Karena kelelahan perjalanan panjang dari Curup-Bengkulu menuju Kendari-Sulawesi Tenggara dan ditambah padatnya jadwal pelatihan (6-8 Maret 2013) di sana, membuatku tidak bisa mengeksplorasi tempat-tempat wisata kota itu secara maksimal. Tidak ingin keberadaanku selama di sana berakhir tanpa kenangan, maka kuputuskan untuk menikmati makanan khas daerah tersebut.
“Tidak berminat mencoba makan lem, Pak”, ujar salah seorang peserta pelatihan ketika kami sama-sama menikmati makan siang.
“Makan lem?, ah yang benar saja”, jawabku.
“Hehehe.. bercanda, Pak.. Makanan khas Kendari itu namanya Sinonggi”
“Kok disebut lem”
“Karena bentuknya kayak lem”
“Aih.. boleh juga tuh…”
Akhirnya, kami pun bersepakat untuk mencoba makanan khas tersebut setelah pelatihan selesai di hari terakhir, beberapa jam sebelum aku meninggalkan kota Kendari.
Sebelum berangkat, aku mencoba mencari tahu tentang apa itu Sinonggi. Dari website sultra.litbang,deptan.go.id aku mendapatkan informasi sebagai berikut:
Sinonggi adalah makanan khas Sulawesi Tenggara yang dikonsumsi sehari-hari khususnya oleh suku Tolaki yang sebagian besar mendiami wilayah Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Kota Kendari dan Konawe Utara. Kata Sinonggi diambil dari bahasa tolaki yakni sagu.
Makanan sinonggi ini berbahan baku dari sagu. Sinonggi disajikan dengan cara, sagu yang sudah disiram air panas dan diaduk ditempatkan secara terpisah dengan sayur dan lauknya. Kemudian dirajik disatukan sesuai selera. Ikan yang sering dikonsumsi dengan sinonggi biasanya ikan putih, ikan cakalang, kerapu atau ikan lainya dimasak berkuah. Sedangkan isi sayuran antara lain : bayam, kangkung, kacang panjang, dan palola (terong kecil), dan yang paling khas adalah okra/kopi gandu (bahasa Tolaki) dan daun tawa huko-huko (melinjo), daun tawaoloho (kedondong).
Sinonggi termasuk makanan yang menyegarkan dan sehat. Sagu sebagai bahan baku utama dikenal memiliki kandungan karbohidrat sekitar 85,6%, serat 5% dan untuk 100 gr sagu kering setara dengan 355 kalori. Selain mengandung karbohidrat juga mengandung polimer alami yaitu semacam zat yang sangat bermanfaat bagi tubuh manusia seperti memperlambat peningkatan kadar glukosa dalam darah sehingga aman dikonsumsi oleh penderita diabetes melitus.
Selain itu, serat pada sagu juga mengandung zat yang berfungsi sebagai probiotik, meningkatkan kekebalan tubuh, serta mengurangi resiko terkena kanker usus dan paru-paru. Siononggi, makanan khas suku Tolaki ini banyak digemari oleh masyarakat lain yang ada di Sulawesi Tenggara, baik anak-anak, remaja dan orang dewasa. Bahkan kini sudah menjadi pengganti makan siang beberapa warga kota Kendari.

Dengan ditemani beberapa peserta pelatihan, kami pun menuju sebuah rumah makan bernama “Sanjaya” di kawasan Wua-Wua Kendari. Menurut mereka, ini adalah salah satu rumah makan khas Kendari yang cukup terkenal dan ramai pengunjung.
Apa yang mereka katakan itu memang benar. Sesampai di lokasi tersebut, aku melihat banyak sekali orang yang tengah menikmati makan siang di rumah makan tersebut. Itu salah satu pertanda kalau masakan di sana, cukup pantas untuk dinikmati.
Setelah menunggu beberapa saat, pesanan kami pun tiba; ada sayur ikan putih dan cakalang, sayur daun singkong dan sayur bening, dan tentunya semangkuk besar sinonggi.
Agar bisa makan sinonggi dengan nikmat, tahapan menatanya di dalam piring harus benar. Yang pertama kita ambil adalah kuah sayur ikan. Kemudian, tambahkan cabe dan perasan air jeruk sesuai selera. Setelah itu, masukan ikan dan sayuran. Terakhir, masukkan sinonggi.
Cara memasukkan sinonggi ke piring cukup unik. Yakni dengan cara menggulungnya menggunakan sumpit. Gulungan itu diletakkan di atas kuah yang sudah kita racik tadi dan potong kecil-kecil. Kalau sudah siap, silahkan menikmati.
Begitu mencoba suapan pertama yang terdiri dari sepotong sinonggi ditambah kuahnya, aku langsung jatuh cinta dengan makanan ini. Rasanya benar-benar pas di lidah dan nikmat sekali. Kuah ikan yang asam-asam pedas, mampu menggugah selera. Ikan putih dan cakalang yang disajikan pun rasanya sangat segar dan pas sekali dipasangkan dengan sinonggi.

