<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SURAU INYIAK &#187; kweni</title>
	<atom:link href="http://hardivizon.com/tag/kweni/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hardivizon.com</link>
	<description>just another way to know</description>
	<lastBuildDate>Wed, 28 Jul 2010 03:58:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>ada buya dan tape di kweni</title>
		<link>http://hardivizon.com/2010/03/15/ada-buya-dan-tape-di-kweni/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2010/03/15/ada-buya-dan-tape-di-kweni/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Mar 2010 01:21:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[kampung blagu]]></category>
		<category><![CDATA[kopdar]]></category>
		<category><![CDATA[krismariana]]></category>
		<category><![CDATA[kweni]]></category>
		<category><![CDATA[muntilan]]></category>
		<category><![CDATA[nana harmanto]]></category>
		<category><![CDATA[narablog]]></category>
		<category><![CDATA[pare-pare]]></category>
		<category><![CDATA[syafii maarif]]></category>
		<category><![CDATA[tape ijo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1617</guid>
		<description><![CDATA[Hari Sabtu, 13 Maret 2010 kemarin, Kweni mendapat kehormatan. Sahabat narablogku datang dari jauh; Jakarta dan Pare-pare. Mereka adalah pasangan Krismariana-Oni (Jakarta) dan Nana Harmanto (Pare-pare). Mereka benar-benar menyengajakan diri untuk datang ke Kweni dalam rangka mengisi liburan yang mereka buat sendiri (hehehe&#8230;). Mereka datang tepat pada pukul 10.00 wib, sesuai dengan janji sebelumnya di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2010%2F03%2F15%2Fada-buya-dan-tape-di-kweni%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Hari Sabtu, 13 Maret 2010 kemarin, Kweni mendapat kehormatan. Sahabat narablogku datang dari jauh; Jakarta dan Pare-pare. Mereka adalah pasangan <a href="http://blognyakrismariana.wordpress.com/about/">Krismariana-Oni</a> (Jakarta) dan <a href="http://nanaharmanto.wordpress.com" target="_self">Nana Harmanto</a> (Pare-pare). Mereka benar-benar menyengajakan diri untuk datang ke Kweni dalam rangka mengisi liburan yang mereka buat sendiri (hehehe&#8230;).</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka datang tepat pada pukul 10.00 wib, sesuai dengan janji sebelumnya di sms. Aku yang sedang mengerjakan sesuatu, tentu saja tergopoh-gopoh membersihkan diri ketika mereka muncul dengan tiba-tiba di depan rumah. Apalagi di rumah hanya aku sendiri dan ibu mertua. Para <em>fantastic four </em>dan istriku sedang beraktifitas di sekolah mereka masing-masing. Jadilah suasana rumah nyaris sepi, tanpa keributan dan kehebohan yang biasanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku senang sekali melihat ketiga sahabatku itu. Meski kami <a href="http://hardivizon.com/2009/12/28/rahasia-itupun-terkuak/" target="_blank">baru bertemu di akhir tahun 2009 yang lalu</a>, namun kerinduan untuk bertemu kembali tetap bergelora. Apalagi kali ini mereka berkenan mengunjungi kediamanku yang jauh dari kata nyaman dan bagus. Dan yang lebih menyenangkan adalah mereka menghadiahiku sesuatu yang sangat aku sukai. <span id="more-1617"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><img class="size-full wp-image-1619 alignleft" title="si anak kampoeng" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/03/si-anak-kampoeng.jpg" alt="si anak kampoeng" width="329" height="234" />Kris-Oni memberiku sebuah buku berjudul &#8220;Si Anak Kampoeng&#8221;, sebuah novel  karya <a href="http://damiendematra.com/">Damien Dematra</a> berdasarkan kisah perjalanan hidup Buya Syafii Maarif. Buku terbitan Gramedia ini baru saja terbit di bulan Februari 2010 ini. Jadi, masih <em>fresh from the oven</em>. Nah, yang menariknya adalah, ternyata ibu mertuaku punya cerita pribadi dengan Buya di jaman muda mereka dulu. Ketika kuperlihatkan buku itu kepada beliau, ibu tertawa terpingkal-pingkal. Sambil memegang buku tersebut, Ibu bercerita tentang apa yang pernah mereka alami dulu. Apa dan bagaimana ceritanya? Biarkanlah itu menjadi milikku, hahaha&#8230; Yang pasti, sampai saat ini aku belum bisa membaca buku itu, karena Ibu meminta untuk membacanya duluan. Ya&#8230; sebagai menantu yang baik, tentulah aku mengijinkannya, hehehe&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Nana membawakan oleh-oleh makanan khas Muntilan, yakni tape ketan ijo. Ini adalah makanan khas yang ketika pertama kali kucoba <img class="alignright size-medium  wp-image-1620" title="tape ijo" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/03/tape-ijo-300x224.jpg" alt="tape ijo" width="260" height="198" />saat awal kedatanganku ke Jogja beberapa tahun silam membuatku langsung jatuh hati. Tape ketan ini paling maknyus jika dimakan dengan ditemani kerupuk emping. Cara makannya adalah emping dijadikan sendok untuk mengambil tape tersebut, kemudian sendok emping beserta tape yang ada di dalamnya langsung dimakan secara bersamaan. Wuih&#8230; benar-benar top markotop deh&#8230; hehehe&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Selang beberapa saat, Fatih pulang dari sekolahnya yang terletak tidak jauh dari rumah. Tak berapa lama kemudian Ajib pun pulang bersama istriku. Dan menjelang Zuhur, Afif bersama Satira muncul di depan rumah. Jadilah sekarang anggota keluargaku lengkap dan bertemu dengan ketiga tamu agungku itu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Kami terlibat dalam obrolan yang sangat mengasyikkan, mulai dari candaan jayus sampai diskusi yang serius. Sungguh, sebuah kebahagiaan bagiku menerima mereka di rumahku. Obrolan asyik itu benar-benar telah menghanyutkan kami, sehingga kami pun tak menyadari kalau sore telah menjelang. Akhirnya ketiga tamuku itupun pamit.</p>
<p style="text-align: justify;">Terima kasih Oni, Kris dan Nana. Kami sekeluarga benar-benar senang dengan kunjungan kemarin itu. Semoga suatu saat kami dapat membalasnya dengan berkunjung ke Jakarta dan Pare-pare, hehehe&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: center;"><img class="alignnone size-full wp-image-1621" title="nana-kris di kweni" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2010/03/nana-kris-di-kweni1.jpg" alt="nana-kris di kweni" width="448" height="336" /><br />
<span style="color: #ff0000;">Lho&#8230; Afif kok gak keliatan? Ouw&#8230; dia fotografernya ternyata, hehehe&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2010/03/15/ada-buya-dan-tape-di-kweni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>mandi hujan</title>
		<link>http://hardivizon.com/2009/12/25/mandi-hujan/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2009/12/25/mandi-hujan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 10:42:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[kweni]]></category>
		<category><![CDATA[mandi hujan]]></category>
		<category><![CDATA[masa kecil]]></category>
		<category><![CDATA[natal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1322</guid>
		<description><![CDATA[Setelah shalat Jum&#8217;at cuaca di Kweni dan sekitarnya mendung sekali. Gelap gulita. Sepertinya, hujan yang sudah lama dinanti, akan turun dengan derasnya. Benar saja, tak lama berselang, hujan rintik-rintikpun turun. Diawali dengan hujan yang lembut sekali. Pikirku, kok seperti salju ya? Oh iya, jadi ingat hari ini sahabat-sahabatku umat Kristiani sedang merayakan Natal. Apakah salju [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2009%2F12%2F25%2Fmandi-hujan%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Setelah shalat Jum&#8217;at cuaca di Kweni dan sekitarnya mendung sekali. Gelap gulita. Sepertinya, hujan yang sudah lama dinanti, akan turun dengan derasnya. Benar saja, tak lama berselang, hujan rintik-rintikpun turun. Diawali dengan hujan yang lembut sekali. Pikirku, kok seperti salju ya? Oh iya, jadi ingat hari ini sahabat-sahabatku umat Kristiani sedang merayakan Natal. Apakah salju di belahan bumi bagian barat sana juga turun di Kweni? Haha&#8230; menghayal <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Ok, sebelum dilanjut, aku mau mengucapkan Selamat Merayakan Natal bagi sahabatku umat Kristiani, semoga kita selalu hidup dalam kedamaian abadi&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Kembali ke <span style="text-decoration: line-through;">laptop</span> hujan&#8230;! (Tukul mode: ON). Tidak terlalu lama hujan lembut itu turun, hujan deraspun menyusul. Aku nikmati tetesan air itu melalui jendela rumah. Indah sekali rasanya. Selang berapa lama, hujan yang lainpun datang. Yakni, hujan rengekan dari tiga orang <em>fantastic four.</em> Satira, Ajib dan Fatih merengek minta diizinkan mandi hujan. Dengan segala cara dan aksi mereka merengek. Setelah memberi  syarat agar mereka tidak terlalu lama mandinya, aku pun memberi izin.<span id="more-1322"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sontak, teriakan mereka membahana. Tanpa pikir panjang, merekapun berlari dengan penuh kegembiraan ke tengah hujan yang sedang turun. Berlari kian kemari, bermain bola, tertawa lepas&#8230; aih&#8230; sungguh indah pemandangan itu. Ingin rasanya aku turut serta. Tapi, entah mengapa, ego kedewasaanku melarangnya. Padahal, tidak ada aturannya kan, orang dewasa tidak boleh mandi hujan?</p>
