Ketika menunggu penerbangan ke Bengkulu, aku sempatkan blogwalking, dan terdamparlah diriku di blognya Kak Monda. Beliau baru saja meluncurkan sebuah acara Giveaway untuk memperingati tiga tahun blog Kisahku. Beliau meminta kita untuk membuat tulisan bertemakan wisata sejarah atau mereview salah satu tulisan beliau.
Kebetulan sekali, pikirku. Di Bengkulu, ada beberapa tempat bersejarah yang bisa kukunjungi dan kujadikan tulisan sebagai “kado” untuk ulangtahun ketiga blog Kak Monda tersebut.
Begitu mendarat di Bengkulu, segera kutuntaskan segala urusan yang harus kuselesaikan. Sorenya, aku pun meluncur ke sebuah situs purbakala peninggalan Pemerintah Kolonial Inggris, yakni Benteng Marlborough. Setelah berkeliling hampir dua jam dan mendapatkan informasi yang cukup dari tour guide serta foto-foto di lokasi, akupun segera pulang dan ingin menuliskan apa yang kulihat tadi.
Tapi…. ternyata, Kak Monda sudah pernah menuliskannya dalam postingan berjudul Benteng Marlborough Di Bengkulu. Alamakjaaang… Gak asyik rasanya kalau aku buat laporan yang sama.
Setelah berpikir cukup lama, aku putuskan untuk tetap menuliskannya. Anggap ini untuk melengkapi tulisan beliau tersebut. Setidaknya, ada tiga hal yang ingin kutambahkan.
1. Desain Benteng
Dalam tulisannya, Kak Monda menuliskan cukup lengkap mengenai sejarah dan latarbelakang didirikannya benteng itu. Berikut aku kutipkan dari tulisan Kak Monda:
Benteng dibangun oleh usaha dagang dari Inggris, East Indian Company awal abad 18 (1713 – 1719). Gubernurnya pada waktu itu bernama Joseph Callet. Bangunan benteng menyerupai kura-kura ini berdiri di atas lahan seluas sekitar 44.100 meter persegi dan menghadap ke arah selatan.
Tahukan sahabat semua apa perbedaan benteng Inggris dengan benteng Belanda?
Coba perhatikan gambar berikut ini:
Di sebelah kiri adalah benteng Inggris dan kanan adalah benteng Belanda. Benteng Inggris mengambil bentuk segiempat, seperti kura-kura. Sementara benteng Belanda, mengambil bentuk segilima (pentagon). Benteng Marlborough mengambil bentuk seperti kura-kura. Tidak ada keterangan, apa filosofi dari bentuk-bentuk benteng itu.
2. Tulisan di dinding
Seperti yang dikatakan Kak Monda pada tulisannya tersebut, benteng ini pada awalnya didirikan untuk kepentingan militer, sangat benar adanya. Meski kemudian berfungsi juga untuk perdagangan dan pengawasan jalur perdagangan yang melewati Selat Sunda, namun bekas-bekas fungsi kemiliterannya sangat terlihat jelas. Salah satu contohnya adalah sebuah bangunan yang terletak di sayap kanan pintu masuk, terdapat sebuah penjara.
Di dinding salah satu ruang penjara tersebut terdapat tulisan seperti di gambar ini:
Tulisan tersebut merupakan coretan seorang tentara Belanda yang ditawan Inggris. Kira-kira terjemahannya sebagai berikut: “Barangsiapa mengamati kompas ini, janganlah memarahi yang membuat coretan ini. Ingatlah, kesengsaraan dan waktulah yang membuat saya mencoret-coret di sini dan waktu saya menulis ini“.
Kalau cuma melihat salinan tulisan itu, mungkin kita tidak merasakan apa-apa. Tapi, coba lihat bentuk asli dari coretan tersebut pada gambar berikut:
Ya.. coretan itu ada pada dinding di depan jendela penjara berukuran kira-kira 3 m x 2 m tersebut. Kompas yang dimaksud adalah yang berbentuk lingkaran berwarna coklat tersebut, sementara tulisannya ada pada kotak berwana coklat di sampingnya. Aku dapat membayangkan betapa sengsaranya orang yang dipenjara di situ. Jeruji besi berlapis dan dinding yang sangat tebal, ditambah dengan mewabahnya malaria ketika itu, tentu membuat yang terpenjara disitu benar-benar tersiksa lahir dan batin. Hah.. aku benar-benar merasakan auranya..
3. Old and new
Di salah satu sisi benteng Marlborough, terdapat sebuah bangunan yang berfungsi sebagai perkantoran Pemerintah Hindia Belanda. Ya.. gedung itu didirikan oleh Belanda pada tahun 1825. Pada tahun tersebut, Inggris dan Belanda melakukan tukar menukar daerah kekuasaan. Inggris menyerahkan Bengkulu kepada Belanda, dan Belanda menyerahkan Malaysia dan Singapura kepada Inggris.
Karena didirikan oleh Belanda, gedung ini memiliki sedikit perbedaan, terutama pada atapnya. Gedung ini beratapkan genteng. Nah, yang menarik adalah, genteng yang digunakan sampai sekarang itu kebanyakannya masih asli peninggalan Belanda sejak 1825 itu. Lihat betapa masih bagusnya genteng-genteng itu. Ada beberapa genteng baru yang sengaja dibuat untuk mengganti genteng yang pecah, namun kualitasnya sungguh jauh berbeda.
Coba perhatikan gambar berikut:
Yang sebelah kiri adalah asli peninggalan Belanda, berumur hampir 200 tahun, dibawa langsung dari Belanda, sementara yang kanan adalah buatan zaman sekarang, berumur baru beberapa tahun.
Sekarang, coba lihat gambar selanjutnya:
Yang sebelah kiri adalah genteng peninggalan Belanda dan yang kanan adalah genteng buatan zaman sekarang. Lihat, betapa jauh sekali kualitasnya. Genteng berumur ratusan tahun itu masih sangat bagus, sementara yang baru beberapa tahun dibuat sudah berlumut.
Pertanyaannya, mengapa seringkali buatan masa lalu itu jauh lebih berkualitas dari buatan zaman sekarang? Padahal, teknologi saat ini sudah sangat maju. Atau, jangan-jangan, teknologi hanya sekedar mempermudah pekerjaan, dan malah menurunkan kualitas produk. Benarkah demikian? Entahlah…
Satu lagi contohnya adalah pada batu bata yang menjadi tangga untuk naik ke atap benteng tersebut. Coba perhatikan gambar berikut ini:
Bata yang terlihat masih utuh tersebut adalah bata yang dipasang sejak awal didirikannya benteng Marlborough ini, sementara bata yang sudah rusak dan berwarna lebih merah adalah bata yang baru dipasang beberapa tahun belakangan ini untuk menggantikan bata lama yang rusak. Lihat.. betapa jauh berbeda kualitasnya bukan..?
Begitulah, beberapa hal yang kutemukan di Benteng Marlborough Bengkulu yang belum ditulis oleh Kak Monda. Foto-foto mengenai suasana benteng itu secara keseluruhan dapat sahabat lihat di blog beliau. Tapi, foto berikut ini, sayang juga untuk dilewatkan.. Cekidot…
Kak Monda.. Terimalah persembahan “kadoku” ini untuk harijadi blog Kisahku yang ketiga ya.. Semoga berkenan..
Tulisan ini diikutkan pada Giveaway Pertama di Kisahku bersama Kakakin












Uda, terima kasih banyak ya kadonya, semoga bisa menulis sama lamanya dengan uda
aku ke sini sudah lebih dari 17 tahun lalu he..he…, dan banyak juga yang dulu luput dari pengamatan,
dulu juga nggak berani masuk ke sel itu..
Belanda itu suka bawa bahan bangunan dari sono,seperti juga bata yang masih kuat dipakai sebagai bahan bangunan kantornya mbak Devi di Lapangan Banteng, dan gantinya Belanda boyong kayu kita untuk membendung lautnya,
he..he… barter gitu ya
kucatat sebagai peserta ya Uda
[Reply]
Vizon
Reply:
February 26th, 2012 at 3:35 pm
Justru aku yang harus berterima kasih kepada Kak Monda.
