negeri 5 menara, the movie

negeri5menara

“Bro, sepertinya si Gazza salah casting deh, perasaan dirimu tidak seganteng itu zaman dulu, haha… :D”

“Harus perbaiki imej, dong. Cuma bisa di film, wkwkwk…”

“But anyway, salut atas pencapaian ente.. Hebat.. Mantap.. Aku turut bangga bro..”

“Tarimo kasih, sanak..”

Itulah obrolan singkatku dengan Fuadi melalui BBM selepas menonton film Negeri 5 Menara di Jogja. Ini adalah film terbaru besutan Affandi A. Rahman sebagai sutradara dan Salman Aristo sebagai penulis skenario yang diangkat dari novel berjudul sama karya sahabatku, A. Fuadi.

Kemarin malam, 1 Maret 2012, aku menontonnya bersama keluarga dan kawan-kawan alumni Gontor di Jogja. Ya.. kami nonton bareng dalam satu studio di kompleks Ambarrukmo Plaza. Karena film ini sebagian besar bersettingkan Pondok Modern Gontor, tentu saja suasananya jadi riuh rendah. Kami tidak sekedar menonton, tapi juga bernostalgia… :)

Sejujurnya, sulit bagiku untuk melakukan review terhadap film ini. Akan sangat tidak obyektif rasanya penilaianku nantinya. Karena, seperti yang sebagain sahabat narablogku di sini mengetahui, bahwa aku mempunyai ikatan emosional yang sangat besar dengan novel yang menjadi inspirasi film ini.

Barangkali, sedikit catatan yang bisa aku berikan untuk film ini adalah:

1. Gambar

Empat lokasi penting film ini, yakni Maninjau, Ponorogo, Bandung dan London mampu digambarkan secara baik. Sudut-sudut penting lokasi tersebut bisa terekam secara maksimal dan membawa penonton seolah berada di tempat-tempat tersebut. Yang patut dipujikan adalah, penggambarannya tidak terlalu berlama-lama, yang bisa merusak alur cerita, sebagaimana yang terjadi pada beberapa film bersettingkan sebuah tempat wisata.

Sebagai contoh, keindahan Danau Maninjau memang tidak terekam secara utuh. Namun, dialog penting antara Alif dan ayahnya di pinggir danau tersebut dapat terekam dengan baik tanpa melupakan latar pemandangannya. Dengan kata lain, dialognya dipahami dan pemandangannya pun dapat dinikmati.

2. Pesan

Sebagaimana novelnya, pesan film ini pun sama, yakni kesungguhan untuk mewujudkan segala cita-cita. Mantera sakti yang selalu didengungkan adalah: Man Jadda Wajada, barangsiapa bersungguh-sungguh, akan berhasil.

Secara keseluruhan, alur ceritanya mampu menunjukkan tentang kesungguhan dan kesuksesan tersebut. Sebagai contoh, kesungguhan Baso yang tidak bisa berbahasa Inggris dan harus mengikuti lomba pidato berbahasa Inggris, ternyata berhasil dengan baik. Baso, dengan dibantu kawan-kawannya, melebihkan usahanya untuk itu. Akhirnya, dengan kesungguhannya, dia pun berhasil keluar sebagai pemenang kedua dalam lomba tersebut.

Hanya yang terasa kurang adalah fluktuasi konfliknya. Kesedihan dan kesusahan yang dialami tokohnya masih terasa datar.  Jika ditambahi sedikit lagi, menurutku akan semakin terasa dramatisnya.

3. Pemeran

Secara umum, para pemeran dalam film tersebut menurutku sangat tepat. Nyaris sesuai dengan karakter di dalam novel. Yang sedikit mengganjal adalah peran Kiai Rais yang dipercayakan kepada Ikang Fawzi. Barangkali karena espektasiku terlalu tinggi, dan aku merasa cukup mengenal sosok kiai yang dimaksud, maka aku merasa bahwa Ikang Fawzi terlalu “ngerock” untuk tokoh ini. Akting beliau lumayan bagus, hanya saja bagiku, “magnetnya” masih kurang kuat.

Bagaimana dengan pemeran keenam sohibul menara? Bagiku, akting mereka sangat baik dan patut diberi dua jempol. Masing-masing karakter memiliki kekhasannya dan melekat cukup kuat dalam ingatan penonton. Dan… Fuadi patut bersyukur, karena gambaran dirinya di masa remaja sangat terlihat ganteng, hahaha… (becanda). :D

Nah sahabat sekalian… Terlepas dari ikatan emosionalku yang sangat kuat dengan film ini, aku sarankan untuk menontonnya. Menurutku, ini adalah salah satu film karya anak bangsa yang patut diperhitungkan.

Nonton yuk…. :)

Related post:

 

About the author:

. Follow him on Twitter / Facebook.

