matahari di tarusan kamang

Seingatku, belum pernah sekali pun aku punya kesempatan jalan-jalan berdua saja dengan Papa. Kami selalu pergi berramai-ramai dengan keluarga. Barulah di akhir Februari 2015 yang lalu, aku benar-benar punya kesempatan jalan-jalan berdua saja dengan beliau. Meskipun tempat yang dituju tidak seberapa jauh dan waktu yang ditempuh tidak pula terlalu lama, namun ingatan akan pengalaman tersebut, benar-benar tertanam dengan dalam di sanubariku. Benar kata ahli bahwa anak lelaki butuh berinteraksi secara intens dengan ayahnya. Dan aku telah membuktikannya.

Hal itu terjadi ketika di pagi hari kedua kepulanganku ke kampung halaman. Sambil menikmati sarapan, kuutarakan keinginan untuk berkunjung ke Tarusan Kamang. Yakni sebuah danau unik yang letaknya hanya selemparan bakiak dari rumah kami. Aku bermaksud menanyakan ancar-ancar jalan menuju ke sana. Tak dinyana, Papa malah menawarkan diri untuk mengantar. Tentu saja tawaran itu tak kutolak sama sekali.

Aku sangat penasaran dengan danau tersebut. Walau sudah sedari kecil mengetahuinya, namun belum sekalipun aku berkesempatan berkunjung kesana. Malah beberapa sahabat blogger yang berdomisili di pulau Jawa, sudah bersuka ria di sana. Bagaimana aku tidak geregetan dibuatnya? :D

Sesuai kesepakatan, selepas jumatan kami pun berangkat menuju danau yang berlokasi di Jorong Halalang, Nagari Kamang Mudiak, Kecamatan Kamang Magek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat itu. Kampungku, Nagari Magek, berada dalam kecamatan yang sama dengan lokasi danau tersebut. Dengan mengendarai sepeda motor, kami mulai piknik sederhana ala ayah dan anak.

Beberapa menit berjalan, Papa menyuruhku berhenti di depan sebuah sekolah.

“Di sini dulu Papa sekolah”.

“Ini kan Taman Kanak-kanak? Papa sekolah TK juga dulu?”

“Dulu di sini adalah PGA (Pendidikan Guru Agama, sekarang disebut Madrasah Aliyah)”.

“Kok bisa berubah jadi TK begini?”

“Entahlah…”

Papa pun bercerita tentang pengalamannya bersekolah di zaman dahulu. Dengan segala keterbatasan finansial dan fasilitas, beliau bertekad menyelesaikan pendidikan di sekolah tersebut. Saban hari, beliau bersama kakak perempuannya, berangkat selepas subuh dengan berjalan kaki. Jalan yang ditempuh, bukan pula mulus. Apalagi di zaman itu, tengah terjadi pergolakan politik yang dikenal kemudian dengan nama gerakan PRRI, yang membuat suasana belajar tidak nyaman.

“Sekarang kalian sudah nyaman. Seharusnya ini disyukuri. Tapi ternyata, generasi sekarang malah terlena dengan semua kenyamanan tersebut, sehingga tidak punya daya juang”.

“Perjuangan kami tentu dengan cara yang berbeda, Pa”

“Harusnya begitu. Tapi coba lihat, betapa banyak keluhan yang kalian keluarkan setiap hari. Susah sedikit mengeluh, sakit sedikit mengeluh, dan bahkan hujan turun pun kalian keluhkan”.

Aku tersenyum kecut mendengarkan kritikan itu. Tidak bisa tidak, aku mengakui kebenaran kata-kata beliau. Hampir setiap hari kita disuguhkan keluhan demi keluhan yang termaktub jelas di laman media sosial. Tidak hanya dari kalangan remaja, orang-orang dewasa pun melakukannya. Tidak sedikit mereka yang berperang kata-kata di media sosial. Entah apalah yang ada di benak mereka, sehingga merasa senang pertengkaran dan keluhan mereka itu terbaca oleh manusia sejagad raya.

Kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Tidak seberapa lama, lagi-lagi Papa memintaku untuk berhenti. Kali ini, posisinya adalah di sebuah jembatan kecil, Dari sini, terlihat danau Tarusan Kamang dari kejauhan dan gugusan bukit barisan di atasnya.

“Bukit itu adalah kapal dulunya”.

“Kapal laut maksudnya?”

“Iya. Di dalam bukit tersebut terdapat beberapa goa yang menyerupai kamar-kamar di dalam kapal. Di dinding kamar-kamar tersebut ada kotak seperti lemari, lengkap dengan kain yang masih terlipat. Dan semuanya sudah membatu”

“Waw..!”

“Dulu Papa suka bermain di sini bersama teman-teman sepulang sekolah”

“Jadi, dulu di sini adalah laut?”

“Benar.. coba nanti kamu cari tahu”

tarusan kamang (1)
Papa dan Tarusan Kamang

Sejurus kemudian, kami pun melanjutkan perjalanan. Tidak sampai lima menit, kami sampai di tujuan. Tak dapat kusembunyikan kekagumanku akan indahnya ciptaan Allah ini. Terpampang nyata di hadapanku sebuah danau nan indah dengan sebuah pulau kecil di tengahnya serta hamparan rumput hijau yang menutupi bukit di sekelilingnya. Tak henti-hentinya mulutku mengucapkan pujian pada Sang Pencipta atas kuasaNya ini.

tarusan kamang (4)

“Danau ini akan mengering atau menggenang dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Setiap kali akan mengering atau menggenang, selalu diawali dengan suara ‘boooom’ yang agak besar. Suara itu muncul dari sini”, Papa mulai menjelaskan dengan menunjuk sebuah sudut di ujung danau.

tarusan kamang (2)

“Pa, kita sambil duduk saja yuk. Kayaknya asyik memandang area ini dari sini”, ajakku.

Sejenak kemudian kami sudah duduk di hamparan rumput hijau. Karena berada di atas bukit, kami pun bisa memandang lepas ke sekeliling danau. Tampak para pengunjung yang bersuka ria menikmati udara segar pada siang itu. Di danau, kulihat orang-orang mencoba naik rakit, ingin menyeberang ke pulau kecil di tengah danau. Dan di sisi lain, ku lihat itik-itik berenang dengan bebasnya sementara di ujung sana, kerbau-kerbau merumput seenaknya, tanpa takut terganggu oleh pengunjung.

tarusan kamang (5)

tarusan kamang (6)

“Pa, boleh nanya nggak?”

“Mau nanya apa”

“Kenapa sih Papa sama Mama selalu berdua ke mana saja?”

“Penting ya?”

“Haha… pengen tau aja”

“Setelah kalian semua sibuk dengan kehidupan masing-masing, siapa lagi yang ada bersama Papa kalau bukan Mama? Kami sadar bahwa kalian punya tanggungjawab sendiri-sendiri. Oleh karenanya, kami tidak ingin merepotkan kalian. Dengan pergi ke mana-mana berdua, kami merasa bahagia dan tidak kesepian”.

“Itukah yang disebut setia?”

“Terserah apa namanya. Yang jelas, suani-istri itu adalah pasangan. Tidaklah sesuatu itu dinamakan pasangan, bila satu sama lain saling terpisah”

Aku terdiam. Kuedarkan pandangan ke danau. Kulihat sinar matahari jatuh di atasnya. Sinar hangat itu membuat sang danau terlihat semakin indah. Dan seperti itu pulalah yang kurasakan. Pengalaman jalan-jalan dengan Papa dan kata-kata yang beliau ucapakan, bagaikan matahari yang bersinar di kepalaku. Aku tercerahkan..

tarusan kamang (7) Selfie dengan sinar matahari jatuh di kepalaku, menyimbolkan pencerahan yang kudapat dari Papa di Tarusan Kamang

Sesampai di rumah, segera kubuka laptop, menancapkan modem smartfren, dan mencaritahu tentang danau tersebut. Lihat, apa yang kuperolah..

Para peneliti menyimpulkan bahwa danau itu terletak di zona patahan Sumatera bagian timur. Di tepi-tepi danau ditemukan bongkahan batuan kapur (gamping)  yang berusia sekitar ratusan abad. Ini memperkuat dugaan bahwa benar di sini dulunya adalah sebuah lautan. Danau ini terhubung langsung dengan sungai bawah tanah. Maka, wajar saja bila airnya mengering atau menggenang dalam waktu yang tidak bisa diprediksi. Semua tergantung debit air yang ada di dalam sungai bawah tanah tersebut. Bunyi ‘boom’ diperkirakan suara batuan di pintu sungai yang bergeser karena air yang mengalir di saat itu.

Cerita Papa tentang Tarusan Kamang, tidak salah rupanya.. :)

Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Selfie Story bersama Smartfren

42 comments on “matahari di tarusan kamang

  1. Ukatu Inyiak ka siko, masih banyak aie mah, labiah rancak pamandanganyo..

    Seru banget ngobrol-ngobrol ganteng dengan papa di depan Tarusan cantik begini ya, Nyiak..

    • Iyo Uni, pas bana ukatunyo.. Cuma sayangnya, nggak pas dengan waktu Uni pulkam. Coba berbarengan, kan kita bisa kopdar di kampung halaman.. :)

      Yups… sungguh seru dan mencerahkan sekali berbincang-bincang dengan Papa di situ Uni. Sangat terkesan..

  2. Udah tempatnya indah dan bersejarah jalan- jalannya sama orang terkasih lagi foto- fotonya keren juga, asyiknya…

  3. oooh uda baru pertama ke sini?
    uda kayaknya datang dari sisi berlawanan dengan kami ya.., karena bisa lihat ke tarusan dari arah bukit, katanya gua2nya juga bagus da
    selain dapat pencerahan soal hidup dari papa, papa juga bisa jadi pemandu hebat
    kok kayaknya Tarusan Kamang makin elok uda, foto2nya keren

  4. Belajar kehidupan dau sosok ayah, saya juga demikian mas. Saat ada kesempatan ngobrol bareng ayah, disitulah saya belajar dan sharing kehidupan…

  5. Belajar kehidupan dari sosok ayah, saya juga demikian mas. Saat ada kesempatan ngobrol bareng ayah, disitulah saya belajar dan sharing kehidupan…

  6. danaunya bagus ya. Asik punya kesempatan banyak bercerita dengan ayah. kadanga ku suka sedih karean aku baru banayk bercerita dg ayah saat ayah terbaring sakit

    • Semoga ketika ayah sudah sembuh, kesempatan bercerita dengan beliau pun tetap ada ya Mbak..

  7. Pemandangannya cantik sekali, Uda. Danau dengan padang rumputnya itu.

    Cerita orang tua yang sarat dengan pesan ya, Uda.

  8. Seperti selfi dengan pencerahan dari Papa, postingan ini juga mencerahkan pembaca loh Uda Vizon. Keelokan geolois Tarusan Kamang. lipatan Bukit Barisan, Ngarai Sianok pun Lembah Harau…SumBar jagonya wisata geologis.
    Sukses GAnya ya Uda

    • Aku juga sangat memcatat petuah ini, sehingga nanti di masa tua, juga takkan merepotkan anak-anakku.. :)

  9. Wah uda, indah sekali. Kreen ……

    Moment yg sangat berharga, coba klo papa ambo masih hidup…. pasti bs jalan2 kayak uda.

    Mudah2an Papa uda Vizon selalu sehat…. :)

    • Amiin… Terima kasih, Da..
      Saya juga doakan, semoga Papa Uda Ded telah berbahagia di sisi Allah swt saat ini..

  10. Kerenn banget pemandangannya uda…
    belum pernah menginjakan kaki ke tanah minang…
    apa yang di ceritakan ayahnya bener bgt dan menjadi renungan kita banget hehe..
    makasih ya inspirasinya:)

  11. keren fotonya bang Vizon dan ada Makdang Kulih..
    sering ke Magek malah gak tau ada danau seindah itu..
    salam kenal bang vizon..

      • Iya bang,kenal banget.manggilnya aja Makdang bang.sehat sehat selalu makdang sama makwo ya bang..
        rice orang magek,lahir dan besar di duri bang.
        orang tua Ama Emmy Gusna dan Apa Syukri. Inshaallah abang kenal ya..

        • Iya, saya kenal orangtua Rice..
          Semmoga suatu saat kita bisa bertemu di Duri atau Magek ya, Rice.. :)

  12. paparannya membuat saya rindu ayah. sayang ayah saya tidak bisa mengikuti perjalanan anak-anaknya krn keburu dipanggil balik oleh sang khalik.

    oiya alam kenal uda, liat namanya dari blog uni evi…

    salam
    /kayka

  13. Subhanallah, uda… Lama sekali tdk mampir ke Surau Inyiak (eh…nama blog nya msh itu kan?)
    Foto2nya semakin keren, ceritanya spt biasa mengalir dan sarat makna. Dan yg pasti, laptop selalu menemani kemana uda berkelana. Salam hormat utk papa ya. Btw…ehem, udah jd reviewer jg kayaknya :-)

    Kalau senggang mampir ke blog baruku yg msh sepi ya, uda…

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>