kampung dan rumah bagonjong

Bila sahabat sampai di Ranah Minang (Sumatera Barat), suasana khas kampung akan sangat terasa oleh perpaduan alam indah elok rupawan dengan rumah-rumah beratap runcing tinggi menjulang yang disebut dengan gonjong. Ada semacam rasa yang sulit diungkapkan bila melihat perpaduan indah tersebut. Kampung dengan rumah bagonjong itu, selalu memanggil-manggil untuk kembali pulang. Salah satunya adalah kampung di Lembah Harau, Kab. Limapuluh Kota ini..

Bila pulang kampung ke Magek, Kab. Agam, bentangan sawah yang dipadu dengan masjid dan rumah bagonjong yang terlihat dari kejauhan, menjadi pertanda bagiku bahwa tidak berapa lama lagi, aku akan bertemu dengan kedua orangtua. Pemandangan inilah yang selalu kutunggu-tunggu..

Salah satu sudut di kampung Magek, Kab. Agam yang tidak pernah luput dari kunjunganku adalah sebuah surau dengan bagnunan beratap gonjong di depannya. Surau ini memiliki makna khusus bagiku. Surau ini dinamakan dengan Surau Inyiak Haji Yunus, seorang tokoh agama terkemuka di Kanagarian Magek. Surau inilah yang menjadi inspirasi penamaan blog ini..

Bagaimana dengan sahabat? Bagaimana pun kondisi kampung kita, tentu ia memiliki makna khusus di hati dan ingin selalu memanggil untuk pulang kembali, bukan?

Postingan ini dipersembahkan untuk memeriahkan turnamen foto perjalanan ke 34 dengan tema Kampung, yang tuan rumahnya Kak Monda Siregar.

24 comments on “kampung dan rumah bagonjong

    • Kalau surau yang ini tidak terlalu detail gonjongnya, Mbak Lidya..
      Ada beberapa surau di Sumbar atapnya bagonjong semua..

  1. kadang sate danguang danguang dan itiak lado ijau itu juga maimbau pulang, Nyiak

    termasuk juga Nasi kapau Ni Er….
    ( kok kuliner melulu yang disebut yaaa……………….. hahaha ) :D :D

    Salam

    • Betul sekali, Mas Dedi.. Yang membuat atap ini harus benar-benar ahli. Kalau sembarangan, akan jelek hasilnya dan gampang rusak..

  2. Kampung halaman dengan segala kenyamanannya selalu hidup dalam hati kita kemanapun kita pergi dan menetap. Sampai sekarang saya merasa penasaran bagaimana bentuk bagian dalam dari rumah gonjong ini, mudah-mudahan suatu saat ada kesempatan berkunjung ke ranah minang dan menikmati pesonanya

  3. Lembah Harau itu betul2 memukau ya Da…, berkali2 ke sana pun masih bikin terpesona

    terima kasih udah ikutan turnamen ya da

    • Betul sekali Kak.. Lembah Harau itu sangat memukau dan selalu terpanggil untuk kembali lagi..

      Terima kasih kembali, Kak..
      Sukses buat turnamennya ya.. :)

  4. dari dulu kepingin banget berkunjung ke ranah minang dan aku baru tau kalau nama atapnya itu gonjong. sepertinya memang suasana di sana menyejukkan ya uda pasti betah deh itu

    • Bagi yang sudah sumpek dengan kehidupan kota besar, berkunjung ke Ranah Minang memang salah satu solusi pating tepat, Jul.. :)

  5. Subhanallaah Udaaa. itu kampungnya cantiknyaaa.
    Kesannya kayak lihat gambar-gambar di buku pelajaran Bahasa Indonesia jaman kecil dulu. Jadi pengen pulang kampung. Hangat lihatnya..
    Sukses ya Da…

  6. Benar kata uda, namun syg pemerintah daerah tidak serius memanfaatkan potensi ini utk meningkatkan kunjungan turis lokal maupun asing ke minangkabau. Tanpa meninggalkan atau mengorbankan kebudayaan kita, contohnya jepang.
    Padahal itu adalah modal besar utk meningkatkan perekonomian masyarakat.

  7. Saya iri dengan mereka yang punya kampung halaman …

    Kalau boleh disebut kampung halaman … yaaa sebetulnya … Ciputat … kompleks UIN itu adalah kampung halaman saya … sebab disitulah saya menghabiskan masa kecil saya

    salam saya Uda

  8. sebuah panorama kampung halaman yang indah, alami, dan eksotis, bang vizon. memang benar, kampung halaman memang selalu menyajikan kenangan terindah, selalu saja ada sesuatu yang dirindukan.

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


8 − 1 =

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>