61 comments on “negeri 5 menara, the movie

  1. Wah, om vizon kenal mas fuadi yang ngarang yah…
    Aku belum nonton ini.
    Tapi kok membaca reviu om dan reviu siapa tadi lupa, semuanya bilang akting Ikang Fawzi gak bagus yah hehe :D

    • Una.. alhamdulillah, saya cukup kenal dengan Fuadi. Sila baca beberapa tautan yang saya berikan di atas.. :)

      Sebenarnya akting Ikang Fawzi tidak jelek. Hanya saja, dari sudut pandang saya yang mengenal sosok Kiai Rais yang dia perankan itu, Ikang Fawzi terasa kurang pas memerankannya.. Sekali lagi, ini pandangan subyektif saya lho ya.. :)

  2. wah saya wajib nonton juga nih uda…

    latar danau maninjau menggoda, karena keluarga ibu saya dari maninjau.

    latar london juga karena saya dulu bercita2 pgn sekolah di london, tapi sekarang udah nggak punya cita2 itu lagi sih.

    insya Allah saya nonton deh…

    salam uda.

  3. berdasarkan rekomendasi Uda, berangkat nonton deh ntar :D
    blom baca bukunya jadi aman dari rasa kecewa kayaknya hehehe

  4. Kyai rais kok jadiikakng fauzi sih, padahal kan beliau tidak begitu.
    Halah, mungkin ekspektasiku terhadap beliau terbawa dengan perbandingan Ikang Fauzi, jadi gak nyambung.

    • Imej Ikang sebagai rocker sangat kuat, sehingga sulit bagi kita untuk melihatnya sebagai pemeran tokoh kiai. Barangkali begitu ya Mas Sus?

  5. semoga pas inon balikk itu film masih ada yakkk
    ha…ha..ha..ha
    pengen banget nonton itu..
    inon kan fansnya om fuadi…

  6. Sudah direncanakan wiken ini nonton Da. cuma biasanya, kalo nonton novel yg difilmkan pasti kecewa sih, secara saya hampir baca semua film yg dibuat dr novel, jd sptnya kali ini pun hrs membuka hati kalo filmnya tdk sesuai bayangan saya saat baca novelnya hihihi..

    • Sudah bisa dipastikan, bahwa novel yang difilmkan akan memiliki beberapa perbedaan. Logis saja sih sebenarnya, karena novel dengan ratusan halamam tersebut harus diwujudkan dalam durasi 2 jam. Oleh karenanya, banyak yang perlu disesuaikan, ditambah atau bahkan dikurangi. Yang pasti, benang merahnya tidak hilang, terutama pesan utama dari novel tersebut tersampaikan dengan baik melalui film ini. Bahkan, keindahan persahabatan yang kurang tereksplorasi dalam novel, di film ini justru mendapat penggambaran yang sangat baik.. :)

  7. Sepertinya filmnya bagus nech….cuma pengen nonton msh ribet sm anak2 heheh….smoga nanti bisa nonton kalo ada kesempatan…terimakasih uda atas reviewnya…paling ngga sedikit banyak sy udah ada gambaran ttg film ini….

  8. aku merinding mbayangin rombongan inyiak nonton film ini.
    sejuta rasa ya nyiak.

    #seperti biasa aku nunggu dvd nya saja.

    • Benar sekali Bundo..
      Adegan yang membuat mataku memerah adalah:
      1. Ketika Alif akan berangkat ke tanah Jawa, meninggalkan Amak dan adik-adiknya
      2. Ketika Alif akan ditinggalkan oleh ayahnya di Pondok Madani setelah dinyatakan lulus

      Dua adegan itu menjadi flashback yang luar biasa buat saya.
      Terbayang cerita yang nyaris sama, yang saya alami 26 tahun lalu.. :(

  9. Wah kayaknya bagus dan wajib nonton nih..Mau lihat lokasi-lokasinya…Sudah lama saya gak nonton film nasional setelah Laskar Pelangi hehehe…Reviewnya lengakap Uda. Nice post :)

    • Ada satu adegan menarik yang diambil dari tradisi Minang, Uni
      Yakni, proses jual-beli ternak dengan transaksi di bawah sarung..
      Seperti apa persisnya? Just watch the movie, haha.. :D

  10. Sejak baca novelnya, jujur kami sekeluarga menanti dengan sangat agar segera difilmkan. Aku yang tak punya cerita apa2 seputar pesantren saja begitu berharapnya, apalagi Uda ya, wajar langsung bernostalgia.

    Nach saat ini kami sudah berencana untuk nonton bareng ;)

    Semoga bisa terlaksana ;)

  11. Walau aku sejujurnya tak suka nonton di bioaskop tapi sejak baca ulasannya Isa Alamsyah, bahwa menonton film berkwalitas karya ank Negeri justru diutamakan diawal tayangnya, agar film2 serupa makin banyak diproduksi. Daripada sibuk ngatain film2 tak jelas, mending langsung ‘aksi’ dengan yang kita bisa ya Uda?

