<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SURAU INYIAK &#187; bunga rampai</title>
	<atom:link href="http://hardivizon.com/category/bunga-rampai/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hardivizon.com</link>
	<description>just another way to know</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Jul 2010 03:58:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>mereka itu, para ibu!</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/07/22/mereka-itu-para-ibu/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/07/22/mereka-itu-para-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 13:32:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[bunga rampai]]></category>
		<category><![CDATA[cut tari]]></category>
		<category><![CDATA[hawa nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[infotainment]]></category>
		<category><![CDATA[kasus artis]]></category>
		<category><![CDATA[krisdayanti]]></category>
		<category><![CDATA[raul lemos]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1833</guid>
		<description><![CDATA[Kaget sekali aku melihat secara sepintas tayangan sebuah infotainment hari ini. Di situ terlihat Krisdayanti berangkulan mesra dengan Raul Lemos. Dan yang tak kalah mengagetkan adalah adegan ciuman bibir antara keduanya, diperlihatkan di depan puluhan wartawan, yang tentunya disiarkan ke seantero jagat!. Kekagetanku berubah menjadi kegeraman, tatkala sang diva berujar kalau dia tidak peduli bila [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F07%2F22%2Fmereka-itu-para-ibu%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/07/say-no-to-kd.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1834" title="say no to kd" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/07/say-no-to-kd-300x208.jpg" alt="" width="300" height="208" /></a>Kaget sekali aku melihat secara sepintas tayangan sebuah infotainment hari ini. Di situ terlihat Krisdayanti berangkulan mesra dengan Raul Lemos. Dan yang tak kalah mengagetkan adalah adegan ciuman bibir antara keduanya, diperlihatkan di depan puluhan wartawan, yang tentunya disiarkan ke seantero jagat!.</p>
<p style="text-align: justify;">Kekagetanku berubah menjadi kegeraman, tatkala sang diva berujar kalau dia tidak peduli bila semua orang membencinya, yang penting Allah sayang. Argh&#8230; ini benar-benar bikin geram&#8230;! Mana mungkin Allah menyayangi hambaNya, yang jelas-jelas melanggar aturanNya? Bukankah bermesra-mesraan dan bahkan berciuman antara manusia yang tidak terikat pernikahan adalah sebuah perbuatan yang dilarang? Aih&#8230; logikanya benar-benar tidak nyambung!</p>
<p style="text-align: justify;">Tingkah polah artis belakangan ini memang sudah sangat kebablasan. Mereka sudah sangat silau dengan popularitas. Mereka sepertinya sudah menganggap hidup ini hanya untuk hari ini, tidak untuk hari esok. Mereka juga sepertinya hanya berpikir, kalau hidupnya hanya untuknya, tidak peduli dengan orang-orang yang terkait dengannya; orangtua, anak, kakak, adik, dsb..<span id="more-1833"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Aku ingin menyoroti Krisdayanti (KD) dan Cut Tari (CT). Mereka berdua adalah seorang ibu bagi anak yang dilahirkan dari rahimnya. Idealnya, seorang ibu memberikan porsi yang benar-benar penuh untuk anaknya, berupa kasih-sayang, pendidikan dan panutan. Ketiga hal inilah yang sesungguhnya menjadi penyebab seorang ibu itu menduduki posisi istimewa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam salah satu hadisnya, Nabi Muhammad berkata ketika ditanya tentang siapa yang lebih berhak untuk dimuliakan. Beliau berujar: ibumu, ibumu, ibumu, ayahmu. Artinya, porsi ibu adalah tiga berbanding satu dengan porsi ayah. Tentu saja Nabi tidak sembarang ucap. Hal itu berdasarkan peran ideal ibu pada diri anaknya, sehingga pantas dia diberi porsi lebih seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, dalam kasus KD dan CT, apakah porsi seperti itu masih pantas dilekatkan kepada mereka? Aku tidak hendak menghakimi, tapi aku ingin mengajak kita bercermin dari kasus mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi kita yang sudah berumahtangga dan memiliki anak, apalagi sebenarnya yang kita pikirkan selain menyukseskan keluarga yang kita bina? Kesuksesan keluarga yang dimaksud adalah terciptanya keluarga yang harmonis; lahir dan batin. Itu semua, hanya bisa diraih melalui kesetiaan dan totalitas. Seorang ayah atau ibu, seperti yang pernah kutulis  dalam &#8220;<a href="http://hardivizon.com/2009/12/08/milikku-seperenam/" target="_blank">milikku seperenam</a>&#8220;, seyogyanya tidak lagi memikirkan kebahagiaan dirinya semata. Mereka harusnya secara total memikirkan tentang kebahagiaan anak-anaknya, dan menyingkirkan egonya secara individu.</p>
<p style="text-align: justify;">KD dan CT adalah contoh ketidaktotalan seorang ibu dalam membahagiakan anak-anaknya. Mereka terjerumus dalam jeratan hawa nafsu sesaat. Akibat ketidakmampuan mengendalikan nafsu tersebut, merekapun terpuruk dan terhinakan. Tidakkah mereka sadar, bahwa perbuatan mereka itu suatu saat akan berdampak besar bagi anak-anaknya? Bukan tidak mungkin, di lingkungannya, anak-anak mereka akan mendapatkan olok-olokan dari teman-temannya. Sungguh kasihan!</p>
<p style="text-align: justify;">Kasus-kasus semacam ini, biangnya adalah ketidakmampuan manusia mengendalikan hawa nafsunya. Sesungguhnya, Tuhan menganugerahi kita akal tujuannya adalah untuk mengendalikan nafsu, sehingga tidak terperosok ke jurang kenistaan yang dalam. Allah berfirman dalam Al-Qur&#8217;an surat Al-A&#8217;raf ayat 179 bahwa derajat seorang manusia yang memperturutkan hawa nafsunya itu sama seperti hewan, bahkan lebih rendah lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, mari selaraskan antara akal dan nafsu&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">.</p>
<address>foto diambil dari page facebook &#8220;<a href="http://www.facebook.com/sayno2kd" target="_self">say no to kd</a>&#8220;</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/07/22/mereka-itu-para-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>11 juli</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/07/11/11-juli/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/07/11/11-juli/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 06:24:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[bunga rampai]]></category>
		<category><![CDATA[11 juli]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[ulangtahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1823</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, 11 Juli 2010, genap satu tahun aku menggunakan domain http://hardivizon.com ini. Seperti yang pernah kuceritakan di awal peluncurannya, tanggal itu sengaja kupilih untuk memudahkanku mengingatnya, karena berbarengan dengan hari kelahiranku. Sehingga, setiap kali aku memperingati hari kelahiran, setiap itu pulalah aku memperingati hari jadinya blog ini. Selama setahun ini, aku merasakan penurunan intensitas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F07%2F11%2F11-juli%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Hari ini, 11 Juli 2010, genap satu tahun aku menggunakan domain http://hardivizon.com ini. Seperti yang pernah kuceritakan di <a href="http://hardivizon.com/2009/07/11/surau-baru/" target="_blank">awal peluncurannya</a>, tanggal itu sengaja kupilih untuk memudahkanku mengingatnya, karena berbarengan dengan hari kelahiranku. Sehingga, setiap kali aku memperingati hari kelahiran, setiap itu pulalah aku memperingati hari jadinya blog ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama setahun ini, aku merasakan penurunan intensitas tulisan di blog, terutama di beberapa bulan terakhir. Dan tidak hanya itu, kunjunganku ke beberapa blog sahabat juga sangat jauh berkurang. Persoalannya memang sungguh klasik, tapi memang itulah yang terjadi. Tuntutan untuk menyelesaikan studi menuntutku untuk memberikan porsi yang lebih dalam fokus. Oleh karenanya, aku mohon maaf kepada sahabat narablog semua, jika kunjunganku sangat jarang ke blog anda masing-masing. Tapi percayalah, aku sungguh merindukan untuk tetap bertegur sapa..</p>
<p style="text-align: justify;">Pepatah kuno yang mengatakan: &#8220;<em>Seribu sahabat tidak pernah cukup, satu musuh sudah lebih dari cukup</em>&#8220;, sungguh sangat aku rasakan manfaatnya. Di saat kelelahan merayapi hati dan raga ini, berkunjung ataupun bertegur sapa dengan seorang sahabat sangatlah ampuh menjadi pengobatnya. Hal itu sangat aku rasakan hari ini.<span id="more-1823"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini, aku baru sampai di rumah pukul 03 dini hari dari perjalananku ke Jawa Timur. Setelah shalat Subuh, akupun tidur untuk membayar kelelahan akibat perjalanan. Belum lama mata ini terpejam, bertubi-tubi sms masuk ke ponselku. Dengan setengah sadar, kubuka satu persatu sms itu. Semuanya dari sahabat-sahabat terbaikku. Isinya adalah ucapan selamat ulangtahun. Bahagia sekali rasanya. Meski kantukku cukup berat, tapi kuusahakan untuk tetap membalas seluruh sms yang masuk, sampai akhirnya aku benar-benar menyerah dengan kantuk. Akupun tertidur dan membiarkan ponselku berdering tanpa sanggup kurespon.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 08.30 aku bangun. Setelah mandi dan menyeruput kopi hangat buatan istri tercinta, kubuka laman fesbuk. Wuih&#8230; ternyata dinding fesbuk-ku sudah penuh dengan ucapan selamat ulangtahun dari sahabat-sahabat terbaikku. Belum lagi usai keterkejutanku dengan ucapan yang sangat banyak itu, istri dan anak-anakkupun datang berhamburan kepadaku. Satu persatu mereka memeluk dan menciumku. Aih&#8230; berjuta rasanya&#8230; Tak ada hadiah yang terindah selain itu. Sungguh, aku merasa bahagia dan beruntung sekali memiliki mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sahabat&#8230; terima kasih atas ucapan dan doa penuh ketulusan yang disampaikan kepadaku pada hari ini. Tiada yang dapat kuungkapkan kecuali kesyukuran yang luar biasa karena memiliki sahabat-sahabat luar biasa. Tak terperikan bahagiaku&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, aku berharap, semoga di sisa umurku yang entah akan berapa lama lagi ini, aku tetap dapat memberikan yang terbaik bagi keluarga, orangtua dan sahabat-sahabatku.</p>
<p style="text-align: justify;">Terima kasih semuanya&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/07/11/11-juli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>aura keikhlasan</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/05/15/aura-keikhlasan/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/05/15/aura-keikhlasan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 02:41:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[bunga rampai]]></category>
		<category><![CDATA[ahmad fuadi]]></category>
		<category><![CDATA[kh. hasan abdullah saha]]></category>
		<category><![CDATA[kick andy]]></category>
		<category><![CDATA[negeri 5 menara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1740</guid>
		<description><![CDATA[Ada banyak perasaan yang berkecamuk di diri ini setelah menonton sahabatku Ahmad Fuadi dan novelnya Negeri 5 Menara di acara Kick Andy, Jum&#8217;at 14 Mei 2010, kemarin. Ada bangga, haru, sekaligus khawatir. Kebangganku tentu saja atas pencapaian Fuadi dalam hidupnya. Pencapaian yang kumaksud bukan ketenaran yang kini ia peroleh, tapi lebih kepada manfaat yang ia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F05%2F15%2Faura-keikhlasan%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-1741" title="n5m di kickandy" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/05/n5m-di-kickandy-233x300.jpg" alt="n5m di kickandy" width="163" height="210" />Ada banyak perasaan yang berkecamuk di diri ini setelah menonton sahabatku <a href="http://negeri5menara.com/" target="_blank">Ahmad Fuadi</a> dan novelnya Negeri 5 Menara di acara <a href="http://kickandy.com/theshow/2010/05/14/1880/1/1/1/NEGERI-5-MENARA" target="_blank">Kick Andy</a>, Jum&#8217;at 14 Mei 2010, kemarin. Ada bangga, haru, sekaligus khawatir.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebangganku tentu saja atas pencapaian Fuadi dalam hidupnya. Pencapaian yang kumaksud bukan ketenaran yang kini ia peroleh, tapi lebih kepada manfaat yang ia tebar ke semua khalayak. Pengalaman hidup yang ia bagi telah mampu menginspirasi banyak orang. Melalui tulisannya, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik, mulai dari ketaatan terhadap orangtua hingga kesungguhan dalam meraih cita-cita. Dengan demikian, ia telah benar-benar menerjemahkan makna &#8220;<em>Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya</em>&#8221; dalam hidupnya. Ini yang benar-benar membuatku bangga.</p>
<p style="text-align: justify;">Keharuanku muncul ketika melihat dua orang yang menjadi inspirasi utama Fuadi dalam novelnya, yaitu KH. Hasan Abdullah Sahal dan Amak, ibunda Fuadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti yang pernah kuceritakan dulu, <a href="http://hardivizon.com/2010/02/19/motto-pembelajar/" target="_blank">Pak Hasan adalah salah satu guru idolaku.</a> Beliau begitu banyak memberi inspirasi bagiku. Dalam tayangan tersebut, kembali beliau memberikan guyonan cerdas, namun bermakna dalam. Kata beliau: &#8220;<em>Jika menjadi guru, jadilah guru yang baik. Jika menjadi polisi, jadilah polisi yang baik&#8230;..</em>&#8220;. Sebenarnya, kalimat itu sudah sering aku dengar ketika nyantri dulu, tapi entah kenapa, begitu mendengarnya lagi kali ini, ada aliran hawa sejuk di hatiku. <span id="more-1740"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kalimat sederhana beliau itu sesungguhnya memuat konsekwensi yang tidak mudah. Untuk menjadi yang terbaik di bidang kita, dibutuhkan sebuah penghayatan yang mendalam. Jika sekedar menjalankan peran tanpa penghayatan akan hakikat dan fungsinya, niscaya hanya akan menghasilkan sesuatu yang sia-sia atau bahkan merusak. Penghayatan itu akan bisa dilakukan jika kita ikhlas menjalaninya.</p>
<p style="text-align: justify;">Amak  Fuadi dalam dialognya menunjukkan betapa beliau tidak sekedar menginginkan yang terbaik bagi anaknya, tapi juga mengusahakannya secara maksimal, diikuti dengan doa yang tiada pernah putus. Beliau tampak begitu tulus mengantarkan anaknya ke gerbang kesuksesan. Terlihat bahwa ternyata beliau telah memiliki konsep yang jelas buat anaknya sejak awal.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah melihat acara itu secara utuh, menyimak dialog demi dialog, serta merta muncul kekhawatiran dalam diriku. Akankah aku bisa menjadi manusia bermafaat bagi sesama? Dapatkah aku berbuat sesuatu yang terbaik dalam setiap peranku? Dan yang terpenting, mampukah aku menjalankan semuanya dengan penuh keikhlasan seperti yang ditunjukan Pak Hasan dan Amak&#8230;. ? Semoga saja&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/05/15/aura-keikhlasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>there&#8217;s no free lunch</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/04/23/theres-no-free-lunch/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/04/23/theres-no-free-lunch/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Apr 2010 01:57:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[bunga rampai]]></category>
		<category><![CDATA[arti sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[pamrih]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat sejati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1687</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Tidak ada makan siang gratis!&#8221;, berulangkali sahabatku itu mengatakannya di hadapanku dan beberapa sahabat dalam sebuah perjumpaan. &#8220;Jika hari ini kamu membayarkan makanku, artinya besok atau lusa, akupun harus membayarkan makanmu&#8220;, imbuhnya lagi menambahkan. Berkerut keningku mencerna kalimat-kalimat yang meluncur dari mulutnya. Tak pernah aku menduga, akan begitu ia mengartikulasikan sebuah persahabatan. Kukira, hubungan baik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F04%2F23%2Ftheres-no-free-lunch%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">&#8220;<em>Tidak ada makan siang gratis</em>!&#8221;, berulangkali sahabatku itu mengatakannya di hadapanku dan beberapa sahabat dalam sebuah perjumpaan. &#8220;<em>Jika hari ini kamu membayarkan makanku, artinya besok atau lusa, akupun harus membayarkan makanmu</em>&#8220;, imbuhnya lagi menambahkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Berkerut keningku mencerna kalimat-kalimat yang meluncur dari mulutnya. Tak pernah aku menduga, akan begitu ia mengartikulasikan sebuah persahabatan. Kukira, hubungan baik kami selama ini, benar-benar dijalankan dengan tulus, tanpa pamrih apapun. Kalimat yang dia sampaikan itu, telah menggugurkan segala kesan baikku selama ini terhadapnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa hari pikiranku cukup terganggu dengan kejadian itu. Aku sempat bertanya, seperti apakah persahabatan itu? Benarkah persahabatan itu harus berpamrih? Bukankah tanpa dimintapun, seorang sahabat akan memberi apapun yang diminta sahabatnya, semampu yang dia punya?<span id="more-1687"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kegalauanku itu akhirnya pudar ketika aku bertandang ke blog <a href="http://tulisannugroho.wordpress.com/2010/04/19/sahabat-sejati/" target="_blank">Mas Nug</a>. Untaian puisinya tentang &#8220;sahabat sejati&#8221; mampu menyejukkan hatiku.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1690" title="sahabat sejati" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/04/sahabat-sejati1.jpg" alt="sahabat sejati" width="448" height="299" /></p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;">Sahabat Sejati</span></strong><br />
By: ASN, Jakarta, 19 April 2010</p>
<p>Ketika langit terlihat gelap tak bersahabat<br />
Kau justru datang menghampiri<br />
Jabat eratmu hangat alirkan darah pertemanan kita</p>
<p>Ketika banyak orang menyingkir<br />
Bersembunyi mencari aman dibalik kontroversi langkah prinsipku<br />
Kau tetap disana dengan senyum mu, beri ruang luas bagi <em>privacy </em>ku</p>
<p>Ketika taliku terputus dan aku meluncur deras kebawah<br />
Kau spontan bereaksi tanpa diminta<br />
Lemparkan pengait dan tali hentikan jatuhku</p>
<p>Ketika keindahan direpresentasikan dengan bunga-bunga indah<br />
Kau justru tetap jadi dirimu, sebuah daun beri keteduhan disisi bayangmu<br />
Alirkan frekwensi indah persahabatan, bukan sibuk warnai <em>casing</em>nya</p>
<p>Terima kasih telah menjadi sahabatku..</p>
<blockquote><p><strong>Sahabat sejati berperan apa adanya, tahu persis  dimana dan seperti apa peran yang harus jalankan.. Persahabatan beri  arti lebih pada esensi dan bukan sekedar memoles <em>casing</em> luar  persahabatan itu sendiri..</strong></p></blockquote>
<p style="text-align: justify;">Setelah membaca bait demi bait puisi Mas Nug itu, pikiran jernihku kembali ke tempatnya semula. Aku sadar, bahwa aku terlalu berpengharapan. Seharusnya segala sesuatu haruslah dijalankan sewajarnya saja, sehingga jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan, kekecewaan tak terlalu dalam. Kesimpulanku: &#8220;<em>cintailah kekasihmu sewajarnya, karena bisa jadi suatu saat kau akan membencinya, dan bencilah lawanmu sewajarnya, karena bisa jadi suatu saat kau akan membutuhkannya&#8230;.</em>&#8220;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah kejutan lagi, datang pagi ini. <a href="http://www.facebook.com/home.php?#!/notes/koelit-ketjil/ranjang-alam/413755862783" target="_blank">Koelit Ketjil</a> mengirimiku  tulisannya tentang persahabatan. Ceritanya begitu menyentuh perasaan  terdalamku. Ternyata, keraguanku tentang sahabat sejati, tidaklah  beralasan. Masih banyak manusia yang memiliki keputihan jiwa untuk  berkorban demi sahabatnya, tanpa perlu meminta imbalan, meski sekedar  ucapan &#8220;terima kasih&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">(<em>duh&#8230; melow banget aku ini ya&#8230;? biarin deh, setidaknya ini membuktikan kalau aku juga manusia, punya hati punya rasa&#8230; hahaha&#8230;</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/04/23/theres-no-free-lunch/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kebenaran itu pahit!</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/04/07/kebenaran-itu-pahit/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/04/07/kebenaran-itu-pahit/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 04:45:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[bunga rampai]]></category>
		<category><![CDATA[kampung blagu]]></category>
		<category><![CDATA[atmakusumah]]></category>
		<category><![CDATA[didot]]></category>
		<category><![CDATA[kebenaran itu pahit]]></category>
		<category><![CDATA[kopdar]]></category>
		<category><![CDATA[masjid al-azhar jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1660</guid>
		<description><![CDATA[Andi terdiam sesaat, hatinya masih bimbang, apakah benar yang akan dilakukannya ini? Sejenak dilihatnya lagi amplop coklat di atas mejanya. Isinya masih utuh, 30 juta! Digenggamnya dengan erat amplop itu. Kembali diteguhkannya hatinya. &#8220;Aku harus melakukannya!&#8220;, begitu ia berbisik dalam hati. Dengan yakin, dia melangkah keluar kamar kos, menenteng sebuah tas berisi pakaian dan menggendong [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F04%2F07%2Fkebenaran-itu-pahit%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Andi terdiam sesaat, hatinya masih bimbang, apakah benar yang akan dilakukannya ini? Sejenak dilihatnya lagi amplop coklat di atas mejanya. Isinya masih utuh, 30 juta! Digenggamnya dengan erat amplop itu. Kembali diteguhkannya hatinya. &#8220;<em>Aku harus melakukannya!</em>&#8220;, begitu ia berbisik dalam hati.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan yakin, dia melangkah keluar kamar kos, menenteng sebuah tas berisi pakaian dan menggendong sebuah ransel di pundak. Di mulut gang, ia panggil sebuah becak dan meminta untuk mengantarkannya ke sebuah alamat. Hanya butuh sekitar 20 menit, ia pun sampai di alamat yang dituju.<span id="more-1660"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Mau apa kamu kesini?&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Mbak, izinkan aku untuk menjelaskannya dulu&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Apa lagi yang mau dijelaskan?!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Setidaknya Mbak tahu mengapa aku melakukannya&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Sudah jelas, kamu melakukannya karena memang itu maumu!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Tidak Mbak, aku terpaksa melakukannya. Dan lagi, itupun memang harus kulakukan, karena aku sayang padanya&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Sayang? Sayang macam apa yang mau kau tunjukkan? Kamu lihat, betapa besar sakit yang kau tinggalkan akibat perbuatanmu itu!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Aku tahu Mbak, tapi&#8230; &#8220;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Tapi apa&#8230;?!!&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sejenak suasana hening, tak sepatahpun kata yang keluar dari mulut keduanya. Tiba-tiba Andi berdiri dari duduknya dan berkata:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Mbak, sepertinya sulit bagi kita untuk berbicara dalam keadaan emosi seperti ini. Kalau begitu, izinkan aku pamit. Aku ingin pergi dari kota ini, mengubur masa lalu kita, memulai sesuatu yang baru. Bacalah surat yang ada di dalam amplop ini, sepeninggalku nanti&#8221;.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Tantri terpana, matanya bolak-balik melihat ke arah Andi yang mulai beranjak keluar dan amplop warna coklat yang tergeletak di atas meja. Dia tersadar dari lamunan dan keterkejutannya demi mendengar tangisan bayinya dari dalam kamar. Dengan cepat disambarnya amplop tadi dan segera menuju kamar.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil menggendong bayinya, Tantri membuka amplop warna coklat tersebut. Dia terkejut alang kepalang. Ada tiga ikat uang yang terdiri dari lembaran seratus ribu, berjumlah 30 juta rupiah. Di dalamnya juga terdapat sepucuk surat. Segera dibacanya surat itu:</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>Mbak Tantri yang saya hormati&#8230;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Maafkan jika tindakan saya telah melukai perasaan mbak dan keluarga. Saya benar-benar dihadapkan pada sebuah pilihan yang sangat sulit. Antara jujur dengan kebenaran yang saya ketahui atau melindungi sahabat baik saya, Mas Dedi, suami mbak.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sesungguhnya, saya sudah lama mengetahui kalau Mas Dedi korupsi di kantor kami. Bukannya saya tidak mengingatkan. Sudah sangat sering saya katakan kepada beliau untuk tidak meneruskan kelakuannya itu. Namun, sepertinya uang telah menggelapkan matanya. Dia sudah tak peduli lagi dengan nasehat sahabatnya. Dia sudah menganggap uang adalah Tuhannya.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Maka, ketika kasus itu kemudian mengemuka dan Mas Dedi akhirnya harus menjadi tersangka, saya pun harus dihadapkan pada pilihan berat. Sebagai saksi kunci, tentulah kesaksian saya menjadi hal yang utama. Sungguh berat bagi saya ketika itu. Kalau saya berkata jujur, maka Mas Dedi akan dipenjara. Tapi, jika saya bohong, saya telah menodai diri saya sendiri. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Akhirnya, seperti yang mbak ketahui, sayapun memilih untuk berkata jujur, meski itu berat.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Mbak, kebenaran itu sungguh pahit, tapi saya harus menelannya. Bagi saya, sahabat tidak selalu harus membenarkan apa yang dilakukan oleh sahabatnya, iapun harus berani menyalahkan perbuatannya. &#8220;Sahabat sejati adalah yang mau menangis bersamamu, bukan yang hanya ingin tertawa bersamamu&#8221;. Karena saya tak ingin Mas Dedi larut dalam kesalahannya, maka saya harus menegurnya dengan cara ini. Maafkan jika pilihan saya ini membuat Mbak terluka.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Mbak&#8230; saya akan pergi meninggalkan kota ini. Mencari kehidupan baru yang lebih menenangkan hati. Terimalah uang hasil tabungan saya selama bertahun-tahun. Barangkali dapat meringankan beban Mbak, selama ditinggal Mas Dedi di penjara.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Salam saya, </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>ANDI</em></p>
</blockquote>
<p style="text-align: justify;">Tantri terduduk lemas di ujung ranjangnya. Tulang-tulangnya seolah lepas dari tubuhnya. Ia tak sanggup lagi berkata-kata. Hanya tetesan air hangat yang mengalir deras dari kedua matanya. Dengan lirih ia berbisik: &#8220;<em>Tuhan, ampuni kami. Izinkan kami untuk tetap berlaku benar dan berani berkata benar</em>&#8220;</p>
<p style="text-align: center;">~oOo~</p>
<p style="text-align: justify;">Kisah di atas terinspirasi dari obrolanku dengan dua narablog muda, <a href="http://atmakusumah.wordpress.com/blog-identity/" target="_blank">Atmakusumah</a> dan <a href="http://hadidot.wordpress.com/2010/04/06/meluruskan-niat-ngeblog/" target="_blank">Didot</a>. Kami bertemu pada hari Sabtu, 3 April 2010 yang lalu di pelataran Masjid Al-Azhar, Jakarta. Kedua sahabatku itu memiliki gairah yang luar biasa dalam belajar agama. Aku salut atas kegiatan mereka tersebut. Jika dilihat tulisan-tulisan mereka di blog, sangat menunjukkan betapa gairah itu sungguh besar.. <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter size-full wp-image-1661" title="vizon atma didot" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/04/vizon-atma-didot.jpg" alt="vizon atma didot" width="448" height="336" /><span style="color: #ff0000;">Bersama Atmakusumah dan Didot di pelataran Masjid Al-Azhar Jakarta. <em><br />
&#8220;Kebenaran itu pahit, tapi harus tetap ditelan&#8221;</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/04/07/kebenaran-itu-pahit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>47</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>selamat ulangtahun, nabiku</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/02/25/selamat-ulangtahun-nabiku/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/02/25/selamat-ulangtahun-nabiku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Feb 2010 15:01:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[bunga rampai]]></category>
		<category><![CDATA[bimbo]]></category>
		<category><![CDATA[maulid nabi muhammad saw]]></category>
		<category><![CDATA[rindu rasul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1599</guid>
		<description><![CDATA[Rindu Rasul Sam Bimbo &#38; Taufiq Ismail &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. Rindu Kami Padamu Ya Rasul Rindu Tiada Terperi Berabad Jarak Darimu Ya Rasul Serasa Dikau Di Sini Cinta Ikhlasmu Pada Manusia Bagai Cahaya Surga Dapatkah Kami Membalas Cintamu Secara Besahaja &#8230;&#8230;&#8230;. Selamat Ulangtahun, Nabiku&#8230; Semoga teladanmu senantiasa mewarnai hidupku&#8230;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F02%2F25%2Fselamat-ulangtahun-nabiku%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: center;"><strong>Rindu Rasul</strong><br />
Sam Bimbo &amp; Taufiq Ismail</p>
<p style="text-align: center;">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p style="text-align: center;">Rindu Kami Padamu Ya Rasul<br />
Rindu Tiada Terperi<br />
Berabad Jarak Darimu Ya Rasul<br />
Serasa Dikau Di Sini</p>
<p style="text-align: center;">Cinta Ikhlasmu Pada Manusia<br />
Bagai Cahaya Surga<br />
Dapatkah Kami Membalas Cintamu<br />
Secara Besahaja</p>
<p style="text-align: center;">&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #ff0000;"><em>Selamat Ulangtahun, Nabiku&#8230;<br />
Semoga teladanmu senantiasa mewarnai hidupku&#8230;</em></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/02/25/selamat-ulangtahun-nabiku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>husnul khatimah</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/02/24/husnul-khatimah/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/02/24/husnul-khatimah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Feb 2010 03:40:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[bunga rampai]]></category>
		<category><![CDATA[doa]]></category>
		<category><![CDATA[husnul khatimah]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[usaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1593</guid>
		<description><![CDATA[Berakhir dengan indah, adalah keingin setiap kita dalam setiap peran yang kita jalani. Sebagai contoh, seorang pejabat, berharap agar akhir masa jabatannya ditutup dengan manis. Banyak torehan prestasi yang ditinggalkannya. Bawahannyapun merasa sangat sedih dengan berakhirnya masa jabatan itu. Bahkan rivalnya pun merasa kalau jabatan itu memang pantas untuknya. Begitu juga dengan kehidupan yang kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F02%2F24%2Fhusnul-khatimah%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Berakhir dengan indah, adalah keingin setiap kita dalam setiap peran yang kita jalani. Sebagai contoh, seorang pejabat, berharap agar akhir masa jabatannya ditutup dengan manis. Banyak torehan prestasi yang ditinggalkannya. Bawahannyapun merasa sangat sedih dengan berakhirnya masa jabatan itu. Bahkan rivalnya pun merasa kalau jabatan itu memang pantas untuknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu juga dengan kehidupan yang kita jalani di dunia ini. Kita sangat menginginkan agar ketika jatah hidup kita berakhir, kitapun pergi dengan tinggalan nama baik lagi harum. Seperti kata pepatah: &#8220;<em>harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama</em>&#8220;.</p>
<p style="text-align: justify;">Bayangkan, betapa buruknya jika seseorang yang tewas ketika sedang berbuat mesum di sebuah kamar hotel, atau meninggal dunia akibat over dosis obat-obatan terlarang, atau bahkan mati karena bunuh diri. Kesemuanya itu tentu akan membuat ia meninggalkan nama buruk setelah kepergiannya. Bukan hanya untuknya, tapi juga untuk keluarga yang ditinggalkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Memperoleh husnul khatimah, bukanlah perkara yang sekonyong-konyong. Ia merupakan hasil akhir dari proses bangunan diri kita selama perjalanan di dunia ini. Ia harus diusahakan. Seperti seorang pejabat yang ingin berakhir dengan manis, tentulah ia harus berusaha menorehkan prestasi dan meninggalkan kesan baik selama masa jabatannya. Kesemena-menaan yang dilakukannya selama menjabat tentu saja akan berakibat buruk bagi akhir masa jabatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam kehidupan juga haruslah begitu. Jika kita tidak ingin tutup usia dalam keadaan yang tidak baik, maka berusahalah untuk tidak terlibat dalam perkara buruk. Berzina misalnya. Tidakkah kita takut, ketika sedang asyik melakukan perbuatan bejat itu, tiba-tiba malaikat maut mencabut nyawa kita&#8230;?? <em>Na&#8217;udzubillah!</em> Semoga Tuhan melindungi kita dari keadaan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Berusaha agar selalu berada pada jalur Tuhan adalah salah satu cara yang tepat untuk memperoleh husnul khatimah. Dan yang tak kalah pentingnya adalah selalu berdoa agar Tuhan senantiasa melindungi langkah kita dan mengingatkan jika kita mulai tergelincir.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ya Tuhan, tutuplah usia kami dengan akhir yang baik,<br />
Jangan Kau selesaikan kami dalam keadaan yang buruk&#8230;.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>.<br />
</em></p>
<p style="text-align: justify;">(<em>tulisan ini adalah ekspresi dari kepedihan hatiku melihat kematian seorang yuniorku</em>. <em>semoga ia husnul khatimah</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/02/24/husnul-khatimah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>miskin harta atau jiwa?</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/02/05/miskin-harta-atau-jiwa/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/02/05/miskin-harta-atau-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Feb 2010 00:58:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[bunga rampai]]></category>
		<category><![CDATA[seorang ibu menelantarkan ketiga anaknya di tangerang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1551</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar,&#8221; (Al-Quran surat Al-Israa&#8217;: 31). Sebuah berita mengenai penelantaran anak kembali menggetarkan kita. Adalah seorang ibu bernama Diana di Tangerang, karena alasan mencari uang untuk makan anak-anaknya, tega meninggalkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F02%2F05%2Fmiskin-harta-atau-jiwa%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: center;"><span style="color: #339966;"><strong>&#8220;<em>Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar,&#8221;</em><br />
(Al-Quran surat Al-Israa&#8217;: 31).</strong></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah <a href="http://www.sinarharapan.co.id/berita/read/komnas-pa-temui-tiga-balita-tangerang-terlantar/">berita mengenai penelantaran anak</a> kembali menggetarkan kita. Adalah seorang ibu bernama Diana di Tangerang, karena alasan mencari uang untuk makan anak-anaknya, tega meninggalkan mereka di rumah yang terkunci. Tiga orang anaknya yang masing-masing berumur 3 tahun, 2 tahun dan 9 bulan ditinggalkannya begitu saja di rumah kontrakan di bilangan Cipondoh Tangerang selama empat hari tanpa makan dan minum.</p>
<p style="text-align: justify;">Sulit membayangkan, betapa berat &#8220;siksaan&#8221; kelaparan dan ketakutan yang dialami ketiga balita tersebut. Alasan sang ibu mencari uang untuk makan sang anak patut dihargai. Tapi, mestikah dia meninggalkan mereka selama empat hari? Sebuah perilaku yang aneh menurutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan yang lebih aneh lagi adalah, mengapa warga sekitar tidak ada yang mengetahuinya? Mengapa baru pada hari kelima, ketiga bocah itu ditemukan? Bukankah kebiasaan seorang anak bila merasakan ketidaknyamanan pada dirinya akan menangis? Bahkan bukan sekedar isakan, kemungkinan besar mereka akan berteriak sekencang-kencangnya. Dapat dipastikan suara mereka akan sangat gaduh. Lantas, mengapa para tetangga tidak mendengar sama sekali teriakan anak-anak itu? Argh&#8230; sulit menalarkan kejadian ini.<span id="more-1551"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian ini, setidaknya, memberikan dua peringatan kepada kita:</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama, kemiskinan sesungguhnya tidaklah perlu dikhawatirkan. Ia sangat bisa diatasi. Kuncinya adalah ketenangan yang muncul dari kesabaran dan keikhlasan hati. Kekalutan pikiran akan menghilangkan kebeningan hati sehingga pelakunya tak mampu lagi untuk menalarkan perbuatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, fungsi-fungsi sosial dalam masyarakat perkotaan telah semakin tergerus. Ketidakpedulian dan individualistik semakin mendominasi. Hal tersebut terjadi karena kesibukan duniawi dalam rangka pemenuhan materi telah meraja dalam diri kita. Akibatnya, silaturrahmi antar tetanggapun sudah tak terjalin lagi dengan baik. Hal ini, patut untuk dicemasi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemiskinan harta sesungguhnya tidaklah perlu ditakutkan. Tuhan telah menjanjikan rejeki bagi kita. Tinggal bagaimana kita menjemputnya. Sekeras usaha kita, sebesar itulah hasil yang akan diperoleh.</p>
<p style="text-align: justify;">Yang patut diwaspadai adalah kemiskinan jiwa. Jiwa yang miskin karena menjauh dari Tuhan, hanya akan menghasilkan manusia-manusia tak bernalar.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga kita terhindar dari ini semua&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/02/05/miskin-harta-atau-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>47</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>profesor yahanu</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/02/03/profesor-yahanu/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/02/03/profesor-yahanu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Feb 2010 00:58:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[bunga rampai]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[kekayaan]]></category>
		<category><![CDATA[rendah hati]]></category>
		<category><![CDATA[sombong]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1541</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu sifat dalam diri manusia yang menjadi sumber kehancurannya adalah apa yang disebut sebagai kesombongan. Sombong adalah perasaan dalam diri manusia bahwa ia mempunya berbagai kelebihan tertentu dibandingkan orang lain, di mana kelebihan tersebut membuatnya merasa menjadi lebih mulia sehingga harus didahulukan pendapatnya, dihormati, dihargai, dan lain sebagainya. Sikap dan sifat semacam ini menjadikan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F02%2F03%2Fprofesor-yahanu%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Salah satu sifat dalam diri manusia yang menjadi sumber kehancurannya adalah apa yang disebut sebagai kesombongan. Sombong adalah perasaan dalam diri manusia bahwa ia mempunya berbagai kelebihan tertentu dibandingkan orang lain, di mana kelebihan tersebut membuatnya merasa menjadi lebih mulia sehingga harus didahulukan pendapatnya, dihormati, dihargai, dan lain sebagainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sikap dan sifat semacam ini menjadikan manusia cenderung hanya memikirkan bagaimana dirinya dihargai dan dihormati orang lain karena merasa dirinyalah yang &#8220;serba&#8221; dan &#8220;paling&#8221; &#8211;paling pintar, paling keren, paling kaya, dan berbagai &#8220;paling&#8221; lainnya. Kesombongan ini menimbulkan sikap angkuh dan congkak yang bisa menjadi awal malapetaka bagi dirinya.<span id="more-1541"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kesombongan ini nyaris telah merugikan seorang Profesor. Sebut saja namanya Profesor Yahanu.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa hari yang lalu, sahabatku Ivan minta tolong kepadaku untuk menemui Profesor Yahanu tersebut di kampus. Ivan telah beberapa kali berusaha menemui beliau, tapi tidak bertemu. Karena Ivan harus berangkat ke Jakarta, maka dia memintaku untuk menyampaikannya. Ada dua pucuk amplop yang harus disampaikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesungguhnya aku tidak kenal sama sekali dengan sang Profesor. Hanya, di fakultas tempat beliau mengajar ada teman baikku. Akupun menghubungi teman tersebut dan menanyakan apakah dia mempunyai nomor kontak sang Profesor. Ternyata dia punya. Maka, dimulailah cerita ini:</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Halo&#8221;, sebuah suara berat menyahut di seberang telpon.<br />
&#8220;Dengan Profesor Yahanu, Pak?&#8221;, aku bertanya untuk memastikan.<br />
&#8220;Kamu siapa?&#8221;, terasa ketus jawabannya.<br />
&#8220;Saya Vizon, Prof&#8221;<br />
&#8220;Vizon siapa?&#8221;, serasa menjawab dengan malas.<br />
&#8220;Hardi Vizon&#8221;<br />
&#8220;Dari mana?&#8221;, semakin ketus.<br />
&#8220;Saya mahasiswa Pascasarjana, Prof&#8221;<br />
&#8220;Mau apa!?&#8221;, ujarnya dengan sedikit kasar.<br />
&#8220;Ada pesan yang mau saya sampaikan untuk Bapak&#8221;, masih sopan nada suaraku.<br />
&#8220;Letakkan saja di meja saya di fakultas..!&#8221;, seolah buru-buru ingin mematikan telpon.<br />
&#8220;Yakin, Anda mau saya meletakkan dua amplop ini di meja Anda?&#8221;, aku mulai sebal.<br />
&#8220;Ya&#8230;!&#8221;, jawabnya singkat.<br />
&#8220;Kalau hilang, apa Anda tidak menyesal?&#8221;<br />
&#8220;Memangnya itu apa?&#8221;, dia mulai penasaran.<br />
&#8220;Honor Anda sebagai pembicara dalam acara Annual Conference on Islamic Studies tempo hari di Solo&#8221;, aku merasa dapat angin.<br />
&#8220;Oh&#8230; itu tho&#8221;, nada suaranya mulai turun.<br />
&#8220;Ya&#8230;! Kalau gitu, tolong temui saya besok jam 9 di perpustakaan&#8221;, aku mulai pasang badan. Dalam hatiku, ini orang harus diberi pelajaran, meskipun dia seorang profesor.<br />
&#8220;Jam 9, ya?&#8221;, suaranya semakin ramah.<br />
&#8220;On time ya Pak, soalnya saya cuma sebentar di kampus, setelah itu saya ada acara lain&#8221;, ujarku dengan suara yang dibuat sok tegas.<br />
&#8220;Baik Pak, besok saya temui Bapak di perpustakaan&#8221;, sang Profesor benar-benar sudah sopan dan memanggilku dengan sebutan &#8220;Bapak&#8221; lagi. Argh&#8230; benar-benar menyebalkan.<br />
&#8220;Ok, terima kasih&#8221;, ujarku sambil mematikan telpon.</p>
<p style="text-align: justify;">Huahaha&#8230;. akupun tertawa dalam hati. Sungguh rendah harga diri sang Profesor itu. Kesombongannya akan jabatan yang dimiliki ternyata dapat ditaklukkan dalam sekejap hanya dengan beberapa lembar rupiah. Benar-benar deh&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian ini sangat memberiku pembelajaran. Kesombongan tidak pernah memberi manfaat apapun bagi pemiliknya. Kerendahanhatilah yang justru akan menaikkan derajat kemuliaan seseorang. Rendah hati bagaikan permata yang senantiasa benderang, meski berada dalam kubangan sekalipun. So, untuk apa sombong? <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">.</p>
<p style="text-align: justify;">*<em>Yahanu = sombong (bahasa slank santri Gontor)</em></p>
<pre style="text-align: justify;"><span style="color: #339966;">Sumber bacaan: buku Man Jadda Wajada, karya Akbar Zainudin</span></pre>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/02/03/profesor-yahanu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>38</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kesadaran lumba-lumba</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/01/25/kesadaran-lumba-lumba/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/01/25/kesadaran-lumba-lumba/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 Jan 2010 02:25:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[bunga rampai]]></category>
		<category><![CDATA[ali syariati]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran diri]]></category>
		<category><![CDATA[kreativitas]]></category>
		<category><![CDATA[paulo freire]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1480</guid>
		<description><![CDATA[Lelaki itu membentangkan kedua tangannya. Diam sejenak. Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, diputarnya kedua tangannya,  membentuk sebuah kode dengan diiringi tiupan peluit. Tiba-tiba, dua ekor lumba-lumba yang ada di dalam kolam di hadapan lelaki itu bergerak, menggoyangkan ekornya, kemudian&#8230; hup! melompat melintasi dua buah lingkaran di atas kepalanya. Atraksi lumba-lumba di arena Perayaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F01%2F25%2Fkesadaran-lumba-lumba%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Lelaki itu membentangkan kedua tangannya. Diam sejenak. Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, diputarnya kedua tangannya,  membentuk sebuah kode dengan diiringi tiupan peluit. Tiba-tiba, dua ekor lumba-lumba yang ada di dalam kolam di hadapan lelaki itu bergerak, menggoyangkan ekornya, kemudian&#8230; hup! melompat melintasi dua buah lingkaran di atas kepalanya.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1558" title="lumba-lumba02" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/01/lumba-lumba02-150x150.jpg" alt="lumba-lumba02" width="150" height="150" /><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1559" title="lumba-lumba07" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/01/lumba-lumba07-150x150.jpg" alt="lumba-lumba07" width="150" height="150" /><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1560" title="lumba-lumba06" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/01/lumba-lumba06-150x150.jpg" alt="lumba-lumba06" width="150" height="150" /><br />
<span style="color: #ff0000;">Atraksi lumba-lumba di arena Perayaan Sekaten Yogyakarta 2010</span></p>
<p style="text-align: justify;">Tepuk tangan penonton yang didominasi anak-anak bergemuruh memenuhi ruangan. Sorak-sorai pun tak kalah hebatnya. Aksi kedua binatang laut yang katanya tidak boleh disebut ikan itu, cukup memukau. Semua terpana dan tertawa bahagia.<span id="more-1480"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sebelumnya, dua ekor berang-berang dan seekor singa laut pun tak kalah menariknya. Ada aksi tangkap bola, berjalan di atas gelondongan kayu, mendorong gerobak, menjumlah angka, dan lain sebagainya. Aksi yang sesungguhnya sangat biasa dilakukan manusia itu, menjadi luar biasa karena dilakukan oleh hewan-hewan yang terlatih.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1561" title="penonton03" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/01/penonton03-150x150.jpg" alt="penonton03" width="150" height="150" /><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1562" title="penonton04" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/01/penonton04-150x150.jpg" alt="penonton04" width="150" height="150" /><img class="alignnone size-medium wp-image-1563" title="penonton01" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/01/penonton01-300x224.jpg" alt="penonton01" width="201" height="151" /><br />
<span style="color: #ff0000;">Penonton bertepuk tangan penuh kegembiraan menyaksikan aksi hewan-hewan tersebut</span></p>
<p style="text-align: justify;">Tentu kita sangat kagum melihat kemampuan hewan-hewan tersebut. Kemampuan yang di luar kebiasaan mereka sebagai hewan. Hanya saja, kemampuan itu sangat terbatas. Mereka hanya mampu melakukan apa yang dilatih saja. Lainnya tidak. Apa sebab? Karena mereka tidak dibekali akal pikiran yang membuat mereka kreatif untuk mengembangkan apa yang mereka mampui. Dan juga, karena mereka melakukan itu semua bukan kesadaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Manusia dididik, tujuannya adalah untuk menumbuhkan kesadaran diri. Hal inilah yang akan membedakannya dengan hewan. Melalui pendidikan, diharapkan muncul kesadaran pada diri manusia akan apa yang harus dilakukan ataupun ditinggalkan. Bila pendidikan tidak mampu memunculkan kesadaran ini, maka sesungguhnya hal tersebut adalah tindakan dehumanisasi terhadap manusia itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Menurut Ali Syariati, atribut yang melekat pada manusia yang dapat membedakannya dengan hewan adalah <em><strong>kesadaran diri, kemauan bebas</strong> </em>dan<em> <strong>kreativitas</strong></em>. Dengan atribut ini, manusia dapat melakukan &#8220;pengembaraan&#8221; dalam membangun kebudayaan dan peradaban. Hal ini dipertegas Paulo Freire dengan mengatakan bahwa proses pendidikan haruslah mengacu kepada &#8220;penyadaran&#8221;, karena manusia tidak sekadar &#8220;hidup&#8221; (to life), tetapi bagaimana &#8220;mengada&#8221; atau bereksistensi. Melalui bereksistensi, manusia tidak hanya &#8220;ada dalam dunia&#8221;, melainkan juga bagaimana ia &#8220;bersama dengan dunia&#8221;.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertanyaannya, apakah pendidikan yang kita jalani selama ini telah mampu menumbuhkan kesadaran pada diri kita, sehingga kita bebas mengekspresikan kemauan kita dengan penuh kreativitas? Atau, jangan-jangan kita tak obahnya seperti lumba-lumba di atas yang bergerak atas dasar perintah sang pelatih? Mari kita renungkan&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Selamat hari Senin&#8230;.<br />
Let&#8217;s say: &#8220;I like Monday&#8230;.&#8221; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/01/25/kesadaran-lumba-lumba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
