3 Catatan dari Film Iqro

Ada tiga hal yang ingin kubagikan di sini, selepas menonton Iqro, Petualangan Meraih Bintang, sebuah film yang diproduksi oleh Masjid Salman ITB dan Salman Film Academy, yaitu:

1. Review

Ini merupakan film anak-anak yang layak tonton. Berikut sinopsisnya yang kukutip dari laman resmi film tersebut:

iqro posterAqila (9 tahun) adalah anak yang sangat gandrung pada sains namun kurang punya minat belajar Al Qur’an.  Aqila memiliki seorang kakek yang berprofesi sebagai astronom dan tinggal di Pusat Peneropongan Bintang Boscha.

Aqila bermaksud membuat tugas sekolahnya yang berhubungan dengan astronomi, Kakeknya memberi izin pada Aqila untuk menggunakan teropong bintang di Boscha untuk menyelesaikan tugasnya, namun dengan satu syarat: Aqila harus bisa membaca Al Qur’an. Aqila menyanggupinya.

Saat di rumah kakeknya Aqila bertemu Ros, anak dari seorang pembantu di sana. Ros mengajaknya bermain di sebuah masjid.  Di masjid inilah Aqila belajar membaca Al Qur’an dengan metode Iqro, yang fun, berirama dan dibawakan secara ringan

Pengalaman Aqila belajar Al Qur’an dan teladan dari kakeknya Inilah yang menggugah mata hatinya, tentang kebesaran Allah SWT yang menciptakan alam semesta

Film ini sarat informasi dan pengetahuan yang patut diketahui oleh kita semua, terutama anak-anak. Dialog-dialog yang cerdas dan bernas terlontar dengan manisnya. Sebagai contoh, ketika sang Oma (Neno Warisman) menjelaskan kepada Aqila (Aisha Nurra Datau) hubungan bangun subuh dan kecerdasan. Dengan bahasa anak-anak, sang Oma pun mengatakan bahwa di pagi hari, otak kita masih segar, sehingga dengan mudah bisa menerima pengetahuan. Belajar di subuh hari, akan mendapat lebih banyak pemahaman, ketimbang siang hari. Jika ingin lebih pintar, maka rajin-rajinlah bangun pagi.

Materi yang disampaikan sang Oma mungkin terasa biasa bagi kita. Tapi, akan lain rasanya, bila kita melihat bagaimana cara Oma menyampaikannya. Agaknya, ini bisa menjadi pembelajaran bagi kita para orangtua, bagaimana berdialog yang baik dengan anak. Kata orang-orang bijak, metode lebih penting daripada materi. Seberat apapun materi pembelajaran, bila disampaikan dengan cara yang menarik, akan terasa ringan. Film ini mengajarkan kita akan hal tersebut.

Secara keseluruhan, film ini menarik dan bagus. Hanya saja, jalan cerita terasa lambat dan konfliknya kurang gereget. Tapi, menurutku itu sah-sah saja, karena yang disasar adalah anak-anak. Bila konfliknya terlalu berat, tentu akan sulit untuk dicerna oleh mereka. Namun, bila dibandingkan dengan Petualangan Sherina, film ini masih belum bisa disejajarkan.

Yang menarik juga adalah para aktor kawakan yang membintangi film ini. Ada nama-nama besar seperti Cok Simbara, Neno Warisman, dan Meriam Bellina. Jam terbang mereka memang tidak diragukan lagi. Akting mereka benar-benar top markotop. Dan, sebagai pendatang baru, akting Aisha Nurra Datau yang berperan sebagai Aqila, juga patut diperhitungkan.

2. Impresi

Meski konflik di dalam film ini tidak terlalu berat, namun ada beberapa adegan yang memberikan kesan mendalam bagiku. Salah satunya adalah ketika Profesor Widodo, Opa-nya Aqila yang diperankan Cok Simbara, mendapat sandungan berat dalam karirnya sebagai Kepala Pusat Peneropongan Bintang Boscha. Pemerintah Pusat memutuskan untuk menutup observatorium tersebut karena sudah tidak produktif lagi menghasilkan penelitian di bidang astronomi. Karena tidak imbang antara anggaran yang disediakan dengan output yang dihasilkan, maka fasilitas penelitian bintang tersebut selayaknya ditutup.

Profesor Widodo dan timnya bukan tidak memiliki alasan. Masalah utama yang mereka hadapi adalah sudah semakin parahnya polusi cahaya di sekitar Boscha. Yakni, gemerlap lampu yang dihasilkan mulai dari rumah-rumah penduduk sampai konser musik yang menembakkan cahayanya ke langit Lembang. Hal tersebut, membuat pengamatan bintang jadi terhalang. Suasana yang gelap, sangat dibutuhkan untuk menghasilkan pengamatan bintang yang maksimal.

Ini pun semakin diperparah dengan didirikannya sebuah hotel berbintang yang terletak hanya beberapa ratus meter dari Boscha. Secara aturan, pembangunan di sekitar situ memang dilarang. Tapi, apa yang tidak bisa dilakukan bila penguasa dan pengusaha bersekongkol? Ilmu pengetahuan, sama sekali tidak berdaya bila berhadapan dengan dua kekuatan ini.

Kemarahan dan kesedihan yang ditunjukkan oleh Profesor Widodo ini ngena banget. Sebagai akademisi, aku paham betul bagaimana rasanya sebuah idealisme yang lahir dari ilmu pengetahuan, tidak memiliki arti apa-apa ketika berhadapan dengan kepentingan pengusaha dan penguasa. Keserakahan dan kesewenang-wenangan, melumat habis semuanya.

Film ini dengan apiknya mempertontonkan ini semua.

3. Nobar

Awalnya, aku tidak mengetahui adanya film ini. Sepertinya film ini digarap dengan dana minim, sehingga nyaris tidak ada iklan di media massa. Aku justru tahu dari istriku yang rada sibuk mengurusi nobar (nonton bareng) film ini. Ada dua kali kegiatan nobar yang dilaksanakan. Pertama, nobar Fatih dan teman-teman sekelasnya (kelas 6 SDIT Al-Khairaat Yogyakarta), plus orangtua/wali murid, serta guru-guru. Kedua, nobar bagi anak-anak yatim yang didanai secara patungan oleh beberapa donatur.

nobar film iqro

Nobar dengan Fatih dan teman-temannya benar-benar bikin repot, sekaligus seru. Betapa tidak? Mereka adalah sekelompok anak kelas 6 SD yang mulai beranjak remaja. Energi mereka tidak ada habisnya. Mereka bergerak terus kian kemari. Pokoknya suasana bioskop dibikin heboh. Dan yang paling seru adalah, ketika film sudah berjalan separuh, Mereka yang tadinya duduk manis menonton, satu persatu mulai bikin keributan. Entah apa yang dibicarakan.

Mulanya satu-dua orang anak, kemudian menular ke yang lain, dan akhirnya hampir semua mereka sibuk ngobrol sendiri-sendiri. Tentunya hal tersebut membuat suasana bioskop sedikit gaduh dan mengganggu penonton yang lain. Aku jadi geli sendiri melihat itu semua. Seolah ada dua film yang tengah kutonton; film Iqro dan film keusilan Fatih dkk… :D

nobar-02

Kalau nobar kedua, justru meninggalkan keharuan di hati. Kami mengajak anak-anak yatim yang berjumlah 60 orang. Mereka sangat tertib. Ibu panti benar-benar telah mendidik mereka dengan baik. Aku salut sekali. Anak-anak dengan beragam usia dan latarbelakang itu, bisa dengan mudah diatur, tidak berkeliaran ke sana kemari.

Namun, ada satu adegan yang cukup mengharukan. Seorang anak yang berusia sekitar 4 tahun, menangis di gendongan salah seorang guru pembina. Setelah kutanya, rupanya si anak kepengen bermain di arena permainan yang ada dekat bioskop tersebut. Beberapa anak yang berusia sedikit lebih besar, membantu menenangkan.

Duh.. makjleb banget rasanya. Anak-anak itu begitu sadar akan keterbatasan mereka, namun hasrat bermain sebagaimana anak-anak yang memiliki orangtua lengkap pun tetap ada. Rasanya aku ingin mengajak anak itu bermain ketika itu juga. Namun, langsung aku urungkan niat itu. Bagaiaman perasaan anak-anak yang lain jika hanya satu anak itu saja yang kuajak? Kalaupun yang lainnya juga kuajak, danaku tidak memungkinkan untuk itu. Ah.. semoga suatu saat kami bisa mengajak mereka bermain.. Aamiin..

3 comments on “3 Catatan dari Film Iqro

  1. Udaaaa, cerita di paragraf terakhir bikin mrebes mili. Aamiin, semoga suatu saat uda sekeluarga bisa mengajak anak2 itu bermain di sana ya..

Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jawab dulu ya pertanyaan di bawah ini sebelum kirim komentar, biar tidak dianggap spam.. :) *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>