Sebab, kalau bukan karena GA tersebut, aku mungkin sampai saat ini masih belum juga menginjakkan kaki di benteng Marlborough. Padahal, sudah 11 tahun lebih aku menjadi warga Bengkulu, haha..
Sukses buat acaranya ya Kak..
Semoga aku bisa ikutan untuk kategori ke II
[Reply]
mantaaabbbhh..!
justru krn kak monda pernah menuliskannya, maka laporan pandangan mata dari Inyiak ini akan semakin melengkapi pengetahuan kita semua, termasuk tentang perbandingan kualitas bahan baku.. #aku rasa foto terakhir sebaiknya di-skip saja krn tidak ada foto pembandingnya.
sukses ya nyiak!
[Reply]
Vizon
Reply:
February 26th, 2012 at 3:36 pm
Sebetulnya ada pembandingnya, bundo.
Tapi, saya sudah tahu pasti kalah bagus yang ini.
Sebab, pembandingnya itu foto orang yang lagi galau di Macau… haha…
[Reply]
makin asik baca ttg benteng marlbourouh ini Nyiak,
makin melengkapi apa yg pernah ditulis oleh BuMon di blognya
Semoga sukses ya Nyiak di acaranya BuMon ini …
hehehe….ngikik dulu akh, baca komennya penjaga LJ

salam
[Reply]
Vizon
Reply:
February 26th, 2012 at 3:37 pm
Terima kasih, bunda..
Heran juga ya, penjaga ladang kok bisa mampir di sini.
Harusnya dia kan nyabut
gigirumput ya…[Reply]
Ada tiga hal Uda ….
1. Bentuk Benteng
Saya baru tau kalau bentuk benteng Inggris dan Belanda itu berbeda … satu segi empat … satu lagi segi lima … Terima kasih informasinya
2. Kualitas Gerabah
Saya tidak tau mengapa gerabah buatan lama menjadi begitu awet … mungkin karena campuran bahannya … Sementara kalau buatan sekarang … untuk alasan ekonomis … produksi massal … beberapa bahan mungkin dikurangi … atau beberapa tahap dikurangi sehingga kualitas menjadi lebih rendah
3. Foto …
Hahaha …
As ussual … justru inti dari postingan ini adalah … Foto yang terakhir itu Uda …
(huahahahahah … emangnya Om Trainer …)
Salam saya Uda
[Reply]
Vizon
Reply:
February 26th, 2012 at 3:40 pm
Soal bentuk benteng itu, saya juga baru tahu setelah mengunjungi Marlborough ini, Om.. Itu dikasi tau sama bapak-bapak yang bersedia menjadi tour guide saya..
Menurut bapak itu lagi, genteng tersebut menjadi sangat berkualitas, karena dikerjakan secara hati-hati dan dengan bahan baku yang benar-benar berkualitas.
Foto yang terakhir…? ah, itu kan saya belajar dari senior yang galau di Macau, hahaha…
[Reply]
jaman dulu orang belum berani ‘ngakali’ kualitas, dan masih punya banyak waktu untuk membuat sesuatu yang bagus, tidak dikejar setoran kayak sekarang….happy blogging sob
[Reply]
Vizon
Reply:
February 26th, 2012 at 3:41 pm
Karena mereka mengerjakan itu bukan karena “panggilan” proyek ya Sob?
Thanks for visiting
[Reply]
kapan kapan blue mau donk dikasih kado sebuah penulisan……heheh
p kabar bang
salam hangat dari blue
[Reply]
Vizon
Reply:
February 26th, 2012 at 3:42 pm
Boleh.. kapan Blue mau dihadiahi tulisan? hehe…
Alhamdulillah kabar baik, Blue
Semoga Blue juga begitu ya..
Lama juga kita tak saling silatulblog ya
Salam hangat kembali
[Reply]
bagus juga ya bentengnya masih dirawat baik…
[Reply]
Vizon
Reply:
February 26th, 2012 at 3:42 pm
Untuk perawatannya, kita patut berikan pujian bagi pengelolanya..
