rumah puisi taufiq ismail

Perjalanan Hati #9

Sudah lama aku mengetahui tentang keberadaan Rumah Puisi Taufiq Ismail yang terletak di Nagari Aie Angek, Jl. Raya Padang Panjang – Bukittinggi Km. 6, namun tidak juga ada kesempatan untuk bisa mengunjunginya. Padahal, letaknya tidaklah jauh dari Magek. Pun pula, menuju ke sana tidaklah susah.

Maka, ketika pulang kampung kemarin, aku benar-benar niatkan untuk bisa berkunjung ke sana. Terlebih lagi, istriku dulu pernah sangat akrab dengan puisi-puisi Taufiq Ismail. Istriku dulu kerap mengikuti perlombaan baca puisi, dan puisi-puisi karya Taufiq Ismail sangat sering dibawakannya. Berkunjung ke sana barangkali bisa menjadi semacam pengobat hati untuk berdekatan dengan karya-karya sang pujangga itu lagi.

Dengan ditemani kakak sepupu istriku yang pernah beberapa kali berkunjung ke sana, kami pun berangkat bersama-sama. Tidak sulit untuk menemukan lokasinya. Sebab, di pinggir jalan raya, penunjuk arah ke lokasi tersebut terpampang nyata di hadapan kita. Hanya saja, bagi yang nyali menyetirnya rendah, sebaiknya memarkirkan kendaraan di depan rumah makan Aia Badarun yang terletak tidak jauh dari sana. Tanjakan dengan tikungan tajam menuju ke rumah tersebut sungguh menciutkan nyali.. :)

Oya, enaknya kalau kita parkir di depan restoran tersebut adalah, sepulang dari rumah puisi, kita bisa beristirahat sejenak di sana dan menikmati sajian kuliner yang sayang untuk dilewati. Aku rekomendasikan, jika sahabat mampir di restoran tersebut, silahkan coba bubur kampiun-nya. Rasanya, yo sabana lamak.. :D

Sebelum memasuki arena rumah puisi tersebut, kita akan bertemu dengan sebuah tugu yang dipahat di atasnya sebuah puisi berjudul “Dengan Puisi, Aku”. Melalui puisi ini, Taufiq Ismail menjelaskan kepada kita apa arti puisi baginya.

Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala

Dengan puisi aku mengenang
keabadian yang akan datang
Dengan puisi aku menangis
jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku berdoa
perkenankanlah kiranya

(1965)

Dari situ, kami menanjak naik menuju areal rumah puisi. Begitu memasuki kompleks tersebut, mata kita dimanjakan dengan hamparan taman dengan bunga-bunga cantik dan dihiasi barisan spanduk kecil berisikan puisi-puisi dari pujangga kenamaan negeri ini. Puisi, bunga dan hawa sejuk benar-benar menjadi perpaduan yang melahirkan kesyahduan teramat sangat bagi para pengunjung.

Memasuki rumah, kami melihat barisan kursi yang dibentuk persegi empat seperti layaknya sebuah area diskusi atau perkuliahan dan dihiasi oleh hamparan banner berisikan puisi-puisi indah. Sepertinya area tersebut berguna sebagai tempat diskusi atau menjamu tamu rombongan yang datang ke situ.

Di bagian tengah terdapat tangga menuju ke lantai dua. Lantai dua sepertinya lebih difungsikan sebagai ruang referensi, karena didominasi oleh beberapa lemari besar yang berisikan berbagai buku, terutama tentang kesusasteraan. Di dindingnya terpampang dengan indahnya beberapa puisi Taufiq Ismail. Ada yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris, dan ada juga yang ditulis dalam bahasa Belanda kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia.


Suasana di lantai dua Rumah Puisi Taufiq Ismail

Berada di luar rumah tersebut tidak kalah menariknya. Hamparan bunga-bunga cantik nan menawan mata membuat betah berlama-lama berada di situ. Bapak Taufiq Ismail tepat sekali memilih tempat tersebut sebagai tempat didirikannya rumah puisi itu. Suasana yang dibangun benar-benar puitis..

Coba perhatikan foto di atas. Di antara deretan tiang-tiang berisikan puisi dari pujangga ternama negeri ini, masih tersisa satu tiang kosong. Aku sempat berpikir, puisi siapakah yang akan mengisinya nanti? Apakah mungkin salah seorang dari sahabat bloggerku di sini? Hehehe… Mungkin saja bukan? :)

12 comments on “rumah puisi taufiq ismail

  1. Dengan puisi, aku …

    mmmm ini yang dijadikan lagu oleh Bimbo bukan ya ?
    sepertinya ada lagu Bimbo yang syairnya dimulai dengan kata-kata tersebut

    salam saya Uda

  2. Nicha ahlinya olah suara.. semacam itu yg aku bilang wkt kita mau makan es tebak.. ternyata bener, niCha biasa baca puisi dan mendongeng..

    kak monda dulu gak sempat masuk, krn sudah sore dan di pintu depan ada tulisan tutup jam 4 sore.
    pas mau pulang lihat di pintu samping masih terbuka, menyesal juga gak sempat ngintip ke sana. padahal kak monda kan pingin lihat bagian dalam..

    semoga di lain kesempatan, anggap saja pemanggil :)
    LJ recently posted..LJ [whatever] Photo Challenge: UniqueMy Profile

    • he.he.., pemanggil lagi ya mak…
      iya nggak lihat tugu puisi itu, karena kita langsung masuk ke parkir atas,
      memang seram waktu mau naik ke atas situ, curam banget untung da Anto jago.., kalau nggak bisa2 mundur lagi

  3. Jika ada rumah puisi, bukan tidak mungkin satu saat nanti ( atau malah sudah ) ada rumah blogger ya, Uda.
    Lama nda silaturahim, ternyata ada sajian Perjalanan Hati dan sudah sampai sesion 9. Salam hangat untuk keluarga tercinta.

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*


2 + 3 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge