Sepak Kaleng, Permainan Seru Masa Lalu

Sekelompok bocah usia 8-12 tahun tampak bergerombolan di lapangan tak jauh dari rumah kami. Mereka berdiri membentuk lingkaran, menjulurkan tangan kanan masing-masing ke depan dan sama-sama berteriak, “hompimpah”.

“Fatih yang jaga”, teriak salah seorang dari mereka.

Seketika, bocah yang dipanggil Fatih itu pun berdiri di depan pecahan batu bata yang mereka tumpuk membentuk sebuah menara kecil.

menara bata

“Fatih, siaaaap?”, seru salah satu bocah tersebut.

“Siaaaaaap…!”, tak kalah keras si Fatih berteriak, “Tapi jangan banter-banter lho, Jib..!”.

Bocah yang rupanya bernama Ajib itu pun tak menunggu lama lagi. Dengan semangat membara, ditendangnya menara bata tadi sehingga berserakan ke berbagai penjuru. Saat itu juga, bocah-bocah lainnya berlari berhamburan, mencari tempat persembunyian paling cihuy agar tak ketahuan oleh Fatih.

Sementara itu, Fatih bergegas menyusun kembali pecahan bata tadi. Begitu tersusun, ia pun segera mencari teman-temannya yang tengah bersembunyi.

“Dikaaaa…!”, seru Fatih begitu melihat seorang temannya yang tengah bersembunyi. Yang disebut namanya itu pun berlari kencang, menyusul Fatih yang sudah lari duluan ke arah menara bata tadi. Begitu sampai, Fatih langsung menyentuh ujung tumpukan bata disertai pekikan gembira seolah tengah memenangkan sebuah perlombaan, “Dika ketangkaaap…!”

Berturut-turut kemudian ia berhasil menemukan teman-temannya.

“Dodi…!”

“Apin…!”

“Ajib…!”

“Yogi..!”

Tinggal satu orang lagi yang belum ditemukannya, Febri..!

Kelima bocah yang sudah ketangkap itupun berteriak memanas-manaskan suasana. “Ayo Feb, jangan nongol-nongol….!”, teriak mereka disertai tawa yang sangat riuh dan renyah.

Fatih berupaya keras mencari Febri sambil tetap waspada menjaga menara batanya agar tetap berdiri kokoh. Matanya awas menyapu setiap sudut lapangan. Dan tiba-tiba ia dikagetkan oleh suara gaduh karena seseorang berlari kencang ke arah menara batanya.

Owh… ternyata Febri keluar dari persembunyiannya, berlari secepat yang ia mampu dengan tujuan merubuhkan menara bata tersebut. Fatih pun tak mau kalah. Dipacunya langkah dan berlari sangat kencang, berupaya mempertahankan menara batanya.

Adegan kejar-kejaran itupun dimenangkan oleh Febri. Ia berhasil mendahului Fatih dan merubuhkan menara bata tersebut sehingga berserakan di mana-mana. Teman-temannya yang sudah tertangkap tadi, langsung bebas dan kembali mencari tempat persembunyian. Tinggal Fatih yang berupaya secepatnya menyusun kembali bata-bata tersebut.

Gerakan Fatih cukup lincah. Dalam sekejap ia sudah berhasil membangun kembali menara batanya. Dan, teman-temannya yang belum berhasil menemukan tempat persembunyian, tak ayal lagi, langsung jadi sasaran tangkapannya.

Aku tak bisa menahan tawa melihat permainan bocah-bocah itu. Mereka benar-benar menikmatinya. Keringat yang bercucur deras di sekujur tubuh, tak mereka hiraukan. Sepertinya, mereka tak mengenal kata “cape” dan “berhenti”. Mereka terus mengulangi-ulangi permainan tersebut hingga senja menjelang.

“Seru banget, Tih mainnya tadi”, sapaku ketika Fatih pulang ke rumah dengan badan yang super kotor karena bercampur keringat dan debu.

“Iyaaa…. seru bangeeet…”

“Papa juga ada permainan kayak gitu dulu”

“Oya? Pakai susun bata juga?”

“Iya… Tapi, lebih seringnya pakai kaleng”

“Kaaaleng…?”

“Iya.. kaleng bekas susu atau makanan lainnya”

“Cara mainnya?”

“Sama kayak Fatih tadi. Disusun, ditendang, trus sembunyi”

“Enakan mana pakai kaleng apa bata?”

“Kalau menurut Papa sih, enakan pakai kaleng”

“Kok..?”

“Kalau ditendang, kan rame, ada bunyinya. Kalau bata, nggak ada bunyinya, kurang seru”

“Iya juga ya… Besok Fatih mau pake kaleng juga ah..”

“Hehehe… sip…”

Sesaat kemudian…

“Pa, abis maghrib nanti, ke supermarket ya”

“Ngapain?”

“Beli susu kaleng 10 biji”

“Buat apa?”

“Ya buat diambil kalengnya lah, biar besok Fatih bisa main sepak kaleng

“Oalaaaaah…..”

(Papa tepok jidat)

 Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa

mama-calvin-&-bunda-salfa-giveaway

13 comments on “Sepak Kaleng, Permainan Seru Masa Lalu

  1. Whuaaa….aku pernah ngalamin juga tuh,
    Cuma kalo di itempatku, bukan sepak kaleng.
    Dari tadi mikir apaaa yaaa namanya doohh…
    *ntar merenung dulu Uda, ntar balik lagi hihii

  2. Anak saya bilang boy-boyan. Tapi dilempar pakai bola. Nanti sama yg jaga, bola dilempar ke temen2 yg lain. Jadi temen2nya ngga sembunyi. Dikejar2 biar kena lemparan bola.

  3. ha ha ha kreatif……beli susu…agar kalengnya bisa dipakai main sepak kaleng….
    selamat berlomba..smoga menjadi salah satu yang terbaik…
    keep happy blogging always…salam dari Makassar – Banjarbaru :-)

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>