Posted by Vizon | Posted in bunga rampai | Posted on 15-05-2010
Ada banyak perasaan yang berkecamuk di diri ini setelah menonton sahabatku Ahmad Fuadi dan novelnya Negeri 5 Menara di acara Kick Andy, Jum’at 14 Mei 2010, kemarin. Ada bangga, haru, sekaligus khawatir.
Kebangganku tentu saja atas pencapaian Fuadi dalam hidupnya. Pencapaian yang kumaksud bukan ketenaran yang kini ia peroleh, tapi lebih kepada manfaat yang ia tebar ke semua khalayak. Pengalaman hidup yang ia bagi telah mampu menginspirasi banyak orang. Melalui tulisannya, ada banyak pelajaran yang bisa dipetik, mulai dari ketaatan terhadap orangtua hingga kesungguhan dalam meraih cita-cita. Dengan demikian, ia telah benar-benar menerjemahkan makna “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya” dalam hidupnya. Ini yang benar-benar membuatku bangga.
Keharuanku muncul ketika melihat dua orang yang menjadi inspirasi utama Fuadi dalam novelnya, yaitu KH. Hasan Abdullah Sahal dan Amak, ibunda Fuadi.
Seperti yang pernah kuceritakan dulu, Pak Hasan adalah salah satu guru idolaku. Beliau begitu banyak memberi inspirasi bagiku. Dalam tayangan tersebut, kembali beliau memberikan guyonan cerdas, namun bermakna dalam. Kata beliau: “Jika menjadi guru, jadilah guru yang baik. Jika menjadi polisi, jadilah polisi yang baik…..“. Sebenarnya, kalimat itu sudah sering aku dengar ketika nyantri dulu, tapi entah kenapa, begitu mendengarnya lagi kali ini, ada aliran hawa sejuk di hatiku. Read the rest of this entry »
Posted by Vizon | Posted in bunga rampai | Posted on 18-01-2010
Kamis, 14 Januari 2010 kemarin, beberapa jam jelang kepulanganku ke Jogja, aku sempatkan untuk bertemu sahabat lama. Dialah Ahmad Fuadi, sang pengarang novel Negeri 5 Menara. Pertemuan kami berlangsung di Plaza Senayan, Jakarta.
Sesungguhnya, kami tidak pernah bertemu muka sejak berpisah setelah menamatkan pendidikan kami di Pondok Modern Gontor belasan tahun silam. Jagad maya-lah yang mempertemukan kami kembali. Silaturrahmi yang lama terputus itu, akhirnya tersambung kembali dan semakin intens ketika Fuadi mengirimkan naskah novelnya ke emailku.
“Angku, tolong baca naskah ambo ini, dan berikan masukan ya, syukran”, begitu isi emailnya ketika itu. Aku cukup tersanjung menerima kepercayaan itu. Jadilah sejak saat itu korespondensi kami lancar dan berlangsung cukup lama. Dan akhirnya, pada Juli 2009 novel itupun resmi dilempar ke pasaran. Read the rest of this entry »
Posted by Vizon | Posted in kampung blagu | Posted on 26-12-2009
Selama aktif dalam perbloggan, beberapa kali aku mendapatkan bingkisan dari sahabat-sahabat blogger. Bingkisan yang terbanyak adalah berupa buku. Terus terang, aku sangat suka dengan hadiah buku, karena itu akan bermanfaat sangat lama dan takkan ternilai harganya. Buku-buku yang kuperoleh itu sungguh luar biasa. Aku sangat berterima kasih atas hadiah-hadiah tersebut.
Yang pertama kuperoleh adalah dari sahabatku Hery Azwan. Ada dua pucuk buku yang dikirimkannya.
- Blind Power: Berdamai dengan Kegelapan, karya Eko Ramaditya Adikara, terbitan Grafidia. Buku ini merupakan kisah nyata penulisnya yang tunanetra. Menceritakan perjuangannya untuk dapat berkarya layaknya manusia normal. Aku pernah menuliskan review-nya dengan judul “Blind Power: berkawan dengan lawan”
- Smart Salat for Teens, karya Rusdin S. Rauf, tebitan Hamdalah. Dalam buku ini, disampaikan bahwa ternyata salat juga bisa membantu meningkatkan kecerdasan seseorang. Sebuah rahasia yang belulm banyak orang tahu. Mengacu kepada Al-Quran dan hadis serta ditopang dengan teori multiple intelligence, penulis menunjukkan kepada kita tentang tata cara salat yang mencerdaskan. Salat yang selama ini, mungkin, hanya demi menunaikan kewajiban semata. Read the rest of this entry »
Posted by Vizon | Posted in review | Posted on 19-08-2009
Pernahkan anda dipaksa memilih sesuatu yang tidak anda inginkan? Pernahkan anda tidak bisa memilih apapun, selain menjalankannya dengan penuh keterpaksaan? Jika pernah, apa yang anda lakukan? Jawaban yang jamak mungkin akan kita lontarkan adalah bahwa kita akan berontak lalu keluar dari keterpaksaan itu atau menjalankannya dengan tidak sungguh-sungguh, tanpa rasa nikmat sedikitpun.
Adalah seorang putra Minangkabau asal desa Bayur di pinggir danau Maninjau, Bukittinggi, bernama Alif yang terjebak dalam situasi sulit itu. Ia dipaksa memilih jalur sekolah agama oleh ibunya. Beliau menginginkannya menjadi Buya Hamka, sementara ia sendiri sangat bercita-cita menjadi Habibie. Keterpaksaannya ternyata berbuah keberkahan. Pilihan yang dijalankannya atas dasar bakti kepada Bunda, telah membalikkan pandangannya terhadap pendidikan agama, terutama pesantren. Novel Negeri 5 Menara yang dikarang oleh Ahmad Fuadi yang baru saja kubaca, menunjukkan bahwa tidak selamanya keterpaksaan itu buruk. Sebaliknya, keterpaksaannya itu dapat berubah menjadi sebuah keberkahan luar biasa bila disikapi dengan penuh keikhlasan dan kesabaran.
Novel ini bercerita tentang petualangan Alif, 15 tahun, yang harus merantau dengan setengah hati ke Jawa Timur untuk belajar di Pondok Madani. Di Pondok Madani (PM) dia berteman dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Setiap orang datang ke PM dengan perangai, alasan dan mimpi berbeda. Dari setengah hati mulai jatuh hati, Alif menemukan berbagai prinsip hidup yang terang dan sangat kuat. Antara lain adalah: siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses (man jadda wa jada). Di PM juga dia mengecap kemajemukan Indonesia dan keindahan pengetahuan. Semua ini diajarkan oleh Kiai Rais, Ustad Salman dan guru lain yang ikhlas mengajarkan ilmu dunia dan akhirat.
Di pokok menara masjid PM yang menjulang, mereka berenam kerap menunggu maghrib sambil menatap awan lembayung yang berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian, sesuai dengan imajinasi masing-masing. Read the rest of this entry »