<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SURAU INYIAK &#187; gempa Jogja</title>
	<atom:link href="http://hardivizon.com/tag/gempa-jogja/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hardivizon.com</link>
	<description>just another way to know</description>
	<lastBuildDate>Wed, 08 Sep 2010 17:01:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Pak Harto Wafat, Bantul &quot;Bergoyang&quot;</title>
		<link>http://hardivizon.com/2008/01/28/pak-harto-wafat-bantul-bergoyang/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2008/01/28/pak-harto-wafat-bantul-bergoyang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2008 05:10:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[fenomena]]></category>
		<category><![CDATA[gempa Jogja]]></category>
		<category><![CDATA[Soeharto wafat]]></category>
		<category><![CDATA[tafsir sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/?p=53</guid>
		<description><![CDATA[Sehabis Maghrib menjelang Isya tadi malam (27/01/08), kami bersantai-santai di ruang keluarga. Afif dan Satira sibuk dengan PR sekolah mereka, Nazhif bermain denganku, sementara Fatih masih &#8220;menggelayut&#8221; dengan Mamanya. Tiba-tiba kami dikagetkan dengan teriakan istriku; &#8220;Gempa!&#8221; Aku yang tidak merasakan apa-apa, bengong saja. Istri dan anak-anakku berhamburan keluar rumah. Akupun menyusul mereka. Dan ternyata, para [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2008%2F01%2F28%2Fpak-harto-wafat-bantul-bergoyang%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"></font><font face="Times New Roman"><font face="Times New Roman"><font face="Verdana, sans-serif">Sehabis Maghrib menjelang Isya tadi malam (27/01/08), kami bersantai-santai di ruang keluarga. Afif dan Satira sibuk dengan PR sekolah mereka, Nazhif bermain denganku, sementara Fatih masih &#8220;menggelayut&#8221; dengan Mamanya.</font></font><font face="Times New Roman"></font></font><font face="Times New Roman"><font face="Times New Roman"> </font></font><font face="Times New Roman"><font face="Times New Roman"></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Tiba-tiba kami dikagetkan dengan teriakan istriku; <font color="#ff0000">&#8220;Gempa!&#8221;</font></font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif"><span id="more-53"></span>Aku yang tidak merasakan apa-apa, bengong saja. Istri dan anak-anakku berhamburan keluar rumah. Akupun menyusul mereka. Dan ternyata, para tetangga juga sudah berada diluar rumah mereka masing-masing. Kulihat dari raut wajah istri dan anak-anakku rona ketakutan. Rupanya, trauma gempa Jogja tempo hari masih tersisa dalam diri mereka. Aku maklumi.</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Yang menarik kemudian adalah, obrolan para tetanggaku soal gempa yang tiba-tiba itu dan beberapa fenomena alam sejak hari Jum&#8217;at (25/02/08) yang lalu, yakni angin kencang, hujan deras yang disertai kilat-petir dan gempa malam itu. Pembicaraan itupun akhirnya mengerucut kepada wafatnya Pak Harto. Menurut mereka, ini semua pasti ada kaitannya. Ini adalah hal yang “tidak biasa”.</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Dan ternyata, wacana semacam ini tidak hanya menjadi pembicaraan di tetanggaku. Beberapa media dan blog juga menguak fenomena ini, sebagai contoh coba simak di: <a href="http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/01/tgl/27/time/211608/idnews/884938/idkanal/10">Detik.com</a> atau blog <a href="http://thephenomena.wordpress.com/2008/01/27/misteri-kematian-soeharto-mengapa-tepat-pkl-0110-pm/">The Phenomena</a>.</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Penafsiran fenomena alam ini bukanlah hal yang baru dalam kerangka mitologi masyarakat Jawa. Kejadian-kejadian besar sebelum ini, seperti meletusnya Gunung Merapi dan Gempa Jogja 27 Mei 2006 silam, sangat sarat dengan tafsiran-tafsiran semacam ini.