masak randang dan kalamai

Perjalanan Hati #3

Sebagaimana yang kuceritakan pada postingan Perjalanan Hati, bahwa kepulanganku ke Bukittinggi adalah dalam rangka mempersiapkan dan menghadiri pernikahan adikku. Postingan ini dan beberapa postingan berikut aku akan ceritakan bagaimana pengalaman persiapan dan pelaksanaan acara tersebut.

Pelaksanaan perhelatan atau dalam bahasa Minang disebut Baralek, di kampung halaman ternyata jauh lebih ribet dibanding dengan jika dilaksanakan di rantau. Di rantau, kita bisa lebih santai dan fleksibel. Salah satu contohnya, urusan masak-memasak. Di rantau, kita bisa pakai jasa katering. Kita tinggal pesan apa yang kita mau. Tapi kalau di kampung, jangan coba-coba melakukannya. Tidak ada yang boleh diupahkan, harus dikerjakan secara bergotong-royong oleh penduduk kampung. Jika kita nekat mengupahkannya, maka kita telah menciderai perasaan warga kampung.

Semua prosesi perhelatan itu, dimulai dengan kegiatan memasak randang dan kalamai. Randang dan kalamai adalah makanan yang wajib ada dalam sebuah alek. Randang, tentu kawan-kawan semua sudah tau bukan? (yang gak tau, siap-siap diomelin Komandan Blogcamp ;) ). Kalamai (sering juga disebut galamai), adalah makanan ringan yang terbuat dari beras ketan, gula aren dan santan, yang kalau di Jawa bisa juga disamakan dengan dodol atau jenang, namun  memiliki tekstur dan rasa yang berbeda. Jika sebuah keluarga sudah mengundang warga kampung untuk membantu memasak randang dan kalamai, itu pertanda bahwa acara baralek akan segera dimulai dan di saat itu pula keriuhan dan kehebohan membahana.

Karena randang dan kalamai adalah makanan tahan lama, maka membuatnya pun bisa dilakukan beberapa hari jelang hari H. Kemarin itu kami melaksanakannya 3 hari sebelum acara puncak. Orang-orang yang dimintai tolong adalah para ibu-ibu sekitar rumah yang pada umumnya masih saudara sendiri, juga beberapa kerabat terkait, seperti istri adik Mamaku, atau yang lainnya. Mamaku wanti-wanti benar, jangan sampai ada kerabat yang terlewatkan diundang untuk membantu memasak. Bisa-bisa mereka tersinggung dan merasa tidak dianggap. Ribet bukan..?  :)

Bahan dasar randang dan kalamai adalah santan. Karena kami masaknya dalam jumah besar, maka kelapa yang dibutuhkan pun tidaklah sedikit. Lebih kurang 200 butir kelapa dibutuhkan untuk itu. Malam hari, jelang acara memasak akbar itu diselenggarakan, kami sudah heboh di belakang untuk mempersiapkan kelapa-kelapa itu; mengupas dan membelahnya untuk keesokan paginya diparut (dikukur).

Membelah kelapa di malam hari.. Eiylekhan gayanya khan..? :D

Ada perbedaan memarut kelapa di Jawa dan kebanyakan daerah di Sumatra. Kalau di Jawa, kelapa dicongkel dari batoknya, kemudian diparut, sementara kalau di Sumatera, kelapa cukup dibelah dua, kemudian dikukur menggunakan alat tertentu, seperti gambar di bawah ini. Dengan demikian, tidak perlu repot mencongkelnya satu persatu. Kebayang deh, bagaimana susahnya kalau harus mencongkel 200 butir kelapa.. :)

Mengukur (bukan memarut) kelapa

Kelapa yang siap diperas untuk bahan memasak randang dan kalamai (yang digambar itu baru separuhnya :D )

Warga yang membantu memasak itu, tentu perlu disuguhi makanan ringan juga makan siang. Di sinilah kesibukan keluarga inti sangat terasa. Di satu sisi, kami harus mempersiapkan segala kebutuhan memasak akbar tersebut, dan di sisi lain, kami harus juga mempersiapkan makanan bagi orang-orang yang lagi kerja bakti itu.

Dan, salah satu ciri khas di kampung Magek adalah makan bajamba. (apa dan bagaimana makan bajamba tersebut, silahkan baca postinganku berjudul Makan Bajamba). Untuk para warga yang lagi kerja bakti memasak itu pun, dilaksanakan makan bersama dengan cara bajamba. Kita tidak diperbolehkan mempersiapkan piring untuk makan sendiri-sendiri. Itu dipandang tidak menghormati para warga dan menganggap mereka sebagai orang lain.

Jadilah acara makan siang hari itu heboh dan seru seperti berikut ini…

Makan bersama dengan cara bajamba, di sela-sela masak bersama

Sebelum Ashar, kegiatan masak akbar itu pun selesai. Randang dan kalamai pun siap untuk disajikan pada acara baralek nanti. Mau tau rasanya..? Ondeh mande… Yo sabana lamak… Randang dan kalamai tersebut, benar-benar super istimewa, haha… :D (dilarang ngiler!)

Randang yang super lamak bana.. :D  


Perlu tenaga ekstra untuk mengaduk kalamai ini

Meski terasa ribet dan tidak praktis, namun bagiku, kegiatan seperti ini sangat menarik. Bagi warga kampung, kebersamaan itu adalah segalanya, walaupun terasa rumit untuk mewujudkannya.

Bersambung…

38 comments on “masak randang dan kalamai

  1. What ???
    200 kelapa ??? waduh … kebayang itu membelahnya … :)

    Yang jelas … tradisi memasak bersama dan juga makan bersama ini saya rasa merupakan budaya yang sangat khas dari Negara kita …

    Galamai ???
    Tiba-tiba gigi saya linuuuuu …
    Bukan karena keras …
    tetapi karena membayangkan … lengket-lengketnya ituuuuhhhh …
    (bagaimana nasib gigi kuh ???)

    salam saya
    nh18 recently posted..KARSINI #4 : INI SALAH SIAPA ?My Profile

    • membelahkanya sih tidak seberapa sulit, Om.. mengupasnya yang jauh lebih susah.. pokoknya full of power deh, hehe..

      mau saya kirimi galamai, Om..? hehe..

  2. makan basamo jo urang dapua itu paling nikmat.. karena lauk yang tersedia biasanya enak banget.. klo di Aua, disebutnya samba buruak.. terdiri dari terong + ikan asin lado ijau, kadang telor dadar… plus tumis sayuran sederhana.. prinsipnya samba urang dapua itu sederhana.. karena mereka biasanya gak mau makan daging randang yg mereka masak meskipun sudah kita hidangkan buat mereka.
    LJ recently posted..Baralek ka MagekMy Profile

  3. kadang inon ngerasa kalau adaik minang itu rumit,,ribet dan ngerepotin,,,
    tapi kalau kita telaah lagi dan mau berpikir lebih dalam,,
    adat minang itu luar biasa,,
    salah satu contoh nya waktu umak kemarin meninggal…
    kebersamaan warga amat terasa,,,
    saat penguburan – saat takziah,, itu semua gotong royong warga,,
    dan kita pihak keluarga sama sekali gak dipungut biaya,,
    bahkan ketika kita mau kasih uang itu malah dilarang,,
    katanya,,,
    “keluarga yang berduka itu harusnya di hibur,,bukannya dibebani dengan biaya,,”

    inon kagum lah sama kebersamaan dan adat minang,,,,
    inon pernah ngrasain makan bajamba,,dan itu emang seru,,walaupun ribet ya cyin,,,

    • Yak.. tradisi memberi makan keluarga yang meninggal salah seorang anggota keluarganya itu sangatlah baik dan patut untuk terus dilestarikan. Keluarga kami pun pernah beberapa kali mengalami hal serupa..

      besok-besok kalau kita pulkam bareng, makan bajamba yuk Non.. :)

    • Nanti Bibi kebagian cuci mencuci perkakas saja ya.. Terutama wajan yang super guede itu.. Mau kan..? hahaha.. :D

  4. satu lagi kesamaan daerah kita yg bertetangga ini ya uda, gotongroyong memasak randang dan halame (bhs Tapsek untuk galamai) pakai harambir yg harus dikukur, terus halame dimasukkan dalam bungkus anyaman tikar
    paling enak makan halame itu waktu baru matang dan belum keras, sedaaap
    Monda recently posted..Attacus atlas ?My Profile

  5. Waaah.. 200 butir kepala.. banyak banget ya Da..
    Btw, aku pernah liat alat kukur kelapanya tuh di pasar.. Emang cepet ya kalo pake mesin gitu. ngebayangin kalo harus kukur 200 butir manual.. -_-
    Bebe recently posted..Kumpul bocahMy Profile

    • Yang aku dengar, kelapa yang 200 butir itu dibagi 2, separuh untuk randang dan separuh lagi untuk kalamai. Kalau tidak salah, randangnya 20 kg.

      Sering-sering begitu, bisa berantakan dunia persilatan, Nechan, haha..

    • Di kota besar, semuanya sudah berpikir serba praktis, karena kehidupan di sana memang menuntut seperti itu.. Kalau di desa, masihlah bisa dipertahankan..

    • Ayo Gie.. Bernostalgia lagi ke Bukik, ajak tuh keluarga kecilmu, pasti seru.. :)

      Nah, hubungan emosional itu yang menjadi nilai tambah luar biasa bagi acara baralek di kampuang.. Setuju banget..

  6. Pernah ada pengalaman di kampung, tetangga (masih famili dekat) yang biasa hidup di rantau berencana melakukan acara kl gak salah akekah anaknya di kampung ( Magek ).
    rencananya biar gak merepotkan keluarga dan orang kampung, diambillah keputusan untuk tidak masak di rumah alias katering.
    maka diundanglah kerabat dekat dan orang kampung ke rumah dengan tambahan kata-kata : “kita tidak pakai masak di rumah, tujuannya buat kumpul-kumpul dan makan-makan aja”.
    walhasil, pestanya hanya didatangi beberapa keluarga dekat yang merasa segan bila tak datang. sementara kebanyakan orang kampung gak datang. setelah diselidiki, ternyata mereka merasa malu kalo datang ke rumah cuman buat makan saja.
    *mungkin inyiak pernah dengar cerita yang sama dan tau mana tetangga yang dimaksud… :)

    • hahaha.. betul sekali Ryo…
      Masih ingat dengan cerita tersebut.
      Makanya, jangan pernah mencoba menirunya
      Bisa-bisa, makanan yang sudah dipesan, dijual lagi ke kateringnya :D

  7. Ya ampun..Rupanya saya belum berkunjung kesini dan luput dari laporan baralek di Magek. Padahal si Amay sudah bercerita di blognya. Tak kirain Inyiak belum balik. Melihat ibu-ibu itu makan bajamba, langsung ketonjok rasa rindunya..Benaran jadi kangen banget pada suasana baralek di Kampuang..
    jurnal transformasi recently posted..Burung Pipit di Bawah HujanMy Profile

    • Setelah selesai baralek di hari Minggu, saya langsung cabut ke Curup di hari seninnya, Uni. Sebab, kerjaan sudah menumpuk gara-gara ditinggal baralek ka Magek. Biar tidak keburu lupa dan suasananya sudah masih ada, maka buru-buru laporannya diturunkan.. :)

      Baralek di Magek ini memang jarang-jarang bisa ditemukan sekarang ini. Maklumlah, kebanyakan warga Magek sudah marantau, dan yang tinggal di kampung tidak seberapa. Jadi, momen kali ini bagi saya benar-benar berharga..

  8. Adat kebiasaan memasak bersama mirip rewangan/rencangan di Yogya (yang sekarang tersisih oleh praktisnya katering). Ada pula pemilahan gender berdasarkan tenaga rendang bagian para emak dan kalamai bagian bapak-bapak …. Sadapnya rendang dan kalamai Magek.
    prih recently posted..Tembang TebingMy Profile

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


1 + 6 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge