Mampir Sejenak di Candi Sambisari

CeritaLebaran #2

Di hari pertama Idul Fitri 1436 H, tempat pertama yang kami kunjungi adalah rumah seorang sahabat di daerah Tirtomartani, Sleman. Sahabat tersebut baru pindah ke Jogja. Sejak kepindahannya ke rumah tersebut, kami belum sempat berkunjung. Maka, tentu tepat bila silaturrahim pertama yang kami lakukan adalah ke tempatnya.

Sebagai sesama perantau, berkumpul seperti ini ternyata lumayan membuat kami senang. Setidaknya kami bisa merasakan nuansa kumpul keluarga sebagaimana yang seharusnya kami lakukan bersama keluarga besar di kampung. Kesenangan itu semakin lengkap dengan suasana kampung tempat sahabatku tersebut tinggal. Hamparan sawah terlihat sangat luas di dekat rumahnya. Kuhirup dalam-dalam kesejukan itu hingga ke relung hati sambil berdoa semoga tahun depan benar-benar bisa lebaran di kampung.. :)

“Sudah ke Candi Sambisari, Da?”, sahabatku itu membuyarkan lamunanku.

“Belum.. Tapi aku pernah baca tulisan soal itu di blognya Wijna“.

“Tidak pengen ke sana, Da?”

“Pengen lah.. Nanti dicari waktu yang tepat”

“Kenapa harus nanti-nanti, Da? Sekarang aja kenapa?”

“Kok sekarang?”

“Lha, jaraknya cuma selemparan sandal kok dari sini”

“Oya?”

“Kami sering jalan-jalan ke sana kalau sore. Tempatnya asyik”

“Wah, kalau begitu, selepas Jumatan nanti, sambil pulang, kita mampir ke sana. Kamu bisa nganterin kan?”

“Dengan senang hati…”

Begitulah, selepas Jumatan, kami pun segera bergerak menuju candi yang dimaksud sahabatku tersebut. Ternyata tempatnya memang dekat sekali dari rumahnya. Tidak sampai 10 menit, kami pun sampai. Candi tersebut berada di Dusun Sambisari, Kelurahan Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, 10 kilometer dari pusat kota Yogyakarta, bersebelahan desa dengan kediaman sahabatku itu.

Dari kejauhan, hanya pucuk candi itu saja yang terlihat. Namun, setelah memasuki area candi dengan membayar Rp. 2.000 per orang, barulah keseluruhan candi terlihat. Ternyata, candi tersebut berada 6,5 meter lebih rendah dari wilayah sekitarnya, sehingga kita musti menuruni beberapa anak tangga untuk bisa memasukinya.

sambisari areaArea Candi Sambisari

Dari informasi yang kuperoleh, candi ini ditemukan oleh warga dusun Sambisari bernama Karyowinangun pada tahun 1966. Ketika itu, beliau tengah mencangkul tanah untuk menggarap sawahnya. Tanpa sengaja, cangkulnya membentur sebuah batu besar yang setelah dilihat memiliki pahatan pada permukaannya. Temuan Karyowinangun itu pun diceritakan kepada penduduk desa hingga akhirnya diketahui oleh Dinas Kepurbakalaan.

Dinas kepurbakalaan pun segera datang dan selanjutnya menetapkan areal sawah Karyowinangun sebagai suaka purbakala. Batu berpahat yang ditemukan itu diduga merupakan bagian dari candi yang mungkin terkubur di bawah areal sawah. Penggalian akhirnya dilakukan hingga menemukan ratusan bongkahan batu lain beserta arca-arca kuno. Dan benar, batu-batu itu memang merupakan komponen sebuah candi.

