Lihat Lawan Bicaramu

Dengan perasaan yang campur aduk dan mata setengah mengantuk, Roni melangkah menuju ruangan dosen pembimbingnya. Draft revisi skripsi yang digarapnya siang malam selama satu minggu terakhir, berada di pangkuannya dan dibawa dengan sangat hati-hati. Ia memperlakukan tumpukan kertas setebal 150 halaman tersebut bagaikan harta paling berharga dalam hidupnya.

“Assalamu’alaikum, Pak”, dengan suara tertahan Roni menyapa sang dosen begitu sampai di ruangannya.

“Wa’alaikumussalam”, sang dosen menjawab dengan tetap menatap layar monitor laptopnya. “Ada apa?”

“Ini skripsi saya yang sudah direvisi, Pak”

Sang dosen tidak segera menjawab, tetap sibuk menatap layar monitornya. Entah apa yang tengah dibacanya. Roni menunggu dengan penuh harap. Suasana hening.

“Maaf, Pak, bagaimana?” Roni mencoba memecah keheningan.

Sang dosen yang disapa spontan memalingkan wajahnya ke Roni. Hanya beberapa saat. Kemudian sang dosen kembali menatap layar monitornya.

“Taruh saja di situ, nanti saya baca”

“Gitu ya Pak.. Baik, terima kasih, Pak. Wassalamu’alaikum”.

Roni segera berlalu, tanpa menunggu salamnya dijawab oleh sang dosen. Ada sedikit kepedihan yang dirasa di hatinya. Buru-buru dia pacu kendaraannya, meninggalkan kampus tempat ia menimba ilmu tersebut. Marah bercampur kesal, berkecamuk di dadanya. Ia merasa diremehkan oleh dosennya itu, karena sang dosen tidak melihatnya ketika berbicara. Simpel dan remeh, tapi bekasnya terasa mendalam sekali di hati Roni.

“Mungkin bapak itu lagi sibuk menyelesaikan laporan yang harus segera diserahkan”, nasehatku kepada Roni ketika ia menumpahkan apa yang dia rasakan itu kepadaku.

“Aku maklum, Bang. Tapi, apa salahnya beliau berhenti sebentar, lantas melihat kepadaku dan berbicara. Tidak masalah bagiku kalau skripsi itu teronggok begitu saja di mejanya. Tapi, caranya berbicara kepadaku yang seolah tidak menghargai itu yang menyakitkan, Bang”, Roni menjelaskan dengan berapi-api, penuh emosi.

========================

Sahabat pernah mengalami peristiwa yang lebih kurang sama dengan Roni pada cerita di atas? Mungkin pernah ya.

Memang tidak nyaman rasanya, ketika kita mengajak seseorang berdialog, tapi tidak diperhatikan. Lawan bicara kita itu, tetap saja sibuk dengan apa yang ada di hadapannya, entah layar monitor, buku, ataupun gadget. Dialog terasa garing.

Perilaku semacam ini, adalah bagian dari kesombongan, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Quran surat Luqman ayat 18:

qs luqman 18-featured

وَلا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلا تَمْشِ فِي الأرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Luqman: 18)

Ayat ini merupakan kelanjutan dari rangkaian nasehat Luqman kepada anaknya, yang dimulai dari ayat keduabelas.  Pada ayat ke 18 ini, menerangkan tentang wasiat Luqman kepada anaknya, berkenaan dengan akhlak dan sopan santun berinteraksi dengan sesama manusia, yakni dengan jangan sekali-kali bersifat angkuh dan sombong, suka membangga-banggakan diri dan memandang rendah orang lain. Di antara tanda-tanda seseorang yang bersifat angkuh dan sombong itu ialah bila berjalan dan bertemu dengan orang lain, ia memalingkan mukanya, tidak mau menegur atau memperlihatkan sikap ramah kepada orang yang berselisih jalan dengannya.

Menurut Quraish Shihab, kata tusha’ir (تُصَعِّر) terambil dari kata al-sha’ru (الصعر) yaitu penyakit yang menimpa unta dan menjadikan lehernya keseleo. Orang yang sulit memalingkan wajah pada orang lain karena sombong, diumpamakan seperti leher unta yang keseleo, susah digerakkan karena sombong.

Ibnu Katsir mengatakan bahwa ayat ini berkenaan dengan etika berkomunikasi. Kalau dalam berkomunikasi kita berbicara jangan saling membuang muka, atau kita mendengar sambil mengalihkan pandangan. Sikap semacam ini merupakan bentuk penghinan dan ketakaburan. Seharusnya, berkomunikasi itu seperti yang diajarkan Rasulullah, yakni  ketika berbicara menghadapkan seluruh tubuhnya kepada lawan bicara. Jika kita berkomunikasi dengan etis, maka respon orang pun akan lebih positif. Demikian pula sebaliknya.

Kejadian dosen-mahasiswa di atas, adalah contoh kecil dari cara berkomunikasi yang perlu diperhatikan. Meski barangkali sang dosen tidak bermaksud meremehkan mahasiswanya, namun dengan tidak memperhatikan lawan bicara, itu telah menimbulkan ketersinggungan luar biasa. Menunjukkan sedikit penghargaan kepada orang yang tengah berbicara kepada kita dengan mellihatnya, adalah sebuah akhlak mulia yang patut dibiasakan.

Semoga bermanfaat.
Selamat Hari Jum’at.
Semoga berkah selalu.. :)

5 comments on “Lihat Lawan Bicaramu

  1. Dalam teknik komunikasi yang baik
    memang seharusnya kita menatap lawan bicara kita
    kalau kita sibuk. Tinggal lemparkan satu kalimat “Mohon maaf saya sedang sibuk sekarang, bisa kembali lagi nanti” (nggak sampai 1 menit rasanya)

    Terima kasih sudah diingatkan Uda

    Salam saya

    • Iya, Om.. Ini adalah masalah hati. Seseorang yang rendah hati, akan selalu mawas diri dan terpikir untuk meluangkan waktu barang beberapa detik memperhatikan lawan bicaranya.

      Terima kasih juga Om sudah membagikan link tulisan ini di FB.. :)

  2. Saya pernah ngalamin hal semacam itu… saya ajak ngobrol tapi tidak diperhatikan… jadi agak ga enak hati juga rasa nya.. :’)
    Kalau berbicara dengan orang lain memang lebih baik menatap orang yang diajak bicara biar sama- sama enak….

    Salam Uda Vizon… :)

  3. Kadang karena etika yang tidak diperhatikan bisa berujung pada petaka ya Da.
    Membaca tulisan ini saya jadi teringat pada tulisan di sebuah buku. Penulis menyindir orang yang shalat tapi pikirannya ke mana-mana akibat tidak paham apa yang kita ucapkan. Tindakan semacam itu adalah menghina Tuhan sebab seolah tidak menghargai orang yang diajak berkomunikasi dalam shalat. Menghadap Allah tapi pikiran ngelayap. Aduhai tersindir saya.

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>