</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Terhadap wacana ini, menarik juga untuk menyimak asumsi dasar yang dibangun Heddy Shri Ahimsa-Putra dalam penelitiannya tentang Politik Tafsir Bencana Merapi, beberapa waktu silam:</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Pertama, manusia dipandang sebagai <i>animal symbolicum</i>, atau makhluk yang memiliki kemamuan untuk menggunakan, menciptakan, dan mengembangkan aneka ragam simbol dalam kehidupannya. Simbol atau lambang di sini tidak diartikan sebagai “segala sesuatu yang bermakna”, tetapi sebagai segala sesuatu yang dimaknai, karena manusia adalah makhluk yang mampu memberikan makna terhadap lingkungannya, terhadap segala sesuatu yang dihadapinya. Jadi, dalam kehidupan manusia segala sesuatu menjadi bersifat simbolis, <i>lambangi</i>.</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Kedua, perangkat pemaknaan dan hasil pemaknaan ini dalam kurun waktu tertentu dapat ditanggapi sebagai sesuatu yang <i>relatif tetap</i>. Anggapan ini didasarkan pada asumsi bahwa manusia membutuhkan suatu kerangka acun yang agak tetap untuk dapat menafsirkan dan memahami lingkungannya. Tanpa perangkat semacam ini, manusia tidak akan mampu memberikan tafsir yang dapat dijadikan acuan bersama dalam proses komunikasi, dan tanpa proses komunikasi yang berpedoman pada suatu kerangka acuan bersama tidak akan lahir komunitas masyarakat, ataupun bentuk-bentuk kehidupan sosial lainnya.</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Ketiga, keberadaan seseorang dalam suatu golongan atau kelompok sosial, atau posisi seseorang dalam masyarakat sangat besar peranannya dalam membentuk persepsi dan pemahaman orang tersebut atas dunia sekitarnya. Oleh karena itu, persepsi atau interpretasi seseorang atas suatu peristiwa, lingkungan, atau pun yanglain, akan berbeda dengan tafsir individu yang berasal dari kelompok social, atau posisi sosial yang berbeda.</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Keempat, perilaku manusia terhadap dunia sekitarnya sedikit banyak dipengaruhi oleh pemahaman atau pemaknaannya atas dunai tersebut. Di lain pihak, perilaku ini juga bersifat simbolik, dimaknai, baik oleh pelakunya sendiri maupun orang lain. Pemaknaan-pemaknaan yang diberikan pada berbagai perilaku simbolik ini yang kemudian dilontarkan pada pihak lain untuk diperbincangkan dan diuji kebenarannya, merupakan dasar bagi berlangsungnya proses interaksi dan hubungan-hubungan sosial lainnya dalam kehidupan manusia.</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Kelima, sebagai fenomena empiris, perilaku dan tindakan manusia merupakan fenomena yang hanya terwujud sekali, dan setelah itu tidak ada lagi. Untuk dapat memperbincangkannya, manusia perlu mempertahankan eksistensi fenomena tersebut. Oleh karenanya fenomena ini perlu “dibekukan” agar dapat disimpan. Ini dapat dilakukan melalui bahasa, baik lisan maupun tulisan. Jadi, perbincangan dan tekstualisasi pada dasarnya adalah upaya-upaya manusia untuk “menangkap” dan “membekukan” segala sesuatu “yang mengalir” di sekelilingnya. Ketika pembekuan ini telah terjadi, fenomena sosial budaya yang “mengalir” tersebut berubah menjadi teks-teks sosial budaya yang dapat dianalisis, dipahami dan ditafsir kembali.</font></p>
<p align="justify" style="margin-bottom:0;"><font face="Verdana, sans-serif">Pertanyaannya: “Bagaimana sikap kita terhadap tafsir sosial semacam itu?”</font></p>
<p></font></font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2008/01/28/pak-harto-wafat-bantul-bergoyang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
