulisan-tulisanmu… :)


Warning: Illegal string offset 'author_box' in /home/hardiviz/public_html/wp-content/themes/confidence/content-single.php on line 93

27 comments on “perjalanan ajaib

  1. itu Arif aurora..? hwaa sudah jadi pemuda tampan. :D
    tidak heran, kalimat Arif memang senantiasa smart.
    dulu blognya Arif sering bundo kunjungi

    sekali lagi selamat berbahagia buat Imoe.

  2. eh eh ini pada nakal ya, pengantin kok diculik2, untungnya ga kenapa2 *gaya emak2 cerewet*
    tapi seru tuh Da, pasti sang pengantin pun akan terkenang selalu peristiwa diculik di hari pernikahannya hehehe
    saya blom kenal sama Arif, semoga saja blognya lekas tayang lagi, jadi bisa kenalan deh hehehe

  3. Sudah seharusnya kita menjadi manusia yang “kaya arti” dimana kehadiran kita selalu ditunggu-tunggu banyak orang ya mas.
    Manta artikelnya. Terima kasih
    Salam hangat dari Surabaya

  4. Kisahnya mirip 12 blogger yang ngeTIP bareng.
    Satu persatu mereka saya jemput untuk menyumbang pengalaman mereka cara mendapatkan ide dan mengembangkannya menjadi artikel menarik dan bermanfaat.
    Maka jadilah “12 Blogger ngeTIP Bareng ”

    salam hangat dari Surabaya

  5. waahhh…uda, cerita ini serasa membuat sil pulang kampuang
    foto – foto di ulakan, ada “sala lauak” makanan kesukaan sil…

    eh arif itu orang pariaman ya da..
    baru nyadar ada blogger dari pariaman juga..
    jadi penasaran dengan orang ini..
    heheh menuju TKP deh..

  6. Ahaha…akhirnya si Imoe ‘pacah talua’…
    Uda Vizon khusus dari Jogja buat jadi saksi ya? Hehehe…
    Aku sangat suka dengan tulisan Arief, cerdas dan menurutku melampaui standar anak seusianya :-D

  7. Selamat Imoe dan Silvi, semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan marochmah.

    Hmm…Uda bandel ya, mosok menculik penganten..tapi demi kopdar, sah-sah aja ya.
    Baca cerita ini jadi kangen ke Sumatra Barat…..

  8. uda…saya jadi teringat pada pesta pernikahan teman satu kantor beberapa tahun yang lalu. Selesai akad dan resepsi siang hari, kami rombongan dari jakarta mau muter2 di kota Bandung, terus ‘nyulik’ sang pengantin hingga menjelang isya…..itu juga karena dia dicariin sama istri dan keluarganya….hehehehehe…
    *wah uda serasa abg lagi deh…jalan bareng2 abg…..piss ah…*

  9. aduh…. jadi malu, malah dibuatkan postingan segala….(mengetik dengan pipi merah merekah berdarah-darah)….
    by the way uda, itu si teguh kirim salam tuh…

  10. Baru baca postingan ini dari linknya Arif Rahman Da, seru banget cerita menghadiri pernikahannya. Buat saya, menghadiri nikahan temen di luar kota emang kerasa seru. Apalagi kalo kita bisa bantu-bantu buat acaranya. :D

  11. Pingback: Secret - Eastern Sky Area - Karena Lembaran Diaryku Terbatas

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>