solitaire dan sendiri

Aku tidak pernah merencanakan untuk bekerja di Curup, Bengkulu. Namun, sebagai konsekwensi dari beasiswa S2 dan program Pembibitan Dosen PTAIN yang diselenggaran Departemen Agama RI yang kuiikuti, maka aku harus siap ditempatkan di mana saja, dan kapan saja.

Walhasil, pada 2001 aku mendapat SK penempatan di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Curup setelah sebelumnya mengabdi beberapa tahun di IAIN Pekanbaru. Dengan berat hati, aku terima keputusan tersebut dan berangkat ke daerah yang aku tidak pernah kenal sebelumnya.

STAIN Curup adalah sebuah perguruan tinggi agama Islam milik pemerintah yang bertempat di kota Curup, kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Dulunya merupakan Fakultas Ushuluddin, lokal jauh dari IAIN Raden Intan Palembang. Berdasarkan peraturan pemerintah yang tertuang melalui Keputusan Presiden No 11 Tahun 1997, yang mewajibkan fakultas cabang dari IAIN seluruh Indonesia berdiri sendiri, maka secara formal ia pun berubah menjadi Sekolah Tinggi pada 1998.

Di awal kehadiranku di sana, aku merasa terlempar ke beberapa tahun sebelumnya. Aku yang terbiasa dengan hiruk pikuk kota besar, terpaksa berada dalam kesunyian kota Curup yang setelah maghrib nyaris sudah tidak ada kegiatan apa-apa lagi. Aku yang biasanya berada dalam kampus dengan ribuan mahasiswa, sekarang harus berada dalam kampus yang jumlah mahasiswanya tidak lebih dari 400 orang. Dan, yang lebih menyiksa adalah banyaknya waktu luang yang tidak tahu harus diisi dengan apa.

Dengan kondisi seperti itu, maka beban kerjaku tidak terlalu banyak. Bisa dikatakan, aku lebih banyak bengong di kantor. Nah, dalam kondisi seperti itulah kemudian permainan Solitaire di komputer kantor, menjadi satu-satunya teman pembunuh sepiku kala itu. Dengan permainan itu, aku betah berlama-lama dan tak merasakan kalau aku hanya sendirian saja di kantor tersebut. Aku berhenti kalau jadwal mengajarku datang, atau waktu shalat masuk, dan terutama kalau perutku sudah mulai berontak minta diisi.. :)

Lebih kurang satu tahun Solitaire setia menemani kesendirianku di Curup. Seiring berjalannya waktu, kampusku sedikit demi sedikit mengalami kemajuan. Berbagai program studi baru dibuka, mahasiswa mulai bertambah, hingga akhirnya sekarang, jangankan bermainan Solitaire, ngeblog saja sudah cukup sulit bagiku jika sudah di kampus. Ya.. sekarang jumlah mahasiswa kami sudah mencapai angka 5.000 orang. Sebuah pencapaian yang lumayan bagus bukan?

Berbicara mengenai “sendiri”, sedari kecil aku sudah terbiasa mengerjakan banyak hal sendiri. Sebenarnya bukan karena aku mau, tapi memang keadaan yang memaksaku untuk bisa mandiri. Setamat SD aku sudah merantau ke Jawa Timur, nyantri di pesantren. Kondisi itu membuatku mau tidak mau harus bisa mengerjakan segalanya sendiri.

Selama menjadi santri, dua kali dalam setahun aku pasti melakukan perjalanan, entah pulang kampung di liburan akhir tahun atau sekedar jalan-jalan keliling Jawa pada liburan pertengahan tahun. Hal itu kemudian membuatku terbiasa mengepak barang-barangku ke dalam tas. Karena terbiasa seperti itu, akhirnya aku benar-benar bisa memperhitungkan apa yang  mesti kubawa dan bagaimana menempatkan barang-barang tersebut di dalam tas secara efektif dan efisien. Dengan kata lain, tidak ada space lowong di dalam tasku.

Nah, gara-gara itu, sampai sekarang aku menjadi tidak percayaan sama orang lain jika mengepak barang-barangku ke dalam tas, dalam hal ini istriku tentunya. Kalau kebanyakan suami jika mau melakukan perjalanan jauh, istrinyalah yang mempersiapkan segala kebutuhannya dan memasukkannya ke dalam tas. Berbeda sekali denganku. Aku sama sekali tidak bisa mempercayakannya kepada istriku. Bukan karena istriku tidak mampu, tapi aku selalu merasa ada yang kurang.

Pernah beberapa kali istriku membantu mengepak barangku ke dalam tas. Tapi kemudian, aku bongkar lagi, coba teliti lagi, apa ada yang kurang atau tidak mesti dibawa. Setelah beberapa kali hal itu terjadi, maka istriku “menyerah”. Dia tidak mau lagi membantuku memasukkan segala perlengkapan perjalananku ke dalam tas. Dia cukup mencarikan apa saja yang aku mau, dan kemudian urusan memasukkannya ke dalam tas, adalah urusanku.

