<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SURAU INYIAK</title>
	<atom:link href="http://hardivizon.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hardivizon.com</link>
	<description>just another way to know</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Aug 2010 02:08:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>telpon tipu-tipu</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/08/31/telpon-tipu-tipu/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/08/31/telpon-tipu-tipu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Aug 2010 01:54:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[umum]]></category>
		<category><![CDATA[penipuan]]></category>
		<category><![CDATA[ponsel]]></category>
		<category><![CDATA[sms]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1872</guid>
		<description><![CDATA[Cerita mengenai telpon atau sms penipuan menurutku sudah lazim kita dengar sehari-hari. Namun, meski sudah banyak berita soal itu, tetap saja ada yang termakan tipu muslihat tersebut. Entahlah, apa penipunya yang lihai ataukah korbannya yang terlalu lemah. Beberapa hari yang lalu, akupun menjadi &#8220;korban&#8221; telpon tipu-tipu ini. Tapi, korban yang kumaksud di sini bukan korban [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F08%2F31%2Ftelpon-tipu-tipu%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Cerita mengenai telpon atau sms penipuan menurutku sudah lazim kita dengar sehari-hari. Namun, meski sudah banyak berita soal itu, tetap saja ada yang termakan tipu muslihat tersebut. Entahlah, apa penipunya yang lihai ataukah korbannya yang terlalu lemah.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa hari yang lalu, akupun menjadi &#8220;korban&#8221; telpon tipu-tipu ini. Tapi, korban yang kumaksud di sini bukan korban yang dikuras uangnya. Aku adalah korban pencatutan nama oleh sang penipu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku dipercaya oleh teman-teman untuk menjadi tim pendirian sebuah BMT (<em>Baitulmal wa Tamwil</em>), bekerjasama dengan salah satu BMT terbesar di Yogyakarta. Karena urusan inilah, maka aku cukup dekat dengan jajaran direksi BMT ini, termasuk Direktur Utama-nya, sebut saja namanya Bu Rahmi.<span id="more-1872"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pagi itu, Bu Rahmi mendapat telpon dari seseorang ke telpon selularnya. Di layar ponsel hanya muncul nomor, yang menunjukkan bahwa nomor itu belum tersimpan di ponselnya, alias nomor baru.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Assalamu&#8217;alaikum&#8230;.&#8221;, si penelpon menyapa.<br />
&#8220;Wa&#8217;alaikumussalam&#8230;&#8221;, bu Rahmi menjawab.<br />
&#8220;Apa kabar Ibu? Sehat?&#8221;<br />
&#8220;Alhamdulillah, sehat&#8230; Ini dengan siapa ya? Kok nomornya tidak tersimpan di HP saya?&#8221;<br />
&#8220;Iya Bu, ini nomor baru. Saya menelpon karena ingin memberitahukannya. Ayo, coba tebak, dari suara saya Ibu pasti bisa mengenalinya bukan?&#8221;<br />
&#8220;Pak Vizon ya?&#8221;<br />
&#8220;Yup, betul sekali&#8230;! Sekarang, selain nomor yang ini, saya tidak pakai lagi. Tolong diganti ya Bu&#8221;<br />
&#8220;Ok Pak Vizon&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Klik, hubungan telpon pun terputus. Dan sejak saat itu, Bu Rahmi beberapa kali dihubungi oleh &#8220;Pak Vizon&#8221; dengan obrolan yang bermacam-macam. Dari situ, si Pak Vizon tadi mulai dapat membaca bagaimana hubungan antara Bu Rahmi dengan aku, Vizon yang asli.</p>
<p style="text-align: justify;">Bu Rahmi sama sekali tidak menyadari kalau dia sudah masuk perangkap si penipu, sampai akhirnya si Pak Vizon itu berbicara mengenai transfer mentransfer uang. Dari situ barulah Bu Rahmi tersadar kalau ini ada yang tidak beres. Spontan Bu Rahmi pun mengumpulkan stafnya yang sering berhubungan denganku dan meminta mereka untuk menelpon ke nomor ponselku yang biasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">&#8220;Assalamu&#8217;alaikum Pak Vizon&#8221;, salah seorang staf menyapaku lewat ponsel.<br />
&#8220;Wa&#8217;alaikumussalam, apa kabar Mbak,?&#8221; aku langsung mengenali suara si penelpon dan nomor telpon kantor BMT tersebut<br />
&#8220;Maaf Pak, Bapak ganti nomor hp ya?&#8221;<br />
&#8220;Tidak&#8230; saya tetap pakai nomor ini, dan belum berniat untuk menggantinya. Emangnya ada apa mbak?&#8221;<br />
&#8220;Oalah&#8230; tadi ada yang nelpon Bu Rahmi, mengaku sebagai Bapak dan bilang kalau nomornya ganti&#8221;<br />
&#8220;Astaghfirullah&#8230;!&#8221;<br />
Dan, mengalirlah kronologis ceritanya dari mulut si Mbak itu kepadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kejadian itu benar-benar telah mengorbankanku, terutama nama baik. Sejenak muncul ketidakpercayaan Bu Rahmi kepadaku lantaran permintaan transferan uang dari si Pak Vizon gadungan itu. Dan bahkan, sebelum menelponku, si Mbak Staf tadi sempat menkroscek ke beberapa temanku soal penggantian nomor tersebut. Meski tidak menyebutkan cerita yang sebenarnya, namun tentu saja hal itu menimbulkan pertanyaan dan persepsi yang macam-macam dari teman-teman terhadapku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi syukurlah, akhirnya semuanya menjadi jelas dan kerugian secara materi dapat dihindari.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari kejadian ini, ada pelajaran yang dapat diambil:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Pertama</em>, jangan cepat percaya dengan nomor telpon baru yang tidak kita kenal. Jawab saja seperlunya dan jangan mau terjebak dengan tebak-tebakan nama yang dilontarkan oleh si penelpon. Katakan saja kalau kita sama sekali tidak kenal dengan suara itu dan minta dia untuk menyebutkan namanya sendiri. Sebab, jika kita sempat menyebutkan nama seseorang yang kita kenal, si penipu itu akan berusaha mengorek keterangan tentang nama tersebut dari kita sebanyak-banyaknya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kedua</em>, jangan buru-buru menghapus nomor lama kawan kita, meski ada yang mengaku kalau dia ganti nomor.  Pastikan betul kalau itu memang kawan kita yang dimaksud.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Ketiga</em>, segeralah kroscek ke nomor lama yang bersangkutan dengan menelponnya. Dari situ kita akan tahu, apakah itu sebuah penipuan atau bukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah, semoga sahabat-sahabat semua tidak mengalami hal sama atau lebih buruk dari ini. Kita memang tidak boleh berpikiran negatif, tapi waspada adalah sebuah keniscayaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Terima kasih buat Kak Monda, karena postingannya soal <a href="http://mondasiregar.wordpress.com/2010/08/25/sms%C2%A0spam/" target="_blank">SMS SPAM</a> telah menggugahku untuk menceritakan ini kepada anda semua.. <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Apakah kawan-kawan pernah punya pengalaman soal telpon tipu-tipu ini?</p>
<p><a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"><img style="border: 0 !important; background: transparent;" src="http://signatures.mylivesignature.com/85707/vizon/fefc02aeba18f94de60e4bee5987323b.png" border="0" alt="" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/08/31/telpon-tipu-tipu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>lampu colok</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/08/28/lampu-colok/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/08/28/lampu-colok/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Aug 2010 02:17:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[lampu colok]]></category>
		<category><![CDATA[pekanbaru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1865</guid>
		<description><![CDATA[Anda tahu dengan lampu colok? Mungkin sebagian kita cukup akrab dengan istilah ini, tapi bagi sebagian lagi, istilah ini sangat asing. Wajar memang, karena lampu colok adalah semacam lentera berbahan bakar minyak tanah, berwadahkan kaleng atau botol bekas dan bersumbukan tali tambang. Yang tentu saja sudah tak ditemukan lagi. Ya, ini adalah sebuah lampu tradisional [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F08%2F28%2Flampu-colok%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Anda tahu dengan lampu colok? Mungkin sebagian kita cukup akrab dengan istilah ini, tapi bagi sebagian lagi, istilah ini sangat asing. Wajar memang, karena lampu colok adalah semacam lentera berbahan bakar minyak tanah, berwadahkan kaleng atau botol bekas dan bersumbukan tali tambang. Yang tentu saja sudah tak ditemukan lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, ini adalah sebuah lampu tradisional yang dulu banyak dipakai oleh masyarakat kita. Namun, karena kemajuan zaman, lampu itupun tergeserkan dan diganti dengan lampu listrik yang jauh lebih praktis dan bersih. Istilah lampu colok banyak digunakan di Sumatera, terutama Riau dan sekitarnya. Kalau di Jawa, istilah ini barangkali sama dengan lampu senthir.<span id="more-1865"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Aku tiba-tiba ingat dengan lampu ini, karena membaca status di FB seorang teman yang berbunyi: &#8220;<em>rapat persiapan festival lampu colok</em>&#8220;.</p>
<p style="text-align: justify;">Di Riau, khususnya Pekanbaru dan Bengkalis, setiap Ramadhan digelar <a href="http://nusantara.tvone.co.id/berita/view/23397/2009/09/17/festival_lampu_colok_semarakan_malam_lailatul_qadar" target="_blank">festival lampu colok</a>. Para peserta festival beradu kreativitas. Mereka membuat aneka bentuk bangunan atau lainnya yang kemudian digantungkan di sana lampu colok yang banyak. Pada malam hari, lampu colok itu akan dinyalakan yang tentunya akan menyuguhkan pemandangan yang indah. Coba perhatikan gambar berikut ini yang kuambil dari berbagai sumber:</p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/08/lampu-colok-1.jpg"><img class="size-medium wp-image-1866 alignnone" title="lampu colok 1" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/08/lampu-colok-1-300x235.jpg" alt="" width="300" height="235" /></a><a href="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/08/lampu-colok-2.jpg"><img class="size-full wp-image-1867 alignnone" title="lampu colok 2" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/08/lampu-colok-2.jpg" alt="" width="300" height="232" /></a><a href="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/08/lampu-colok-3.jpg"><img class="size-medium wp-image-1868 alignnone" title="lampu colok 3" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/08/lampu-colok-3-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a><a href="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/08/lampu-colok-4.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-1869" title="lampu colok 4" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/08/lampu-colok-4-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /><br />
<span style="color: #ff0000;">Aneka kreativitas lampu colok yang mencolok di malam hari</span></a></p>
<p style="text-align: justify;">Indah sekali bukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Postingan ini sesungguhnya untuk menyatakan kerinduanku akan kampung halaman. Sudah lama sekali aku tidak ber-Ramadhan di sana. Jujur, aku rindu akan tradisi dan suasana khas kampungku, meski Jogja tidak kalah khasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Memanglah benar kata orang, ketika kita sudah berjauhan, baru terasa makna sesuatu itu bagi diri kita. Mungkin kali ini bagiku tradisi Ramadhan di Jogja sudah menjadi rutinitas, namun jika aku sudah meninggalkan kota ini nanti, tentu saja kerinduan akan tradisi khas itu menyeruak dan menyesakkan dadaku. Seperti itu jugalah yang terjadi dengan kerinduanku akan festival lampu colok ini. Dulu, bagiku itu sudah menjadi kebiasaan dan seringkali malah kulewati begitu saja. Namun sekarang, aku rindu setengah mati (halah, lebay).</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah kita, yang gampang meremehkan apa yang sedang kita miliki, tapi akan bergulat dengan emosi ketika sesuatu itu hilang atau tidak kita miliki lagi. Maka, patutlah kita menjaga dan mensyukuri dengan sebaik-baiknya apa yang tengah kita genggam dan miliki, karena suatu saat bisa jadi ia terenggut atau terpaksa kita tinggalkan.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah kawan-kawan semua, apakah ada tradisi khas Ramadhan di tempat Anda? Boleh berbagi cerita?</p>
<p style="text-align: justify;">.</p>
<p style="text-align: justify;">gambar diambil dari<a href="http://www.riautimes.com/beritafoto.php?idberitafoto=532" target="_blank"> sini</a>, <a href="http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?p=58662801" target="_blank">sana</a>, dan <a href="http://melayuonline.com/ind/news/read/9656" target="_blank">situ</a>.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/08/28/lampu-colok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>balimau</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/08/10/balimau/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/08/10/balimau/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 10:24:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[balimau]]></category>
		<category><![CDATA[padusan]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1859</guid>
		<description><![CDATA[Balimau adalah tradisi masyarakat Minangkabau dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Kegiatannya adalah mandi keramas dengan diniatkan untuk membersihkan jiwa dan raga dari segala dosa, sehingga bisa memasuki bulan Ramadhan dengan penuh kesucian. Kegiatan ini bisa dilakukan sendiri di kamar mandi, atau secara bersama-sama di sungai atau tempat pemandian umum lainnya. Di masyarakat Jawa, tradisi ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F08%2F10%2Fbalimau%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Balimau adalah tradisi masyarakat Minangkabau dalam menyambut kedatangan bulan Ramadhan. Kegiatannya adalah mandi keramas dengan diniatkan untuk membersihkan jiwa dan raga dari segala dosa, sehingga bisa memasuki bulan Ramadhan dengan penuh kesucian. Kegiatan ini bisa dilakukan sendiri di kamar mandi, atau secara bersama-sama di sungai atau tempat pemandian umum lainnya. Di masyarakat Jawa, tradisi ini dikenal dengan istilah padusan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kegiatan ini sesungguhnya tidaklah ada dalam syariat Islam. Ini hanya tradisi peninggalan nenek moyang yang kemudian dilekatkan dengan unsur-unsur keagamaan. Spirit dari kegiatan ini sebenarnya tidaklah ada yang salah. Hanya saja, belakangan kegiatan ini justru menjadi ajang maksiat. Sudah jadi pemandangan yang lumrah saja bila kita melihat aksi muda-mudi yang tak pantas menurut adat apalagi agama dalam kegiatan balimau atau padusan ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Fenomena ini patut direnungi lagi untuk kemudian memperbaikinya. Jangan sampai, sesuatu yang berspirit keagamaan, justru berwujud kemaksiatan, yang tentunya bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">Terlepas dari hal itu semua, yang jelas, hari ini aku juga ingin &#8216;BALIMAU&#8217;. Tentu saja bukan balimau yang biasa.  Aku ingin membersihkan diri ini dari segala kesalahan; perkataan, tulisan maupun perilaku. Caranya? Tentu saja memohonkan maaf, dengan segala kerendahan hati, kepada sahabat narablog semuanya. Semoga Ramadhan kali ini dapat kita jalankan dengan kekhusyukan yang jauh lebih baik dari tahun lalu.</p>
<p style="text-align: justify;">SELAMAT BERPUASA SAHABATKU&#8230;<br />
SEMOGA BERKAH SELALU&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/08/10/balimau/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>aku dan mesin tik</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/08/03/aku-dan-mesin-tik/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/08/03/aku-dan-mesin-tik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Aug 2010 12:03:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[dumai]]></category>
		<category><![CDATA[duri]]></category>
		<category><![CDATA[gontor]]></category>
		<category><![CDATA[komputer]]></category>
		<category><![CDATA[mesin tik]]></category>
		<category><![CDATA[om nh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1845</guid>
		<description><![CDATA[Untuk yang kesekian kalinya, tulisanku terinspirasi dari postingan Om Nh di blognya. Gara-gara beliau menuliskan tentang mesin tik, akupun tergerak ingin menceritakan pengalamanku yang cukup panjang dengan mesin yang memiliki bunyi khas itu. Perkenalanku untuk pertama kali dengan mesin ini sekitar tahun 1982, ketika aku duduk di kelas IV SD. Aku tidak tahu, alasan apa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F08%2F03%2Faku-dan-mesin-tik%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Untuk yang kesekian kalinya, tulisanku terinspirasi dari postingan Om Nh di blognya. Gara-gara beliau menuliskan tentang <a href="http://theordinarytrainer.wordpress.com/2010/08/01/mesin-tik/" target="_blank">mesin tik</a>, akupun tergerak ingin menceritakan pengalamanku yang cukup panjang dengan mesin yang memiliki bunyi khas itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Perkenalanku untuk pertama kali dengan mesin ini sekitar tahun 1982, ketika aku duduk di kelas IV SD. Aku tidak tahu, alasan apa yang membuat Papaku membeli mesin tersebut. Ketika itu, beliau baru pulang dari Kota Dumai. Beliau membawa beberapa barang yang salah satunya mesin tersebut. Dumai adalah kota pelabuhan yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Duri. Kami kerap pergi ke kota tersebut untuk berbelanja aneka barang import yang kebanyakannya dari Singapura, dengan harga yang lumayan murah. Boleh dikatakan, alat-alat elektronik di rumah kami ketika itu, dibeli di Dumai.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedatangan Papa dengan mesin tik itu cukup mengherankanku. Apa sebetulnya tujuan beliau membelinya. Secara membabibuta aku bertanya kepada beliau tentang mesin tersebut. Beliau hanya mengatakan bahwa mesin tersebut berfungsi sebagai alat untuk menulis tanpa pulpen. Akupun bertanya selanjutnya tentang bagaimana cara menggunakan alat itu. Ternyata, beliaupun tidak tahu cara menggunakannya. Oalah&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> <span id="more-1845"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Secara kebetulan, keesokan harinya, kami kedatangan kakak sepupuku dari Bukittinggi. Dia berencana akan mencari kerja di kota Duri. Ternyata, kakak sepupuku itu bisa menggunakan mesin tik, meski tidak begitu mahir. Jadilah akhirnya aku ditunjukkan oleh beliau dasar-dasar mengetik.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak itu, aku keasyikan dengan alat baru tersebut. Bagiku, itu adalah mainan baru. Setiap hari, sepulang sekolah, aku berlatih terus menggunakan mesin itu, hingga kedua jari telunjukku kapalan. Maklumlah, aku menggunakan sistem mengetik 11 jari, hehehe&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Hampir dua bulan lamanya, aku menekuni latihan mengetik tersebut. Nyaris aku tidak keluar rumah untuk bermain bersama teman-teman. Aku benar-benar menikmatinya dan jatuh cinta dengan mesin tersebut. Kecintaanku itu semakin bertambah, ketika aku bisa membantu Papaku menuliskan surat undangan rapat kepada anggota Persatuan Olah Raga Berburu Babi yang beliau pimpin. (<em>Oya, di Sumatra Barat dan Riau, sampai saat ini masih lestari olahraga berburu babi ini. Lebih detail tentang olahraga ini, silahkan baca </em><a href="http://www.cimbuak.net/content/view/597/7/" target="_blank"><em>di sini</em></a><em> ya&#8230;</em> <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ). Anda tentu dapat merasakan betapa senang dan gembiranya aku kala itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, semuanya itu secara mendadak hilang dariku.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti biasa, sepulang sekolah aku langsung berganti pakaian, shalat zuhur dan makan siang. Setelah itu, aku bergegas menuju lemari tempat menyimpanan mesin tik kesayanganku. Tapi, apa yang kulihat..? Aku terkejut alang kepalang. Mesin tik-ku tidak ada di tempatnya! Aku cari ke berbagai tempat, juga tidak ada. Dengan perasaan cemas, aku tanyakan kepada Mamaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mama sepertinya berusaha mengalihkan perhatianku, dan agak enggan menjawab pertanyaan tersebut. Tapi, setelah aku desak, akhirnya beliau cerita, bahwa sesungguhnya mesin tik itu dibeli Papa tempo hari untuk kakak sepupuku yang baru saja kuliah di Padang. Ketika aku sekolah tadi, Maktuo-ku (Budhe) datang untuk mengambil mesin tersebut dan langsung membawanya ke Padang.</p>
<p style="text-align: justify;">Serta merta aku teriak, dan menangis sejadi-jadinya. Aku kesal. Aku marah. Entah apalagi yang bergemuruh di dadaku. Yang pasti, aku tidak terima kalau mesin tik kesayanganku itu diambil. Tiga hari aku tidak bertegursapa dengan orangtuaku. Tiga hari pula aku tidak melakukan apa-apa, selain makan dan tidur. Aku tidak berangkat sekolah, tidak keluar rumah sama sekali. Aku protes!</p>
<p style="text-align: justify;">Aksiku itu berhenti, ketika secara tiba-tiba Papaku muncul di hadapanku. Yang mengagetkanku bukan kemunculan beliau, tapi sesuatu yang beliau jinjing. Sebuah mesin tik..! Ya, sebuah mesin tik&#8230;! Aku hampir tak percaya dengan penglihatanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Papa mengambil posisi duduk di sampingku. Beliau mengatakan kalau baru saja pulang dari Dumai untuk membelikanku mesin tik tersebut dan meminta maaf karena tidak mengatakan yang sesungguhnya soal mesin tik yang pertama dulu. Beliau bertindak begitu karena tidak tega melihat keasyikanku berlatih mengetik.</p>
<p style="text-align: justify;">Seketika sirna sudah segala gemuruh di dadaku, berganti dengan kegembiraan yang tak terkatakan. Aku bersorai senang. Kupeluk kedua orangtuaku, meminta maaf dan berterima kasih.</p>
<p style="text-align: justify;">Sejak itu, aku seolah tak terpisahkan dengan mesin tik tersebut. Bagiku, itu adalah mainan terhebat yang pernah dibelikan keduaorangtuaku.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/08/akbar-dan-mesin-tik.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1852" title="akbar dan mesin tik" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/08/akbar-dan-mesin-tik-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>Keterampilan mengetikku semakin terasah ketika nyantri di Gontor. Seringkali aku ditunjuk sebagai sekretaris di berbagai kegiatan. Puncaknya adalah ketika aku duduk di kelas IV (1 SMA). Aku dipercaya untuk menjadi mentor kursus mengetik, bersama beberapa orang temanku.  Ketika itu, aku sudah mampu mengetik cepat dengan sepuluh jari dan mengetik buta. Kemampuan itulah yang aku tularkan kepada para peserta kursus saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama nyantri, mesin tik tersebut memang tidak kubawa. Tapi, ketika menjadi mahasiswa, mesin itu kembali menemani hari-hariku. Tapi sayang, riwayat mesin itu harus berhenti gara-gara banjir yang melanda kamar kos yang kutinggalkan ketika aku liburan ke Duri. Selama berhari-hari mesin itu terendam air dan rusak parah, sehingga tak bisa lagi dipergunakan, padahal aku sudah mulai menulis skripsi. Dengan berat hati, mesin itupun aku museumkan. Dan sejak saat itu, akupun berkenalan dengan komputer, hingga saat ini keseharianku tak terlepas dari mesin elektronik tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah pengalamanku bersama mesin tik tersebut yang saat ini tergeletak tak berdaya di gudang rumah orangtuaku di Duri. Aih&#8230; jadi kangen dengan mesin itu, hehehe&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">.</p>
<p style="text-align: justify;">Foto di atas adalah sahabatku Akbar Zainudin yang menjadi saingan terkuatku dalam lomba mengetik cepat di Gontor dahulu. Tulisannya tentang mesintik, dapat dibaca <a href="http://www.facebook.com/photo.php?pid=6279314&amp;id=770465808#!/note.php?note_id=390622002502" target="_blank">di sini</a></p>
<p><a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"><img style="border: 0 !important; background: transparent;" src="http://signatures.mylivesignature.com/85707/vizon/fefc02aeba18f94de60e4bee5987323b.png" border="0" alt="" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/08/03/aku-dan-mesin-tik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ayah adi dan dika</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/07/28/ayah-adi-dan-dika/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/07/28/ayah-adi-dan-dika/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Jul 2010 03:50:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[anak laki-laki]]></category>
		<category><![CDATA[ayah]]></category>
		<category><![CDATA[fatherhood]]></category>
		<category><![CDATA[fathering]]></category>
		<category><![CDATA[parenting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1840</guid>
		<description><![CDATA[Dari banyak iklan yang tayang di televisi, hanya sedikit yang  meninggalkan kesan baik di benakku. Kesan yang bernilai positif tentunya. Yakni, kesan yang mampu memberi inspirasi. Salah satu iklan itu adalah iklan sebuah pasta gigi yang menampilkan sosok ayah dan anak, Ayah Adi dan Dika namanya. Iklan ini memang sederhana. Hanya menunjukkan taktik seorang ayah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F07%2F28%2Fayah-adi-dan-dika%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/07/ayah-adi-dan-dika.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1841" title="ayah adi dan dika" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/07/ayah-adi-dan-dika-300x153.jpg" alt="" width="300" height="153" /></a>Dari banyak iklan yang tayang di televisi, hanya sedikit yang  meninggalkan kesan baik di benakku. Kesan yang bernilai positif tentunya. Yakni, kesan yang mampu memberi inspirasi. Salah satu iklan itu adalah iklan sebuah pasta gigi yang menampilkan sosok ayah dan anak, Ayah Adi dan Dika namanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Iklan ini memang sederhana. Hanya menunjukkan taktik seorang ayah dalam membiasakan putranya menyikat gigi dua kali sehari. Tapi, bagiku ini tidaklah sesederhana itu. Disadari atau tidak oleh pihak pengiklan, pemilihan tokoh ayah dan anak lelakinya itu sangatlah besar maknanya. Sesungguhnya, jika mereka mengambil sosok ibu dan anak pun, pesan iklan itu aku yakin tetap akan sampai. Pengambilan tokoh ayah dan anak lelakinya disini, sangat menarik menurutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa?</p>
<p style="text-align: justify;">Begini:<span id="more-1840"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam masyarakat bermazhab patriarkis seperti kita, sosok ayah selalu digambarkan sebagai sosok yang disegani, berwibawa dan seringkali ditakuti oleh anaknya. Adalah sebuah aib, jikalau seorang ayah mengerjakan pekerjaan ibu bersama anaknya. Di banyak etnis, seorang ayah harus ditampilkan sebagai sosok yang &#8220;dilayani&#8221;, tidak boleh berada pada posisi &#8220;melayani&#8221;, meski sekedar membasuh kaki anaknya yang kotor setelah bermain.</p>
<p style="text-align: justify;">Paradigma ini, meski sudah berkurang, tapi di masyarakat kita masih cukup kental dan lestari. Barangkali, hal inipun masih kita (para ayah) modern, lakukan. Sebagai contoh: ketika sedang asyik online di jagat maya, tiba-tiba anak kita meminta sesuatu, apa yang kita lakukan? Tanpa berniat untuk menuduh, tapi barangkali kebanyakan kita akan bilang: &#8220;<em>Sana, minta sama Mama</em>&#8220;.</p>
<p style="text-align: justify;">Sosok ayah Adi yang &#8220;terjun ke lapangan&#8221; mengajarkan perihal sikat gigi kepada putranya, Dika, menurutku sebuah iklan yang mampu mengedukasi kita semua. Seorang anak laki-laki sangat membutuhkan ayahnya dalam pertumbuhannya. Anak laki-laki yang dirawat dan mendapat sentuhan fisik ayah, dapat menerima diri secara positif dan merasa aman dengan maskulinitasnya. Suatu penelitian mengungkap bahwa para ayah perlu berinteraksi dengan anak sedikitnya dua jam sehari dan enam setengah jam di akhir minggu. Dengan bertambahnya usia anak, jumlah waktu bisa saja berkurang. Namun kebutuhan anak laki-laki untuk berinteraksi dengan ayah, dua kali melebihi kebutuhan anak perempuan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau begitu, apa sesungguhnya yang dibutuhkan seorang anak lelaki dari ayahnya?</p>
<p style="text-align: justify;">Ada banyak sesungguhnya yang dibutuhkan seorang anak lelaki dari ayahnya. Setidaknya ada tiga hal yang dapat aku simpulkan dari berbagai bacaan:</p>
<h3 style="text-align: justify;">1. Kasih sayang dan ketegasan</h3>
<p style="text-align: justify;">Anak laki-laki butuh melihat ayah. Kondisi minimalnya, anak laki-laki butuh sering melihat sosok ayah. Namun ayah yang baik tentu tidak puas bila hanya ditonton oleh anak. Anak laki-laki butuh ayah yang menunjukkan kasih sayang. Ayah yang selalu mengambil jarak dengan anak, tampak dingin dan kaku saat berbicara dengan anak, adalah ayah yang ketinggalan jaman.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak laki-laki butuh ayah yang memberi batasan pada perilakunya. Kontradiksi? Tentu tidak. Memberi batasan perilaku tidak bertentangan dengan menunjukkan kasih sayang. Malah, kemampuan ayah memberi batasan perilaku pada anak, dipertinggi bila ia punya kedekatan dengan anak. Tanpa batasan perilaku dari luar, anak laki-laki tidak akan punya kemampuan mengendalikan diri.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat mengalami perubahan fisik menjadi remaja laki-laki atau pria dewasa sekali pun, anak laki-laki masih butuh bantuan ayah. Dari ayahnya, anak laki-laki ingin belajar menjadi pria dewasa yang bertanggung jawab, dan menerima maskulinitasnya dengan gembira.</p>
<h3 style="text-align: justify;">2. Saling belajar</h3>
<p style="text-align: justify;">Anak laki-laki belajar dari ayah, dan para ayah pun belajar dari anak laki-lakinya melalu interaksi mereka. Menjadi model bagi anak laki-laki merupakan cara ayah memberi pengaruh, baik emosi, sosial maupun fisik.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat Anda merasa kesal dan marah sepulang bekerja, komunikasikan perasaan Anda kepada keluarga. Sebab, anak kerap salah memahami mood jelek orang tuanya. Anak biasanya menganggap dirinya penyebab kemarahan orang tuanya. Para ayah perlu mengekspresikan perasaan-perasaannya. Tidak hanya ekspresi marah, tetapi juga sedih dan frustrasi. Laki-laki yang mencari dan mendapat dukungan emosi dari keluarga akan mengalami kehidupan keluarga yang harmonis.</p>
<p style="text-align: justify;">Sikap ayah dalam mengekspresikan emosinya di tengah keluarga, akan menjadi model utama bagi anak lelakinya.</p>
<h3 style="text-align: justify;">3. Model anti kekerasan</h3>
<p style="text-align: justify;">Anak laki-laki belajar memperlakukan perempuan dengan mengamati ayah. Seorang ayah yang menghormati dan memperlakukan istri dengan baik, akan ditiru anak laki-lakinya. Begitu pula bila ayah memperlakukan istri dengan kasar dan sering mencaci, anak laki-laki akan memperlakukan perempuan dengan cara sama.</p>
<p style="text-align: justify;">.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah&#8230;. apakah masih penting untuk &#8220;jaga imej&#8221; di depan anak-anak kita wahai para ayah&#8230;? <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">.</p>
<p style="text-align: justify;">.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Gambar diambil dari </em><a href="http://www.sikatgigipagimalam.com/" target="_self"><em>sini</em></a></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber bacaan: </em><a href="http://www.jawaban.com/index.php/relationship/detail/id/93/news/080910192712/limit/0/" target="_blank"><em>Jawaban dot kom</em></a><a href="http://www.sikatgigipagimalam.com/" target="_self"><em> </em></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/07/28/ayah-adi-dan-dika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>25</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>mereka itu, para ibu!</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/07/22/mereka-itu-para-ibu/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/07/22/mereka-itu-para-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Jul 2010 13:32:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[bunga rampai]]></category>
		<category><![CDATA[cut tari]]></category>
		<category><![CDATA[hawa nafsu]]></category>
		<category><![CDATA[infotainment]]></category>
		<category><![CDATA[kasus artis]]></category>
		<category><![CDATA[krisdayanti]]></category>
		<category><![CDATA[raul lemos]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1833</guid>
		<description><![CDATA[Kaget sekali aku melihat secara sepintas tayangan sebuah infotainment hari ini. Di situ terlihat Krisdayanti berangkulan mesra dengan Raul Lemos. Dan yang tak kalah mengagetkan adalah adegan ciuman bibir antara keduanya, diperlihatkan di depan puluhan wartawan, yang tentunya disiarkan ke seantero jagat!. Kekagetanku berubah menjadi kegeraman, tatkala sang diva berujar kalau dia tidak peduli bila [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F07%2F22%2Fmereka-itu-para-ibu%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/07/say-no-to-kd.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1834" title="say no to kd" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/07/say-no-to-kd-300x208.jpg" alt="" width="300" height="208" /></a>Kaget sekali aku melihat secara sepintas tayangan sebuah infotainment hari ini. Di situ terlihat Krisdayanti berangkulan mesra dengan Raul Lemos. Dan yang tak kalah mengagetkan adalah adegan ciuman bibir antara keduanya, diperlihatkan di depan puluhan wartawan, yang tentunya disiarkan ke seantero jagat!.</p>
<p style="text-align: justify;">Kekagetanku berubah menjadi kegeraman, tatkala sang diva berujar kalau dia tidak peduli bila semua orang membencinya, yang penting Allah sayang. Argh&#8230; ini benar-benar bikin geram&#8230;! Mana mungkin Allah menyayangi hambaNya, yang jelas-jelas melanggar aturanNya? Bukankah bermesra-mesraan dan bahkan berciuman antara manusia yang tidak terikat pernikahan adalah sebuah perbuatan yang dilarang? Aih&#8230; logikanya benar-benar tidak nyambung!</p>
<p style="text-align: justify;">Tingkah polah artis belakangan ini memang sudah sangat kebablasan. Mereka sudah sangat silau dengan popularitas. Mereka sepertinya sudah menganggap hidup ini hanya untuk hari ini, tidak untuk hari esok. Mereka juga sepertinya hanya berpikir, kalau hidupnya hanya untuknya, tidak peduli dengan orang-orang yang terkait dengannya; orangtua, anak, kakak, adik, dsb..<span id="more-1833"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Aku ingin menyoroti Krisdayanti (KD) dan Cut Tari (CT). Mereka berdua adalah seorang ibu bagi anak yang dilahirkan dari rahimnya. Idealnya, seorang ibu memberikan porsi yang benar-benar penuh untuk anaknya, berupa kasih-sayang, pendidikan dan panutan. Ketiga hal inilah yang sesungguhnya menjadi penyebab seorang ibu itu menduduki posisi istimewa.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam salah satu hadisnya, Nabi Muhammad berkata ketika ditanya tentang siapa yang lebih berhak untuk dimuliakan. Beliau berujar: ibumu, ibumu, ibumu, ayahmu. Artinya, porsi ibu adalah tiga berbanding satu dengan porsi ayah. Tentu saja Nabi tidak sembarang ucap. Hal itu berdasarkan peran ideal ibu pada diri anaknya, sehingga pantas dia diberi porsi lebih seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, dalam kasus KD dan CT, apakah porsi seperti itu masih pantas dilekatkan kepada mereka? Aku tidak hendak menghakimi, tapi aku ingin mengajak kita bercermin dari kasus mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi kita yang sudah berumahtangga dan memiliki anak, apalagi sebenarnya yang kita pikirkan selain menyukseskan keluarga yang kita bina? Kesuksesan keluarga yang dimaksud adalah terciptanya keluarga yang harmonis; lahir dan batin. Itu semua, hanya bisa diraih melalui kesetiaan dan totalitas. Seorang ayah atau ibu, seperti yang pernah kutulis  dalam &#8220;<a href="http://hardivizon.com/2009/12/08/milikku-seperenam/" target="_blank">milikku seperenam</a>&#8220;, seyogyanya tidak lagi memikirkan kebahagiaan dirinya semata. Mereka harusnya secara total memikirkan tentang kebahagiaan anak-anaknya, dan menyingkirkan egonya secara individu.</p>
<p style="text-align: justify;">KD dan CT adalah contoh ketidaktotalan seorang ibu dalam membahagiakan anak-anaknya. Mereka terjerumus dalam jeratan hawa nafsu sesaat. Akibat ketidakmampuan mengendalikan nafsu tersebut, merekapun terpuruk dan terhinakan. Tidakkah mereka sadar, bahwa perbuatan mereka itu suatu saat akan berdampak besar bagi anak-anaknya? Bukan tidak mungkin, di lingkungannya, anak-anak mereka akan mendapatkan olok-olokan dari teman-temannya. Sungguh kasihan!</p>
<p style="text-align: justify;">Kasus-kasus semacam ini, biangnya adalah ketidakmampuan manusia mengendalikan hawa nafsunya. Sesungguhnya, Tuhan menganugerahi kita akal tujuannya adalah untuk mengendalikan nafsu, sehingga tidak terperosok ke jurang kenistaan yang dalam. Allah berfirman dalam Al-Qur&#8217;an surat Al-A&#8217;raf ayat 179 bahwa derajat seorang manusia yang memperturutkan hawa nafsunya itu sama seperti hewan, bahkan lebih rendah lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, mari selaraskan antara akal dan nafsu&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">.</p>
<address>foto diambil dari page facebook &#8220;<a href="http://www.facebook.com/sayno2kd" target="_self">say no to kd</a>&#8220;</address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/07/22/mereka-itu-para-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>sinar jaya</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/07/15/sinar-jaya/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/07/15/sinar-jaya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Jul 2010 06:09:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[katering]]></category>
		<category><![CDATA[kisah masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[rumah makan]]></category>
		<category><![CDATA[sinar jaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1828</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini awalnya adalah komentarku di blognya Om Nh dengan judul &#8220;Catering&#8220;. Tapi, karena terlalu panjang, kupikir tak ada salahnya dijadikan postingan tersendiri saja. Bagi anda yang tinggal di pulau Jawa, tentu sudah sering melihat bus antar-kota bernama &#8220;Sinar Jaya&#8221; bukan? Nah, postingan ini, sama sekali tidak membahas itu, tapi tentang &#8220;Sinar Jaya&#8221; yang lainnya. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F07%2F15%2Fsinar-jaya%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Tulisan ini awalnya adalah komentarku di blognya Om Nh dengan judul &#8220;<a href="http://theordinarytrainer.wordpress.com/2010/07/13/catering/" target="_blank">Catering</a>&#8220;. Tapi, karena terlalu panjang, kupikir tak ada salahnya dijadikan postingan tersendiri saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi anda yang tinggal di pulau Jawa, tentu sudah sering melihat bus antar-kota bernama &#8220;Sinar Jaya&#8221; bukan? Nah, postingan ini, sama sekali tidak membahas itu, tapi tentang &#8220;Sinar Jaya&#8221; yang lainnya. Yaitu, sebuah rumah makan di kota Duri yang telah menjadi bagian penting dalam hidupku. Ya, itu adalah nama rumah makan milik keluargaku&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Barangkali karena jenuh, rumah makan yang sudah berdiri sejak aku balita itu akhirnya ditutup beberapa tahun yang lalu. Keduaorangtuaku mungkin sudah lelah dan ingin &#8220;pensiun&#8221;, hanya sayangnya, tak satupun dari kami anak-anaknya yang dapat menggantikan beliau. Mungkin, dunia yang tengah kami tekuni tidak sejalan dengan dunia rumah makan. Semoga suatu saat rumah makan itu kembali &#8220;bersinar dan berjaya&#8221;.<span id="more-1828"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Namun, sampai saat ini, kegiatan atas nama Sinar Jaya masih tetap berlangsung. Jasa katering untuk kegiatan pesta pernikahan, akikahan dan sebagainya masih tetap kami layani. Dapur tempat pengolahan masakan yang sekaligus menjadi tempat tinggal juru masak, masih lagi berfungsi. Sang juru masak, tetap setia berada di situ dan berjanji tak akan meninggalkan kami, karena dia sudah sangat menganggap kami bagian penting dari dirinya. Hal itu sangatlah wajar, karena sesungguhnya dia bisa memasak dengan mahir lantaran dididik oleh keduaorangtuaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Orang bijak pernah mengatakan, &#8220;<em>Kita akan merasakan arti sesuatu ketika ia sudah tidak bersama kita lagi</em>&#8220;. Hal itupun terjadi padaku. Sekarang ini, aku kerap rindu dengan kehebohan kegiatan di rumah makan kami, meski dulu aku sering jengkel jika disuruh membantu, hanya gara-gara waktu bermainku yang tersita olehnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Biasanya, pada bulan Juni-Juli atau antara lebaran Idul Fitri dan Idul Adha, kegiatan rumah makan kami sangat sibuk. Karena, biasanya pada bulan-bulan itu banyak sekali yang menggelar pesta pernikahan. Di kota Duri, pesta seringnya digelar pada hari Sabtu dan Minggu dengan durasi yang sangat panjang, yakni mulai pukul 11 pagi dan berakhir pada pukul 10 malam. Seringkali kami mendapat rezeki pesanan katering 2 sampai 3 kegiatan pesta dalam hari yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika kondisi sudah sangat sibuk seperti itu, maka seluruh tenaga dikerahkan oleh keduaorangtuaku, termasuk memberdayakan beberapa tenaga <em>freelance</em> yang sudah jadi langganan dan juga kami anak-anaknya. Barangkali ini juga keuntungannya aku bersaudara laki-laki  yang banyak, sehingga tenaga kerja katering jadi lebih mudah didapat, dan tentu saja murah, hahaha&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Untuk urusan dekorasi meja prasmanan, kami bekerjasama dengan salon milik tanteku yang bertindak sebagai juru rias pengantin dan penyedia pelaminan. Sehingga, dengan demikian kami hanya berkonsentrasi pada penyediaan makanan dan peralatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebiasaan pesta di Duri adalah, tamu sering tidak terprediksi jumlahnya, dan ramainya setelah Magrib. Maka, setiap kali ada yang berencana memesan katering kepada kami, Papaku selalu menyarankan untuk melipatgandakan hitungan jumlah tamu. Jika yang diundang 1000 orang, maka makanan yang harus dipersiapkan adalah untuk 2000 porsi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada yang mengiyakan dan tidak sedikit yang tetap bersikukuh dengan hitungannya sendiri. Namun, pada kenyataannya dapat dipastikan bahwa perhitungan Papaku selalu benar. Hal itu, tentu saja berkat pengalaman beliau bertahun-tahun mengelola katering. Maka, jika ada pemesan yang tetap &#8220;ngeyel&#8221; dengan hitungannya, Papaku tetap menyuruh juru masak mempersiapkan lebih, jaga-jaga jika mendadak si pemilih hajat kehabisan stok makanan. Toh, jika tak dipakai pun, masih bisa dijual di rumah makan kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Tradisi pesta di Duri tidak mengharuskan pemilik katering melayani para tamu. Biasanya sudah ada petugas khusus yang ditunjuk si pemilik hajat untuk berdiri di dekat meja prasmanan. Lantas, tugas kami apa? Ya, di balik layar; mempersiapkan makanan dan bersih-bersih alias cuci piring, hahaha&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Aku dan adik-adik memang sering <em>ngedumel</em> jika sudah ketiban tugas mengurus katering sebuah pesta. Tapi, jangan khawatir, hal itu akan berakhir dengan keceriaan dan senyum 20 senti. Yakni, ketika pada keesokan harinya kami mendapat &#8220;honor&#8221; dari Papa yang jumlahnya lumayan buat beli baju baru atau nonton bioskop. Hahaha&#8230; dasar mata duitan&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Seperti yang aku katakan di atas tadi, bahwa saat ini aku merindukan kembali saat-saat seperti itu. Namun, tentu saja hal itu tak mungkin lagi. Di samping rumah makan kami sudah tutup, kamipun sudah punya kehidupan sendiri-sendiri. Meski kegiatan katering itu masih berlangsung sampai saat ini, namun itu hanya sebatas memasakkan saja, tidak sampai ke urusan pelayanan di tempat pesta.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari pengalaman mengurus katering itu, aku sangat memahami betapa beratnya pekerjaan para petugas katering. Sehingga, aku selalu tidak tega jika meninggalkan piring kotor di atas meja atau bawah kursi. Sedapat mungkin aku mencari tempat yang mudah dijangkau si petugas atau bahkan langsung meletakkannya di dekat keranjang kumpulan piring kotor. Sering aku sebal melihat tamu yang memperlakukan petugas katering dengan tidak baik, seolah si petugas itu adalah pembantunya.  Meski keberadaannya di sana adalah untuk melayani, tapi bukan berarti harus dipandang rendah. Huh&#8230; jadi emosi jiwa nih&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karenanya, jika suatu saat anda berada dalam sebuah pesta, saranku: manusiakanlah para petugas katering itu, karena mereka adalah manusia yang sama dengan kita&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/07/15/sinar-jaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>11 juli</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/07/11/11-juli/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/07/11/11-juli/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jul 2010 06:24:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[bunga rampai]]></category>
		<category><![CDATA[11 juli]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[ulangtahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1823</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini, 11 Juli 2010, genap satu tahun aku menggunakan domain http://hardivizon.com ini. Seperti yang pernah kuceritakan di awal peluncurannya, tanggal itu sengaja kupilih untuk memudahkanku mengingatnya, karena berbarengan dengan hari kelahiranku. Sehingga, setiap kali aku memperingati hari kelahiran, setiap itu pulalah aku memperingati hari jadinya blog ini. Selama setahun ini, aku merasakan penurunan intensitas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F07%2F11%2F11-juli%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Hari ini, 11 Juli 2010, genap satu tahun aku menggunakan domain http://hardivizon.com ini. Seperti yang pernah kuceritakan di <a href="http://hardivizon.com/2009/07/11/surau-baru/" target="_blank">awal peluncurannya</a>, tanggal itu sengaja kupilih untuk memudahkanku mengingatnya, karena berbarengan dengan hari kelahiranku. Sehingga, setiap kali aku memperingati hari kelahiran, setiap itu pulalah aku memperingati hari jadinya blog ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Selama setahun ini, aku merasakan penurunan intensitas tulisan di blog, terutama di beberapa bulan terakhir. Dan tidak hanya itu, kunjunganku ke beberapa blog sahabat juga sangat jauh berkurang. Persoalannya memang sungguh klasik, tapi memang itulah yang terjadi. Tuntutan untuk menyelesaikan studi menuntutku untuk memberikan porsi yang lebih dalam fokus. Oleh karenanya, aku mohon maaf kepada sahabat narablog semua, jika kunjunganku sangat jarang ke blog anda masing-masing. Tapi percayalah, aku sungguh merindukan untuk tetap bertegur sapa..</p>
<p style="text-align: justify;">Pepatah kuno yang mengatakan: &#8220;<em>Seribu sahabat tidak pernah cukup, satu musuh sudah lebih dari cukup</em>&#8220;, sungguh sangat aku rasakan manfaatnya. Di saat kelelahan merayapi hati dan raga ini, berkunjung ataupun bertegur sapa dengan seorang sahabat sangatlah ampuh menjadi pengobatnya. Hal itu sangat aku rasakan hari ini.<span id="more-1823"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini, aku baru sampai di rumah pukul 03 dini hari dari perjalananku ke Jawa Timur. Setelah shalat Subuh, akupun tidur untuk membayar kelelahan akibat perjalanan. Belum lama mata ini terpejam, bertubi-tubi sms masuk ke ponselku. Dengan setengah sadar, kubuka satu persatu sms itu. Semuanya dari sahabat-sahabat terbaikku. Isinya adalah ucapan selamat ulangtahun. Bahagia sekali rasanya. Meski kantukku cukup berat, tapi kuusahakan untuk tetap membalas seluruh sms yang masuk, sampai akhirnya aku benar-benar menyerah dengan kantuk. Akupun tertidur dan membiarkan ponselku berdering tanpa sanggup kurespon.</p>
<p style="text-align: justify;">Pukul 08.30 aku bangun. Setelah mandi dan menyeruput kopi hangat buatan istri tercinta, kubuka laman fesbuk. Wuih&#8230; ternyata dinding fesbuk-ku sudah penuh dengan ucapan selamat ulangtahun dari sahabat-sahabat terbaikku. Belum lagi usai keterkejutanku dengan ucapan yang sangat banyak itu, istri dan anak-anakkupun datang berhamburan kepadaku. Satu persatu mereka memeluk dan menciumku. Aih&#8230; berjuta rasanya&#8230; Tak ada hadiah yang terindah selain itu. Sungguh, aku merasa bahagia dan beruntung sekali memiliki mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sahabat&#8230; terima kasih atas ucapan dan doa penuh ketulusan yang disampaikan kepadaku pada hari ini. Tiada yang dapat kuungkapkan kecuali kesyukuran yang luar biasa karena memiliki sahabat-sahabat luar biasa. Tak terperikan bahagiaku&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya, aku berharap, semoga di sisa umurku yang entah akan berapa lama lagi ini, aku tetap dapat memberikan yang terbaik bagi keluarga, orangtua dan sahabat-sahabatku.</p>
<p style="text-align: justify;">Terima kasih semuanya&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/07/11/11-juli/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>berlayar</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/07/01/berlayar/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/07/01/berlayar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Jul 2010 16:20:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[liburan]]></category>
		<category><![CDATA[Ancol]]></category>
		<category><![CDATA[berlayar]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kapal laut]]></category>
		<category><![CDATA[Monas]]></category>
		<category><![CDATA[PRJ]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Mini]]></category>
		<category><![CDATA[tampomas II]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1817</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul terbang pertama, yang juga ditrigger dari tulisannya Om Nh dengan judul yang sama. Seperti yang kuceritakan pada tulisan sebelumnya, bahwa ini adalah kunjungan pertamaku ke Jakarta. Sebagai anak kampung yang daerahnya senantiasa gelap gulita di malam hari karena belum dimasuki PLN, tentu saja gemerlap Jakarta membuatku njeglek [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F07%2F01%2Fberlayar%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul <a href="http://http://hardivizon.com/2010/06/27/terbang-pertama/" target="_blank">terbang pertama</a>, yang juga di<em>trigger</em> dari tulisannya <a href="http://http://theordinarytrainer.wordpress.com/2010/06/28/terbang-pertama/" target="_blank">Om Nh </a>dengan judul yang sama.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti yang kuceritakan pada tulisan sebelumnya, bahwa ini adalah kunjungan pertamaku ke Jakarta. Sebagai anak kampung yang daerahnya senantiasa gelap gulita di malam hari karena belum dimasuki PLN, tentu saja gemerlap Jakarta membuatku <em><a href="http://http://theordinarytrainer.wordpress.com/2010/06/30/njeglek/" target="_blank">njeglek</a></em> (maaf Om Nh, pinjam istilahnya&#8230; gak tepat ya? biarin deh&#8230;).</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu kelakuan anehku saat itu adalah, suka sekali berdiam lama-lama di bawah lampu jalan. Karena, aku suka sekali melihat perubahan warna kulit yang diterpa cahaya lampu tersebut. Secara mendadak, kulit berubah menjadi lebih putih atau tepatnya pucat. Sebagai anak kampung yang berkulit legam, tentu saja senang sekali melihat perubahan sesaat itu, hahaha&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> <span id="more-1817"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pada saat itu, aku diajak jalan-jalan ke Monas, Ancol dan Taman Mini. Dan yang paling tidak bisa kulupakan adalah mengunjungi <a href="http://http://id.wikipedia.org/wiki/Jakarta_Fair" target="_blank">Jakarta Fair</a>. Ya&#8230; saat itu, di bulan Juni 1981, untuk pertama kalinya aku mengunjungi event tersebut. Karena masih kecil, tentu tidak banyak yang kuingat. Yang pasti, kegembiraan hatiku kala itu, masih membekas sampai saat ini. Ada desiran bahagia di hati ini setiap kali mengingatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Barangkali ini jugalah yang membuatku selalu berusaha memberikan liburan yang menyenangkan bagi anak-anakku sekarang ini. Aku ingin, di saat dewasa nanti, ada kenangan bahagia terpatri di hati dan pikiran mereka akan situasi liburan bersama keduaorangtua mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, yang ingin kuceritakan lebih lanjut adalah soal perjalanan pulangku. Dari awal, Paktuo-ku sudah merencanakan pulang menggunakan kapal laut. Namun, rencana itu sedikit menjadi perdebatan oleh keluarga kami di Jakarta. Maklumlah, waktu itu peristiwa terbakar dan karamnya <a href="http://http://id.wikipedia.org/wiki/Musibah_KMP_Tampomas_II" target="_blank">KMP Tampomas II </a>masih hangat dibicarakan.</p>