    • Nah, itu benar sekali Mbak Keke..
      Lagian, menonton di awal tayang itu, sensasinya beda dengan menonton lewat DVD, dan sendirian di rumah.. :)

  12. Salam, baru pertama x mampir di blog ini :)

    Kemarin baca review orang yang sudah nonton katanya kurang mirip dengan cerita di novel :D.. tapi tetep mau nonton untuk membuktikan sendiri :)

    • Salam kenal kembali..
      Kebanyakan film yang diangkat dari novel memang tidak bisa sepenuhnya sesuai dengan cerita di novel. Alasannya? Karena karya novel dan film adalah dua karya seni yang berbeda. Novel yang berhalaman ratusan itu, tak bisa sepenuhnya diwujudkan dalam film berdurasi dua jam. Tentu ada banyak penyuntingan di sana-sini. Yang terpenting, pesan yang ingin disampaikan baik melalui novel maupun melalui film adalah sama dan sampai ke penonton :)

  13. waaah seru sekali pastinya yah Uda nonton sambil nostalgia dan reuni, pasti rasanya beda banget!
    dan aku udah baca novelnya, memang bener kata Uda, film yang diangkat dari novel pasti akan beda,

    hmm.. senin nonton film ini ah.

  14. baca novelnya aja suka sekali, karena merasa pujangga tanah Minang muncul lagi seperti jaman angkatan Balai Pustaka dulu, merasa kedekatan budaya

    uda sempat bareng dengan uda Fuadi di Gontor?
    ada tokoh Vizon nggak di sini?

  15. ini sudah masuk film wajib tonton sewaktu msh sibuk diberitakan akan difilmkan, Nyiak. :P
    semoga besok weekend ini kalau aku nonton, gak begitu kecewa, krn imajiku ketika membaca bukunya berlainan dgn di film … hehehehe…
    hanya sekedar info, buku negeri 5 menara ini aku daptkan dr kyaine Padeblogan .. :)
    salam

  16. Saya sangat mengerti mengapa film ini mempunyai keterkaitan emosi yang erat dengan uda …

    Saya bisa membayangkan bagaimana benak Uda dan kawan-kawan dibawa bernostalgia ke masa dulu … masa di pesantren

    Catat di agenda … film ini harus ditonton nih …
    Salam saya Uda

  17. aku menunggu saja disini uda…. melihat review disini, review disana, ingin sekali nonton jadinya…. nasib tinggal di padang nih uda, perfilman tidak maju…. jangankan film luar, film indonesia(yang bermutu apalagi) akan lama terdistribusi disini….. *curhat colongan

  18. Ya Uda, saya pengen nonton film ini. Apalagi semalam sempat nonton acaranya Om Andy F Noya yang sedikit membahas negeri 5 menara. Tambah penasaran..

  19. Seperti membaca hasil karya seorang sahabat, menonton film yang diangkat dari karya sahabat tentunya sangat berbeda rasanya dibanding membaca atau menonton karya orang yang tidak kita kenal secara pribadi. Dan, sungguh saya ingin sekali merasakan ‘sensasi’ yang Uda rasakan atas film ini, kenal secara pribadi penulisnya, juga latar cerita nya.

    Tapi dari pengalaman membaca buku dan membandingkan setelah difilmkan, muncul kekhawatiran saya akan kembali merasa kecewa. Entahlah, saya lebih menikmati membaca buku ketimbang menonton film. Barangkali salah satu alasannya, dengan membaca buku saya bebas membayangkan tokoh dan juga latarnya.

    Mudah2an film ini tak ‘semengecewakan’ saat saya dulu menonton AAC. Dan karena beberapa bulan lagi Sabila insya Allah akan mondok di ponpes Darqo 1, sepertinya mengajak Sabila nonton film ini adalah pilihan yang cukup tepat untuk memperkenalkan seluk beluk ponpes.

  20. Sayang skali ya..! Kok di Sumbar Film ini tak bisa ditonton disetiap daerah, karena ndak ada studio…., padahal ALIF adalah kebanggaan baru orang Minang… (salam untuk ALIF ato FUADI ya, dia termasuk yunior Uda dulu di Fisip Unpad.) Ditunggu sekuel ke tiga dari tulisan Fuadi (yg dua udah di baca)

  21. Jadi pengin nonton karena saya sering lewat di depan Pondok Putri Gontor ketika ke Jogya.
    Ikang Fawzi tentu kurang pas ya mas karena kita sudah dibayang-bayangi sosok dia yang penyanyi rock.
    Terima kasih informasinya, semoga di Surabaya juga sudah dipoutar film ini.
    Salam hangat dri Surabaya

