Pak Ponijo terkesiap ketika kusodorkan selembar limapuluhribuan ke tangannya. Matanya seperti tidak mempercayai apa yang dilihatnya.
“Wah, ndak ada yang kecil Pak? Saya ndak ada kembalian”
“Ndak perlu dikembalikan Pak. Ini untuk Bapak”
“Kebanyakan Pak”
“Ndak kok, sudah pas dengan kerjaan Bapak”
“Jangan Pak, separonya saja”
“Ndak, terima aja ini, udah rejeki Bapak”
Dengan sedikit memaksa, kumasukan lembaran itu ke saku bajunya. Pak Pon berusaha menolak. Tapi, aku tetap memaksa. Dengan penuh takzim dia haturkan terima kasih. Kulihat rona bahagia terpancar dari wajahnya yang gelap terbakar matahari.
“Terima kasih Pak”
“Sama-sama Pak Pon, besok kalau saya perlu antar barang lagi tak panggil ya”
“Iya, saya siap kapan saja, maturnuwun njih”
Pak Pon pun berlalu dari hadapanku dengan becaknya. Kulepas ia hingga masuk ke rumahnya yang terletak di depan rumahku. Read the rest of this entry »



