Shalat Itu Berat?

Seorang sahabat yang akan melangsungkan pernikahannya, bertanya kepadaku tentang menjadikan seperangkat alat shalat sebagai mahar. Katanya, dari informasi yang ia dapat, sebaiknya tidak menjadikan benda-benda tersebut sebagai mahar, karena tanggung jawabnya berat.

Ini cukup menarik bagiku. Tanggung jawab seperti apa yang melekat di mahar berupa alat shalat tersebut sehingga ia menjadi begitu beratnya?

Menurut sahabatku itu, jika seorang perempuan meminta seperangkat alat shalat untuk maharnya, dan setelah pernikahan ia tidak menunaikan kewajiban shalat, maka konsekwensi yang ia terima akan double, yakni dosa karena meninggalkan shalat dan mengkhianati maharnya itu sendiri.

Ada dua hal menarik bagiku dalam obrolan ini.

Pertama tentang hakikat mahar. Sependek pengetahuanku, mahar itu adalah hak perempuan dan kewajiban laki-laki. Calon istri, berhak meminta dan menentukan jumlahnya. Tidak ada patokan tertentu dalam Islam tentang besaran mahar. Ukurannya adalah kemampuan calon suami.

Mahar bukanlah simbol, tapi sesuatu yang memiliki nilai ataupun harga. Oleh karenanya, ia boleh berupa benda atau jasa. Dalam bentuk jasa, bisa seperti menghafalkan beberapa surat al-Quran atau mengajarkannya dalam waktu tertentu. Dalam bentuk benda, hakikatnya adalah sesuatu yang bisa dimanfaatkan. Seperangkat alat shalat, masuk dalam kategori ini.

Tentang benda yang bisa dimanfaatkan, ini penting untuk diperhatikan. Belakangan, sering kita lihat, mahar itu berupa uang yang dimodifikasi. Biasanya, pasangan pengantin itu mengambil angka bersejarah mereka. Misal, tanggal pernikahannya 5 Agustus 2016, maka dibuatlah mahar berupa uang tunai sebesar Rp. 582.016. Lantas, lembar-lembar uang tadi dimodifikasi sedemikian rupa dan dibingkai dalam sebuah pigura.

Menurutku, mahar seperti ini adalah mubazir dan sebaiknya tidak dilakukan. Apa yang bisa dimanfaatkan dari uang yang telah dipigura itu selain sebagai pajangan? Mahar adalah harta bagi istri, bukan simbol bagi hubungan suami dan istri. Maka, berikanlah sesuatu yang memang memiliki nilai atau harga dalam mahar.

Kedua tentang shalat. Ini yang paling menarik menurutku dari obrolan dengan sahabat tadi. Katanya, mahar berupa seperangkat shalat itu tanggungjawabnya berat. Yakni, harus konsekwen dengan ibadah shalat yang disimbolkan melalui mahar tersebut.

Mengapa ini menarik? Karena ternyata, bagi kawanku itu, ibadah shalat adalah sesuatu yang berat. Dengan berseloroh kutanyakan padanya, “Seberapa berat sih shalat itu? Lima ton ya?” :D

Sesungguhnya, shalat itu bukanlah ibadah yang berat. Toh kita hanya perlu meluangkan waktu tidak lebih dari 5-10 menit untuk menunaikannya. Gerakannya pun tidak ada yang rumit. Memangnya yoga yang harus melipat-lipat anggota tubuh dalam gerakannya? ;)

Jadi, apa yang memberatkan?

Jawabannya, hati.

Ya.. hati kita yang memberatkannya. Hati yang tertutup oleh godaan duniawi, akan merasakan bahwa shalat itu sesuatu yang berat untuk dilakukan. Kesibukan pekerjaan atau kesempitan waktu seringkali jadi kambinghitamnya.

Dalam al-Quran surat Al-Baqarah ayat 45-46 Allah swt berfirman:

albaqarah ayat 45-46

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَةِ وَإِنهَّاَ لَكَبِيْرَةٌ إِلاَّ عَلَى الخَاشِعِيْنَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ أَنَّهُمْ مُلاَقُوْا رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ

Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya

Hati yang khusyuk, yang memahami hakekat shalat, tidak akan merasakan kalau shalat itu berat. Justru, hati yang khusyuk, akan merindukan saat-saat untuk shalat. Khusyuk adalah keadaan yang mana hati kita sejalan dengan pikiran dan gerakan yang dilakukan. Orang yang khusyuk, sadar sepenuhnya dengan apa yang dia lakukan, apa maksud dan tujuan dari ibadahnya tersebut. Dan orang yang khusyuk, akan sangat menikmati saat-saat pertemuannya dengan Tuhan-Nya, di dalam shalatnya.

Maka, mengapa harus menjadikan shalat itu sebagai sesuatu yang berat?

Semoga bermanfaat.
Selamat Hari Jum’at.
Semoga berkah selalu.. :)

5 comments on “Shalat Itu Berat?

  1. Faktanya memang tak sedikit yan gmerasa berat menegakkan shalat.
    Pengantin, pager ayu, penerima tamu yang sudah berhias sejak jam 15.00 mungkin enggan berwuchu lagi karena takut merusak dandannya.
    Jika mereka tahu pahala sholat isya dan Subuh berjamaah pasti mereka akan mau saja merangkak menuju mushola atau masjid.
    terima kasih pencerahannya.
    Salam hangat dari Surabaya

  2. Semoga shalat jadi kebutuhan kita, sehingga tidak lagi akan meninggalkan atau melakukannya setengah hati. *semangat buat diri sendiri*
    Terima kasih sudah berbagi, uda.

  3. sholat sih wajib hukumnya ya Udah bukan cuma untuk mahar :)
    PErnah dengar juga soal mahar ini waktu di pengajian katanay minta yang bernilai tapi dengan catatan sesuai kemampuan ya. tenang aja mahar saya ga berbentuk uang dalam pigura kok :)

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>