[Reply]
jadi tanda tanya besar ya uda,kenapa kualitas barang2 dulu lebih bagus dibandingin yg zaman skg..
semoga sukses diacara giveawaynya bunda monda ya uda..
[Reply]
gimana mengenai kultur kehidupan pelosok di desa terpencil di daerah sana……………..bisakan bang…………….hehhehhe
[Reply]
wah pengamatan Uda detil sekali..
teliti… punya bakat jadi ahli sejarah… heheh
[Reply]
ia kliatan kali kalo genteng buatan belanda tu di buat dengan kualitas lebih baik dari buatan jaman sekarang.. sepertinya pembakaran genteng buatan belanda tu jauh lebih sempurna dari buatan sekarang.
[Reply]
Vizon
Reply:
February 28th, 2012 at 9:09 am
Sepertinya bukan hanya sistem pembakarannya yang bagus, tapi juga bahan bakunya yang sangat bagus kualitasnya
[Reply]
memang kalo lihat gedung2 jaman dahulu kelihatan masih kokoh meskipun usianya udah ratusan tahun…..temboknya juga tebel sekali…kayak gedung2 di daerah kota tua yang setiap hari saya lihat…..sayangnya gedung2 itu ngga dirawat dgn sebaik2nya….
Tapi kalo lihat benteng marlborough ini beda yach…kelihatan sekali kalo gedung ini dirawat dgn baik…
sukses kontesnya uda…smoga beruntung…
[Reply]
Vizon
Reply:
February 28th, 2012 at 9:06 am
Kalau perawatan patut kita acungi jempol untuk tempat ini. Yang kurang adalah promosi dan ketersediaan informasi detail tentang bangunan ini
[Reply]
Walah kupikir ngebahas soal Malioboro dan Vredeeburg
[Reply]
Vizon
Reply:
February 28th, 2012 at 9:01 am
Malioboro dan Vreedeburg kan tugasmu untuk membahasnya
[Reply]
Di Gombong – Kebumen juga ada benteng peninggalan Belanda. Benteng Van Der Wijck namanya, kalau nda salah ingat dibangun tahun 1819. Terakhir saya kesana tahun 2009, bersama Sabila dan juga almarhumah. Apakah ini bisa saya jadikan bahan tulisan untuk giveaway Bunda Monda? Semoga.
Sukses ya, Uda. Insya Allah.
[Reply]
Vizon
Reply:
February 28th, 2012 at 9:00 am
Wah, jadi pengen tahu tentang benteng Van Der Wijk itu, Abi
Ditunggu laporannya ya…
Sukses juga buat Abi
Syukran
[Reply]
duh, memang buatan saat zaman belanda, kualitasnya baik
[Reply]
Vizon
Reply:
February 28th, 2012 at 8:58 am
Sebetulnya buatan jaman sekarang juga bisa berkualitas, asal dikerjakan dengan benar
[Reply]
Tulisan menarik Uda..dan jadi PR jika suatu ketika ke Bengkulu, mesti melihat benteng Malborough ini.
[Reply]
Vizon
Reply:
February 28th, 2012 at 8:54 am
Terima kasih Bu Enny…
Tempat memang tidak boleh dilewatkan kalau ke Bengkulu.
Jangan kayak saya, sudah hampir 12 tahun di Bengkulu, baru kali ini berkunjung ke sini, hehe…
[Reply]
tempat yang banyak menyimpan cerita sejarah dan dapat dijadikan obyek wisata sejarah. Salam kenal dalam kunjungan perdana saya.
Sukses selalu
Salam,
[Reply]
Vizon
Reply:
February 28th, 2012 at 8:51 am
Salam kenal kembali, terima kasih sudah berkunjung..
[Reply]
wah aku jadi inget jalan-jalan bulan lalu. . . . . keren emang dri situ bisa liat laut secara langsung. . . . abis itu ke rumah bung karno deh.. . .
