Kuliner, bisnis yang maknyus..

Di masa-masa awal tinggal di Yogyakarta, aku dan keluarga memiliki sedikit masalah dalam menikmati makanan di warung makan. Lidah kami yang selama ini hanya mengenal masakan ala Minangkabau, sangat sulit untuk bisa menerima makanan ala Yogyakarta. Beberapa rumah makan Padang yang kami coba sambangi, ternyata sudah beradaptasi dengan lidah orang Yogya, sehingga rasanya kurang “Minang”.

Sempat muncul pertanyaan dalam benakku dulu, “Mengapa seringkali rumah makan dengan ciri khas sebuah daerah yang dibuka di daerah lain, melakukan adaptasi dengan selera setempat”. Ketika kucoba mencari jawabannya, kutemukan pendapat pakar kuliner, William Wongso.

Katanya:

william wongsoSumber gambar: Tips Membangun Bisnis Kuliner from Bank Central Asia

Aku setuju dengan pendapat ini. Menurutku, citarasa asli sebuah daerah, tidak perlu disamarkan dan diadaptasi dengan selera daerah di mana restoran tersebut dibuka. Pengalaman kuliner adalah pengalaman di mana kita ingin merasakan budaya dan peradaban suatu daerah, melalui citarasa. Dengan menyamarkan citarasa aslinya, akan membuat imajinasi tentang asal masakan tersebut ikut menjadi tersamarkan.

Seiring berjalannya waktu, pelan-pelan lidah Minang kami sudah mulai toleran dengan citarasa Yogyakarta. Hingga akhirnya, saat ini sudah benar-benar bisa menikmati setiap menu yang ditawarkan aneka restoran yang tumbuh bagaikan jamur di musim hujan di Yogyakarta. Aku sungguh sangat bersyukur oleh karenanya.

Berbicara mengenai restoran, aku jadi teringat dengan bisnis keluargaku dulu. Aku pernah menceritakannya dalam postingan berjudul “Sinar Jaya”. Usaha utama orangtuaku dulu adalah rumah  makan dengan masakan Padang di kota Duri, Riau. Sayangnya, sekarang rumah makan yang dulu sempat menjadi primadona di kota kelahiranku itu, tutup. Belakangan, sempat muncul dalam diriku untuk menghidupkan kembali bisnis keluarga tersebut.

Namun aku ragu, apakah benar-benar bisa menjalankan bisnis kuliner tersebut. Pikirku, pengalaman yang kudapat dari rumah makan milik keluarga dulu itu, mesti di-upgrade dengan pengalaman masa kini. Aku pun teringat dengan adik sepupuku, Jeni. Bersama suaminya, Wahyu, tengah mengelola bisnis kuliner di kota Cirebon. Warung makan yang terletak di Jl. Sutomo Cirebon tersebut bernama Urban Chicken by Ayam Huhah. Sangat anak muda dan masa kini sekali namanya ya.. Cocok dengan usia mereka yang juga masih muda. Maka, aku pun mencoba untuk menggali pengetahuan dari mereka.

Sebelum menggali pengetahuan dari adik-adikku itu, aku coba membaca beberapa referensi dan artikel tentang bisnis kuliner. Salah satunya yang ini:


Tips Membangun Bisnis Kuliner from Bank Central Asia

Dari slide show di atas, aku mendapatkan informasi bahwa, ada 7 resep yang musti dimiliki dalam mendirikan bisnis kuliner. Kucoba untuk memahami ketujuh resep tersebut dan mengkomparasikannya dengan pengalaman Jeni-Wahyu:

1. Referensi.
Pelajari tren kuliner; bukan untuk sekedar diikuti, tapi untuk disiasati. Anda bisa memilih untuk beradu kualitas dengan kompetitor Anda atau menjual jenis makanan yang berbeda untuk menciptakan kebutuhan baru bagi konsumen.

Jeni dan Wahyu memilih ayam sebagai menu utama mereka. Alasannya karena sebagian besar orang Indonesia pasti suka ayam, dan pengalaman dari diri sendiri, di saat bingung mau makan apa, khususnya pas lagi jajan di luar, pasti pilihan menunya adalah ayam. Jualan ayam itu simpel dan tidak ngebosenin, akunya.

Agar produk yang mereka tawarkan memiliki ciri khas, mereka pun mencoba bereksperimen dengan berbagai resep. Dan akhirnya, mereka pun memiliki menu andalan yang diberi nama Ayam Guling. Yakni ayam panggang yang disajikan dengan olesan black sauce di atasnya ditambah sambal khas sebagai pelengkapnya. Menu inilah yang menjadi identitas restoran mereka.

 urban chicken-01

2. Identifikasi.
Lakukan riset untuk mengidentifikasi jenis produk kuliner yang cocok untuk bisnis Anda. Tentukan format pemasarannya: apakah kedai/kafe/restoran, gerai makanan cepat saji, atau layanan khusus pesanan antar.

Agaknya, ini juga yang dilakukan oleh Jeni dan Wahyu di masa-masa awal dulu. Resto yang mereka buka sekarang, dulunya berupa warung tenda yang berpindah dari satu event ke event lainnya. Melalui pengalaman-pengalaman tersebut, mereka pun akhirnya memutuskan untuk menetap dan mengambil bentuk restoran.

 urban chicken-02

3. Organisasi.
Bentuk tim yang profesional. Temukan koki paling terampil; jalin kerjasama dengan pemasok terbaik; libatkan tenaga keuangan berpengalaman; jaga hubungan baik dengan stakeholders.

Jeni-Wahyu saat ini memiliki 18 orang karyawan. Distribusi pekerjaan yang dibagi, sangat baik, terutama dalam hal meracik bumbu dan memasak. Tim koki yang dibentuk, sangat solid dan kreatif, ditopang dengan awak pramusaji serta staf administrasi yang handal. Inilah salah satu kelemahan dari rumah makan kami dulu. Management-nya sangat tradisional dan hanya bertumpu pada satu orang, yakni Papaku.

4. Standarisasi
Buat standarisasi untuk menjaga kualitas cita rasa. Resep dapur Anda ialah harta paling berharga bagi bisnis Anda. Temukan formula resep terbaik yang tidak bisa ditiru oleh kompetitor.

Untuk menjaga citarasa, Jeni-Wahyu berikhtiar bahwa mereka sendiri yang meracik bumbunya. Juru masak yang ikut membantu, hanya bertugas mengaplikasikan bumbu tersebut ke dalam masakan. Dengan demikian, menu khas mereka tetap dengan citarasa aslinya.

5. Reputasi
Untuk bisnis restoran, perhatikan kebersihan dan suasana di lokasi. Untuk gerai cepat saji, perhatikan durasi penyajian. Untuk jasa pesan antar, pastikan kualitas makanan. Kepuasan pelanggan membangun reputasi bisnis Anda di masa depan.

Segmen pasar yang dibidik Jeni-Wahyu adalah anak muda yang sudah berpenghasilan dan keluarga. Oleh karenanya, resto mereka didesain sedemikian rupa sehingga terciptas suasana yang nyaman bagi pengunjung. Ini jugalah agaknya yang menjadi kelemahan rumah makan kami dulu, desain dan suasananya terasa monoton.

6. Promosi
Bisnis berjalan ketika produk bertemu pelanggan. Kunci utama promosi bisnis adalah kualitas produk. Jika produk sudah bernilai baik, maka kegiatan promosi bisnis sudah selangkah lebih maju.

Jeni-Wahyu menyadari akan hal ini. Sebagai anak muda masa kini, mereka sangat memanfaatkan media sosial sebagai media promosinya, yakni Facebook, Twitter, Instragram dan Path. Di samping itu, juga memasang iklan di beberapa blog tentang kuliner di Cirebon, iklan di radio lokal, sebar brosur dan voucer makan ke kampus, kantor dan jalan utama, hingga menjadi sponsor beberapa acara yang diadakan kampus atau komunitas-komunitas di Cirebon.

Cara ini sangat efektif untuk mendekatkan mereka dengan pelanggan dan hasilnya, saat ini mereka bisa menjual rata-rata 200 potong ayam perhari. Hasil yang sangat lumayan untuk bisnis kuliner yang baru berumur lebih kurang 2 tahun.

 7. Inovasi
Industri terus berkembang, tren selalu berputar, dan pelanggan bisa bosan. Inovasi bisnis mutlak diperlukan.

Aku menyadari akhirnya, kalau yang menjadi salah satu kelemahan rumah makan kami dulu itu adalah dalam hal inovasi. Menu yang kami berikan sangat monoton, sehingga pengunjung merasakan kebosanan bila berkunjung kembali. Hal ini telah diantisipasi oleh Jeni-Wahyu. Mereka terus mencari formula resep baru dan model pengembangan lainnya agar bisnis mereka dapat terus bertahan dan bergerak maju.

Membaca ketujuh resep di atas yang dipadu dengan pengalaman adik sepupuku tersebut, rasanya semangat untuk merintis bisnis kuliner menjadi menggebu-gebu. Semoga aku bisa segera mewujudkannya. Sahabat juga tertarik untuk berbisnis kuliner? Monggo pelajari dulu 7 resep yang di atas. Untuk detailnya, bisa dilihat di slide show tersebut.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dengan jumlah kepulauan dan etnis yang sangat banyak. Keragaman kuliner Indonesia sudah diakui dunia, bahkan rendang, nasi goreng dan sate menempati posisi teratas sebagai makanan terenak dunia oleh CNN. Maka, bisnis kuliner adalah bisnis yang sangat maknyus untuk digagas.. :)

Sahabat punya pengalaman dengan kuliner, bahkan bisnis kuliner? Boleh dibagi ceritanya di sini?

34 comments on “Kuliner, bisnis yang maknyus..

  1. Lengkap sekali Uda. Makasih referensinya. Saya juga berencana buka bisnis kuliner juga nantinya. Semoga lancar yaa Daaa usahanya.

    • Aku juga sudah menemukan salah satu warung makan Padang yang masih memiliki cita rasa asli Minang. Dan justru itu yang banyak dicari… Nanti kalau ke LA, ajak aku ke situ ya Arman, hahaha… :D

  2. assalamualaikm,,,, pa kabar pak??? saya aru pak,,, mahasiswa bapak d stain dulu… mahasiswa EPI. kbetulan aru di lbong kni pak,,, ad c keinginan mau bka usaha.. tp lw ngliat keadaan dilebng bngung pak bagus ny usahanya itu seperti apa pak…. mhon sarannya pak.. terima kash..

    • Wa’alaikumussalam, Aru..
      Alhamdulillah, kabar baik..

      Banyak potensi Lebong yang bisa dijadikan peluang bisnis tuh.
      Main-mainlah ke kampus, kita ngobrol-ngobrol, siapa tahu dapat inspirasi bisnis.. :)

  3. Nah kalau saya, termasuk jenis wppewisata kuliner yg cenderung keukeuh dengan cita rasa pedas dan rasa asinnya terasa. JAdinya, dimanapun dan apapun jenis wisata kulinernya, endingnya ya milih yg ada rasa pedas dan asin terasa *lidahnya orang kolot*

    Turut mendoakan semoga harapan dan rencana Uda Vizon utk membuka bisnis kuliner bisa segera terwujud. Aamiin

  4. Belum punya pengalaman dengan bisnis kuliner, tapi punya pengalaman lidah yang perlu penyesuaian dengan lidah tempat merantau jg pernah,
    Ulasannya lengkap nih Nyiak, semoga usaha rumah makannya bangkit lagi.

  5. Bisnis kulinet tidak akan matinya. Sepanjang sekera makan kita madih ada, sepanjang kreativitas juga terus berkembang, sepanjang itu pula bisnis makanan terus eksis. Begitu pendapat saya, Nyiak :)

    • Setuju sekali, Uni.. Apalagi dengan semakin meningkatnya aktifitas masyarakat kita sekarang yang sudah berkurang kesempatannya untuk memasak di rumah, membeli masakan jadi adalah alternatif yang sangat pas, sehingga dengan demikian bisnis kuliner akan selalu bertumbuh.. :)

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>