malapeh marapulai

Perjalanan Hati #6

Pada 11 Januari 2013, selepas shalat Jumat, para ninik mamak (kerabat lelaki), yang kami siriah tempo hari, berdatangan ke rumah. Sesuai dengan undangan, kehadiran mereka adalah dalam rangka untuk malapeh marapulai (melepas pengantin pria – Minang) yang akan berangkat melaksanakan akad nikah di kediaman anak daro (mempelai wanita – Minang). Acara ini, sangat menarik perhatianku. Sebab, rangkaian adatnya lumayan kental.

Dimulai dengan jamuan bagi para ninik mamak yang datang. Jamuan ini terdiri dari dua sesi. Yang pertama adalah makanan pembuka yang terdiri dari katan, kalamai dan pinyaram. Cara makannya juga dengan cara bajamba, yakni makan dalam satu piring besar secara bersama-sama. Setelah itu, barulah dilanjutkan dengan sesi makan besar.

Setelah memastikan semuanya berjalan dengan baik, aku pun mencoba untuk ikutan makan bajamba ini di belakang. Kuajak adik-adik. Jadilah kami makan berlima dalam satu jamba. Karena kami tidak terbiasa makan dengan cara tersebut, dapat dipastikan cara kami kacau balau. Alih-alih mau makan dengan cara yang eiylekhan, walhasil kami jadi seperti rebutan makanan, haha… :D Untung kami makannya di ruangan belakang, sehingga tidak ada yang mengetahui ke-eiylekhan-an kami itu..

Sesungguhnya, yang menarik perhatianku bukan cuma makan bersama itu. Tapi, sebuah komnikasi lisan antara juru bicara tuan rumah dengan tamu yang disebut sebagai pasambahan. Bila kawan-kawan tertarik, sila tengok cuplikannya dalam video berikut ini.. 

Aku cukup berpikir keras untuk bisa memahami kalimat-kalimat yang diluncurkan oleh para ninik mamak yang melakukan pasambahan tersebut. Sebagai orang Minang yang besar dan hidup di rantau, kalimat-kalimat tersebut memang sangat tidak umum bagiku. Jadi kepikiran untuk mempelajarinya suatu saat kelak.

Konon kabarnya, di Minang sudah tidak banyak lagi orang-orang yang mahir melakukan pasambahan tersebut. Modernisasi sepertinya telah membuat para pemuda semakin terfokus kepada ilmu pengetahuan modern dan membiarkan budaya lokal menjadi barang antik yang hanya dipahami oleh orang-orang tertentu saja. Hal serupa kulihat juga terjadi pada budaya Jawa. Entah pada budaya-budaya lain di tanah air. Agaknya ini patut menjadi perhatian serius dari semua kalangan. Jangan sampai budaya kita tergerus oleh zaman dan tergantikan oleh budaya asing.

Pasambahan kemarin itu terbagi kepada beberapa sesi; sebelum makan pembuka, sebelum makan besar, dan ketika para tamu mohon diri untuk pulang. Dan satu pasambahan yang terpenting adalah ketika wakil dari anak daro yang datang menjemput memohon untuk membawa marapulai ke tempat mereka. Sayangnya, aku tidak sempat merekam adegan yang satu ini, sebab posisinya tidak pas… :(

Setelah acara jamuan dan pasambahan selesai, saatnya lah marapulai berangkat menuju kediaman anak daro. Satu persatu hadirin yang ada, disalami olehnya sebagai pertanda meminta izin untuk melaksanakan hajatnya.

Oya, coba perhatikan pakaian marapulai yang dikenakan adikku ini.

Pakaian ini adalah khas pakaian marapulai di Nagari Magek. Topi yang digunakannya disebut roki. Topi yang digunakan oleh kebanyakan marapulai saat ini adalah topi modifikasi yang terinspirasi dari topi Datuak, pemimpin suku di Minangkabau. Mungkin karena bentuknya yang unik, maka topi datuak tersebut banyak dikenakan, meski sebenarnya topi roki pun tak kalah bagusnya. Satu lagi yang khas adalah selempang yang dikenakan. Untuk marapulai, selempangnya dari kanan ke kiri, sementara untuk Datuak, dari kiri ke kanan.

Menurut tradisi, marapulai yang akan melangsungkan akad nikah, diarak ke rumah anak daro dengan cara berjalan kaki. Tapi, karena rumah calon istri adikku sangat jauh, maka dia cukup diarak hingga mulut kampung, untuk kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan mobil.

Yang mengiringi arak-arakan ini ada aturannya. Yakni 8 (delapan) orang perempuan yang terdiri dari tiga orang gadis kecil dan lima orang perempuan dewasa. Para perempuan dewasa tersebut membawa hantaran berupa makanan dengan cara dijunjung di atas kepala. Di belakang si marapulai, mengikuti para penabuh rebana dan kerabat lelaki yang jumlahnya tidak ada ketentuan. Hanya saja, semakin banyak semakin baik.

Gadis kecil yang berdiri di tengah adalah keponakanku. Seandainya Satira ikut pulang, tentulah dia sudah menjadi salah satu dari tiga gadis kecil ini.. :)

Sebelum diarak, adikku sempat berseloroh, “Kok, kayak karnaval ya?”. Kami semua cuma bisa tertawa, sambil bilang, “Derita lo…” :D

Pernikahan bagi masyarakat tradisional kita sangatlah penting. Mereka menyambutnya dengan sangat suka cita. Oleh karenanya, upacara pelaksanaannya pun tidak boleh main-main, harus serius dan sakral. Ini mengindikasikan bahwa masyarakat kita sangat menjunjung tinggi lembaga pernikahan. Ia tidaklah boleh dijadikan sebagai permainan. Sebab, pernikahan tidak hanya menyangkut kepentingan dua individu yang disatukan, tapi dua keluarga besar, serta generasi yang akan diturunkannya..

Masih bersambung…

11 comments on “malapeh marapulai

  1. “lah sampai tu wan..?” wkwkk, klo ini pertanyaan niCha ka Uwan alias Inyiak surau. :P

    meriah sekali arak2annya om ayay.. meskipun seperti karnaval, Insya Allah hanya sekali seumur hidup.. jadi nikmati saja.. :D

    • Ikut semua, Kak…
      A cara akadnya pada malamnya sehabis Isya, selesai pukul 22.00 wib.
      Rumah anak daro di Lubuk Alung yang jarak tempuhnya lebih kurang 2 jam ke Magek.
      Makanya, selepas akad kami langsung pulang dan sampai di Magek pukul 24.00. Lumayan juga letihnya, hehe… :-)

    • Insya Allah, jika melaksanakan baralek di kampung, upacara adatnya masih dilaksanakan semaksimal mungkin. Tapi, kalau di rantau (perkotaan), sudah banyak rangkaian adat yg ditinggalkan

  2. Assalamu`alaikum Pak, membaca postingan daripada bapak membuatkan rindu saya pada kampung halaman semakin berkurangan. Sebagai anak jati Minang yang dibesarkan di rantau orang, kampung halaman sememangnya sentiasa di hati saya. Benar, walau saya dan keluarga sudah meninggalkan kampung sejak berumur 6 tahun lagi, tapi suasana di kampung masih tetap segar di ingatan. Insha Allah mungkin suatu hari nanti bisa kembali ke tanah tumpah darah saya. Minta izin untuk membaca postingan dalam blog ini ya

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


+ 5 = 14

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge