ayah adi dan dika

25

Posted by Vizon | Posted in keluarga | Posted on 28-07-2010

Tags: , , , ,

Dari banyak iklan yang tayang di televisi, hanya sedikit yang  meninggalkan kesan baik di benakku. Kesan yang bernilai positif tentunya. Yakni, kesan yang mampu memberi inspirasi. Salah satu iklan itu adalah iklan sebuah pasta gigi yang menampilkan sosok ayah dan anak, Ayah Adi dan Dika namanya.

Iklan ini memang sederhana. Hanya menunjukkan taktik seorang ayah dalam membiasakan putranya menyikat gigi dua kali sehari. Tapi, bagiku ini tidaklah sesederhana itu. Disadari atau tidak oleh pihak pengiklan, pemilihan tokoh ayah dan anak lelakinya itu sangatlah besar maknanya. Sesungguhnya, jika mereka mengambil sosok ibu dan anak pun, pesan iklan itu aku yakin tetap akan sampai. Pengambilan tokoh ayah dan anak lelakinya disini, sangat menarik menurutku.

Mengapa?

Begini: Read the rest of this entry »

sinar jaya

17

Posted by Vizon | Posted in keluarga | Posted on 15-07-2010

Tags: , , ,

Tulisan ini awalnya adalah komentarku di blognya Om Nh dengan judul “Catering“. Tapi, karena terlalu panjang, kupikir tak ada salahnya dijadikan postingan tersendiri saja.

Bagi anda yang tinggal di pulau Jawa, tentu sudah sering melihat bus antar-kota bernama “Sinar Jaya” bukan? Nah, postingan ini, sama sekali tidak membahas itu, tapi tentang “Sinar Jaya” yang lainnya. Yaitu, sebuah rumah makan di kota Duri yang telah menjadi bagian penting dalam hidupku. Ya, itu adalah nama rumah makan milik keluargaku… :)

Barangkali karena jenuh, rumah makan yang sudah berdiri sejak aku balita itu akhirnya ditutup beberapa tahun yang lalu. Keduaorangtuaku mungkin sudah lelah dan ingin “pensiun”, hanya sayangnya, tak satupun dari kami anak-anaknya yang dapat menggantikan beliau. Mungkin, dunia yang tengah kami tekuni tidak sejalan dengan dunia rumah makan. Semoga suatu saat rumah makan itu kembali “bersinar dan berjaya”. Read the rest of this entry »

limabelas

37

Posted by Vizon | Posted in keluarga | Posted on 04-06-2010

Tags: , ,

The most important thing a father can do for his children is to love their mother (Theodore Hesburgh)

01Alhamdulillah… sampai juga usia pernikahanku ke angka lima belas. Dulu, ketika di awal pernikahan, sekelilingku menasehati; “Waspadalah di lima tahun pertama, karena saat itu adalah masanya penyesuaian“. Di lima tahun kedua, para tetuaku mengatakan: “Pertebal kesabaran, karena ada banyak jiwa yang mengikuti kalian“. Di lima tahun ketiga, mereka berpesan: “Perbanyak imunitas bagi anak-anakmu, karena kau tak pernah tahu, seperti apa dunia yang akan mereka hadapi“.

Dan, di awal lima tahun keempat ini, belum ada petuah apapun yang kudapat, selain kalimat indah di atas: “The most important thing a father can do for his children is to love their mother“. Sepertinya, kalimat ini adalah petuah jitu bagiku, di kala usia sudah tidak lagi muda tapi juga tidak terlalu tua. Usia yang kata Om Nh sebagai usia yang lagi mengkal-mengkalnya dan rentan akan jatuh dari tampuknya.

Sebagai kepala keluarga, tentulah kewajibanku untuk menjaga keutuhannya. Jangan sampai, justru aku yang menjadi penyebab kehancurannya. Maka, kesadaran akan fungsi keluarga dan peranku, harus kumiliki secara utuh. Bagiku, keperkasaan seorang pria justru terletak di kekuatannya menjaga keutuhan keluarganya, secara jujur, tanpa sedikitpun dusta.

