Pintar vs Cerdik

Dalam liburan akhir tahun lalu, salah satu permainan yang cukup menyita perhatian adalah rubik. Tentu sahabar sudah tahu permainan rubik tersebut bukan? Permainan ini sudah cukup lama, namun tetap menarik untuk dimainkan sampai kapan pun juga. Sampai sekarang, aku masih belum bisa memainkannya.

Satira yang pertama kali memulai kehebohan ini di rumah. Secara mengejutkan, ia menunjukkan keahliannya bermainan mainan berbentuk kubus tersebut. Tidak kurang dari tiga menit, ia sudah berhasil menyusunnya. Ternyata, di pesantrennya, permainan ini lagi ngehits. Hampir semua teman-temannya memainkannya. Senang juga melihat jari-jarinya dengan lincah memutar dan membolak-balikkan kotak-kotak kecil warna-warni itu.

Penasaran, aku pun menanyakan trik memainkannya. Dengan penuh semangat, Satira┬ábersedia mengajarkannya. Pelan-pelan kuikuti instruksinya. Wuiih… ternyata rumit juga. Ada rumusnya, rupanya. Dan rumus itu, lumayan rumit. Perlu keseriusan dan ketekunan untuk bisa menghafalkan dan mengaplilkasikan rumus-rumus itu dalam permainan tersebut.

rubik

Baru kupahami sekarang, bahwa permainan itu ternyata ada rumus yang musti dipahami agar bisa berhasil. Selama ini, kukira hanya permainan biasa tanpa ada rumus. Benar juga kata orang-orang bijak bahwa segala sesuatu itu ada ilmunya. Tanpa ilmu, kita akan tersesat di belantara ilmu pengetahuan. Untuk itu, menjadi pintar adalah sebuah keniscayaan. Dengan ilmu, seseorang akan menjadi pintar. Ah.. ternyata aku kalah pintar dengan anak-anakku sendiri. Yo wis, rapopo.. :)

Ajib dan Fatih pun giat berlatih untuk bisa menyaingi kemampuan Satira.

“Ayo, siapa yang bisa ngalahin Uni, bisa kurang dari 3 menit, tak kasih hadiah”.

Ditantang seperti itu, tentu membuat semangat mereka menggelora. Namun, lama-lama mereka pun mulai bosan dan beralih ke permainan yang lain. Ah… dasar anak cowok, nggak sabaran.. :D

Tetiba Fatih mendekatiku dan membisikkan sesuatu. Akupun setuju dengan apa yang dimintanya. Maka, jadilah video seperti ini..

Di video ini, Fatih menunjukkan kalau dia berhasil menyelesaikan permainan tersebut kurang dari satu menit!

Mau tahu reaksi Satira demi melihat video ini? Tentu saja dia tidak percaya.

“Masak sih Fatih bisa secepat itu?”

“Ya bisalah… kan pinter…”, jawab Fatih dengan ekspresi tabokable. :D

Satira pun penasaran. Dicobanya menyelesaikan rubik itu dengan cepat. Namun, tetap saja belum bisa kurang dari satu menit. Rasa penasarannya terus bertambah. Dia coba lagi, lagi dan lagi. Akhirnya akupun kasihan melihatnya.

“Udah lah Tira.. Nggak usah penasaran gitu napa?”

“Abis geregetan melihatnya. Kok bisa Fatih secepat itu”

“Hehehe… dengerin ya Tir.. Jadi pintar memang perlu, tapi kita juga harus cerdik. Sebab, seringkali orang pintar dikalahkan oleh orang cerdik”

“Maksud Papa, Fatih itu cerdik?”

“Iya.. dia kan pakai aplikasi reverse di tab Papa”

“Apaan tuh?”

“Itu lho, aplikasi merekam video, kemudian memutarkan dengan cara terbalik, yakni dari belakang ke depan. Jadi, tadi itu, dia memulai dengan rubik yang sudah tersusun rapi, kemudian dia acak-acak. Dengan aplikasi itu, videonya diputar mulai dari belakang; dari yang acak-acakan sampai ke bagian depan yang sudah tersusun rapi. Begitu…”

“Oalaaaaah…. Dasar Fatiiih….”. :D :D :D

“So.. biar nggak gampang dikacangin, di samping jadi pintar, kita pun harus cerdik ya…”

11 comments on “Pintar vs Cerdik

  1. Orang cerdik lebih berhasil karena mengguanakan otak kanan (kreatif). Sementara orang pintar berbuat sesuai aturan baku.
    Sekarang banyak orang cerdik memakan orang si pintar, hehehe…

  2. hahaha bener tuh cerdik… :)

    pas pertama kali saya ngasih liat rubik ke emma dan ngasih tau maksudnya gimana. dia bilang, kenapa gak stiker nya aja yang dilepas trus ditempel biar semuanya sama? hahaha

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>