Sebetulnya ada banyak hal yang aku lebih nyaman jika dikerjakan sendiri, daripada dibantu orang lain atau dikerjakan bersama-sama. Namun, di antara semua itu, hanya urusan mengepak barang ke dalam tas itulah yang tidak bisa aku tolerir.

Namun dengan demikian, bukan berarti aku benar-benar independen. Masih ada beberapa hal yang tidak bisa aku kerjakan sendiri, musti ada bantuan orang lain, dan hal itu membuatku benar-benar tergantung dengan mereka. Apa sajakah itu?

Di antaranya adalah membuat tulisan ini masuk dalam kategori paling banyak disukai oleh warga Warung Blogger di Facebook, sesuai permintaan duo ratu yang lumayan “galak”. Aku tidak bisa membubuhi jempolku sendiri untuk tulisan ini. So… sahabat semua… Laik dis yoooo…. :D :D :D

Tulisan ini diikutkan pada perhelatan GIVEAWAY :  PRIBADI MANDIRI yang diselenggarakan oleh Imelda Coutrier dan Nicamperenique.

27 comments on “solitaire dan sendiri

  1. lihat update sahabat di blogroll banyak sekali yang posting tentang solitaire dan sendiri, salah satunya di sini. Saya termasuk orang yang nda suka main game baik di pc maupun ps. Dan bicara soal kesendirian, saya banget. tapi apakah saya mandiri? saya masih harus banyak belajar lagi. Sukses untuk kontesnya, Uda. Kalau saya nitip jempol di sini saja bagaimana, saya jarang online di fb je….:)

  2. Ha ha .. ternyata solitaire pernah jadi “obat” juga yak .. cerita soliter ini sebuah permainan yang aneh, kadang suka senyum2 sendiri kalo mengingatnya … bengong tapi merhatiin kartu, telunjuk jadi keram dsb he he
    Semoga sukses kontesnya
    Salam :)

  3. xixixi dibilang galak pulak … hmm … stempel ga ya xixixi
    ga tega yah … ywd distempel dah … SAH!!!

    Tulisan ini diterima, dan didaftarkan dengan nomor urut : 19! Terima kasih untuk partisipasinya ya Da

    keren kan, cuma di sini lho kasi tau nomor urutnya ixixixi …

    soal packing itu emang klo udah biasa, susah percaya sama orang lain, wlo pasangan sendiri Da, bukan apa2 klo ada yg trtinggal atau gimana, kan ga tega juga menyalahkannya kan.

    Baek2 di kampung orang ya Da, cepat pulang klo urusan dah kelar hehehe

  4. [inyiak nulis panjang begini nunggu boarding.. alamakjang!]

    ngepak barang memang lebih baik dilakukan sendiri. karena kita yang paling tau kebutuhan yang perlu dibawa.. nanti sepulang dari perjalanan barulah membongkar barang itu bagiannya uni Icha.. wkwkwkkk.

    sukses ya Nyiak..!

  5. serasa dilempar dari peradaban ya ketika pertama ke Curup, begitu juga waktu aku pertama ke Bengkulu dulu, mana tak ada telfon pula ..
    antri di wartel nunggu jam 9 supaya dapat setengah harga

    tapi enak di situ dingin kan..? apalagi ke bendungan Tes ..dinginnya asyik
    oot, pasar bang mego masih ada da…?

  6. Saya jadi penasaran dengan game ini uda….saya belum pernah main game apapun…konyol ya. Anak-anakku suka main game, bahkan si bungsu S2 nya ambil di MGT (Magister Game Technology)…..

    Melihat tulisan di atas, saya bisa membayangkan kehidupan Uda Vizon yang serba teratur. Beda dengan saya Uda, saya kebagian ngeberesi tas suami kalau mau bepergian, celakanya nanti sampai ditempat tujuan tanya terus menaruhnya di bagian mana….hehehe

  7. Waduh… sampai sekarang saya ga ngerti lho uda cara main game itu… huahuahua…..
    hmm… emang sih uda. kalau Nge pak barang enak nya sendiri. kita tau taro baju ini di mana…benda itu dimana. jadi engga pusing nyari nya :)
    Ya… setiap orang punya kebiasaan nya masing- masing… iya kan uda? :D

    Duh… lama juga ya uda saya engga main ke blog uda…
    kangen nih… hahaha…
    sekarang saya sibuk sama Ujian praktek sekolah….. bentar lagi UTS…huahuhaua…..
    Jadi jarang internetan deh… ya… inilah perjuangan :)

    aduh, jadi curcol gini ya…?
    hihihi… engga apa- apa ya udaaa :)

    salam hangat….

  8. Sesuai dengan jam terbangnya, kalau urusan pak mengepak, saya dan istri sudah amat padu Da.
    Meski yg ngepak2 istri, tapi saya hafal tempat2nya.
    Perlengkapan mandi ada disebelah mana, charge HP ada disebelah mana, cadangan saputangan ada disebelah mana dll dll.
    SOP nya sudah jelas meski nggak saya tuangkan dalam bentuk hitam diatas putih.

  9. Perkara packing … !??
    Toss dengan Uda …

    Saya juga selalu ngepak sendiri kebutuhan traveling saya … kemanapun itu …
    Saya sendiri yang memilih baju yang akan saya bawa … berapa kaos kaki yang akan saya bawa … kaos dalam … baju atau kaos santai apa yang akan saya kenakan nanti … semua saya pack sendiri …

    Supaya saya tau barang yang mana diletakkan dimana ?
    Sabun, deodoran, odol dan yang sejenisnya ditaruh dikantong yang mana …

    Salam saya Uda …

  10. iya pasti ada hal2 yang kita suka lakukan sendiri tapi ada juga yang lebih suka dilakukan bareng orang lain.
    tapi in overall, saya sih lebih suka nya kalo gak sendirian. hehehe.

  11. Waw.. galak ya si mpunya hajat.. takuut..!!

    Kalo packing barang pastinya lebih nyaman sendiri ya Uda..
    jadi kita tau persis dimana barang2 yang dibutuhkan..

  12. kita sama Nyiak,
    kalau urusan packing utk travelling, kudu dikerjakan sendiri,
    bukan gak percaya dibantu, tapi, pasti adaaa aja yg kurang ….. :)

    semoga sukses di acara nya Nik dan Mbak Em….
    salam

  13. Cerita masalah packing, selama ini setiap mau jalan selalu disiapkan oleh isteri. Tapi setelah saya pikir2, selama ini selalu saja ada yang kurang, terus kalau mau cari sesuatu nanya dulu, tempatnya dimana ?
    Uda Vizon dan Om NH serta banyak teman2 lain sepakat untuk packing sendiri….

  14. yg sabar y yg jadi istrinya udo vizon hehehehe. curup dulu krang lebih sama dg jambi do…jam 8 malam aja udah sepi, mo nyari angkot nangis guling2 jg ga bakal ada. heeee sukses GA nya udo vizon

  15. Soal packing, saya lebih suka dibantuin sang istri mas
    karena lebih teliti apa yang harus dipersiapkan
    malah sering tanya apa lagi yang harus dimasukkan dalam tas kalau pas mau melakukan perjalanan

    ada kalanya butuh sendiri, ada kalanya harus bersama

    salam dari pamekasan madura

  16. Waduh, kalo urusan ngepak tas, suami saya mesti lari nyari saya, Uda :D

    Hebat ya perkembangan mahasiswa di sana, berlipat-lipat! Tentu Uda bahagia banget yaa :D

    Eh, saya mesti ngasih jempolnya di mana, Da? Kok ndak ada rak jempol di sini?

  17. jangan bilang bilang ya,,
    kalau inon yang ngepakin barangnya papa :D :D :D :D
    *inon kalau ngepak selalu menyisakan banyak ruang kosong*

    inon juga gak bisa main solitaire.. :D parah ya..
    inon bisanya ngoceh..

  18. soal ngepak barang…sama kayak suamiku…kalo aku yang masukin barang ke koper pasti dibongakr lagi sama suami…jadi daripada sakit hati lebih baik aku ngga bantuin lagi hehehe……..

    kalo denger kata curup aku taunya kalo bulan puasa banyak yang order baju koko….dan ongkos kirim barang kesana lumayan mahal yach….berarti emang jauhh sekali

  19. penempatan jauh dan sendiri, saya juga pernah uda. sewaktu penempatan di ternate.
    sempat 3 bulan saya harus meninggalkan umar di jakarta.

    terkadang manusia butuh waktu untuk sendiri, merenung…:)

    salam uda…

  20. wahh..ternyata Uda (eh bener ya manggilnya Uda…? hehe) tinggal di Curup ya… beberapa tahun lalu Curup masuk area tugas saya. Sepanjang tahun 2007 -2009 baru 2 kali sih ke Curup. lumayan ya jalannya dari Bengkulu lewat gunung dan jurang. mana berbelok-belok lagi. kepergian pertama pas bulan puasa sukses bikin saya mual dan akhirnya buka puasa pas nyampe di Curup :-) Kepergian kedua udah lebih prepare minum antimo jadi aman hehe….kota Curup dingin ya, ada restoran ayam bakar yang enak tuh.. tapi saya lupa namanya apa. katanya ke atas sedikit lagi ada kebun strawberry ya kalo nggak salah? udah lama juga sih nggak kesana jadi agak2 lupa…. :-)

  21. Perkara packing, semenjak menikah aku mempercayakan kepada istriku jika kami bepergian bersama. Biasanya baju kami digabung dalam satu koper. Bahkan, jika pergi sendiripun ke tempat yang jauh untuk beberapa lama, istriku sudah tahu apa yang harus dibawa. Terkadang dia bertanya dulu berapa lama aku pergi dan apa saja yang harus dibawa. Tapi kalau aku harus mengepak sendiripun tak masalah. Dipak istri OK, ngepak sendiri OK. Enjoy aja bro….Kalau ada salah atau pakaian kurang2 dikit ya harap maklum. He he….
    Nice post bro…..

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>