“Kalau ada waktu, tolong cek inbox FB”, sebuah pesan singkat masuk ke ponselku. Pengirimnya aku cukup kenal. Karena kami kerap terlibat dalam beberapa pekerjaan, maka kupikir ini ada kaitannya dengan pekerjaan. Segeralah kulakukan apa yang dimintanya.
Assalamu’alaikum…
Aku tahu, ini sangat berat. Tapi, aku harus melakukannya. Aku sudah tak sanggup lagi menyimpannya. Sejak pertemuan kita, 29 Februari, empat tahun lalu, aku sudah menyimpannya. Untuk lebih jelasnya, tolong confirm permintaan pertemanan dari “Nona Manis”.
Terima kasih, maafkan atas kelancanganku
Wassalamu’alaikum…
Segera kulirik kotak notifikasi, dan kulihat di sana ada permintaan pertemanan dari seseorang dengan nama Nona Manis. Tanpa pikir panjang, aku pun menerima permintaan tersebut.
Aku terhenyak dan terdiam cukup lama begitu membaca satu persatu isi status di dinding akun Facebook Nona Manis itu. Ternyata itu adalah akun khusus yang dia buat untuk mencurahkan perasaannya kepadaku.
Sejak pertama bertemu, aku kagum kepadamu. Entah kenapa, kekaguman itu berubah menjadi kesukaan. Salahkah aku mencintaimu?
“Astaghfirullah…!” hanya itu yang keluar dari mulutku demi membaca tulisan itu di salah satu statusnya.
“Sejauh itukah?”, pikirku.
Perlahan, kubaca satu persatu semua status yang dia tulis. Jantungku berdegup kencang. Sungguh ini diluar dugaanku. Kami, bukanlah anak kemarin sore, yang bisa dengan gampangnya jatuh cinta. Tapi, kenyataan di depanku, tak bisa kupingkiri. Ia benar-benar menyukaiku.
Sejenak kutenangkan diri. Aku tahu, ini berat. Bukan hanya untuknya, tapi juga untukku.
Aku harus memberi jawaban yang sangat bijak untuknya. Aku tak ingin merendahkannya. Aku ingin ia tetap punya kebanggaan pada dirinya. Tapi, aku tak ingin ia larut dalam perasaan yang tak berujung itu.
Bismillah… aku mulai menulis jawaban baginya;
Wa’alaikumussalam…
Terima kasih sudah berterus terang kepadaku. Aku pujikan sikapmu itu. Karena, dengan demikian, kita bisa bersikap lebih jelas dan pasti. Semoga jawabanku tidak mengecewakanmu.
Aku yakin, kamu tahu bahwa secara logika, perasaanmu kepadaku itu tidak mungkin dapat diwujudkan. Bukan semata karena sudah tidak pantas, tapi juga salah dan membahayakan banyak kalangan, terutama keluarga kita masing-masing.
Yang kamu harus tahu, bahwa bagiku, cinta itu adalah tanggungjawab. Aku mencintai keluargaku sepenuh jiwa dan ragaku sebagai wujud cintaku kepada Sang Pemilik Cinta, Allah SWT. Karena dasar itulah, maka hati dan pikiranku sudah tertutup untuk cinta lain.
Coba kamu perhatikan gambar ini:
Gambar yang kuambil di suatu senja di Pantai Panjang Bengkulu itu, selalu menjadi inspirasi bagiku. Aku ingin terbenam suatu saat nanti dari muka bumi ini, seperti mentari itu. Ia terbenam meninggalkan warna indah dan dinikmati banyak orang.
Kamu tahu kenapa?
Karena ia setia pada Tuhannya dan melakukan semua kewajibannya di dunia ini dengan penuh tanggungjawab. Tak sekalipun ia khianat akan tugasnya menyinari bumi ini. Kamu pasti tahu apa yang akan terjadi jika matahari itu khianat. Ya.. dunia akan kiamat.
Aku, adalah mentari bagi keluargaku. Maka, aku takkan pernah mengkhianati keluargaku. Karena jika demikian, kiamat akan terjadi dalam keluargaku. Aku ingin meninggalkan warna indah bagi mereka, jika akan terbenam suatu saat nanti.
Maafkan aku. Semoga kamu mengerti.
Wassalamu’alaikum..
Dengan penuh keyakinan dan berserah pada Yang Maha Kuasa, kupencet tombol “send“. Dan dengan penuh kepastian pula, kuhapus Nona Manis dari daftar temanku.
Ah cinta.. mengapa harus rumit untuk dipahami..?
Catatan:
- Karya fiksi yang penuh rekayasa ini dengan sengaja kubuat untuk mengabadikan tanggal hari ini dan demi memenuhi undangan Yustha Tt dalam acara bertajuk Giveaway Satu Tahun dari blog celoteh .:tt:.
- Foto kuambil pada tanggal 24 Februari 2012, di Pantai Panjang Bengkulu.



Sudah dua cerita serupa yang saya baca hari ini, semua menderu2, seakan bukan fiksi…
Fiksi yg ditulis oleh yang ahli, hasilnya akan beda sekali…
Hanya sedikit cerita fiksi yg bisa masuk alam bawah sadar saya, dan salah satunya adalah tulisan Uda Vizon ini…
Sederhana tapi nge”bom”…
—————————————
Undangan buat Uda Vizon untuk berkenan hadir dan baca Trilogi saya di
http://marsudiyanto.net/trilogi-dalam-trikolom.html
Tapi maaf Da,
Bahasanya saya tak bisa tertata seperti milik Uda™ dan Nakja™,
alurnya tak bisa lancar kayak tulisan Guskar™
dan gayanya tak semelankolik ala PakDhe Cholik™
Tulisan saya “ndeso” khas marsudiyanto
aih jadi terinspirasi pengen bikin fiksi juga hehehe
hm … ini bukan pengalaman pribadi kan Da? xixixi
*ngaciirr ah takut ditimpuk maenan balok*
cieeee.. inyiak..
nan sabananyo lah kooo.. wkwkk
[kasak kusuk di blkg, kirim message ke uni Icha..]
mantap nyiak.. bundo like this..!
saya kira itu beneran,,
untungnya cuma fiksi,,
sekali berkhianat kepercayaan tidak akan datang lagi dan semuanya akan menjadi hancur berantakan…
artikelnya memotivasi untuk tetap setia…
fiksi yang penuh himah da,..
indah sekali… uda emang kereeeeenn..
Huwaaa…aku pikir bukan fiksi Da *ups* hihihihi…
kisahnya cantik, fotonya cantik, filosofinya jg cantik, sukkkka pokonya mah
Tiga Hal Uda …
1. Speechless …
…
2. Tak Tau Mau berkomentar apa …
….
3. Terpesona …
(dengan mulut menganga …)
Salam saya
Uda, terhenyak membacanya sungguh bagus bukan main penceritaannya, bijaknya pembelajaran melalui kemasan fiksi. Salam
Indah sekali, menyentuh, inspiratif…..
Seperti bukan fiksi, tapi sepertinya kejadian seperti itu pun banyak terjadi di dunia maya, yang penting tetap berhati2 dalam bersikap..
salam..
Indah sekali Uda menganalogikan sebuah kesetiaan seperti foto senja..
ah.. saya membacanya sampai tuntas.. dan membacanya lagi..
semoga sukses Uda..
hehe ternyata fiksi… kirain beneran…
Cinta itu Tanggungjawab.. jika semua berpikir demikian, maka pastilah cinta tak akan dipersalahkan pada sakitnya hati..
‘Penolakan’ yang manis sekaliii Uda… saya membacanya 6 kali dan tidak jua bosan.. filosofinya pas dan gaya bertutur Uda wuapik byanget :p
Apik tenan, bukan basa-basi. Ada pesan moral di sana.
Konon, saudara-saudaraku dari Sumatera Barat memang ahli membuat puisi dan fiksi, tapi kalau main sepakbola mala kurang aksi ha ha ha ha.
Saya belum membuat nich untuk tt.
Salam hangat dari Surabaya
Inyiaaak…mantaff sabana mantaf ko…

mantaf fotono…..
mantaf kisahno….
filosofino mantaf pulo….