Butuh waktu hampir 21 tahun untuk menyusun bebatuan tersebut hingga bisa menjadi sebuah candi yang indah seperti sekarang ini. Aku tidak bisa membayangkan, betapa sabar dan telitinya para ahli purbakala itu melakukan tugas mereka. Menyusun mainan puzzle saja rasanya sudah cape dan bisa membuat bosan. Namun, bebatuan yang bagaikan puzzle raksana tersebut, dapat disusun dengan baik sebagai warisan budaya bagi bangsa tercinta ini. Sunggu usaha yang patut disaluti dan diapresiasi dengan setinggi-tingginya.

sambisari arcaPuzzle-puzzle raksasa yang masih belum tersusun

Sebenarnya kami datang di waktu yang kurang tepat. Siang hari itu matahari bersinar sangat terik, sehingga cuaca terasa sangat panas. Apalagi saat ini musim kemarau berada pada puncaknya. Wajar saja bila rerumutan yang ada di sekeliling candi terlihat sangat kering. Kata sahabatku itu, bila tidak sedang musim kemarau, rumput di sana sangat segar dan membuat sejuk suasana.

Tanpa perlu berlama-lama merasakan terik matahari, kami pun segera turun ke area candi.

Candi Sambisari diperkirakan dibangun antara tahun 812 – 838 M, kemungkinan pada masa pemerintahan Rakai Garung. Kompleks candi terdiri dari 1 buah candi induk dan 3 buah candi pendamping. Terdapat 2 pagar yang mengelilingi kompleks candi, satu pagar telah dipugar sempurna, sementara satu pagar lainnya hanya ditampakkan sedikit di sebelah timur candi. Masih sebagai pembatas, terdapat 8 buah lingga patok yang tersebar di setiap arah mata angin.

Bangunan candi induk cukup unik karena tidak mempunyai alas seperti candi di Jawa lainnya. Kaki candi sekaligus berfungsi sebagai alas sehingga sejajar dengan tanah. Bagian kaki candi dibiarkan polos, tanpa relief atau hiasan apapun. Beragam hiasan yang umumnya berupa simbar baru dijumpai pada bagian tubuh hingga puncak candi bagian luar. Hiasan itu sekilas seperti motif-motif batik.

Karena panas yang begitu terik, kami pun tidak sanggup untuk mengeksplorasi candi itu lebih jauh. Kami hanya duduk-duduk di salah satu sudut candi induk yang agak terlindung. Dan di situlah akhirnya kami menyalurkan bakat narsistik kami sekeluarga, hehehe.. :D

sambisari narsisWalaupun panas terik, tetap kudu narsis.. :D

Meski hanya sekedar mampir sejenak, namun kami tetap bisa menikmati keindahan karya cipta nenek moyang kita tersebut. Keindahan Candi Sambisari yang kini bisa kita nikmati itu, merupakan hasil kerja keras para arkeolog selama 21 tahun. Candi yang semula mirip puzzle raksasa, sepotong demi sepotong disusun kembali demi lestarinya satu lagi warisan kebudayaan agung di masa silam. Tugas kitalah untuk menjaga dan memanfaatkannya demi kebesaran bangsa tercinta ini.

sebelumnya:

selanjutnya:

referensi:

14 comments on “Mampir Sejenak di Candi Sambisari

  1. uda…sorry mau tanya stupid question nih..
    candi itu sebenernya dulunya istana bukan sih? tempat tinggal para raja2 jaman dulu?
    tapi kayaknya di dalem candi gak ada ruangan2nya ya?

  2. saya senang banget nih kalau sudah main ke candi, soalnya seperti berada di jaman dulu. semoga makin banyak candi-candi tersembunyi (yang saya yakin jumlahnya tidak sedikit di Indonesia) yang berhasil dipugar dan dibangkitkan kembali seperti Candi Sambisari. :D

  3. Wah, saya malah belum pernah ke Candi Sambisari. sepertinya asyik juga kalo dijadikan tujuan gowes.
    Tempatnya bersih dan terawat ya Uda.. mengunjungi beberapa situs dan candi, sekarang ini perawatannya cukup baik. bersih dan asri.

    • Saya juga kepikiran yang sama, Mbak Anna, sepertinya menyenangkan gowes ke sana. Ayo, mbak dicoba. Nggak seberapa jauh dari rumah kan? :)

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>