Surga Menanti

Aku sama sekali tidak mengetahui tentang adanya sebuah film religi Islami terbaru yang tayang di bioskop mulai 2 Juni 2016 lalu kalau bukan diberitahu oleh istriku. Film tersebut berjudul Surga Menanti. Beberapa hari yang lalu, istriku tampak sedikit sibuk dengan perangkat komunikasinya. Sesekali menelpon, tak  lama kemudian berkirim sms ataupun chatting via BBM atau WA.

Setelah kutanya, barulah kutahu kalau istriku tengah berkoordinasi dengan wali murid kelasnya Fatih dan juga beberapa orang temannya di kelompok pengajian. Mereka berencana akan mengajak teman-teman sekelas Fatih dan juga anak-anak yatim yang ada di dekat sekolah mereka untuk nonton bareng film tersebut.

Rupanya, yang memotivasi istriku dan kawan-kawannya untuk melakukan nonton bareng adalah di samping karena tema filmnya menarik, juga karena keuntungan dari film ini diperuntukkan bagi kelanjutan proyek pengadaan Al-Quran braille bagi penghafal tuna netra di Indonesia. Pantaslah kalau ada sedikit motivasi lebih dalam menonton film ini.

Akhirnya, pada hari Minggu, 5 Juni 2016 yang lalu, nonton berjamaah itu pun terwujud. Aku dan keluarga pun ikut serta dalam kegiatan itu.

Poster-film-Surga-Menanti

Film ini berkisah tentang Dafa (Syakir Daulay) remaja yang bercita-cita menjadi seorang Hafizh Qur’an. Disaat keinginannya hampir tercapai, cobaan berat datang. Sang ibu, Humaira (Umi Pipiek Dian Irawati) mendapat vonis dokter menderita leukimia. Sang ayah, Yusuf (Agus Kuncoro) akhirnya meminta Dafa untuk pulang dan menemani ibunya yang dalam keadaan kritis. Demi baktinya pada ibunya, Dafa kembali kerumah dan sekolah di kampungnya. Babak baru kehidupan Dafa dimulai. Dengan segala cobaan yang dihadapi, Dafa pun berhasil mewujudkan cita-citanya, menjadi seorang penghafal Al-Quran.

Dari sinopsisnya sudah dapat diduga kalau cerita film ini bakal beruraikan air mata. Bagi yang mau menontonnya, bawa tissue yang banyak ya.. :D

Ada beberapa hal yang menarik menurutku dari film tersebut.

Pertama, tentang pemerannya. Syakir Daulay yang didapuk sebagai Dafa, tokoh sentral film ini, sangat berhasil mencuri perhatian. Kemampuannya melantunkan ayat-ayat Al-Quran dengan sangat indah, sungguh terasa luar biasa. Di samping itu, dia juga merupakan seorang santri yang tengah menghafal Al-Quran dan sudah mendapat 10 juz. Yang tak kalah menariknya adalah, penampilannya yang good looking. Sosok menantu ideal banget deh, hehe.. Tapi tidak hanya itu, kemampuannya beradu akting dengan aktor sekelas Agus Kuncoro, patut diacungi jempol.

Syakir Daulay

Kedua, tentang menghafal al-Quran. Dalam film ini, Dafa diceritakan bertetangga dengan Eben. Keduanya lahir di hari yang sama. Namun, keduanya dididik dengan cara berbeda. Orangtua Dafa mengarahkannya untuk menghafal al-Quran, sementara Eben diarahkan untuk menjadi artis. Terlihat kontras sekali kehidupan mereka. Namun, ketika Ibunya Eben (Della Puspita) mendapat kabar bahwa seorang tokoh di kampung itu akan memberi hadiah bagi anak-anak yang bisa hafal al-Quran, dia pun memaksa anaknya untuk ikut mengaji di masjid.

Poin ini sangat cerdas menurutku. Saat ini, tidak bisa kita pungkiri kalau gerakan menghafal al-Quran sudah mulai marak di tengah-tengah masyarakat. Mulai banyak kita temukan anak-anak penghafal al-Quran. Tentu ini sangat menggembirakan. Namun, tidak bisa dipungkiri pula bahwa itu lama-lama bisa menjadi trend atau gaya hidup. Akhirnya, kemurnian niat para penghafal tereduksi dan berubah menjadi materialistis. Cuplikan film ini memberi peringatan kepada kita untuk benar-benar meluruskan niat dalam menghafal al-Quran.

Ketiga, tentang lokasi. Pemilihan lokasinya cukup baik menurutku. Pemandangan alami yang disuguhkan, terlihat menawan. Meski bagi sebagian yang kenal dengan tempat-tempat itu, agak terasa janggal. Karena, secara nyata, masing-masing tempat itu berjauhan satu sama lain. Namun, di film ini, tempat-tempat itu dilihatkan cukup dekat, sehingga bisa ditempuh hanya dalam beberapa menit. Tapi, sungguhpun demikian, itu tidaklah mengganggu jalan cerita.

Secara keseluruhan, aku menilai film ini layak tonton bagi kita semua. Bukan hanya karena ceritanya yang mendidik, juga karena tujuan dari pembuatan film ini sendiri, untuk menggalang dana seperti yang kusampaikan di atas. Maka, dengan tujuan itu, tentu sangat layak jika sahabat menyempatkan untuk menonton bersama keluarga.. :)

One comment on “Surga Menanti

  1. jeli aja itu bisa dapat pemeran utama penghafal beneran dan cakep he..he..
    lokasi shooting di Jogja da? kok paham jaraknya

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>