(100 jempol utk Inyiak)
salam
seperti bukan fiksi aja da…kirain cerita beneran heheh
Sepertinya ini fiksi berdasarkan kisah nyata yachh….kali aja ini kisahnya temen uda hihiih…soale fiksi tapi berasa nyata…dan bener2 keren…filosofinya juga keren…menolak tanpa menyakiti…aiihh sepertinya ini yang jd juaranya…..
Aku curiga kisah ini terdasari atas kisah nyata.. hahahahaha *ngibrit
Saya kok cenderung curiga jika ini kisah pribadi Uda hehehe
tapi yo wis lah, Fiksi atau nyata.. yang jelas saya angakt jempol unutk keteguhan hati si lelaki yang senantiasa menjadi mentari buat keluarganya itu
sukses buat GA-nya Uda
Tertipu putri, pak… he.. he…
Kirain pak vison beneran dapat inbox FB seperti itu…ternyata
Soalnya hal-hal seperti itu marak terjadi akhir-akhir ini… menyatakan perasaan lewat media sosial….
inon suka sama kutipan ini
“Karena ia setia pada Tuhannya dan melakukan semua kewajibannya di dunia ini dengan penuh tanggungjawab. Tak sekalipun ia khianat akan tugasnya menyinari bumi ini. Kamu pasti tahu apa yang akan terjadi jika matahari itu khianat. Ya.. dunia akan kiamat.
Aku, adalah mentari bagi keluargaku. Maka, aku takkan pernah mengkhianati keluargaku. Karena jika demikian, kiamat akan terjadi dalam keluargaku. Aku ingin meninggalkan warna indah bagi mereka, jika akan terbenam suatu saat nant”
keren sekali… dan jadi obat capek selama di pulau..
ya karena inon adalah matahari bagi keluarga inon..
makasih inyiak
Alhamdulillah, akhirnya bisa nyampe di ‘rumah’ Uda #ikutan manggil Uda
…menyimak..menikmatinya….dan spechless sperti yg lain..
Sae sanget, Da.
Uda,
Walaupun ternyata cuma fiksi, aku yakin itu adalah pendirian dan sikap Uda dalam berkeluarga. Pantas dijadikan teladan. Analogi mentari terbenamnya begitu sempurna. Aku pun ingin seperti mentari itu, Da… Analogi ini akan terus kuingat.
Wassalam
tutur kata dan alurnya memang sangat pas, enak dan mudah di cerna …
karena banyak yg memanggil pemilik blog ini dgn panggilan ‘uda … maka akhir kata … rancak bana ‘da …
~uda vizon, waktu meninggalkan jejak di blog @brus, uda menyebut dirinya sbg ‘putra Riau … kok sobat bloger pada manggil ‘uda … bukan ‘abang … hehehe … pertanyaan gak penting …
Abrus… saya lahir dan besar di Duri, Riau. Namun, secara garis keturunan, saya adalah orang Minang, karena keduaorangtua saya berasal dari Bukittinggi. Selengkapnya, baca di halaman “ambo” ya, hehe..
wah, ceritanya seperti kisah betulan….
selamat ngontes …
Udaaaa… aku rasanya sering lihat Uda, tapi baru sekarang yah nongol di sini. jadi malu, padahal kita satu kotanya yah Uda. dari awal baca postingan ini ikut deg2an, kirain beneran gitu (keknya komentar yang lain juga begitu yah…)
filosofi ceritanya dapet banget, Uda..
Uda…maafkan Tt lama menghilang dari dunia blog. Tt baik2 saja Uda, puji Tuhan sehat wal afiat. Maaf meninggalkan GA yang baru saja digelar.
Ceritanya sangat inspiratif Uda, penuh hikmah yang dikemas indah. Terimakasih banyak Uda.. Tt catat sebagai peserta ya…
keren… beneran hanya fiksi?
Uda, Tt datang lagi..
Lelaki yang sangat bijak dalam bersikap dan memberikan jawaban.
Semoga perempuan itu bisa menerima dengan baik, menyikapi dengan baik, dan melanjutkan hidupnya dengan baik. Amin.
Ane hakkul yakin kisah fiksi ini terinspirasi kisah nyata. Uhuy…..