<p style="text-align: justify;">KMP Tampomas II terbakar di laut sekitar kepulauan Masalembo dan karam pada tanggal 27 Januari 1981, merenggut ratusan nyawa penumpangnya. Diperkirakan yang tewas sekitar 431 jiwa dari 1442 orang. Peristiwa ini adalah kecelakaan pelayaran nasional yang sangat tragis ketika itu. Dua orang musisi terkenal; Iwan Fals dan Ebiet G. Ade mengabadikan kejadian ini dalam lagu mereka berjudul <a href="http://http://yulian.firdaus.or.id/2005/01/24/tragedi-karamnya-kmp-tampomas-ii/" target="_blank">Celoteh Camar Tolol dan Cemar </a>&amp; <a href="http://http://jerman90.wordpress.com/2010/02/27/cara-penyampaian/" target="_blank">Sebuah Tragedi 1981</a>.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketakutan akan kecelakaan semacam ini membuat beberapa keluarga kami di Jakarta melarang untuk pulang menggunakan kapal laut. Aku tak tahu bagaimana bentuk diskusinya, yang pasti akhirnya kami tetap pulang naik kapal. Sebagai anak kecil, tentu saja aku tak peduli dengan segala kekhawatiran itu. Aku hanya kembali merasakan sebuah ketidaksabaran untuk dapat menaiki kapal tersebut, karena itulah untuk pertama kalinya aku menaiki besi terapung itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aih&#8230; betapa senangnya hatiku kala itu. Hampir setiap sudut kapal aku jelajahi selama perjalan tersebut. Dan yang membekas sekali di hati adalah ketika melihat para lumba-lumba berkejaran di samping kapal kami. Mereka melompat dengan gesitnya, seolah ingin mengajak bercengkrama. Pertunjukan lumba-lumba di Ancol yang beberapa hari sebelumnya kusaksikan, seolah tak ada apa-apanya dengan pertunjukan alami tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak terasa, 4 hari sudah kami lewati dan akhirnya kamipun berlabuh di <a href="http://http://id.wikipedia.org/wiki/Pelabuhan_Teluk_Bayur" target="_blank">Teluk Bayur </a>dengan selamat. Pengalaman pertama berlayar itu terasa dahsyat sekali. Aku berjanji ingin mengulanginya suatu saat nanti. Dan ternyata, beberapa tahun kemudian, berkali-kali aku merasakan berlayar dari Sumatera ke Jawa atau sebaliknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesampainya di Duri, aku tak henti-hentinya menceritakan segala pengalaman itu kepada teman-teman. Aku sadari saat ini, kalau aku agak sedikit sombong ketika itu. Tapi, apakah anak kecil yang terlalu ekspresif bisa disebut sebagai sombong? (Hahaha&#8230; mencari pembenaran&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  )</p>
<p style="text-align: justify;">Temans&#8230; pernah berlayar juga? Boleh dong diceritakan&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/07/01/berlayar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>terbang pertama</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/06/27/terbang-pertama/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/06/27/terbang-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jun 2010 16:09:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[liburan]]></category>
		<category><![CDATA[bukittingi]]></category>
		<category><![CDATA[duri]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[padang]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman pertama]]></category>
		<category><![CDATA[pesawat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1812</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingatkah sahabat sekalian waktu pertama kali naik pesawat terbang? Berjuta rasanya bukan? Apalagi bagi yang tidak memiliki kecukupan ekonomi, tentu saja pengalaman itu adalah pengalaman yang sangat mewah, sehingga sulit untuk dilupakan. Pertama kali aku merasakan naik pesawat terbang, sekaligus pengalaman pertama menginjakkan kaki di Jakarta adalah pada tahun 80-an. Saat itu, aku masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F06%2F27%2Fterbang-pertama%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Masih ingatkah sahabat sekalian waktu pertama kali naik pesawat terbang? Berjuta rasanya bukan? Apalagi bagi yang tidak memiliki kecukupan ekonomi, tentu saja pengalaman itu adalah pengalaman yang sangat mewah, sehingga sulit untuk dilupakan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pertama kali aku merasakan naik pesawat terbang, sekaligus pengalaman pertama menginjakkan kaki di Jakarta adalah pada tahun 80-an. Saat itu, aku masih duduk di bangku kelas 2 SD. Adalah <em>Paktuo</em>-ku (pakde) yang menawarkanku untuk merasakan pengalaman seperti itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau yang guru di sebuah STM Negeri di Kota Bukittinggi, mendapatkan undangan penataran di Bandung selama 2 minggu. Beliau diberi 2 tiket Garuda Padang-Jakarta, pp. Karena beliau berpikir ingin sekalian mengajak keluarganya liburan ke Jakarta, maka akupun ditawarkan untuk ikut. Keduaorangtuaku pun mengizinkannya. Mereka bilang, itu sebagai hadiah buat prestasiku di sekolah. Aih&#8230; betapa girangnya hatiku kala itu.<span id="more-1812"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Seminggu jelang keberangkatan, perasaanku sudah campur aduk; tak sabar rasanya menunggu hari itu. Karena kami berangkat dari Padang, maka akupun harus rela menempuh perjalanan panjang Duri-Bukittinggi-Padang. Di kala itu, perjalanan darat Duri-Padang bukanlah mudah dan singkat. Jalannya yang masih berliku bak ular naga yang sedang mengamuk, ditambah kendaraan yang tidak memadai, membuat perjalanan itu benar-benar menyiksa lahir-batin secara sempurna. Namun, bayangan akan pesawat telah membuat siksaan itu tak berarti sama sekali.. <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Aku benar-benar naik pesawat. Sebagai anak kecil dan orang kampung pulak, tentu saja sikapku sangat norak. Aku bertanya tentang apa saja dengan suara yang tidak bisa dikatakan pelan, sekaligus dengan logat Minang yang sangat kental. Duh&#8230; kalau dibayangkan sekarang, malu juga rasanya, hahaha&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Kenorakanku itu terus berlanjut, sampai di saat kami disuguhkan makanan. Aku tidak ingat apa menunya kala itu. Yang sangat aku ingat adalah keherananku akan peralatan makan yang kami terima. Ada sendok, garpu dan juga pisau yang semuanya terbuat dari plastik. Rasanya, baru kali itulah aku melihat peralatan makan semacam itu. Kontan saja sikap kampunganku muncul. Akupun meminta agar peralatan tersebut dibawa pulang.  Bukan hanya itu, gelas plastik bekas minum kamipun langsung kukantongi&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah, berbagai polah kampungan yang aku lakukan selama perjalanan itu, diakhiri dengan sebuah peristiwa yang tak kalah noraknya. Yaitu, ketika kami sudah mendarat di Bandara Halim aku kebingunan membuka sabuk pengaman. Aku panik, teriak-teriak dan nyaris menangis. Huahaha&#8230; jika mengingat itu, aku benar-benar malu. <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Nah, sahabat sekalian&#8230; itulah kisah pertamaku naik pesawat. Pengalaman itu benar-benar membekas di benak dan hatiku sampai saat ini. Bagaimana dengan Anda&#8230;? Kapan peristiwa itu pertama kali anda alami dan bagaimana rasanya?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/06/27/terbang-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
