Sederhana Bukan Berarti Miskin

Sepanjang Ramadhan 1436 H ini, Om Nh melalui blog The Ordinary Trainer milik beliau, mempublis kutipan-kutipan ayat al-Quran setiap hari. Aku mengikutinya terus, meski tidak membubuhkan sepatah dua patah komentar di sana. Pada hari ini, 14 Juli 2015, beliau memposting QS. Al-a’raf ayat 31.

Aku tertarik untuk membahas ayat ini lebih jauh, karena ayat ini bisa menjadi semacam mengingat buat kita di penghujung Ramadhan ini. Sebab, demi merayakan kegembiraan di Idul Fitri, kita sering terlupa akan batas kita dalam hal berpakaian, makanan maupun minuman.

Selengkapnya ayat ini berbunyi:

al-araf 31

Dalam Tafsir al-Misbah karya Prof. Dr. M. Quraish Shihab, dijelaskan bahwa ayat tersebut mengajak anak-anak Adam (manusia) untuk memakai pakaian yang indah, minimal dalam bentuk menutup aurat karena membukanya pasti buruk. Lakukan itu di setiap memasuki dan berada di masjid, baik masjid dalam arti bangunan khusus maupun dalam pengertian yang luas, dan makanlah makanan yang halal, enak, bermanfaat lagi bergizi, dan berdampak baik. Minumlah apa saja yang kamu sukai selama tidak memabukkan, tidak juga mengganggu kesehatan, dan janganlah berlebih-lebihan dalam segala hal, baik dalam beribadah dengan menambah cara atau kadarnya. Demikian juga dalam makan dan minum atau apa saja, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai, yakni tidak melimpahkan rahmat dan ganjaran bagi orang-orang yang berlebih-lebihan dalam hal apapun.

Perintah makan dan minum yang tidak berlebih-lebihan, yakni tidak melampaui batas, merupakan tuntunan yang harus disesuaikan dengan kondisi setiap orang. Ini karena kadar tertentu yang dinilai cukup untuk seseorang, boleh jadi telah dinilai melampaui batas atau belum cukup buat orang lain. Atas dasar itu, penggalan ayat tersebut mengajarkan sikap proporsional dalam mengonsumsi makanan dan minuman.

Sebelum Quraish Shihab, Al-Thabari juga memberikan isyarat dalam tafsirnya, bahwa dalam kegiatan konsumsi, manusia tidak diperbolehkan berlebih-lebihan. Perintah Allah juga disabdakan oleh Nabi dalam hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas: “Allah telah menghalalkan makan dan minum selama itu tidak berlebih-lebihan dan menampakkan kesombongan.”

Selain itu, dengan mengutip riwayat dari Ibn Zaid, al-Thabari menafsirkan kata لاتسرفوا   dengan “tidak boleh memakan sesuatu yang haram”. Ia menjelaskan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melanggar batasan-Nya dalam hal yang halal ataupun yang haram, yakni dengan menghalalkan sesuatu yang diharamkan dan mengharamkan yang dihalalkan. Sebaliknya, Allah menyukai orang yang menghalalkan sesuatu yang dihalalkan-Nya dan mengharamkan sesuatu yang diharamkan-Nya. Demikian itu merupakan keadilan yang Dia perintahkan.

Terkait dengan konsumsi, Ibn Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menegaskan adanya larangan sikap berlebih-lebihan dan memperlihatkan kesombongan, tidak hanya dalam hal makan dan minum, tetapi juga dalam hal berpakaian dan bersedekah. Larangan sikap berlebih-lebihan ini juga berdasarkan beberapa hadis yang dikutip oleh Ibn Katsir, yaitu:

  1. Hadis yang diriwayatkan oleh kakek Amr ibn Syu’aib bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah, tanpa disertai kesombongan dan berlebih-lebihan, karena sesungguhnya Allah senang melihat hamba-Nya memanfaatkan nikmat-nikmat-Nya”.
  2. Hadis yang juga diriwayatkan oleh kakek Amr ibn Syu’aib bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “makanlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah dengan tidak berlebih-lebihan dan menyombongkan diri”.
  3. Hadis yang yang diriwayatkan oleh al-Miqdam ibn Ma’di Karib al-Kindi, bahwa ia mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak ada yang dipenuhkan manusia lebih buruk dari perutnya, cukuplah anak Adam makan dengan beberapa suapan yang dapat menegakkan tulang tubuhnya. Kalaupun ia harus melakukannya (memenuhi perutnya), maka hendaknya sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk pernafasan”.

Dari penjelasan di atas, dapat kita pahami bahwa Allah memerintahkan kita untuk berlaku “sederhana”. Keserderhaan yang dimaksud di sini adalah proporsional. Yakni sesuai dengan batas kewajaran, tidak terlalu mewah dan tidak pula terlalu berkekurangan. Yang terpenting adalah sesuai dengan kemampuan dan peruntukannya. Misalnya: bila dengan baju seharga seratus ribu kita sudah terlihat rapi dan pantas, mengapa pula harus mengenakan pakaian dengan harga satu juta?.

Aku sangat ingat dengan pesan Kyai kami ketika di pesantren dulu. Kalimat yang sering dilontarkan kepada kami adalah, “Sederhana Bukan Berarti Miskin”. Artinya adalah berlaku sewajarnya, tidak melebihi batas kepatutan.

Selamat mempersiapkan Hari Kemenangan, sahabatku. Mari kita tetap menjaga puasa kita dengan tidak mengumbar emosi dalam berbelanja jelang Idul Fitri ini. Berlakulah sederhana, sebagaimana yang Allah sabdakan dalam QS. Al-A’raf ayat 31 tersebut.. :)

6 comments on “Sederhana Bukan Berarti Miskin

  1. saya juga membaca postingan Om NH setiap hari tapi jarang komen disana, hanya untuk renungan pribadi saja.
    Mengajarkan hidup sederhana pada anak-anak juga penting ya Uda.

  2. Saya juga ikutin posting om NH, karena saya memang berlangganan posting beliau.
    Betapa kita diingatkan untuk memakai pakaian indah kalo beribadah.

  3. Alhamdulillah …
    Ya … sederhana itu bukan berarti me miskin-miskinkan diri …
    sederhana itu adalah sewajarnya … dan tidak berlebih-lebihan ….

    Jika sesuatu sudah terlalu lebay … pada umumnya menjadi tidak baik maknanya

    Salam saya Uda
    (15/7 : 2)

  4. Sederhana bisa diartikan pula sesuai kebutuhan, bukan sesuai keinginan karena ada kecenderungan manusia senang berlebih-lebihan dalam memenuhi keinginan. Semoga kita tidak termasuk yang demikian.
    Selamat idul fitri, Uda. Taqabalallahu mina waminkum. Amiin.
    Mohon maaf lahir dan batin.
    Selamat menikmati kemenangan bersama keluarga tercinta.

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>