Tidak Bisa Ke Wakatobi, Umbul Ponggok Pun Jadi

Hasrat hati ingin liburan ke Wakatobi, menikmati pemandangan bawah laut yang sungguh luar biasa. Apa daya, kemampuan dan kesempatan belum berpihak kepada kami. Namun, keinginan untuk menikmati pemandangan bawah air secara langsung, tetap menggelora.

Informasi tentang sebuah sumber mata air di Klaten, yang kabarnya memiliki pemandangan bawah air yang lumayan menarik, mengusik keingintahuanku. Kucari informasi lebih lanjut tentang itu. Dan, akhirnya kutemukan juga informasinya. Namanya adalah Umbul Ponggok.

Umbul Ponggok adalah sebuah sumber mata air yang terletak di desa Ponggok, kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, propinsi Jawa Tengah. Beberapa tahun yang lalu, kami pernah berkunjung juga ke sebuah sumber mata air di Klaten tersebut, yakni Umbul Cokro. Rupanya, penduduk Klaten cukup arif memanfaatkan sumber daya alam pemberian Sang Pencipta dengan menjadikannya obyek wisata. Sebuah upaya yang patut dipujikan.

Baca: Umbul Cokro

11 Juli 2016, pukul 7 pagi, kami berangkat dari Jogja, berharap bisa sampai di lokasi sekitar pukul 8. Sebab, sebelumnya aku sudah menghubungi seorang fotografer yang memang menyediakan jasa memotret di bawah air Umbul Ponggok. Aku mendapatkan informasinya dari website yang dia buat. Kami sepakat bertemu pada pukul 8 pagi di lokasi. Pemilihan jam tersebut memang atas rekomendasi si fotografer. Katanya, cuaca dan suasa di jam segitu sangat bagus untuk berfoto-ria di bawah air.

Ternyata jalanan Jogja-Solo pada hari itu cukup ramai, sehubungan dengan arus balik mudik lebaran yang masih berlangsung, sehingga kami cukup lama tersendat di perjalanan. Akibatnya, kami baru sampai di lokasi pada pukul 9. Walhasil, si fotografer sudah menganggap bahwa bookingan kami batal dan dia mengerjakan pesanan berikutnya.

Sebetulnya, tidak terlalu sulit bagi kami mencari lokasi Umbul Ponggok. Di samping membaca informasi dari internet, kami juga menggunakan GPS alias Gunakan Penduduk Sekitar, tinggal tanya-tanya, sampai deh, hahaha.. :D Namun, karena padatnya kendaraan di jalanan, membuat kami terlambat sampai di lokasi dan terpaksa membatalkan janji dengan sang fotografer.

Tapi kekecewaan itu tidak berlangsung lama. Tepat di depan Umbul Ponggok, terpampang spanduk besar yang menawarkan jasa pemotretan under water dengan harga yang persis sama seperti yang ditawarkan fotografer tadi. Maka, setelah memarkirkan kendaraan, kami pun segera memesan untuk difoto. Paket yang ditawarkan adalah Rp. 100.000 selama satu jam untuk enam orang. Kalau sahabat hanya bertiga, bisa ambil paket yang setengah jam dengan harga Rp. 60.000.

Sayangnya, karena kami bookingnya on the spot, jadinya dapat jadwal yang agak lama. Kami baru dapat giliran pada pukul 11 siang. Kebetulan, pengunjung lumayan ramai juga pada hari itu. Tak apalah, toh masih bisa main-main air dulu.

Kami pun segera memasuki area umbul, rasanya sudah tak sabar merasakan berenang di mata air alami tersebut. Kami dikenakan biaya masuk Rp. 15.000 per orang dan mendapatkan satu botol minuman dengan merek yang sudah cukup terkenal. Tidak tahu, apakah harga tersebut memang sehari-harinya segitu, atau khusus harga di masa liburan saja.

Memasuki arena umbul, tanpa menunggu lama, anak-anakku segera menceburkan diri ke dalam air. Mau tahu teriakan mereka pertama kali? Dingiiiiiin….! :D Ternyata, air umbul tersebut benar-benar alami dan bersumber dari dalam bumi, sehingga terasa sangat dingin tapi sungguh menyegarkan. Satu lagi, airnya juga cukup jernih, sehingga kita dapat melihat ke dasar kolam dari atas.

Tersedia di sana penyewaan alat-alat renang. Kami menyewa snorkel seharga Rp. 15.000/biji dan pelampung seharga Rp. 7.000. Lagi-lagi aku tidak tahu, apakah itu harga khusus di masa liburan atau bukan. Sebab, di beberapa website yang kubaca, harganya di bawah itu.

umbul ponggok-07DCIM100GOPROGOPR3763.

Akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu pun datang. Fotografer yang bertugas memotret mendatangi kami dan bersiap untuk melakukan pemotretan. Ada sedikit kekhawatiran, karena kami tidak jago-jago benar berenang, apalagi harus menyelam ke kedalaman kolam. Tapi kekhawatiran itu sirna. Sebab, sang fotografer sangat profesional dan bisa membantu kami untuk berani menyelam. Artinya, bagi sahabat yang tidak bisa berenang, jangan takut, semuanya akan aman terkendali.

Satu persatu kami difoto, dan beginilah hasilnya…

DCIM100GOPROGOPR3748.DCIM100GOPROGOPR3708.DCIM100GOPROGOPR3736.DCIM100GOPROGOPR3751.

Bagaimana? Lumayan keren bukan? :D

Sepeda yang kami gunakan itu merupakan properti tambahan. Fungsinya di samping sebagai penambah antiknyo foto, juga sebagai media pegangan ketika menyelam. Untuk menggunakan sepeda tersebut, kami dikenakan biaya tambahan sebesar Rp. 30.000. Sebetulnya ada properti yang lain, seperti sepeda motor, becak, ayunan, dll. Tapi kayaknya sepeda lebih eksotis, hehe.. :D

Setelah sesi berfoto selesai, kami pun membersihkan diri, shalat zuhur dan segera beranjak keluar untuk kembali pulang ke Jogja. Sebelum pulang, kami mampir ke konter foto tadi untuk membayar dan mengambil file foto-foto kami.

Aku cukup senang dengan pengalaman hari itu. Setidaknya, sensasi menyelam dan bercengkrama dengan ikan-ikan sudah pernah kurasakan. Namun, keinginan untuk ke Wakatobi, masih tersimpan dengan kuat di hati ini. Semoga saja bisa terwujud.

Terlepas dari itu semua, sekali lagi aku saluti usaha warga yang kreatif atas potensi desanya. Sebagaimana yang kuceritakan pada postingan sebelum ini tentang Tebing Breksi, warga Ponggok juga telah berlaku kreatif. Sumber daya alam yang mereka miliki, dengan sedikit kreatifitas dan memanfaatkan media informasi yang ada, desa mereka telah menjadi terkenal dan mendapatkan masukan finansial yang tidak sedikit. Sungguh, aku pujikan sekali hal tersebut.

13 comments on “Tidak Bisa Ke Wakatobi, Umbul Ponggok Pun Jadi

    • Terima kasih apresiasinya, Mas Robby..
      Ini adalah salah satu tempat liburan murah tapi mengasyikkan.. :)

  1. Weh? Kok kebetulan aku juga sedang bikin artikel tentang Umbul Ponggok Uda. Tapi terbitnya baru besok Minggu tanggal 31, hehehe.

    Memang lebih nyaman pakai jasa fotografer ya? Aku mencoba motret sendiri banyak kendalanya. Tapi aku nggak ikutan pose di dalam air, soalnya nggak berani nyelam. :D

    • Nggak sabar nunggu postingan Wijna tentang Umbul Ponggok..

      Sepertinya memang lebih enak kalau difoto sama profesional. Dia udah menguasai medan, sehingga tau harus bagaimana..

    • Momtraveler kudu berkunjung ke sana…
      Ayo, Mbak… rencanakan liburan ke Jogja dan Klaten.. :)

  2. Kalo properti nya tambahan jd cuma ditaruh situ pas mau foto doang ya? Gak kebayang kalo bawa motor atau becak gimana. Hehe. Kayaknya seru tuh kalo foto nya pake becak hahahaha.

    • Iya, Arman. Properti itu ditaruh kalau ada pemotretan saja. Karena sulitnya naruh sepeda motor dan becak, maka sewanya lebih mahal. Kalau nggak salah Rp. 100.000/properti. Kayaknya emang seru kalau pakai properti yg bermacam-macam.. :)

  3. Tempatnya keren juga dan lebih keren lagi bisa foto kaya gitu dibaah air. Oh iya, saya doakan kelak bisa ke WaKaToBi kampung halaman saya. Apalagi sampai ke kampung halaman saya pulau Tomia. Karena di sanalah spot menyelam paling banyak, seperti mari mabuk yang ada dibelakang SMA saya dulu.

    • Amiiiin… terima kasih doanya..
      Senang sekali kalau bisa ke kampung halamannya Arif suatu saat kelak. Makin senang lagi karena bakal ada teman di sana yang akan menemani bertualang.. :)

Tinggalkan Balasan ke momtraveler Batal Membalas

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>