[Reply]
Vizon
Reply:
February 28th, 2012 at 8:50 am
Insya Allah nanti akan saya ceritakan juga tentang rumah Bung Karno tersebut
[Reply]
tadi saya salah baca judul uda, saya pikir malioboro hihihi. sukses ya uda dgn kontesnya
[Reply]
Aduuuh, masa urusan genteng dan batu-bata aja kita bisa kalah ya, Uda? Sedih deh. Padahal mestinya bahan baku dari negri kita lebih baik yaa… Wong banyak tanah liat di mana-mana
Sukses kontesnya, Udaaa…..
[Reply]
Permisi, cuman mau share aja nih. ada info lomba bikin artikel. Hadiahnya lumayan ada 2 buah printer laser jet dan voucher. Caranya tinggal like fanpage >> http://www.facebook.com/anugrahpratamacom. Dan ikuti Contest menulis artikelnya.
Terima kasih
[Reply]
Investigasi yang sangat jeli nih Uda, Bengkulu memiliki kekhasan sejarah perjuangan bangsa kita ya. trimakasih Uda sudah berbagi, jadi lebih mengenalnya dengan membaca tulisan Uda dan Eda Monda. Salam
[Reply]
Sudah lama aku ingin ke Bengkulu untuk melihat berbagai obyek wisata di sana. Namun meski belum keturutan, membaca postingan Anda tentang benteng yang begitu lengkap, hati terobati juga. Belum sempat ke sana, paling tidak bisa membaca dulu….Trims infonya yang bagus, lengkap, diperkuat dengan foto-foto yang jelas. Selamat dan sukses selalu untuk Anda.
Salam kompak:
Obyektif Cyber Magazine
(obyektif.com)
[Reply]
wah uda kayknya jalan2 teruss….
[Reply]
Ah… aku tersilap mata waktu baca judulnya: “Sisi Lain Malioboro”
Kirain Uda mau nulis laporan pandangan mata tentang sisi sebelah Barat Malioboro, hehehe….
Kalau Benteng yang di Bukittinggi, udah ngga ketahuan bentuknya persegi empat atau pentagon. Itu peninggalan Belanda kan, Da?
[Reply]
Uda jeli banget ampe bentuk benteng pun berbeda ya..
Baru tau loh..
serasa ikut jalan-jalan ke bengkulu..
[Reply]
Teliti sekali rekaman pandangan matanya Inyiak…Dirimu sudah berhasil telak memotret benteng Marlborought dari sudutnya yang lain..
Mengenai kualitas bangunan jaman Belanda dan sekarang, emang sangat mengherankan. Gedung, jembatan dan rel kereta api yg pernah di bangun Belanda, kalau tak diruntuhkan masih bertahan hingga sekarang.Kayaknya perlu penelitian ilmiah nih..
Aku gak ngerti apa di Belanda sekarang mereka juga menggunakan bahan-bahan bangunan bermutu serupa?
[Reply]
wah keren nieh uda tulisannya…mantep
jadi tahu sejarah benteng Marlborough di Bengkulu….nambah lagi ilmu..Thanks for sharing..detail sekali
wah iya ya kualitas jaman dahulu dan sekarang kok beda jauh sekali gitu….analisa nya bisa jadi benar…
sukses GA nya yah uda
[Reply]
Salam Senyuum. . . ^_*
kunjungan balik kak. . .
waaaaah, bengkulu ya kak? jauuuuh ya. . .
terimakasih sudah berkunjung ke blog Langkah Catatanku ,
sekalian mengabarkan kalau link kakak sudah menjadi sahabat idah.
di tunggu backlinknya ya kak?
idahceris.wordpress.com.
[Reply]
Ibu juri datang…
Bangunan-bangunan tempo dulu memang kuat2 ya, Da…
Bangunan SMA saya dulu pas mau dibongkar, tukannya rada kesulitan. Temboknya tebal-tebal, terdiri dari 2 lapis bata. Batanya persis seperti bata pada gambar diatas. Bangunan SMA saya kalau tidak salah dulunya adalah rumah sakit jaman Belanda.
[Reply]
ternyata beragam sekali peninggalan penjajah
)
[Reply]