Waduk Sermo; Pengorbanan Yang Tak Sia-Sia

CeritaLebaran #3

Setelah membongkar-bongkar tulisan di blog ini, akupun baru menyadari kalau ternyata kami belum sekalipun berwisata di salah satu kabupaten di Yogyakarta, yakni Kulon Progo. Padahal, di sana ada banyak potensi wisata yang layak dikunjungi. Maka, akupun putuskan untuk mengeksplorasi daerah tersebut dalam libur lebaran kali ini.

Destinasi pertama yang akan kami kunjungi adalah Waduk Sermo. Yakni sebuah waduk yang berada di Kawasan Bukit Menoreh, tepatnya di Dusun Sermo, Desa Hargowilis, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulonprogo. Dari googlemap, aku lihat bahwa jarak dari Kweni-Bantul menuju ke sana lebih kurang memakan waktu 50 menit. Lumayanlah menurutku.

Dengan persiapan penuh, kami pun berangkat dari rumah pada pukul 9 pagi. Kami memilih menggunakan sepeda motor,mengingat jalur Jogja-Kulon Progo pada hari-hari Idul Fitri seperti sekarang ini sangat padat. Dengan sepeda motor, tentu akan lebih  leluasa dan bisa menghindar dari kemacetan.

Benar saja, sepanjang jalan dari menuju Wates, ibukota Kulon Progo, kendaraan roda empat maupun roda dua memenuhi jalanan. Semua padat merayap. Syukurnya kami tidak menemukan kesulitan yang berarti. Dan alhmadulillah, setelah berkendara hampir satu jam, kami menemukan arah petunjuk jalan menuju waduk Sermo terpampang besar-besar di pinggir jalan.

Dari situ, kami bergerak menuju waduk yang dimaksud. Jalanan mulai sepi. Kami pun bisa menghirup udara segar dan menikmati pemandangan di sepanjang jalan yang berkelok tersebut. Tepat pukul 10.30 wib, kami pun sampai di lokasi.

Kami pun tidak sabar ingin menikmati suasana waduk. Buru-buru kami parkirkan kendaraan di tempat yang telah disediakan. Kuedarkan pandangan ke sekeliling waduk yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 20 November 1996 silam itu. Terlihat hamparan danau buatan yang dibuat dengan membendung Kali Ngrancah, terbentang dengan tenangnya

waduk sermo (02)

Dari informasi yang kudapat, waduk dengan luas genangan kurang lebih 157 Hektar dan dapat menampung air 25 juta meter kubik ini dibangun dengan tujuan sebagai sumber air bersih PDAM dan untuk air irigasi yang mengairi sawah di daerah Wates dan sekitarnya.

Namun, pembangunan waduk ini disamping menghabiskan biaya yang sangat besar, juga mengharuskan penduduk yang ada di situ bersedia berkorban kehilangan kampung halaman mereka. Penduduk yang mendiami lokasi waduk itu dulu, melakukan transmigrasi massal alias “bedol desa”. Sebanyak 100 KK ditransmigrasikan ke Tak Toi Bengkulu dan 7 KK ditransmigrasikan ke Perkebunan Inti Rakyat (PIR) Kelapa Sawit Riau.

waduk sermo (03)

Ketika memandangi hamparan air di waduk tersebut, terbayang olehku betapa besar pengorbanan warga kampung itu dulu. Aku tidak tahu, apa saja yang memotivasi mereka sehingga bersedia pergi dan meninggalkan tanah kelahiran mereka itu. Tapi yang jelas, pengorbanan mereka memberikan manfaat yang sangat besar bagi sekitarnya. Saat ini, Kulon Progo menjadi pemasok sayur dan buah yang sangat besar bagi Yogyakarta dan sekitarnya. Tentu saja perkebunan mereka tersebut bisa tumbuh baik berkat pengairan yang baik pula. Dan itu berasal dari waduk Sermo. Ini tentulah menjadi amal jariyah bagi para penduduk yang telah berkorban dulu itu. Selama waduk itu mengalirkan airnya, selama itu pulalah pahalanya mengalir kepada mereka.

Hal inilah yang kusampaikan kepada anak-anakku sembari mengitari waduk tersebut. Tidak ada salahnya bila kita rela mengorbankan sedikit yang kita punya demi kepentingan umum. Dan sebaliknya, tidak baik bila kita berkorban habis-habisan, hanya untuk kepentingan segelintir orang, demi memuaskan nafsu duniawinya.

waduk sermo (01)

Puas berkeliling dan berfoto-foto di sekitar waduk, kami pun segera beranjak ke destinasi selanjutnya, yakni Kalibiru yang terletak tidak seberapa jauh dari situ. Sebelum berangkat, Ajib sempat bertanya,

“Kita tidak naik perahu itu dulu, Pa?”

“Tidak usah ya. Kita cukup nikmati saja dengan melihatnya”

“Ok, kita lanjut lagi kalau begitu”

“Let’s goooo….!!!”

sebelumnya:

selanjutnya:

referensi:

5 comments on “Waduk Sermo; Pengorbanan Yang Tak Sia-Sia

  1. Cantiknya waduk itu ya uda. Semoga pengorbanan penduduk yang sekarang kampung halamannya jadi tempat air jadi amal jariyah, aamin.

    • Amiiin…. Insya Allah keikhlasan mereka, diganti oleh Allah dengan sesuatu yang jauh lebih baik

  2. suka ama foto2 terakhir… yang latarnya pegunungan.. bagus… :)

    iya ya uda, harus ada yang berkorban ya demi kepentingan bersama…

    • Terima untuk apresiasinya, Arman..

      Demi kepentingan bersama, tidak apa kalau kita sedikit berkorban. Tapi, kalau untuk kepentingan segelintir orang, yang itu pun demi pemenuhan nafsu duniawinya, aku rasa tidak perlu untuk dilakukan..

  3. fotonya keren dan luar biasa..mas
    saya sangat suka cerita pengalamannya
    menarik dan mudah dipahami
    salam kenal mas vizon, semga sukses selalu

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>