matahari terbenam di ratu boko

Keluar dari Candi Ijo, kami segera menuju Istana Ratu Boko. Kalau berangkat tadi jalannya menanjak terus, tentu sekarang jalan yang kami tempuh adalah menurun. Tidak seberapa lama, kami pun sampai di jalan menuju Istana Ratu Boko. Lagi-lagi jalan yang ditempuh menanjak dan sedikit berliku. Hanya lebih kurang 15 menit dari Candi Ijo tadi, kami sudah sampai di Ratu Boko.

Dengan membayar tiket Rp. 25.000/orang untuk dewasa dan Rp. 10.000/orang untuk anak-anak, kami pun mulai bepetualang untuk mengeksplorasi salah satu destinasi wisata andalan Yogyakarta tersebut.

Di gerbang masuk, kami diharuskan mengenakan selembar kain batik yang dikenakan seperti sarung. Aturan mengenakan kain batik ini, juga berlaku bila kita berkunjung ke Candi Borobudur dan Prambanan. Kata petugas di situ, aturan ini diterapkan dalam rangka untuk memberikan nuansa khas sekaligus untuk melestarikan batik. Apapun alasannya, lucu juga ternyata mengenakan kain batik tersebut.

Situs Ratu Boko adalah sebuah bangunan megah yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra. Istana yang awalnya bernama Abhayagiri Vihara (berarti biara di bukit yang penuh kedamaian) ini didirikan untuk tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Berada di istana ini, anda bisa merasakan kedamaian sekaligus melihat pemandangan kota Yogyakarta dan Candi Prambanan dengan latar Gunung Merapi.

Istana ini terletak di 196 meter di atas permukaan laut. Areal istana seluas 250.000 m2 terbagi menjadi empat, yaitu tengah, barat, tenggara, dan timur. Bagian tengah terdiri dari bangunan gapura utama, lapangan, Candi Pembakaran, kolam, batu berumpak, dan Paseban. Sementara, bagian tenggara meliputi Pendopo, Balai-Balai, 3 candi, kolam, dan kompleks Keputren. Kompleks gua, Stupa Budha, dan kolam terdapat di bagian timur. Sedangkan bagian barat hanya terdiri atas perbukitan.

Situs ini adalah sebuah istana atau kraton, bukan candi. Jadi, penyebutannya sebagai Candi Ratu Boko tentu sebuah kekeliruan. Kami pun mengetahuinya dari keterangan yang diberikan oleh pemandu wisata dadakan yang kami temui di gerbang masuk.

Kok dadakan?

Ya, dia adalah seorang anak perempuan berumur 12 tahun, salah seorang anak dari penduduk setempat. Ketika kami datang, dia langsung menghampiri dan menawarkan jasa untuk memandu kami berkeliling. Awalnya agak ragu juga, tapi begitu mendengarkannya menjelaskan satu persatu tentang situs bersejarah tersebut, kami sangat puas. Terlihat dia sangat memahami dan menguasai lokasi tersebut. Di kelompok keluarga lain, kulihat juga ada seorang anak kecil yang ikut memandu dan memberi penjelasan dengan sangat fasih.

Ternyata, di dalam kompleks istana tersebut terdapat sebuah kampung yang penduduknya diizinkan untuk tetap tinggal di sana. Anak-anak kampung tersebut pun diperbolehkan untuk menjadi pemandu wisata non formal di sana. Agaknya inilah cara pengelola untuk menjalin hubungan baik dengan penduduk sekitar. Dengan mereka diberdayakan, secara tidak langsung mereka akan ikut menjaga kelestarian situs bersejarah tersebut.

Istana Ratu Boko ini merupakan salah satu spot paling bagus untuk menikmati pemandangan Yogyakarta dari ketinggian. Dan yang paling dinanti oleh para pengunjung adalah detik-detik terbenamnya matahari yang terlihat indah dari situ. Tentu saja kami tidak mau ketinggalan.Oleh karenanya, begitu selesai berkeliling, kami pun beristirahat dengan duduk-duduk santai di hamparan rumput hijau sambil menunggu terbenamnya sang mentari.

Setelah menunggu beberapa saat, momen terbenamnya matahari itu pun tiba dan tentu saja tidak kami sia-siakan. Meski tidak bagus hasil gambarnya, setidaknya momen itu sudah bisa kami nikmati dan kenang.

Demikianlah liburan kami selama dua hari yang murah meriah namun memberi kesan dan pengetahuan baru bagi kami.. :)

Referensi:

13 comments on “matahari terbenam di ratu boko

    • semoga pas Kak Monda ke sana nanti, saya ada di Jogja, biar kita bisa kopdaran sambil jalan-jalan, hehe.. :)

  1. Jadi membayangkan seperti apa ya kehidupan masa lalu dalam Istana Ratu Boko ini. Nama situsnya sendiri sudah memperlihatkan bahwa dia bukan candi ya Nyiak. Foto2nya indah sekali..

    • Dari awal tinggal di Jogja, saya mendengar orang-orang menyebut situs ini sebagai Candi Ratu Boko, Uni. Bahkan, di beberapa tulisan, saya baca juga seperti itu. Sampai pada kunjungan kemarin itulah, baru saya paham bahwa situs ini merupakan istana atau kraton. Di papan namanya juga tertulis Kraton Ratu Boko. Agaknya masyarakat awam yang tersalah dalam menyebutkannya.. :)

      Terima kasih, Uni atas apresiasinya

  2. Desember kemarin saya sempat mampir ke Ratu Boko, sayangnya pas panas terik tidak sore hari. Giliran sore sudah tiba batre kamera habis wkwkwk. Setuju banget, Indah bener tempat ini.
    Semoga kalau jadi ke Yogya besok bisa kembali lagi ke tempat ini.
    Terima kasih Uda :)

  3. Waw keren, terakhir saya ke ke Prambanan ditawari ke Candi Boko, tapi ada cost tambahannya. Saya ragu karena memang tak pernah tau Candi Boko itu apa. Maklum saya termasuk solo traveler yang kantongnya gak dalam-dalam amat :D
    Nice info, lain waktu saya mau ah kesana.

  4. pemandangan terakhir ini kini banyak menghiasi program televisi yang menggambarkan Yogyakarta

    guide cilik ? wah hebat juga ya … bisa menambash uang saku

    saya penasaran bagaimana mereka belajar

    salam saya Uda

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


8 − = 1

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>