  22. Blon nonton. Ntar rencananya sama adik dan bbrp anak tetangga. Aman kan buat anak-anak Uda Ustadz?
    Bagus pastinya, ya.. :)

  23. Susah ya Uda, buat ngasi review…
    Subyektivitasnya bisa kurasakan dan itu lumrah…

    Aku membayangkan, kalau disuruh ngereview film tentang Jogja di sini atau film tentang SMA Kolese De Britto juga jatuh2nya akan “kenapa ngga begini?” “kenapa begitu?” dll :))

    Anyway, selamat untuk sahabatmu itu! Bukunya menarik (dan buku lanjutannya adalah hadiah darimu! hehhe) dan semoga filmnya juga menarik

  24. Assalamualaikum Uda…
    Akhirnya review yang kunanti-nantikan keluar juga… Begitu tau filmnya udah on air, pasti bentar lagi nongol reviewnya di surau inyiak :-)

    Uda, aku berketetapan hati untuk menyelesaikan dulu novelnya (yang udah beberapa bulan dibeli, tapi belum khattam), baru nonton filmnya. Alhamdulillah, pagi ini bukunya tuntas ku baca. What a book. What a story. What a lesson. Salam buat Uda Alif..eh.. Uda Ahmad Fuadi.. Selesai mbaca novelnya, kebayang betapa kerasnya Uda dulu belajar dan jadi mahfum juga, darimana salah satu sumber kebijaksanaan uda itu datangnya.

    Man Jadda Wa Jadda…!!! *tangan mengepal keatas sambil berteriak berapi-api layaknya Said”*

  25. Masuk list tonton nih Da.. :)
    kerennn,,, novel yang dari review sudah membuat saya pengen baca sampe belum baca, :( tapi ternyata sudah difilm kan,,

    makasih riviewnya da..

    salam salut untuk bang Fauzi.. :)

  26. Wah, uda temannya Ahmad Fuadi yaa?? :O
    eh iya, baru aja kemarin kita nonton film ini. Sedja juga ikut lho :lol:
    Biasanya kalau nonton tuh dia tidur, eh pas nonton kemarin dianya pengen dipangku menghadap ke layar :D
    Saya paling suka sama aktingnya ituu..yang dari Surabaya, siapa namanya? Ernest Samudera (Said). Baso juga bagus sih, walau ada beberapa dialek Makassarnya yang gak pas..hehehe

    Pengen buat reviewnya juga nih -___-”

  27. wahhh pasti film yang menyenangkan dan sangat bagus….. aku juga penasaran belom menonton film itu………. kreeeeennnn
    boleh dong mampir juga ke website kami di http://video.unsri.ac.id/ sebagai refrensi untuk berbagi infomasi dan lain nya…….

  28. aku sudah nonton film ini
    secara keseluruhan film ini lumayan bagus untuk dijadikan tontonan dan tuntunan bagi keluarga, hanya memang, aku juga sepakat dg pendapat Uda, pengolahan konflik kurang begitu kuat, meskipun saya juga tidak suka film yg menghadirkan emosi berlebihan.

    Saya suka sekali suasana sewaktu di Maninjau, mengingatkan saya sewaktu bermain dengan adik-adik korban gempa dan sempat ngopi di kelok (aduh lupa!) dg pemandangan Danau Maninjau yg subhanallah.. indah sekali!
    dan yg paling aku suka adalah adegan transaksi jual kerbau, ternyata tidak hanya istilah ‘jual kucing dalam karung’ rupa-rupanya jual kerbau pun dalam sarung! hahahhaha

    Nah, kali ini aku gak sepakat dg Uda soal tokoh Kyai, justru aku suka sekali dg tokoh yg diperankan oleh Ikang Fawzi ini, terlepas dalam kehidupan sehari-hari di pondok seperti demikian atau tidak.

    adegan yg paling keren dari seluruh film ini adalah sewaktu para santri diajari lagu rock! meskipun beberapa detik tapi saya yakin adegan ini yg akan paling diingat oleh seluruh penonton, ketimbang (misalnya) adegan pementasan teater, apa judulnya?. ………. (sekalian test bagi pembaca, silakan isi titik-titik tersebut).

    closing film ini juga kurang begitu keren, dialognya para pemeran gak jelas sehingga mengurangi kepuasan saat menonton ending film ini.

    tapi sebagaimana diawal saya bilang, khususnya sebagai tuntunan, film ini menginspirasi kita agar Man Jadda Wa Jadda!!

  29. Pingback: kalam fadhi | SURAU INYIAK

  30. Nostlgia kehidupan di pondok madani membuat subyektif jika harus ikut commnt,muatan semangat “Man jadda wajada” membuat film ini wajib ditonton oleh genarasi muda sekarang supaya tidak loyo menghadapi tantangan jaman, keep spirit.

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


8 − 8 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge