manyiriah

Perjalanan Hati #4

Salah satu tradisi pra baralek yang tidak praktis tapi harus tetap dilaksanakan di kampungku adalah manyiriah. Manyiriah terambil dari kata siriah (sirih-minang). Yaitu sebuah kegiatan mengundang para kerabat dengan mendatangi mereka satu persatu. Kerabat lelaki diundang oleh lelaki dan perempuan diundang oleh perempuan. Tidak boleh lelaki mengundang perempuan ataupun sebaliknya.

Meski namanya manyiriah, namun terdapat sedikit perbedaan dalam media yang digunakan. Bagi perempuan, menggunakan sirih lengkap dengan gambir, pinang dan sadahnya, sementara bagi laki-laki menggunakan rokok aneka merek (kalau dulu, pakai rokok daun enau dan tembakau). Caranya, sang penyirih mengulurkan sirih/rokok kepada yang disirih. Yang disirih kemudian mengambil selembar daun sirih atau sebatang rokok tersebut sebagai tanda kehadiran sang penyirih diterima. Setelah itu, barulah sang penyirih menyampaikan maksudnya.

Dalam menyirih ini, penyirih laki-laki dan perempuan berjalan terpisah. Masing-masing bergerak sesuai arah tujuannya. Tidak menutup kemungkinan, mereka sesekali bertemu dalam satu rumah orang yang disirih.

Untuk kostumnya, penyirih perempuan mengenakan baju kurung dengan sebuah selendang batik yang digantungkan di bahunya dan menenteng sebuah tas anyaman yang berisikan sirih. Sementara penyirih laki-laki, mengenakan kemeja, peci dan sebuah sarung yang dikalungkan di leher, serta menggenggam beberapa bungkus rokok.

Yang menyirih, haruslah dari keluarga terdekat si calon pengantin, yakni saudara laki-laki dan perempuan dari ibu (yang laki-laki disebut mamak, yang perempuan disebut etek/maktuo) atau saudara laki-laki dan perempuan si calon pengantin. Selain mereka tersebut, dianggap tidak patut. Sebagai kakak tertua, maka aku pun kebagian menjadi petugas manyiriah ini.

Nampang dulu sebelum manyiriah.. :D

Aku sebetulnya senang-senang saja ditugasi semacam ini. Hitung-hitung buat mengenal lebih dekat lagi kampung Magek dan tentunya kerabat kami satu persatu. Namun, aku sempat melontarkan sedikit pertanyaan, mengapa tidak diundang pakai kartu undangan saja? Toh bisa lebih praktis, bukan?

Ternyata, mengundang kerabat dekat dengan kartu undangan di kampungku adalah sebuah kesalahan besar. Sebab, kartu undangan hanya diperuntukkan bagi kenalan, bukan kerabat dekat. Kerabat dekat harus didatangi satu persatu, berbicara face to face dan mengundangnya secara langsung. Jika menggunakan kartu undangan, jangan harap mereka mau datang, dan bisa-bisa kita dianggap melecehkan mereka. Menggunakan telepon atau sms? Jangan coba-coba, bisa-bisa meletus gunung Marapi dan Singgalang nanti, haha.. (lebay..!). :D

Dengan diantar Mak Etek (adik laki-laki Mamaku), aku pun berangkat manyiriah, keliling Nagari Magek. Ini adalah pengalaman pertama bagiku. Capek tapi seru. Hampir seharian aku berkeliling. Dari situ aku baru benar-benar tahu kalau ternyata Nagari Magek itu jauh lebih luas dari yang selama ini kukenal. Dan ternyata juga, banyak kerabat yang baru kukenal gara-gara manyiriah tersebut.

Dalam manyiriah ini, etika sangat diperhatikan. Jika tidak bertemu dengan orang yang dituju, kita tidak boleh sembarang menitipkan pesan pada orang yang ada di rumahnya. Harus dipastikan benar bahwa orang yang dititipi pesan tersebut adalah yang berhubungan langsung dengan yang disirih tersebut, seperti istri/suami atau anaknya. Bila bertemu di jalan, harus pulalah dialasi dulu pembicaraan kita dengan mengatakan bahwa akan berencana ke rumah, namun karena bertemu di jalan, apakah boleh menyampaikannya langsung di sini. Jika yang disirih berkenan, barulah kita sampaikan.

Selama manyiriah, aku hanya menjadi pengantar dan pendengar setia. Mak Etek saja yang berbicara. Aku, di samping baru pengalaman pertama, juga khawatir tersalah dalam bicara. Maklumlah, bahasa Minangku berlogatkan Jogja, hahaha… :D

Pemandangan nan cantik dan udara yang sejuk membuat perjalanan manyiriah menjadi asyik dan seru.. :)

Masyarakat kampung rupanya masih sangat mementingkan personal touch ketimbang kepraktisan. Bagi mereka, diundang secara langsung oleh sang empunya hajat, jauh lebih berharga daripada diundang dengan kartu super eksklusif sekalipun. Meski tidak praktis, namun hal semacam ini patut untuk dipertahankan. Mengundang kerabat dekat secara langsung bertatap muka, sangatlah besar maknanya untuk memperkuat tali persaudaraan tersebut. Aku sangat merasakannya sendiri.

Bagaimana dengan di kampung sahabat? Apakah masih mempertahankan tradisi semacam manyiriah ini?

Bersambung…

19 comments on “manyiriah

  1. Kebetulan waktu aku ke Makassar ada rombongan gadis-gadis yang membawa undangan langsung ke rumah utama (istana) . Konon mereka hanya sebagai “prolog”, tapi karena aku disuruh berfoto dulu, aku tak sempat menanyakan tata cara di desa tsb (Galesong). Di Jepang untuk orang-orang tertentu (biasanya atasan dan yang dituakan) memang harus mengantar sendiri ke rumahnya :) Memang kita orang Asia penuh dengan kebiasaan yang kadang tidak praktis untuk dijalankan di kota besar. Coba kalau di Jakarta pas musim hujan/banjir … bisa tua di jalan yah :D
    Imelda recently posted..Ayam GorengMy Profile

    • Kalau di Jakarta ditemui satu persatu, bukan tua di jalan lagi, Nechan.. Bisa-bisa undangan belum kelar disebar, kendurinya sudah kelar duluan, haha.. :D

  2. Personal Touch dan juga … Sincerity …

    Sentuhan Pribadi … sekaligus berlandaskan ketulusan …
    ketulusan … mengharap sangat kedatangan kerabat dekat … untuk memberikan restunya pada Mempelai …

    Saya yakin keluarga Magek pun pasti sering didatangi kerabat dekat yang juga mengadakan hajatan Baralek …

    Ini budaya tata cara saling menghormati yang patut kita lestarikan ya Uda …

    Salam saya
    nh18 recently posted..KARSINI # 5 : KEMESRAAN SANG MERPATIMy Profile

    • Untuk kerabat dekat sepertinya memang harus tetap dilestarikan cara seperti ini ya Om.. Agar hubungan kekeluargaan masih tetap terjalin dengan baik dan tidak saling melupakan.

  3. uda, lagi2 sama adat kita …
    aku tau cuma sepintas, (perlu tanya lagi pada tetua), tapi sama didatangi satu2 bawa sirih (burangir-Tapsel/ Batak Angkola), tempat sirihnya khusus yang terbuat dari manik2
    Monda recently posted..Mirip TetanggaMy Profile

    • Barangkali karena kedekatan teritorial, maka ada banyak kesamaan adat di Tapsel dan Minang ya Kak..

  4. klo ada yang datang manyiriah ke rumah, Bundo selalu ambil daun sirihnya saja kemudian ditaroh di meja sampai hari H.. biar inget bahwa ada undangan. :D

    #biasanya petugas yang manyiriah tidak diijinkan untuk narsis,
    #jadi ini Bundo rasa, petugas palsu.. :P
    LJ recently posted..Baralek ka MagekMy Profile

    • Kalau ibu-ibu memang bisa disimpan daun sirihnya, tapi kalau bapak-bapak, rokoknya langsung dihisap, haha.. :D

      #petugas manyiriah yang ini tidak narsis, cuma nampang dowang
      #ini petugas asli, suwer takewer-kewer.. :D

  5. Di masyarakat Jawa juga masih ada tradisi yang nggak layak jika pakai undangan Da.
    Jadi si empunya hajad musti mendatangi sendiri pihak yang diundang. Salah satu kriteria yg harus didatangi langsung ini adalah kerabat dekat yang dituakan. Bahkan kita harus datang bersama istri dan nggak bisa pakai orang suruhan
    marsudiyanto recently posted..Negeri Seolah-OlahMy Profile

    • Ternyata, secara umum, tradisi bangsa kita masih sangat memuliakan kerabat, terutama yang dituakan ya Pak.. Semoga ini tetap dapat terjaga..

  6. Manyiriah dengan bahasa Minang logat Jogja…Hahaha..Pasti tacingangak mamak nan ka disiriah..Tapi walau Mak Etek yang ngomong dan Inyiak cuma sebagai pelengkap penderita, pertanyaan yang banyak pasti dialamatkan pada Inyiak kan. Bilo pulang? Dimaa tingga? Bara urang paja? Anda so on..amd so on…:)
    Iitu sawah dan rumah dari kejauahan di kasiak ya Nyiak?
    jurnal transformasi recently posted..Burung Pipit di Bawah HujanMy Profile

    • Betul sekali Uni… Yang bikin lama adalah menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Dan bahkan, banyak yang tidak percaya kalau saya sudah beranak empat dengan yang sulung sudah sma. Mereka mengira saya masih bujangan… #ditabok massa :D

      Lagi-lagi Uni betul… Itu memang di Kasiak..

    • Kalau untuk kawan-kawan, apalagi yang sudah terbiasa dengan kehidupan perkotaan, saya kira, mengundang via sms, email ataupun jejaring sosial, sudah tidak jadi soal. Tapi, kalau kepada kerabat di kampung, jangan coba-coba. Bisa diomelin orang sekampung nanti.. :) )

  7. Uda penasaran dengan struktur percakapan saat manyiriah, sesama anak pertama adik2 juga suka nebeng atur saat kami sowan ke tempat sesepuh, yang tua bertutur sapa adik2nya tinggal manggut2 ya sambil menikmati suguhan hehe
    prih recently posted..Tembang TebingMy Profile

  8. aduh… gantengnya uda… :)

    anyway, sebenernya masyarakat tradisional itu hampir sama di mana2..
    kalo di Jawa kan “sowan” untuk minta tolong atau mengundang secar langsung… dan diundang langsung oleh yang punya hajat itu suatu penghormatan…

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


2 + 3 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge