Posted by Vizon | Posted in pendidikan | Posted on 03-08-2010
Untuk yang kesekian kalinya, tulisanku terinspirasi dari postingan Om Nh di blognya. Gara-gara beliau menuliskan tentang mesin tik, akupun tergerak ingin menceritakan pengalamanku yang cukup panjang dengan mesin yang memiliki bunyi khas itu.
Perkenalanku untuk pertama kali dengan mesin ini sekitar tahun 1982, ketika aku duduk di kelas IV SD. Aku tidak tahu, alasan apa yang membuat Papaku membeli mesin tersebut. Ketika itu, beliau baru pulang dari Kota Dumai. Beliau membawa beberapa barang yang salah satunya mesin tersebut. Dumai adalah kota pelabuhan yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Duri. Kami kerap pergi ke kota tersebut untuk berbelanja aneka barang import yang kebanyakannya dari Singapura, dengan harga yang lumayan murah. Boleh dikatakan, alat-alat elektronik di rumah kami ketika itu, dibeli di Dumai.
Kedatangan Papa dengan mesin tik itu cukup mengherankanku. Apa sebetulnya tujuan beliau membelinya. Secara membabibuta aku bertanya kepada beliau tentang mesin tersebut. Beliau hanya mengatakan bahwa mesin tersebut berfungsi sebagai alat untuk menulis tanpa pulpen. Akupun bertanya selanjutnya tentang bagaimana cara menggunakan alat itu. Ternyata, beliaupun tidak tahu cara menggunakannya. Oalah…
Read the rest of this entry »
Posted by Vizon | Posted in liburan | Posted on 27-06-2010
Masih ingatkah sahabat sekalian waktu pertama kali naik pesawat terbang? Berjuta rasanya bukan? Apalagi bagi yang tidak memiliki kecukupan ekonomi, tentu saja pengalaman itu adalah pengalaman yang sangat mewah, sehingga sulit untuk dilupakan.
Pertama kali aku merasakan naik pesawat terbang, sekaligus pengalaman pertama menginjakkan kaki di Jakarta adalah pada tahun 80-an. Saat itu, aku masih duduk di bangku kelas 2 SD. Adalah Paktuo-ku (pakde) yang menawarkanku untuk merasakan pengalaman seperti itu.
Beliau yang guru di sebuah STM Negeri di Kota Bukittinggi, mendapatkan undangan penataran di Bandung selama 2 minggu. Beliau diberi 2 tiket Garuda Padang-Jakarta, pp. Karena beliau berpikir ingin sekalian mengajak keluarganya liburan ke Jakarta, maka akupun ditawarkan untuk ikut. Keduaorangtuaku pun mengizinkannya. Mereka bilang, itu sebagai hadiah buat prestasiku di sekolah. Aih… betapa girangnya hatiku kala itu. Read the rest of this entry »
Posted by Vizon | Posted in alam | Posted on 30-03-2010
Hari ini (30 Maret 2010), aku berkesempatan pergi ke Kabupaten Lebong. Kabupaten yang beribukota Muara Aman ini berjarak sekitar 2 jam dari Curup, ibukota Kabupaten Rejang Lebong. Aku diajak rekan-rekanku di STAIN Curup untuk ikut dalam rombongan Tim Pemantau Independen Ujian Nasional SMP yang berlangsung sejak Senin, 29 Maret 2010 kemarin. Karena hari ini jadwal mengajarku agak sore, maka akupun bersedia ikut, mengingat aku belum pernah mengunjungi daerah tersebut, meski sudah hampir 10 tahun bekerja di Curup.
Menyusuri jalan Curup-Lebong membutuhkan tenaga ekstra. Jalanan menuju Lebong ternyata sangat berliku. Semakin mendekat ke Lebong, udara semakin sejuk. Daerah tersebut terletak di perbukitan, sehingga wajar saja bila udaranya dingin. Sangat jarang jalan mendatar yang kutemui di sana. Pemandangan alam yang sangat eksotis di sepanjang jalan telah mampu membayar kelelahan perjalan tersebut.
Kami berkeliling dari satu sekolah ke sekolah yang lain. Tidak ada yang istimewa kurasakan sejauh ini. Namun, begitu kami sampai di SMPN 04 Lebong Utara, mataku tertumpu pada sebuah pemandangan nan aduhai. Di samping sekolah tersebut terdapat sebuah bukit batu yang cukup tinggi. Bukit tersebut adalah bekas tambang emas yang sempat menjadi tambang favorit di zaman dahulu. Bahkan, konon emas yang nangkring di puncang Monumen Nasional (Monas) Jakarta berasal dari tambang ini. Read the rest of this entry »
Posted by Vizon | Posted in bunga rampai | Posted on 17-12-2009
Hijrah, secara fisik bermakna perpindahan seseorang dari suatu tempat ke tempat lain dengan tujuan tertentu. Sementara secara maknawi, hijrah bermakna perpindahan seseorang dari sikap yang tidak baik menjadi lebih baik.
Aku telah mengalami beberapa kali hijrah secara fisik. Pertama, di tahun 1985, setamat dari sekolah dasar, aku hijrah dari tanah kelahiranku, Duri-Riau, menuju desa Gontor di Ponorogo Jawa Timur. Selama enam tahun aku berada di sana. Berbagai pengalaman dan pengetahuan telah kureguk, dan itu telah berhasil memberi pengaruh sangat besar dalam hidupku.
Kedua, pada tahun 1992, aku hijrah ke kota Padang. Karena kecewa tidak dapat melanjutkan kuliah ke Mesir, akupun memilih untuk kuliah di kampung halaman leluhurku itu. Terbersit sebuah niat di hati untuk belajar bersungguh-sungguh demi membuktikan kepada khalayak bahwa lulusan dalam negeri tetap dapat bersaing dengan lulusan luar negeri. Apakah sekarang aku sudah dapat membuktikannya? Entahlah, yang pasti, saat ini aku sangat bersyukur karena dengan kuliah di kota Padang membuatku tidak buta sama sekali dengan adat budaya asalku.
Ketiga, pada tahun 1997, aku hijrah ke kota Pekanbaru. Beasiswa S2 di IAIN Sulthan Syarif Qasim telah mengantarku ke kota itu. Meski aku lahir dan dibesarkan di kota Duri yang berjarak hanya 4 jam perjalanan ke kota Pekanbaru, tapi pengetahuanku akan ibukota propinsi Riau tersebut sangatlah minim. Ketika mulai menginjakkan kaki di kota tersebut, aku cetuskan niat untuk menggali sebanyaknya pengetahuan dan pergaulan di situ. Dan, alhamdulillah, niatan itupun tercapai. Sebuah kampung bernama Limbungan di Rumbai telah menjadi kampung keduaku. Warga di situ telah berhasil memberi makna berarti bagi kehidupanku dan keluarga. Kampung itu, telah sangat identik dengan kami. Read the rest of this entry »
Posted by Vizon | Posted in keluarga | Posted on 20-10-2009
Acapkali rasa sayang itu muncul ketika sudah terpisah ruang dan waktu. Ketika bersama, seringkali pertengkaran dan kejenuhan mewarnai kehidupan kita. Ketika sudah tidak berjumpa lagi, rasa rindu itu selalu membayangi.
Rasa itupun muncul pada diriku, terhadap adik-adikku. Aku, yang terlahir sebagai sulung dari delapan bersaudara, dulu, merasa marah dan kesal dengan keberadaan adik-adik yang jumlahnya banyak itu. Apalagi dari kedelapan itu, tujuh di antaranya adalah lelaki alias cowok. Bayangkan, betapa hebohnya rumah kami ketika masa kecil dulu. Segala pertengkaran khas anak cowok kerap terjadi di rumah kami. Dan yang paling sering tejadi adalah, aku sebagai anak tertua, harus selalu menelan pil pahit yang bernama “mengalah”. Read the rest of this entry »
Kunjunganku ke Sumbar ternyata berbonus kopdar dengan beberapa blogger ngetop. Mereka adalah orang-orang yang lumayan akrab di dunia maya, tapi belum pernah bertemu muka.
Padang
Begitu sampai di kota ini, aku coba kontak Imoe dan Arif. Ternyata, cukup sulit untuk bertemu pada situasi seperti ini. Imoe yang tengah sibuk dengan urusan recovery mental anak-anak bersama Lembaga Perlindungan Anak, berusaha mencari celah waktu untuk dapat bertemu. Sementara Arif, yang masih muda belia itupun harus berusaha menyusun strategi agar dapat izin keluar malam dari sang ayah. Akhirnya, dengan berbagai usaha, kamipun berhasil bertemu. Read the rest of this entry »
Posted by vizon | Posted in keluarga | Posted on 14-05-2009
Namanya Muhammad Nazhif Ardhi. Kami ingin memanggilnya Nazhif, tapi lidah cadelnya belum bisa begitu fasih menyebut nama kecil itu. Justru yang muncul adalah Ajib. Karena makna kata “ajib” cukup bagus, yakni dalam bahasa Arab berarti “luar biasa” atau “amazing”, maka kamipun sepakat untuk memanggilnya dengan nama kecil ini.
Hari ini, lima tahun yang lalu, putra ketiga kami ini lahir ke muka bumi. Peristiwa jelang kelahirannya cukup dramatis.
Ketika itu, istriku sudah merasakan pada pagi hari tanda-tanda akan segera melahirkan. Akupun segera mengantarnya ke rumah bersalin yang letaknya tidak jauh dari rumah kami di Rumbai, Pekanbaru. Karena menurut Bu Bidan waktu melahirkan masih lama, maka kami putuskan untuk kembali ke rumah.
Di saat itulah, kakak sepupuku datang. Dia yang tinggalnya di Duri, kebetulan ada keperluan ke Pekanbaru, dan menyengajakan diri untuk mampir. Mengetahui kalau istriku sudah mendekati waktu melahirkan, kakakku pun menawarkan untuk melakukan persalinan di rumah sakit miliknya, di kota Duri. Read the rest of this entry »
Posted by vizon | Posted in hiburan, pendidikan | Posted on 26-09-2008
Akhirnya, jadi juga kami nonton film ini, setelah kemarin di hari pertama gagal karena kehabisan tiket. Padahal di hari pertama itu, cukup istimewa. Pasalnya, Sri Sultan Hamengkubuwono X beserta kru film Laskar Pelangi; Andrea Hirata sang penulis, Riri Riza sang sutradara dan Mira Lesmana sang produser mengadakan nonton bareng pada pemutaran perdananya di Jogja. Tapi kekecewaan itu terobati juga setelah menonton filmnya di hari kedua.
Secara keseluruhan film ini sangat bagus. Ceritanya cukup menggugah emosi dan gambar-gambar yang ditampilkan cukup membuat anakku berdecak kagum, “Emang itu di Indonesia Pa?, kok bagus amat? Emang ada tempat seperti itu di Indonesia?” Dan sejumlah pertanyaan lainnya yang membuatku kewalahan melayaninya. Memang harus diakui, bahwa pengambilan gambarnya sangat bagus, sehingga lokasi yang biasa-biasa saja terlihat sangat eksotis. Read the rest of this entry »