Keluarga, seharusnyalah menjadi pertahanan paling utama bagi anggotanya. Dalam bahasa Arab, keluarga disebut sebagai “usrah”, yang secara etimologi berarti baju besi yang kuat yang melindungi manusia dan menguatkannya saat dibutuhkan. Penempa “baju besi” itu tentulah sang kepala rumah tangga. Bagaimana mungkin ‘”baju besi” itu akan kuat, jikalau sang penempa tak mampu membuatnya kuat dan kokoh.

Maka, di limabelas tahun usia pernikahanku ini, aku mohon doa dari sahabat-sahabat semua agar aku dapat menjalankan peranku dengan baik dan benar, dan dapat memberikan yang terbaik bagi anak-anakku dengan terus mencintai ibu mereka… :)

..

Oya… buat Om Nh, selamat ulangtahun pernikahan juga ya… Semoga bahagia selalu… :)


setia

19

Posted by Vizon | Posted in keluarga | Posted on 26-05-2010

Tags: , , , , ,

Alhamdulillah, blog ini kembali hadir di hadapan sahabat semua, setelah beberapa hari yang lalu mengalami pembenahan sana-sini. Semoga ke depan, blog ini akan terus setia memperbaharui kontennya, sehingga dapat terus menjalin silaturrahmi dengan baik.

Dua hari ini, aku berhadapan dengan dua fenomena yang kontras.

Yang pertama, aku kedatangan sahabat lama dari Bandung. Dulu, kami sama-sama bergerak di dunia pendidikan anak usia dini di Pekanbaru. Ide-ide brilian darinya, sangat mempengaruhi cara pandangku terhadap dunia anak-anak. Aku pikir, dia adalah sosok aktivis perempuan yang patut diteladani. Lembaga pendidikan yang dia bangun di Pekanbaru, telah cukup tersohor dan menjadi rujukan bagi banyak pihak.

Namun, kedatangannya ke Kweni kemarin, cukup membuatku terhenyak, nyaris tak percaya. Dia bercerita kepadaku dan istri, tentang rumahtangganya yang sudah porak poranda. Perilaku suaminya yang sudah tak dapat ditolerir, telah merusak semua bangunan indah rumahtangga ideal yang selalu didengungkannya. Sahabatku itupun pergi meninggalkan suaminya dan membawa serta anak-anak mereka, untuk tinggal di Bandung dan memulai kembali hidup dari awal. Read the rest of this entry »

fatih dan balok

39

Posted by Vizon | Posted in keluarga | Posted on 01-03-2010

Tags: , , ,

Sore ini aku tinggal berdua dengan si bungsu Fatih di rumah. Ketiga kakaknya pergi ke tempat kursus masing-masing, sementara istriku ikut mengantar. Awalnya kami hanya duduk-duduk santai sambil nonton tv. Tapi, lama kelamaan bosan pun mulai mendekati. Kehebohan yang biasanya terjadi di rumah kami, rupanya tak bisa dibiarkan lama-lama menghilang. Fatih terlihat sekali rasa bosannya dengan suasana yang hening itu. Padahal, dengan formasi lengkap di rumah, dia akan selalu jadi sumber keisengan kakak-kakaknya.

Entah dari mana asalnya, tiba-tiba kami terlibat dalam obrolan yang yahud: (Untuk diketahui, bungsuku ini lidahnya sangat Jawa, tak terlihat sama sekali kalau dia berdarah Minang, hehehe…)

“Pa, mobil-mobilan itu dibikin dari apaan?”
“Ada yang dari kaleng, ada yang dari plastik, ada juga yang dari kayu”
“Kalau dari batu bisa ndak?”
“Bisa saja…”
“Kalau dari kayu, bisa dibikin apa aja?”
“Macem-macem… bisa mobil-mobilan, bisa boneka, bisa balok…”
“Kayak balok yang Papa jual itu?”
“Iya, betul sekali…”
“Mbok Fatih dikasih baloknya, Pa…” Read the rest of this entry »

mandi hujan

21

Posted by Vizon | Posted in keluarga | Posted on 25-12-2009

Tags: , , ,

Setelah shalat Jum’at cuaca di Kweni dan sekitarnya mendung sekali. Gelap gulita. Sepertinya, hujan yang sudah lama dinanti, akan turun dengan derasnya. Benar saja, tak lama berselang, hujan rintik-rintikpun turun. Diawali dengan hujan yang lembut sekali. Pikirku, kok seperti salju ya? Oh iya, jadi ingat hari ini sahabat-sahabatku umat Kristiani sedang merayakan Natal. Apakah salju di belahan bumi bagian barat sana juga turun di Kweni? Haha… menghayal :)

Ok, sebelum dilanjut, aku mau mengucapkan Selamat Merayakan Natal bagi sahabatku umat Kristiani, semoga kita selalu hidup dalam kedamaian abadi… :)

Kembali ke laptop hujan…! (Tukul mode: ON). Tidak terlalu lama hujan lembut itu turun, hujan deraspun menyusul. Aku nikmati tetesan air itu melalui jendela rumah. Indah sekali rasanya. Selang berapa lama, hujan yang lainpun datang. Yakni, hujan rengekan dari tiga orang fantastic four. Satira, Ajib dan Fatih merengek minta diizinkan mandi hujan. Dengan segala cara dan aksi mereka merengek. Setelah memberi  syarat agar mereka tidak terlalu lama mandinya, aku pun memberi izin. Read the rest of this entry »

milikku seperenam

34

Posted by Vizon | Posted in keluarga | Posted on 08-12-2009

Tags: , ,

Ketika kau telah memutuskan untuk menikah, maka saat itulah dirimu sudah tidak lagi jadi milikmu sepenuhnya. Bagilah jiwa dan ragamu sebanyak anggota keluargamu.

Kita perlu memiliki kontrol akan diri kita, sehingga tidak mudah terperosok dalam liang kenistaan. Salah satu alat kontrol yang efektif menurutku adalah kesadaran akan adanya jiwa-jiwa lain selain jiwa kita yang menggelayut dengan diri kita, yakni keluarga.

Aku, setelah memiliki istri, bertekad dalam hati untuk membagi jiwa dan ragaku menjadi dua. Setengah untuk istriku dan setengah lagi untuk diriku sendiri. Namun, begitu punya anak, maka pembagian itupun berubah. Dengan empat orang anak yang kami miliki, maka itu berarti dalam rumah kami ada 6 jiwa; aku, istriku dan keempat anakku. Dengan demikian, maka aku bagi jiwa dan raga ini menjadi enam bagian. Lima perenam kuberikan dan kucurahkan bagi istri dan anak-anakku, sementara yang seperenam lagi barulah milikku sepenuhnya.

Oleh karenanya, sebagian besar dalam diriku ini adalah hak keluargaku, dan hanya sedikit yang menjadi milikku sendiri. Kesadaran ini sengaja kubangun sebagai benteng dan pengingat diriku ketika ada godaan mendekati. Sebagai contoh, ketika ada godaan untuk melakukan tindakan yang akan merusak kesucian diri, lima perenam diriku segera mengingatkanku untuk tidak melakukannya. Ada banyak suara di benakku yang melarang untuk itu. Seolah mereka berkata: “Ingat, ada lima jiwa yang akan terancam dan rusak karena perbuatanmu ini”. Dan alhamdulillah, godaan itupun dapat kutepis. Read the rest of this entry »

napaktilas

28

Posted by Vizon | Posted in keluarga, liburan, pendidikan | Posted on 30-11-2009

Tags: , ,

Sejak membaca tulisan Nechan Imelda tentang kebiasaan kita memperkenalkan tempat kerja ataupun segala hal yang pernah kita lalui kepada anak-anak, aku jadi terinspirasi untuk melakukannya. Memang ada banyak hal yang belum dipahami oleh anak-anakku tentang kehidupan yang pernah dan sedang kujalani. Sebagai contoh, kampus tempatku mengajar, di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Curup, belum pernah sekalipun aku mengajak mereka ke sana. Ada banyak alasan yang menyebabkannya, salah satunya karena terpisah oleh jarak yang cukup jauh. (saran Nechan Imelda itu dapat di baca di sini).

Salah satu yang ingin kuperkenalkan kepada anak-anakku adalah pesantren tempat aku menuntut ilmu dahulu, yakni Pondok Modern Gontor, di Ponorogo Jawa Timur. Aku ingin mereka menyaksikan sendiri bagaimana situasi pesantren itu. Selama ini mereka hanya mendengar dari ceritaku saja.

Akhirnya, kesempatan itu datang…! Read the rest of this entry »