Makan sinonggi ini tidak disarankan pada malam hari. Waktu yang terbaik memakannya adalah pada siang hari. Sebab, kandungan air yang cukup tinggi dalam sinonggi akan membuat kita lebih sering buang air kecil. Maka, kalau memakannya pada malam hari, tentu istirahat malam kita akan terganggu karena harus ke kamar mandi terus.
Penasaran ingin menikmatinya dan tidak bisa ke Kendari? Silahkan tanya ke mbah gugel, sepertinya ada banyak warung-warung yang menjual sinonggi di beberapa kota besar di Indonesia, dan semoga salah satunya di kota sahabat..
Sinonggi sangat baik untuk pencernaan. Dan bagi yang bermasalah dengan gigi, tidak perlu khawatir, karena memakannya tidak membutuhkan gigi yang kuat. Tinggal glek dan langsung bisa merasakan nikmatnya..






Ini seperti papeda ya??
Pengen deh ngerasain.. :9
jnynita recently posted..Kata Kunci Pagi Ini
sinonggi ini mirip makanan dari Maluku keliatannya uda,
pernah nyobain pakai kuah ikan aja nggak ada sayurannya, kalau ndak salah ingat di Maluku namanya papeda
kanji kalu kecek wong Plembang punya arti lain he..he…
monda recently posted..Dulu dan Sekarang
xixi, memang persis lem ya nyiak..
tapi kebayang pastinya lezat karena didampingi kuah ikan asam padeh tu.
dan jika bisa dipotong2 dengan mudah, tentunya aman buat gigi.
Maksud anda ???
nh18 recently posted..THE OLD AND NEW : YATI RACHMAT
maksudnya dimakan dengan diemut ya hehehe. oops maaf Om NH
Lidya recently posted..Bunda don’t worry
Aaarrrrggghhhh …
diperjelaaaassss … !
nh18 recently posted..THE OLD AND NEW : YATI RACHMAT
Sajian sinonggi menggoda selera, diversifikasi karbohidrat berbasis materi lokal. kombinasinya gurih ikan dan asam daun kedondong kebayang lezatnya.
Uda alinea terakhir bukan tendensius empati pada sahabat kan? (terbirit ngabur …).
Salam
prih recently posted..Punakawan dan Jadah Manten di Bangsal Kepatihan
Maksudnya ???
nh18 recently posted..THE OLD AND NEW : YATI RACHMAT
Ndeh, kecek wak kok iyo lo makan lem Apak tu? kiroe makanan tradisional kendari.
Ngakak baca paragraf terakhir …
memang dari segi “kekerasan bahan” mungkin tidak masalah …
namun … ada masalah lain …
yaitu … kadar “kenempelan” … ini berpotensi menimbulkan masalah yang memilukan dan sekaligus memalukan … lengket-lengket jeh … hahahaha … nasiiibbb … nasib … repot ekeh …
Yang jelas … saya belum pernah ke Kendari …
Pulau Sulawasi saya baru ke Makassar dan Manado saja …
Salam saya Uda …
nh18 recently posted..THE OLD AND NEW : YATI RACHMAT
hahaha untung bukan makan lem beneran ya uda…
Wadehhhhh uda…saya buka blog ini sementara mau buka puasa..langsung lapar dech….. tapi yang digulung-gulung ini bisa nempel kesana kemari om heeee..salam hangt dari Jembrana Bali
ceritabudi recently posted..Before And After
kalau bersisa bisa betul2 dijadikan lem ya pak

Lidya recently posted..Bunda don’t worry
Bubur Sinonggi..beneran kaya Lem ya Da..
Kalo disini kaya bubur Sum2 kali yaa..
jasa review produk recently posted..Fashion Online Baju Muslim
belum pernah mencobanya nih… baru tahu juga sagu itu sangat baik buat diabetes ya..
Tapi makanan kayak lem itu kelihatannya enak sekali ketika sudah diberikan kuah. kayak bubur ya…
applausr recently posted..Konvoi Pengantar Mobil Jenazah
Di Jawa juga ada yang seperti ini kayaknya? Enak keliatannya, Da!
DV recently posted..Paus baru, desain blog yang juga baru
Ih, dilihat dari gambarnya beneran kayak lem…
adi pradana recently posted..Mengenal Aturan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan di Jogja
Bentuknya beneran kayak lem… Lengket2 gitu ya mas…
adi pradana recently posted..Mengenal Aturan Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan di Jogja
Campuran makanannya ternyata kuah ikan atau sayuran yah Mas.Saya juga pernah lihat di TV tentang makanan yang terbuat dari sagu ini ,terasa kenyal-kenyal dan cara makanannya cuma ditelan karena memang tidak perlu dikunyah,tapi saya sendiri penasaran gimana rasa dan enaknya dari makanan tersebut.
Seperti bubur sumsum ya… tapi ada kuah ikan dan sayuran. Rasanya gimana tuh mas?
seperti papeda di maluku dan papua ya uda.
saya makan papeda di jayapura.
cara makannya ya dengan menggulung2 gitu juga uda.
waktu tinggal di ternate saya belum berani maem,,,berasa lem..inget lem kantor pos,,,hihi…
wah jadi penasaran nih mau menikmati singonggi
Saya sudah lama tinggal di Papua, di sana kami menyebutnya Papeda. Oh iya. Salah satu rumah makan yang menyajikan Papeda di kota Jayapura sekarang buka cabang di kawasan Kelapa Gading Jakarta. Namanya rumah makan Yougwa. Mungkin teman-teman mau mencoba…
molen recently posted..Cuti itu Hak atau Kewajiban ?
patut dicoba, apa nggak lengket seperti lem?
Imam Fahruddin recently posted..Food Tester Masakan Catering Pernikahan