<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SURAU INYIAK &#187; lingkungan</title>
	<atom:link href="http://hardivizon.com/category/lingkungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hardivizon.com</link>
	<description>just another way to know</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Jul 2010 03:58:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>pulang</title>
		<link>http://hardivizon.com/2009/10/04/pulang/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2009/10/04/pulang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 11:16:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[kweni]]></category>
		<category><![CDATA[padang]]></category>
		<category><![CDATA[solidaritas]]></category>
		<category><![CDATA[sumbar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1117</guid>
		<description><![CDATA[Seperti yang kuceritakan pada postingan sebelum ini, bahwa sejak gempa melanda Sumatera Barat, kami berusaha untuk mengontak seluruh keluarga di Sumbar, terutama yang di Padang. Dengan usaha yang gigih dan kesabaran yang luar biasa, akhirnya aku dapat terhubung dengan kakakku di Padang. Meski hanya sms, tapi itu sudah cukup melegakan. Kakak dan adikku beserta keluarganya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2009%2F10%2F04%2Fpulang%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Seperti yang kuceritakan pada postingan sebelum ini, bahwa sejak gempa melanda Sumatera Barat, kami berusaha untuk mengontak seluruh keluarga di Sumbar, terutama yang di Padang. Dengan usaha yang gigih dan kesabaran yang luar biasa, akhirnya aku dapat terhubung dengan kakakku di Padang. Meski hanya sms, tapi itu sudah cukup melegakan. Kakak dan adikku beserta keluarganya yang ada di Padang, alhamdulillah selamat. Meski rumah mereka porak poranda, tapi itu tidak lantas mengurasi rasa syukur kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya aku pun berhasil menghubungi Imoe, sahabat blogger. Dari sms yang dikirimnya, akupun dapat mengetahui bahwa dia baik-baik saja. Soal kerusakan rumah, entahlah, karena itu sudah tidak menjadi fokusku lagi. Yang penting ia selamat. Begitupun dengan Arif &#8220;aurora&#8221;. Secara mengejutkan dia tampil memberi komen di postingan terdahulu dan bahkan sudah membuat sebuah postingan di blognya. Alhamdulillah&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, yang aku belum dapatkan informasinya adalah beberapa sahabatku semasa kuliah di Padang dulu. Tidak satupun dari mereka yang berhasil kuhubungi. Beberapa di antara mereka kuketahui bertempat tinggal di daerah yang dikabarkan mengalami kerusakan yang cukup parah. Semoga saja mereka juga baik-baik saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada pemandangan yang mengharukanku yang terjadi di Kweni. Secara spontan pemuda Kweni berkeliling kampung, membawa sebuah kardus bekas mie instan yang sudah dibungkus rapi dan bertuliskan: <span style="color: #ff0000;"><strong>&#8220;Bantuan Solidaritas Gempa Padang&#8221;</strong></span>. Aih, aku tak dapat menyembunyikan keterharuanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu juga di sekolah putriku, Satira. Mereka mengumpulkan dana solidaritas itu sedikit demi sedikit untuk kemudian mereka serahkan kepadaku agar kuteruskan kepada saudara-saudara di Padang. Mereka menyerahkannya kepadaku setelah tahu bahwa aku akan ke Padang pada hari Rabu, 7 Oktober 2009 mendatang, insya Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi teman-teman&#8230; Postingan ini sekaligus untuk menjawab pertanyaan para sahabat mengenai keadaan keluargaku, dan juga pamit karena aku akan pulang ke Padang pada hari Rabu pagi, 7 Oktober 2009. Dengan demikian, kemungkinan aku tidak update postingan dalam waktu yang cukup lama, kecuali kalau aku berhasil mendapatkan koneksi internet di Padang. Mohon doanya, agar semuanya berjalan lancar dan aku bisa bertemu dengan keluarga dan sahabat blogger yang ada di Padang dengan mudah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila ada yang ingin menghubungiku, silahkan kirim email ke: hardi.vizon@gmail.com</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2009/10/04/pulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>sumbar dan yogya</title>
		<link>http://hardivizon.com/2009/10/01/sumbar-dan-yogya/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2009/10/01/sumbar-dan-yogya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 01:20:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[sumbar]]></category>
		<category><![CDATA[yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1114</guid>
		<description><![CDATA[Sumatera Barat (Sumbar) dan Yogyakarta adalah dua daerah yang mendapatkan tempat khusus di hatiku. Sumbar adalah daerah asal keluarga besarku dan Yogyakarta adalah tempat aku tinggal sekarang ini. Entah kenapa, begitu banyak kesamaan antara kedua daerah ini. Di antaranya, budaya. Kedua daerah ini sangat terkenal dengan adat-budaya yang kental. Sumbar dengan adat Minangkabau-nya dan Yogyakarta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2009%2F10%2F01%2Fsumbar-dan-yogya%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Sumatera Barat (Sumbar) dan Yogyakarta adalah dua daerah yang mendapatkan tempat khusus di hatiku. Sumbar adalah daerah asal keluarga besarku dan Yogyakarta adalah tempat aku tinggal sekarang ini. Entah kenapa, begitu banyak kesamaan antara kedua daerah ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Di antaranya, budaya. Kedua daerah ini sangat terkenal dengan adat-budaya yang kental. Sumbar dengan adat Minangkabau-nya dan Yogyakarta dengan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kedua budaya ini begitu kental dan cukup memberi identitas tersendiri bagi Indonesia. Dari segi alam, kedua daerah ini juga memiliki kesamaan. Sumbar terkenal dengan pantai dan gunungnya, Yogyakarta-pun demikian. Bahkan, gunung yang ada di kedua daerah itu pun memiliki nama yang sama, yakni Merapi. Satu lagi contoh kesamaannya adalah nomor polisi kendaraan bermotor. Di Sumbar, menggunakan &#8220;BA&#8221;, sementara Yogyakarta menggunakan &#8220;AB&#8221;. Sebuah kesamaan yang bukan kebetulan sepertinya bukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Satu lagi kesamaan yang sulit untuk dinalar adalah musibah gempa. <a href="http://hardivizon.com/2009/05/27/untuk-dikenang/"><strong>Yogyakarta dilanda gempa pada 27 Mei 2006 silam</strong></a>. Meluluhlantakkan daerah itu. Banyak korban yang berjatuhan, lebih kurang 6000 jiwa melayang. Dan, kemarin, 30 September 2009, Sumbar-pun dilanda gempa yang sama. Kerusakan yang ditimbulkan sangat parah. Menurut informasi, <strong><a href="http://www.detiknews.com/read/2009/09/30/231028/1212307/10/kerusakan-setara-gempa-yogyakarta">kerusakan gempa Sumbar sama dengan kerusakan gempa Yogyakarta</a>.</strong> Lagi-lagi kedua daerah ini memiliki kesamaan, yang dalam hal ini adalah kesamaan nasib.</p>
<p style="text-align: justify;">Gempa Sumbar yang terjadi sore kemarin itu cukup membuat kami sekeluarga shock. Betapa tidak? Keluarga besar kami berada di daerah itu, termasuk Ibu mertua yang berada di Payakumbuh. Di Padang dan Pariaman sebagai pusat gempa sendiri, ada kakak dan adik sepupu yang tinggal di sana. Sedari berita soal gempa itu dilansir media, kamipun melakukan kontak tiada henti. Namun, tak satupun yang tersambung. Sahabat semasa kuliah aku juga coba hubungi, juga sama sekali tidak tersambung. Dan, sahabat blogger Imoe pun kucoba untuk mengontaknya. Sama sekali tidak ada sambungan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai malam menjelang, kami tidak lepas dari televisi. Menonton setiap update berita sambil tetap mencoba menghubungi sanak keluarga. Yang semakin membuat kegelisahanku memuncak adalah telepon ke Riau-pun sangat sulit untuk tersambung. Akhirnya, hanya media internet-lah yang bisa menjadi andalan, terutama facebook. Ada seorang teman yang berada di Padang yang bisa update status facebook-nya. Tapi hanya sekali, setelah itu dia menghilang. Kemungkinan besar dia telah kehilangan koneksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kegelisahan yang kualami ini, yang disebabkan oleh ketidakjelasan kabar tentang sanak saudara di daerah bencana, tentulah kegelisahan yang sama dirasakan oleh mereka ketika gempa Yogya tiga tahun yang lalu. Dapat kubayangkan betapa gelisahnya mereka selama beberapa hari, karena tidak bisa menghubungiku. Argh&#8230; kegelisahan ini benar-benar menyiksaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, aku hanya bisa berdoa dan berdoa untuk mereka semua. Aku yakin, semua ini akan ada maknanya bagi bangsa ini. Ujian bagi kita yang tidak tertimpa musibah ini secara langsung sudah dimulai, terutama bagi Pemerintah. Kita lihat saja, apakah mereka lebih mementingkan gengsi pesta pora <a href="http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/09/08/12124954/untuk.pelantikan.dpr.kpu.anggarkan.rp.11.miliar">pelantikan anggota DPR dengan dana milyaran rupiah</a> itu, atau mau sedikit &#8220;mengalah&#8221;, dengan mengikhlaskan dana itu untuk penanganan korban. Kita lihat saja nanti&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Buat <a href="http://imoe.wordpress.com/">Imoe</a>, <a href="http://www.langittimur.com/">Arif</a>, dan sahabat blogger lainnya, kami doakan semoga kalian senantiasa dalam keadaan baik-baik saja&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai informasi ilmiah tentang gempa Sumbar ini, silahkan lihat di blognya <strong><a href="http://rovicky.wordpress.com/2009/10/01/gempa-padang-30-september-2009-jangan-tunggu-laporan/">Pakdhe Rovicky</a></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2009/10/01/sumbar-dan-yogya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>siapakah yatim?</title>
		<link>http://hardivizon.com/2009/08/27/siapakah-yatim/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2009/08/27/siapakah-yatim/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 05:14:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[anak yatim]]></category>
		<category><![CDATA[dr. khalid]]></category>
		<category><![CDATA[kweni]]></category>
		<category><![CDATA[qatar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=974</guid>
		<description><![CDATA[Setelah tertunda karena sakit, akhirnya Dr. Khalid Hasan Hindawi, pimpinan Yayasan Athiyah Khairiyah dari Qatar jadi juga datang ke kampung Kweni hari Selasa dan Rabu (25-27 Agustus 2009) kemarin. Kedatangan beliau adalah dalam rangka melanjutkan proyek pendirian panti asuhan bagi anak-anak yatim yang ada di Kweni dan sekitarnya. Cerita tentang panti ini, dapat dibaca di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2009%2F08%2F27%2Fsiapakah-yatim%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Setelah tertunda karena sakit, akhirnya Dr. Khalid Hasan Hindawi, pimpinan Yayasan Athiyah Khairiyah dari Qatar jadi juga datang ke kampung Kweni hari Selasa dan Rabu (25-27 Agustus 2009) kemarin. Kedatangan beliau adalah dalam rangka melanjutkan proyek pendirian panti asuhan bagi anak-anak yatim yang ada di Kweni dan sekitarnya. Cerita tentang panti ini, dapat dibaca di postingan lamaku berjudul: &#8220;<a href="http://hardivizon.com/2008/12/15/yatimkah-dia/">yatimkah dia?</a>&#8220;.</p>
<p style="text-align: justify;">Pembangunan panti ini memang tertunda-tunda, lantaran krisis global yang mengakibatkan para donatur dari Qatar tersebut terkena imbasnya. Namun, dengan usaha yang gigih dari Dr. Khalid, maka sedikit demi sedikit berhasil dikumpulkan donasi. Meski tidak bisa langsung membangun secara keseluruhan seperti dalam perencanaan semula, tapi pelan-pelan gedung itu akan terbangun juga secara bertahap.<span id="more-974"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Perkenalanku dengan Dr. Khalid terjadi ketika peristiwa gempa Jogja tempo hari, seperti yang pernah kuceritakan dalam postingan mengenang <a href="http://hardivizon.com/2009/05/29/pintu-itu-terbuka/">3 tahun gempa Jogja</a>. Dari perkenalan itu, berbagai kegiatan sosial kami buat di Kweni, sampai akhirnya rencana pendirian panti asuhan ini tercetus.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pertemuan dengan anak-anak yatim kemarin, ada sebuah nasehat yang dilontarkan Dr. Khalid yang membuatku terkesan. Begini:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><span style="color: #008000;"><em>Anak-anakku sekalian&#8230;</em></span></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><span style="color: #008000;"><em>Kalian patut bergembira dan bersyukur. Karena, meski secara lahiriah kalian telah kehilangan ayah atau ibu dan membuatkan kalian menjadi yatim, tapi kalian tidak sedikitpun luput dari limpahan kasih sayang. Begitu banyak orang-orang baik yang memperhatikan kalian, baik dari segi pendidikan maupun kehidupan.</em></span></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><span style="color: #008000;"><em>Ketahuilah anak-anakku&#8230;<br />
</em></span></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><span style="color: #008000;"><em>Ada banyak anak-anak yang memiliki orangtua komplit, tapi kehidupan mereka begitu gersang. Tidak ada kasih sayang dari orangtua. Mereka hidup sendiri di rumah. Orangtuanya sibuk dengan urusan dunianya. Anak-anak itu, meski secara lahiriah berorangtua lengkap, namun pada hakikatnya mereka adalah anak-anak yatim. Yatim dari kasih sayang dan pendidikan.</em></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kalimat itu seolah menampar diriku. Jangan-jangan, aku telah membuat &#8220;yatim&#8221; anak-anakku dengan kesibukanku sendiri dan membuat mereka luput dari perhatianku. Semoga saja tidak demikian&#8230;</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-975 aligncenter" title="vizon dan anak yatim" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2009/08/vizon-dan-anak-yatim.JPG" alt="vizon dan anak yatim" width="473" height="355" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2009/08/27/siapakah-yatim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>alif kecil</title>
		<link>http://hardivizon.com/2009/07/01/alif-kecil/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2009/07/01/alif-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 14:02:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[calon presiden]]></category>
		<category><![CDATA[perlindungan anak]]></category>
		<category><![CDATA[uu 23/1979]]></category>
		<category><![CDATA[uu 23/2002]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/?p=793</guid>
		<description><![CDATA[Anak kecil umur tiga tahunan itu masih ada di situ; di perempatan lampu merah KFC komplek kampus Universitas Gadja Mada (UGM). Masih seperti yang kulihat beberapa bulan lalu; berjalan di antara kendaraan yang berhenti, tanpa sedikitpun rasa takut, menengadahkan tangan ke setiap kendaraan yang berhenti. Ya, dia masih mengemis. Ketika kami beradu pandang, aku masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2009%2F07%2F01%2Falif-kecil%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align:justify;">Anak kecil umur tiga tahunan itu masih ada di situ; di perempatan lampu merah KFC komplek kampus Universitas Gadja Mada (UGM). Masih seperti yang kulihat beberapa bulan lalu; berjalan di antara kendaraan yang berhenti, tanpa sedikitpun rasa takut, menengadahkan tangan ke setiap kendaraan yang berhenti. Ya, dia masih mengemis.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika kami beradu pandang, aku masih melihat sorot mata yang tajam, masih seperti yang kulihat beberapa bulan lalu itu. Sorot tajam matanya itu menunjukkan ketegarannya menjalani hidup seperti itu. Dan masih seperti beberapa bulan yang lalu itu juga, aku tetap tidak melakukan apa-apa. Aku hanya menatap iba kepadanya. Aku hanya bisa berontak di dalam hati melihat ketidakadilan itu. Aku hanya bisa diam, diam dan diam&#8230;<span id="more-793"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Alif, sebut saja begitu namanya, adalah salah satu dari jutaan anak Indonesia yang tidak beruntung. Terlahir dari keluarga yang berekonomi lemah sekaligus berpikiran lemah. Berpikiran lemah yang kumaksud adalah ketidakmampuan orangtuanya mencari solusi yang lebih manusiawi demi pemenuhan kebutuhan hidup mereka. Karena sesungguhnya, ada juga banyak orang yang berekonomi lemah tapi tidak melakukan tindakan bodoh, menyuruh anaknya mengemis.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tidak ingin mencari-cari ruang penyalahan atas keadaan itu. Karena, banyak pihak yang terkait dengan persoalan itu. Hanya saja, aku ingin menyuarakan kekecewaanku terhadap para calon presiden di negaraku, yang saat ini sedang berusaha meraih simpati. Dari banyak paparan program mereka, secara konkrit tidak kutemukan program yang menyinggung persoalan anak.</p>
<p style="text-align:justify;">Bisa jadi, mereka beralasan bahwa persoalan anak sudah tercakup dalam program-program besar mereka, terutama masalah ekonomi dan pendidikan. Tapi, benarkan demikian? Sepenuhnya aku tidak setuju. Persoalan anak, bukanlah persoalan sempilan. Ia adalah persoalan tersendiri, dan harus ditangani secara khusus dan serius. Karena, persoalan anak adalah persoalan generasi; generasi penerus kehidupan bangsa.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebetulnya, sudah banyak regulasi yang ditetapkan dalam urusan anak. Sebut saja Undang-undang Nomor 23 tahun 1979 dan UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Hanya saja, regulasi yang banyak itu, seolah tidak mendapat perhatian optimal dalam pelaksanaannya. Buktinya, ada banyak alif-alif kecil yang menghabiskan masa kecil mereka di jalanan, tanpa perlindungan, tanpa kasih sayang dan tanpa masa depan.</p>
<p style="text-align:justify;">Meski pesimis, tapi aku tetap menaruh harapan kepada presiden terpilih di negaraku nanti, agar persoalan anak menjadi perhatian khusus. Bahkan kalau perlu, dibuatkan kementrian khusus perlindungan anak, sebagaimana urusan wanita juga dibuatkan kementriannya, yang bernama mentri peranan wanita. Perhatian terhadap anak, janganlah hanya sebatas seremoni pada peringatan hari anak, setiap 23 Juli, semata. Tapi, perhatian yang utuh, tanpa tersekat ruang dan waktu.</p>
<p style="text-align:justify;">Semoga!</p>
<blockquote>
<p style="text-align:justify;"><strong>Alif Kecil &#8211; Snada</strong></p>
<p>Ketika malam datang mencekam<br />
kulihat si Alif kecil yang malang<br />
duduk tengadah kelangit yang kelam<br />
meratapi nasib diri</p>
<p>Kilat menyambar hujanpun turun<br />
semakin basah hatinya yang resah<br />
kapankah semua kini kan berakhir<br />
dijalanan penuh duri</p>
<p>Ya Allah tunjukkan jalan-Mu<br />
pada si Alif kecil<br />
Agar dia dapat menahan cobaan dan rintangan<br />
yang datang menghadang</p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2009/07/01/alif-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Dari Seorang Pengamen</title>
		<link>http://hardivizon.com/2008/03/12/belajar-dari-seorang-pengamen/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2008/03/12/belajar-dari-seorang-pengamen/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Mar 2008 04:41:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[hiburan]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[musik]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[bocah]]></category>
		<category><![CDATA[idola cilik]]></category>
		<category><![CDATA[lagu]]></category>
		<category><![CDATA[letto]]></category>
		<category><![CDATA[munajat cinta]]></category>
		<category><![CDATA[pengamen]]></category>
		<category><![CDATA[rcti]]></category>
		<category><![CDATA[sebelum cahaya]]></category>
		<category><![CDATA[the rock]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Hari Minggu biasanya aku manfaatkan dengan bermain bersama anak-anakku, entah di rumah ataupun di luar rumah. Hari Minggu kemarin, 9 Maret 2008, kami manfaatkan dengan melakukan kerja bakti bersih-bersih halaman depan. Mulai dari sapu-menyapu sampai membereskan tanaman. Tidak lupa juga jemur-jemur kasur. &#8220;Ih, kasurnya bau pesing siapa nih?&#8221;, celetukku ketika mengangkat kasur-kasur itu keluar. Serentak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2008%2F03%2F12%2Fbelajar-dari-seorang-pengamen%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p align="justify">Hari Minggu biasanya aku manfaatkan dengan bermain bersama anak-anakku, entah di rumah ataupun di luar rumah. Hari Minggu kemarin, 9 Maret 2008, kami manfaatkan dengan melakukan kerja bakti bersih-bersih halaman depan. Mulai dari sapu-menyapu sampai membereskan tanaman. Tidak lupa juga jemur-jemur kasur. &#8220;<em>Ih, kasurnya bau pesing siapa nih?&#8221;</em>, celetukku ketika mengangkat kasur-kasur itu keluar. Serentak anak-anakku menjawab, &#8220;<em>adeeek&#8230;!</em>&#8220;, sambil nunjuk ke Fatih, anak bungsuku. Sontak tawa kami meledak, dan yang diledek juga ikut-ikutan tertawa. Menyenangkan sekali.<span id="more-57"></span></p>
<p align="justify">Di tengah kami asyik dengan pekerjaan kami, tiba-tiba sayup-sayup kami dengar nyanyian dari seorang pengamen. Sepertinya dari rumah sebelah. Spontan Fatih memintaku untuk memanggil pengamen itu ke rumah kami. Akupun menyetujuinya. Dan begitu pengamen itu lewat di depan rumah, akupun memintanya untuk mampir dan bernyanyi di hadapan kami.</p>
<p align="justify">Karena melihat sebagian besar audiensnya adalah anak-anak, si pengamen pun menyanyikan lagu &#8220;Balonku&#8221;. Secara mengejutkan, Fatih protes, &#8220;<em>Moh lagu itu</em>&#8230;!&#8221;.</p>
<p align="justify">Akupun bertanya, &#8220;<em>Fatih maunya lagu apa</em>?&#8221;.</p>
<p align="justify">&#8220;<em>Tuhan kilim</em>&#8230;.!&#8221; jawabnya dengan lantang lewat lidah cadelnya.</p>
<p align="justify">Oh, ternyata lagu yang dimaksudnya adalah <a href="http://liriklaguindonesia.net/a/ahmad-dhani/the-rock-feat-ahmad-dhani-munajat-cinta/">&#8220;Munajat Cinta&#8221;</a> yang dinyanyikan Ahmad Dhani bersama group The Rock. Kalimat yang dikutip anakku tadi adalah penggalan dari bagian reff lagu tersebut; <em>Tuhan kirimkanlah aku, kekasih yang baik hati, yang mencintai aku, apa adanya&#8230;</em>&#8220;</p>
<p align="justify">Akupun tertawa terpingkal-pingkal mendengar permintaannya itu. Dan si Mas Pengamen pun meresponnya dengan baik. Dia mulai menyanyikannya. Ketika sampai pada bagian reff-nya, Fatih dan Nazhif (anakku yang ketiga), ikut menyanyikannya dengan suara khas anak-anak dan sudah pasti dengan lidah cadel mereka. Kami yang melihatnya tertawa habis. Dalam hati aku bahagia sekaligus prihatin. Rupanya anak-anakku sudah ketularan <a href="http://www.rcti.tv/entertainment/entertainment_reality.php">Idola Cilik RCTI</a>; <a href="http://triagus.multiply.com/journal/item/173">anak-anak yang menyanyikan lagu orang dewasa</a>. Yah&#8230; ada pe-er lain bagiku dan istri untuk menjaga bakat sekaligus akhlak anak-anakku di tengah gempuran pengaruh media televisi.</p>
<p align="justify">Sebelum lagunya habis dinyanyikan, akupun memberikan anak-anakku, Fatih dan Nazhif, masing-masing satu lembar uang seribu rupiah. Fatih langsung memberikannya kepada si Mas Pengamen, dan si Mas itupun menerimanya kemudian melanjutkan kembali nyanyiannya. Yang mengejutkanku adalah, ketika Nazhif pun ingin memberikan uangnya, si Mas itu menolaknya dan mengatakan, &#8220;<em>Udah</em>&#8230;&#8221;</p>
<p align="justify">Wah, sebuah sikap yang tidak biasa! Pengamen itu secara tidak langsung ingin mengatakan bahwa dia hanya ingin dibayar sebanyak apa yang dikerjakannya. Karena dia hanya menyanyikan satu lagu, maka dia merasa bahwa dia hanya pantas dibayar seribu perak! Sebuah sikap yang sangat kontras dengan sikap kebanyakan manusia di era postmodern yang serba matrealistik ini. Aku benar-benar tergugah!</p>
<p align="justify">Pengamen itu telah menjadi &#8220;guru&#8221; bagiku. Dia mengajari bagaimana caranya menghargai diri sendiri; &#8220;<strong>Terimalah bayaran, sesuai dengan apa yang kau kerjakan</strong>&#8220;. Indah sekali pelajaran ini. Jujur, aku sering menerima &#8220;upah&#8221; lebih dari apa yang aku kerjakan, meski kadang sering juga sebaliknya. Sebuah sikap yang tidak <em>fair</em> sebetulnya, ketika aku &#8220;memprotes&#8221; <span style="text-decoration:line-through;">dalam hati</span>, bila memperoleh bayaran sedikit, padahal yang kukerjakan &#8220;lebih&#8221;, tapi di lain waktu, ketika aku memperoleh bayaran yang lebih dari yang kukerjakan, aku hanya diam dan menganggap bahwa itu adalah rejeki lebih dari Tuhan. Sikap pengamen itu membuka mataku. Mudah-mudahan aku bisa menirunya. Terima kasih Mas&#8230;</p>
<p align="justify">Nazhif agak kecewa ketika ditolak oleh si Mas itu. Akupun tidak membiarkannya, maka ku minta si Mas itu untuk menyanyikan satu buah lagu lagi. Dan jadilah &#8220;konser&#8221; itu ditutup dengan lagu <a href="http://liriklaguindonesia.net/l/letto/letto-sebelum-cahaya/">&#8220;Sebelum Cahaya&#8221;</a> milik Letto.</p>
<p align="justify">Sesaat lagu itu habis, sang Pengamen itu pun berlalu dan meninggalkan kesan mendalam di hatiku. Sayup-sayup masih terngiang di telingaku nyanyian terakhirnya; &#8220;<em>Ingatkah engkau kepada, embun pagi bersahaja, yang kan menemanimu, sebelum cahaya&#8230;.&#8221;</em></p>
<p align="justify">Ya&#8230; dialah embun pagi itu&#8230;. <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2008/03/12/belajar-dari-seorang-pengamen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekspresi &quot;Cinta&quot; Pemkot Bukittinggi: &quot;No Valentine-Day!&quot;</title>
		<link>http://hardivizon.com/2008/02/14/pemkot-bukittinggi-menunjukkan-cinta-dengan-melarang-valentine-day/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2008/02/14/pemkot-bukittinggi-menunjukkan-cinta-dengan-melarang-valentine-day/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Feb 2008 03:09:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[bukittinggi]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kasih sayang]]></category>
		<category><![CDATA[maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[perayaan]]></category>
		<category><![CDATA[valentine]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Aku sangat surprise dengan pemberitaan seputar pelarangan perayaan Valentine Day oleh Pemkot Bukittinggi dalam beberapa hari ini. Patut kuacungkan dua jempol buat mereka. Jujur, ini sebuah langkah berani yang dilakukan oleh sebuah Pemerintah Daerah yang memiliki aset cukup besar dalam bidang pariwisata. Alasannya cukup logis; tidak sesuai dengan budaya setempat dan dekat dengan maksiat. Coba [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2008%2F02%2F14%2Fpemkot-bukittinggi-menunjukkan-cinta-dengan-melarang-valentine-day%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p align="justify">Aku sangat surprise dengan <a href="http://jurnalnasional.com/?med=Web&amp;sec=Breaking%20News&amp;rbrk=Nusantara&amp;id=5172">pemberitaan </a>seputar pelarangan perayaan Valentine Day oleh Pemkot Bukittinggi dalam beberapa hari ini. Patut kuacungkan dua jempol buat mereka. Jujur, ini sebuah langkah berani yang dilakukan oleh sebuah Pemerintah Daerah yang memiliki aset cukup besar dalam bidang pariwisata.<span id="more-55"></span></p>
<p align="justify">Alasannya cukup logis; tidak sesuai dengan budaya setempat dan dekat dengan maksiat.</p>
<p align="justify">Coba simak penuturan sang <a href="http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2008/02/13/brk,20080213-117398,id.html">Wakil Walikota</a>: &#8220;&#8230;..Jadi biarlah Bukittinggi ini sepi tanpa wisatawan dari pada banyak maksiat&#8221;.</p>
<p align="justify">Luar biasa! Sebuah sikap tegas yang patut ditiru. Mudah-mudahan ketegasan itu tidak hanya terhadap perayaan Valentine Day ini saja, tapi juga terhadap semua kegiatan pariwisata yang &#8220;membunuh&#8221; nilai luhur budaya setempat.</p>
<p align="justify">Sebagai orang Minang, aku cukup bangga dengan keputusan ini. Aku optimis, bila sikap pemerintah terus konsisten seperti ini, nilai-nilai luhur budaya kita akan tetap terus terjaga, meski gempuran budaya pop barat terus menghantam. Sebagai &#8220;tuan rumah&#8221; kita memang harus menghormati setiap tamu yang datang, tapi bukan berarti sang tamu boleh seenaknya di rumah kita. Ada jati diri kita yang juga harus dihormati sang tamu.</p>
<p align="justify"><a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Valentine">Valentine Day </a>adalah hari untuk mengekspresikan rasa cinta seseorang kepada orang-orang yang dicintainya. Pemkot Bukittinggi telah mengekspresikan &#8220;cintanya&#8221; kepada rakyatnya lewat pelarangan ini. Salut&#8230;!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2008/02/14/pemkot-bukittinggi-menunjukkan-cinta-dengan-melarang-valentine-day/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jakarta &amp; banjir, sampai kapan?</title>
		<link>http://hardivizon.com/2008/02/05/jakarta-banjir-sampai-kapan/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2008/02/05/jakarta-banjir-sampai-kapan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Feb 2008 01:56:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[banjir]]></category>
		<category><![CDATA[bencana]]></category>
		<category><![CDATA[fenomena]]></category>
		<category><![CDATA[hujan]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Kembali Jakarta kedatangan &#8220;tamu tahunannya&#8221;. Tapi sepertinya kali ini jauh lebih dahsyat dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Sampai-sampai sang Presiden pun menjadi korban. Jumat, 1 Februari 2008, 12:42:56 WIB SBY pun Terjebak Banjir Jakarta: Dalam perjalanan pulang setelah melakukan sidak di Pasar Baru Karawang, Jawa Barat, menuju Istana Kepresidenan, Jumat (1/2) siang, rombongan Presiden Susilo Bambang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2008%2F02%2F05%2Fjakarta-banjir-sampai-kapan%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p align="justify">Kembali <span style="cursor:hand;border-bottom:#0066cc 1px dashed;" class="yshortcuts">Jakarta</span> kedatangan &#8220;tamu tahunannya&#8221;. Tapi sepertinya kali ini jauh lebih dahsyat dibanding dengan tahun-tahun sebelumnya. Sampai-sampai sang Presiden pun menjadi korban.<span id="more-54"></span></p>
<blockquote><p><font color="#999999">Jumat, 1 Februari 2008, 12:42:56 WIB</font></p>
<h3><font color="#999999"><a href="http://www.presidenri.go.id/index.php/fokus/2008/02/01/2719.html">SBY pun Terjebak Banjir</a></font></h3>
<p align="justify"><font color="#999999">Jakarta: Dalam perjalanan pulang setelah melakukan sidak di Pasar Baru Karawang, Jawa Barat, menuju Istana Kepresidenan, Jumat (1/2) siang, rombongan Presiden Susilo Bambang terjebak kemacetan akibat hujan deras, dan banjir, yang mengguyur Jakarta sejak malam sebelumnya. Bahkan ketika rombongan Presiden SBY berada di depan Sarinah di jalan MH Thamrin, mobil Presiden SBY terhenti karena tidak dapat melewati genangan air setinggi lutut orang dewasa&#8230; <em>selanjutnya baca</em> <a href="http://www.presidenri.go.id/index.php/fokus/2008/02/01/2719.html">[disini]</a></font></p>
</blockquote>
<p align="justify">Jadwal penerbangan di tanah air sempat kocar kacir, gara-gara Bandara Soekarno-Hatta ikut-ikutan jadi korban.</p>
<blockquote>
<p align="justify"><a class="newstitle"><font color="#999999">01/02/2008 18:17 Banjir<br />
<span class="arial16"><a href="http://www.liputan6.com/ibukota/?id=154316">Bandara Soekarno-Hatta Lumpuh </a></span></font></a><font color="#999999"><strong> </strong></font></p>
<p align="justify"><font color="#999999"><strong>Liputan6.com, Jakarta:</strong> Hujan deras yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya, Jumat (1/2), menyebabkan penerbangan dari dan menuju Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, terhenti. Selain jarak pandang yang terbatas, jalan utama menuju bandara tergenang air setinggi setengah meter.</font></p>
<p align="justify"><font color="#999999">Akibat cuaca buruk, Bandara Soekarno-Hatta ditutup sejak pukul 10.00 WIB dan baru dibuka pukul 15.00 WIB. Penutupan membuat penumpukan penumpang baik di terminal satu maupun dua. Selama bandara ditutup tak satu pun pesawat yang mendarat maupun tinggal landas sehingga sekitar 60 pesawat terpaksa antre. Sementara pendaratan dialihkan ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur&#8230; <em>selanjutnya baca</em> <a href="http://www.liputan6.com/ibukota/?id=154316">[disini]</a></font></p>
</blockquote>
<p align="justify">Bila fenomena meningkatnya banjir Jakarta dari tahun ke tahun terus bertambah, aku jadi bertanya-tanya: &#8220;Jangan-jangan 10 tahun yang akan datang, banjir Jakarta akan menenggelamkan seluruh kota&#8221;. Na&#8217;uzubillah min dzalik&#8230;. <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p align="justify">Menarik untuk menyimak analisa dari para pengamat fenomena di blog <a href="http://thephenomena.wordpress.com/2008/02/02/jakarta-banjir-perulangan-yang-telah-terjadi/">The Phenomena</a>.</p>
<p align="justify">Terlepas dari apapun analisa terhadap banjir ini, bagiku bencana adalah bencana, sebuah fenomena alam yang terjadi dari kerusakan ekosistem, ulah tangan manusia. Solusinya? Berbenah. Kata orang bijak &#8220;Jangan terperosok ke dalam lubang dua kali&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2008/02/05/jakarta-banjir-sampai-kapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pak Harto Wafat, Bantul &quot;Bergoyang&quot;</title>
		<link>http://hardivizon.com/2008/01/28/pak-harto-wafat-bantul-bergoyang/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2008/01/28/pak-harto-wafat-bantul-bergoyang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2008 05:10:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[fenomena]]></category>
		<category><![CDATA[gempa Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Soeharto wafat]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Sehabis Maghrib menjelang Isya tadi malam (27/01/08), kami bersantai-santai di ruang keluarga. Afif dan Satira sibuk dengan PR sekolah mereka, Nazhif bermain denganku, sementara Fatih masih &#8220;menggelayut&#8221; dengan Mamanya. Tiba-tiba kami dikagetkan dengan teriakan istriku; &#8220;Gempa!&#8221; Aku yang tidak merasakan apa-apa, bengong saja. Istri dan anak-anakku berhamburan keluar rumah. Akupun menyusul mereka. Dan ternyata, para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2008%2F01%2F28%2Fpak-harto-wafat-bantul-bergoyang%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"><font face="Times New Roman"><font face="Verdana, sans-serif">Sehabis Maghrib menjelang Isya tadi malam (27/01/08), kami bersantai-santai di ruang keluarga. Afif dan Satira sibuk dengan PR sekolah mereka, Nazhif bermain denganku, sementara Fatih masih &#8220;menggelayut&#8221; dengan Mamanya.</font></font><font face="Times New Roman"></font></font><font face="Times New Roman"><font face="Times New Roman"> </font></font><font face="Times New Roman"><font face="Times New Roman"></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Tiba-tiba kami dikagetkan dengan teriakan istriku; <font color="#ff0000">&#8220;Gempa!&#8221;</font></font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif"><span id="more-53"></span>Aku yang tidak merasakan apa-apa, bengong saja. Istri dan anak-anakku berhamburan keluar rumah. Akupun menyusul mereka. Dan ternyata, para tetangga juga sudah berada diluar rumah mereka masing-masing. Kulihat dari raut wajah istri dan anak-anakku rona ketakutan. Rupanya, trauma gempa Jogja tempo hari masih tersisa dalam diri mereka. Aku maklumi.</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Yang menarik kemudian adalah, obrolan para tetanggaku soal gempa yang tiba-tiba itu dan beberapa fenomena alam sejak hari Jum&#8217;at (25/02/08) yang lalu, yakni angin kencang, hujan deras yang disertai kilat-petir dan gempa malam itu. Pembicaraan itupun akhirnya mengerucut kepada wafatnya Pak Harto. Menurut mereka, ini semua pasti ada kaitannya. Ini adalah hal yang “tidak biasa”.</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Dan ternyata, wacana semacam ini tidak hanya menjadi pembicaraan di tetanggaku. Beberapa media dan blog juga menguak fenomena ini, sebagai contoh coba simak di: <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/01/tgl/27/time/211608/idnews/884938/idkanal/10">Detik.com</a> atau blog <a href="http://thephenomena.wordpress.com/2008/01/27/misteri-kematian-soeharto-mengapa-tepat-pkl-0110-pm/">The Phenomena</a>.</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Penafsiran fenomena alam ini bukanlah hal yang baru dalam kerangka mitologi masyarakat Jawa. Kejadian-kejadian besar sebelum ini, seperti meletusnya Gunung Merapi dan Gempa Jogja 27 Mei 2006 silam, sangat sarat dengan tafsiran-tafsiran semacam ini.</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Terhadap wacana ini, menarik juga untuk menyimak asumsi dasar yang dibangun Heddy Shri Ahimsa-Putra dalam penelitiannya tentang Politik Tafsir Bencana Merapi, beberapa waktu silam:</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Pertama, manusia dipandang sebagai <i>animal symbolicum</i>, atau makhluk yang memiliki kemamuan untuk menggunakan, menciptakan, dan mengembangkan aneka ragam simbol dalam kehidupannya. Simbol atau lambang di sini tidak diartikan sebagai “segala sesuatu yang bermakna”, tetapi sebagai segala sesuatu yang dimaknai, karena manusia adalah makhluk yang mampu memberikan makna terhadap lingkungannya, terhadap segala sesuatu yang dihadapinya. Jadi, dalam kehidupan manusia segala sesuatu menjadi bersifat simbolis, <i>lambangi</i>.</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Kedua, perangkat pemaknaan dan hasil pemaknaan ini dalam kurun waktu tertentu dapat ditanggapi sebagai sesuatu yang <i>relatif tetap</i>. Anggapan ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia membutuhkan suatu kerangka acun yang agak tetap untuk dapat menafsirkan dan memahami lingkungannya. Tanpa perangkat semacam ini, manusia tidak akan mampu memberikan tafsir yang dapat dijadikan acuan bersama dalam proses komunikasi, dan tanpa proses komunikasi yang berpedoman pada suatu kerangka acuan bersama tidak akan lahir komunitas masyarakat, ataupun bentuk-bentuk kehidupan sosial lainnya.</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Ketiga, keberadaan seseorang dalam suatu golongan atau kelompok sosial, atau posisi seseorang dalam masyarakat sangat besar peranannya dalam membentuk persepsi dan pemahaman orang tersebut atas dunia sekitarnya. Oleh karena itu, persepsi atau interpretasi seseorang atas suatu peristiwa, lingkungan, atau pun yanglain, akan berbeda dengan tafsir individu yang berasal dari kelompok social, atau posisi sosial yang berbeda.</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Keempat, perilaku manusia terhadap dunia sekitarnya sedikit banyak dipengaruhi oleh pemahaman atau pemaknaannya atas dunai tersebut. Di lain pihak, perilaku ini juga bersifat simbolik, dimaknai, baik oleh pelakunya sendiri maupun orang lain. Pemaknaan-pemaknaan yang diberikan pada berbagai perilaku simbolik ini yang kemudian dilontarkan pada pihak lain untuk diperbincangkan dan diuji kebenarannya, merupakan dasar bagi berlangsungnya proses interaksi dan hubungan-hubungan sosial lainnya dalam kehidupan manusia.</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Kelima, sebagai fenomena empiris, perilaku dan tindakan manusia merupakan fenomena yang hanya terwujud sekali, dan setelah itu tidak ada lagi. Untuk dapat memperbincangkannya, manusia perlu mempertahankan eksistensi fenomena tersebut. Oleh karenanya fenomena ini perlu “dibekukan” agar dapat disimpan. Ini dapat dilakukan melalui bahasa, baik lisan maupun tulisan. Jadi, perbincangan dan tekstualisasi pada dasarnya adalah upaya-upaya manusia untuk “menangkap” dan “membekukan” segala sesuatu “yang mengalir” di sekelilingnya. Ketika pembekuan ini telah terjadi, fenomena sosial budaya yang “mengalir” tersebut berubah menjadi teks-teks sosial budaya yang dapat dianalisis, dipahami dan ditafsir kembali.</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Pertanyaannya: “Bagaimana sikap kita terhadap tafsir sosial semacam itu?”</font></p>
<p></font></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2008/01/28/pak-harto-wafat-bantul-bergoyang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FTV Natal: Sebuah Penantian</title>
		<link>http://hardivizon.com/2007/12/24/ftv-natal-sebuah-penantian/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2007/12/24/ftv-natal-sebuah-penantian/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Dec 2007 07:04:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[ftv natal]]></category>
		<category><![CDATA[hipnotisme]]></category>
		<category><![CDATA[pemurtadan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/2007/12/24/ftv-natal-sebuah-penantian/</guid>
		<description><![CDATA[PENASARAN&#8230; Itulah motivasi utamaku buat menonton film televisi ini. Gara-garanya, beberapa minggu sebelum film ini diputar, telah beredar sms yang mengingatkan umat Islam untuk tidak menontonnya. Ditambah lagi, di berbagai mailing list, juga heboh didiskusikan. Bahkan, guru anakku pun memberi peringatan yang sama kepada murid-muridnya. Benar-benar bikin penasaran&#8230; Akhirnya, dengan penuh rasa penasaran, aku dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2007%2F12%2F24%2Fftv-natal-sebuah-penantian%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p align="justify">PENASARAN&#8230; Itulah motivasi utamaku buat menonton film televisi ini. Gara-garanya, beberapa minggu sebelum film ini diputar, telah beredar sms yang <a href="http://forum.brawijaya.ac.id/index.php?action=vthread&amp;forum=6&amp;topic=1125">mengingatkan</a> umat Islam untuk tidak menontonnya. Ditambah lagi, di berbagai mailing list, juga heboh didiskusikan. Bahkan, guru anakku pun memberi peringatan yang sama kepada murid-muridnya. Benar-benar bikin penasaran&#8230;<span id="more-50"></span></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Akhirnya, dengan penuh rasa penasaran, aku dan istri menyempatkan buat menonton sinema elektronik itu. Dan ternyata, kami sungguh-sungguh kecewa. Ceritanya tidak sedahsyat beritanya. Tidak ada hipnotisme, tidak ada pemurtadan dan tidak ada yang aneh. Ftv ini tidak lebih dari sinetron biasa. Tidak ada yang istimewa.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Film ini hanya <a href="http://www.gms.or.id/writer/archives/608">menceritakan</a> seorang anak perempuan yang ingin seluruh keluarganya berkumpul di hari pernikahannya. Sang kakak yang sudah menghidupi keluarga tersebut semenjak ditinggal pergi oleh sang ayah, menolak kehadiran sang ayah kembali, meski sang ayah telah menyesali segala kesalahannya. Dan dapat ditebak, diakhir cerita semuanya berakhir bahagia. Tepat di hari pernikahan sang adik, sang ayah dengan tertatih-tatih mengantarnya ke altar. Ketika sang ayah terjatuh, tiba-tiba sang kakak datang membantu dan bersama-sama mereka berjalan ke altar.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Dari awal hingga akhir, aku berusaha mencari celah di mana letak hipnotismenya. Sekali lagi aku kecewa; aku tidak menemukannya..!</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Di sela-sela kami menonton, tiba-tiba putra sulungku, Afif, masuk rumah untuk minum. Sambil memagang gelas minumannya, dia bertanya kepadaku: &#8220;Pa, apa artinya kalimat <i>astaghfirullah</i>?&#8221; Kukira dia menkroscek jawaban EHBnya tadi, maka kujawab dengan serius: &#8220;Aku mohon ampun kepada Allah&#8221;. Lantas, dengan ekspresi polos, dia berkata: &#8220;<i>Alhamdulillah</i>, Papa masih Islam&#8230;&#8221;, dan diapun berlalu, buat melanjutkan acara bermainnya tadi. Seketika meledaklah tawa kami, ha ha ha&#8230; aku dikerjai anak sendiri..!!</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Isu <a href="http://www.ardifa.com/content/view/231/1/">hipnotisme</a> memang cukup ampuh untuk &#8220;mengiklankan&#8221; film ini secara gratis. Salut buat kreatifitas &#8220;pengiklan&#8221; itu. Cukup mengispirasi&#8230;. <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2007/12/24/ftv-natal-sebuah-penantian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
