Cerita ABG : di tengah hutan, enak kali yee..

Sebulan lebih tidak aktif ngeblog maupun BW, membuatku kudet dengan perkembangan dunia perblogan. Salah satunya adalah tentang Cerita ABG (anak baru gede) yang lagi marak dibicarakan para blogger di Warung. Dari beberapa tulisan yang kubaca, cukup membuat adrenalinku berpacu dengan kencang. Betapa tidak? Cerita yang mereka sajikan sungguh panas membara, dan beberapa di antaranya disertai foto-foto ABG yang cihuy sangat. Coba saja lihat list cerita ABG tersebut di Warung Blogger.

Tidak mau ketinggalan, aku pun ingin menuliskan cerita ABG yang pernah kualami beberapa tahun silam. Cerita ini terjadi antara tahun 1991-1992. Sebuah pengalaman yang takkan pernah kulupakan sepanjang hidup. Yakni pengalamanku bersama sekelompok ABG di tengah hutan, di Desa Petani, Duri, Riau.

Begini ceritanya…

Salah satu tradisi pendidikan di Gontor adalah mewajibkan setiap santrinya yang baru menyelesaikan studi untuk mengabdikan ilmunya di sekolah, madrasah atau pesantren minimal selama 1 tahun. Selepas pengabdian barulah kami boleh meminta ijazah untuk kemudian melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi. Ketika itu, aku mendapatkan tugas pengabdian di Pondok Pesantren Muhammadiyah Duri, Riau.

Awalnya aku berkeinginan untuk mengabdi di Kalimantan atau Sulawesi. Tapi, papaku meminta untuk pulang kampung saja ke Duri. Di sana ada sebuah pesantren yang baru saja dibuka dan masih sangat minim tenaga gurunya. Tanpa banyak berpikir, akupun mengiyakan permintaan tersebut. Dan jadilah akhirnya setelah diyudisium akupun pulang ke kota kelahiranku, Duri, Riau.

Setelah lebih kurang dua minggu berada di rumah, akupun diajak papa untuk berangkat menuju pesantren tersebut.

“Kamu siap memulai pengalaman baru?”, tanya papaku.

“Siap, Pa.. Insya Allah”

“Kok bawa pakaiannya dikit kali?”

“Kan dekat, nanti bisa pulang lagi kalau perlu”

Papaku hanya tersenyum. Aku sedikit curiga dengan ekspresi beliau. Seperti ada sesuatu yang ingin beliau katakan, tapi ditahan.

Dengan mengendari Vespa kesayangan papa, kami pun berangkat. Perlahan tapi pasti, kami pun bergerak menuju pinggiran kota Duri. Setelah lebih setengah jam berjalan, di sebuah pertigaan papa membelokkan kendaraannya ke sebuah jalan yang tidak beraspal. Baru beberapa menit berjalan, rumah penduduk sudah mulai jarang terlihat.

Aku terkesiap ketika akhirnya tidak ada lagi sama sekali rumah penduduk di sepanjang jalan yang kami lalui, berganti dengan hutan dan padang ilalang yang luas sekali. Aku mulai cemas, di manakah gerangan lokasi pesantren itu? Di tengah hutan kah? Aku mulai bertanya-tanya dalam hati.

Kecurigaanku itu terbukti..!

Setelah setengah jam lebih berjalan menyelusuri jalanan berhutan tersebut, sampailah kami di lokasi pesantren. Sebuah bangunan semi permanen menjadi satu-satunya bangunan di pesantren tersebut. Sepanjang mata memandang, yang terlihat hanyalah gugusan pepohonan hutan, tidak ada rumah penduduk sama sekali. Itu artinya, pesantren tersebut benar-benar berada di tengah hutan.

Aku mulai meragu..!

Belum habis keterkejutanku, seorang pemuda yang umurnya tidak terlalu jauh terpaut dariku datang menghampiri. Aku seperti mengenalinya.

“Nasir..?”

Ternyata dia adalah seniorku di Gontor. Dia sudah lebih dahulu berada di pesantren tersebut.

“Selamat datang, kawan.. Selamat datang di hutan perjuangan”.

Belum sempat kujawab kalimatnya, segerombolan anak-anak ABG usia 12-14 tahun datang menghampiri kami.

“Anak-anak, kenalkan, ini guru baru kita”, Nasir mengenalkanku pada anak-anak tersebut.

Satu persatu anak-anak ABG tersebut menyalami dan menciumi punggung tanganku. Bercampur baur rasanya di hati ini. Ekspresi mereka menunjukkan pengharapan dan semangat yang sungguh tinggi. Naluriku mengatakan bahwa mereka adalah remaja yang haus akan pengalaman dan ilmu pengetahuan.

Nasir menceritakan kepadaku bahwa pesantren tersebut baru memasuki tahun kedua, dan baru menempati lokasi yang sekarang sekitar beberapa bulan sebelumnya. Santrinya hanya ada 19 orang; 10 orang kelas satu dan 9 orang kelas dua. Selain Nasir, ada seorang guru lagi yang menetap di situ.

Menjelang sore, papaku pamit pulang dan petualanganku pun dimulai..!


Para ABG di tengah hutan

Banyak pengalaman dahsyat yang kualamai selama masa lebih kurang 1,5 tahun di sana. Keterasingan kami di tengah hutan tersebut menciptakan kedekatan yang sangat erat antara satu sama lain. Para santri tersebut sangat dekat dengan kami para guru. Semangat juang mereka untuk menuntut ilmu dan menggali potensi membuatku samgat bersemangat membimbing mereka. Banyak prestasi yang mereka torehkan. Hal tersebut membuat perhatian masyarakat mulai banyak ke pesantren. Dan, pada tahun ajaran berikutnya, santri yang tadinya 19 orang bertambah menjadi 50-an orang. Luar biasa rasanya..

Sekarang mereka sudah dewasa dan telah menjadi “orang” dalam kehidupan masing-masing. Beberapa dari mereka memiliki peranan penting dalam pemerintahan maupun perusahaan. Meski mereka telah berubah menjadi sosok hebat, namun pengalaman di tengah hutan dulu itu tetap terpatri di hati mereka dan terus mewarnai kehidupan mereka hingga saat ini. Sungguh.. Aku sangat bangga pernah berada bersama mereka… :)

Pengalaman-pengalaman dahsyat di tengah hutan dulu itu,  insya Allah nanti akan kuceritakan secara berkala di blog ini.

Artikel ini turut mendukung gerakan PKK Warung Blogger

44 comments on “Cerita ABG : di tengah hutan, enak kali yee..

    • Mereka ABG yang luar biasa, Nchie..

      Alhamdulillah, sae Mbakyu..
      Iya nih, udah lama absen dari jagad perbloggan..
      Ternyata cerita ABG yang membuatku “kembali”, hehe..

    • Sekarang daerah seputar pesantren sudah ramai, Niar. Alhamdulillah keberadaannya membawa berkah bagi lingkungan

    • Iya, Bang.. Luar biasa rasanya mengalami menjadi guru di daerah terpencil tersebut,. Keadaan itu membuat guru dan santri menjadi militan, terus bersemangat dalam belajar dan

    • Betul sekali, Pakde.. Barangkali karena keterbatasan yang mereka miliki justru menjadi pemicu semangat untuk terus berjuang mengejar segala ketertinggalan..

      Untuk KUPM 2014, insya Allah saya ikutan, Pakde..

      Salam hangat juga dari Curup :)

    • Amin.. Makasih Mas Misbachudin..
      Btw, nama saya Hardi, tapi biasanya kawan-kawan blogger memanggil saya Vizon, hehe.. :)

  1. “Kan dekat, nanti bisa pulang lagi kalau perlu” Hehehe…., ternyata… Sungguh pengalaman yang dahsyat menurutku itu, Uda. Kedekatan dengan para santri itu lho… hmmm…. inilah hal penting yang membuat proses pendidikan berjalan dengan sangat menyenangkan dan berkesan tentunya.

    • Betul, Mas.. Dan kedekatan tersebut sampai sekarang masih terjalin dengan baik. Saya dan para santri tersebut masih terus bersilaturrahim, meski masing-masing sudah memiliki peran yang tidak kecil di masyarakat..

  2. Hua… Desa Petani? Masih ada kah saat ini pesantren tsb Uda? Jadi khawatir nih, mengingat Desa Petani itu kan sekarang udah jadi lahan kebun kelapa sawit, sejauh mata memandang. Aku tahun lalu ikutan ngasih kredit ke pekebun kelapa sawit disana #eh

    • Masih ada, Son.. Penduduk juga sudah lumayan ramai di sana. Bahkan kabarnya akan dibuka sebuah komplek perumahan di dekat situ. Memang benar sih kalau desa tersebut dikelilingi kebun sawit. Bahkan, sebagian lahan pesantren pun sudah ditanami sawit. Dan dari hasilnya itulah pesantren tersebut bisa menghidupi dirinya sendiri.. :)

  3. Pengalaman luar biasa mengajar dipedalaman hutan begitu ya pak..
    apalagi dengan anak-anak yang haus akan ilmu…
    Melihat ABG -ABG tersebut sukses merupakan suatu kebanggaab ^_^

    Ayooo dukung gerakan PKK ^_^
    Salam

    • Benar sekali Mamaniyya..
      Ini adalah pengalaman dahsyat yang tak terlupakan sepanjang hidup..

      Sukses buat gerakan PKK :)

    • Kenapa..? Terkecoh ya..? Berarti Mas Santoso suka gugling kata ABG dong, hehehe… (becanda)

      Salam kenal kembali..
      Senang mengetahui kalau ada blogger hebat dari Duri :)

  4. Ini sungguh pengalaman yang luar biasa Uda …
    Saya bisa membayangkan keterbatasan yang ada di sana …

    Menunggu kisah-kisah Uda tentang pesantren di tengah hutan ini

    Salam saya

    • Insya Allah, Om.. Semoga cerita-cerita tentang pengalaman saya selama mengabdi di sana dulu itu, bisa saya tuliskan di sini..

    • Yak, benar sekali, di tengah hutan.. Kalau sekarang, tentu sudah tidak lagi, karena penduduk sudah mulai ramai di sekitarnya..

  5. seorang ustadz ABG ke tengah hutan membagi ilmu dengan para abg yang sungguh keren.. ditunggu kisah berikutnya nyiak..!

    #penasaran dgn nasib ustadz ABG yang hanya bawa baju sedikit itu.. :P

    • Cerita tentang si ustadz abg yang membawa baju sedikit itu, insya Allah bakal jadi cerita tersendiri, Bundo.. Tunggu aja tanggal mainnya, haha.. :D

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>