menangis di arafah

Sebagai muslim, aku sangat merindukan mendapat kesempatan untuk dapat melaksanakan ibadah haji. Selalu ada rasa yang tak terkatakan setiap kali melihat tayangan di televisi tentang pelaksanaan rukun Islam kelima tersebut, terutama ketika pelaksanaan wukuf di Arafah. Entah mengapa, selalu saja ada butiran hangat yang mengalir tanpa kusadari dari sudut mata, setiap melihat itu semua.

Penamaan tempat wukuf itu dengan Padang Arafah sepertinya memiliki makna yang sangat dalam. Secara harfiah, “arafah” berarti mengetahui atau mengenal. Bila dikaitkan dengan ibadah haji, maka ‘arafah bisa dimaknai sebagai tempat untuk hening sejenak dari hiruk pikuk dunia untuk mengidentifikasi diri sendiri tentang apa yang telah dilakukan selama hidup.

Oleh karenanya, kegiatan yang dilakukan oleh para jamaah di saat itu adalah memperbanyak zikir dan doa. Tak jarang kita lihat, jamaah yang membanjiri wajahnya dengan air mata. Barangkali karena mereka tengah mengingat dosa-dosa dan kesalahan di masa lampau dan memohonkan ampun kepada Allah atas semua itu.

Aku selalu terlarut dalam keharuan setiap kali melihat tayangan itu di televisi. Dan keharuanku semakin menjadi ketika membaca salah satu bab dalam buku terbarunya Pakde Cholik, Dahsyatnya Ibadah Haji, Catatan Perjalanan Ibadah di Makkah dan Madinah. Bab tersebut berjudul “Menangis di Arafah“.

1412308319076

Buku terbaru Pakde Cholik ini merupakan catatan perjalanan ibadah haji beliau beberapa tahun silam. Gaya bercerita beliau di buku ini, tidak jauh beda dengan gaya beliau menulis di blog; ringan, renyah namun bernas. Tips-tips dalam melaksanakan haji, terpaparkan dengan apik. Guyonan khas beliau, akan mampu membuat pembaca terpingkal-pingkal. Dan, akupun ikut larut dalam alur cerita beliau itu.

Namun, ketika sampai pada bagian tengah buku dengan judul bab “Menangis di Arafah” tersebut, seketika kesan guyon itupun hilang, berganti dengan permenungan yang sangat mendalam. Aku benar-benar larut dalam penghayatan yang tengah diceritakan Pakde dalam bab itu. Tak terasa, airmataku menetes dengan kencangnya, seolah aku sendiri yang tengah mengalami kejadian itu. Ah.. Pakde benar-benar telah meruntuhkan egoku sebagai lelaki yang pantang meneteskan air mata.

Penjelasan dari para ulama tentang hakikat wukuf di Arafah dan ditambah dengan cerita Pakde Cholik di buku terbaru beliau ini, semakin memperdalam pemahamanku tentang salah satu rukun haji tersebut. Rasanya ingin segera bisa merasakan seperti yang pernah dirasakan oleh Pakde. Semoga Allah mempermudah semuanya..

Sahabat.. Tanpa bermaksud berlebih-lebihan dalam memuji, aku sangat merekomendasikan kita semua membaca buku ini. Pembelajaran di dalamnya sungguh banyak manfaat dan inspirasinya. Bagi yang pernah melaksanakan ibadah haji, buku ini akan bisa menjadi semacam memorabilila dan bagi yang belum, yakinlah buku ini akan membuat kerinduan untuk mengunjungi baitullah akan semakin membuncah. Aku tengah mengalaminya..

Terima kasih, Pakde untuk inspirasinya..

20 comments on “menangis di arafah

  1. Semoga keinginan Uda …
    Keinginan kita semua …
    Bisa disegerakan okeh Allah SWT

    Amiinnn

    Salam saya Uda
    (3/10 : 2)

  2. Tiap kali mendengar kalimat talbiyah….Laabaik allahumma laabaik….dst nya
    Hati ini selalu penuh kerinduan ingin kembali mengunjungi rumah Allah swt di Mekkkah…

    Semoga Allah swt memudahkan Inyiak dan keluarga utk segera mengunjungi Mekkah utk beribadah haji…….aamiin.

    Ttg buku Dahsyatnya Ibadah Haji nya Pak Dhee …mmng buku yg sangat direkomendasikan utk dimiliki, krn isinya yg lengkap ttg segala sesuatu mengenai ibadah haji…
    Pak Dhee mmng luar biasa ya Nyiak

    • Membaca komentar ini saja saya sudah merinding, Bunda. Apalagi kalau benar-benar menjalankannya ya? Subhanallah.. luar biasa sekali tentu rasanya ya Bun..

      Amin.. terima kasih, Bunda untuk doanya..

      Betul sekali, Bunda.. Buku Pakde ini benar-benar menginspirasi dan memberi banyak manfaat buat pembacanya.. Sama dengan judulnya, buku ini memang Dahsyat… :)

    • Sama-sama, Pakde.. Semoga banyak kalangan yang mendapat manfaat dari buku ini ya..

      Amiiin… terima kasih untuk doanya, Pakde..

      Salam hangat juga dari Kweni

  3. Selalu terharu setiap kali mendengar talbiyah dikumandangkan. Ada rindu yang tak terperi. Lebih sakit daripada rindu pada kekasih hati. Nggak heran jika ada orang yang ingin ke tanah suci berkali2. Rindunya kadang tak tertahankan.

    • Betul sekali, Mbak.. rasa rindu itu biasa terjadi pada seseorang yang pernah kita temui atau sesuatu yang pernah kita miliki. Tapi, berkunjung ke baitullah, kita sangat merindukannya, padahal belum pernah berkunjung sebelumnya… Dahsyat ya..

  4. Kita sama uda…setiap kali mendengar kalimat talbiyah apalagi musim haji begini airmata ga terbendung lagi. Terutama setelah umrah kmr rasanya rindu berat ingin kembali menywntuh kabah dan bermesraan dgn Allah di rumah Nya.
    Semoga doa uda..aku..dan kita smua segera terwujud. Amiiinn

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>