<p style="text-align: justify;">Ya sudah, daripada malu-malu mandi hujan, lebih baik ambil foto-foto mereka saja. Meski pakai payung, tapi aura kegembiraan disiram hujan terasa juga lah&#8230; hahaha&#8230;. <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: center;"><img class="alignnone size-medium wp-image-1323" title="mandi hujan 13" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2009/12/mandi-hujan-13-300x224.jpg" alt="mandi hujan 13" width="300" height="224" /><img class="alignnone size-medium wp-image-1325" title="mandi hujan 04" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2009/12/mandi-hujan-04-300x224.jpg" alt="mandi hujan 04" width="300" height="224" /><img class="alignnone size-medium wp-image-1326" title="mandi hujan 12" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2009/12/mandi-hujan-12-300x224.jpg" alt="mandi hujan 12" width="300" height="224" /><img class="alignnone size-medium wp-image-1327" title="mandi hujan 06" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2009/12/mandi-hujan-06-300x224.jpg" alt="mandi hujan 06" width="300" height="224" /><br />
<span style="color: #ff0000;">Berlari, berputar, bermain&#8230; argh&#8230; indahnya kegembiraan masa kecil ini&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </span></p>
<p style="text-align: justify;">Dasar anak-anak, meski sudah berjanji untuk tidak terlalu lama, tapi tetap saja susah untuk menyuruh mereka berhenti. Mie rebus hangat sepertinya ampuh untuk menghentikan mereka, hehehe&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Duh, irinya luar biasa aku melihat kegembiraan anak-anak itu. Semoga besok ada hujan lagi, aku mau ikutan ah&#8230;! Berani gak ya? <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  Ada yang mau ikut?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2009/12/25/mandi-hujan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>pulang</title>
		<link>http://hardivizon.com/2009/10/04/pulang/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2009/10/04/pulang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 11:16:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[alam]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[minangkabau]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[kweni]]></category>
		<category><![CDATA[padang]]></category>
		<category><![CDATA[solidaritas]]></category>
		<category><![CDATA[sumbar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1117</guid>
		<description><![CDATA[Seperti yang kuceritakan pada postingan sebelum ini, bahwa sejak gempa melanda Sumatera Barat, kami berusaha untuk mengontak seluruh keluarga di Sumbar, terutama yang di Padang. Dengan usaha yang gigih dan kesabaran yang luar biasa, akhirnya aku dapat terhubung dengan kakakku di Padang. Meski hanya sms, tapi itu sudah cukup melegakan. Kakak dan adikku beserta keluarganya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2009%2F10%2F04%2Fpulang%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Seperti yang kuceritakan pada postingan sebelum ini, bahwa sejak gempa melanda Sumatera Barat, kami berusaha untuk mengontak seluruh keluarga di Sumbar, terutama yang di Padang. Dengan usaha yang gigih dan kesabaran yang luar biasa, akhirnya aku dapat terhubung dengan kakakku di Padang. Meski hanya sms, tapi itu sudah cukup melegakan. Kakak dan adikku beserta keluarganya yang ada di Padang, alhamdulillah selamat. Meski rumah mereka porak poranda, tapi itu tidak lantas mengurasi rasa syukur kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya aku pun berhasil menghubungi Imoe, sahabat blogger. Dari sms yang dikirimnya, akupun dapat mengetahui bahwa dia baik-baik saja. Soal kerusakan rumah, entahlah, karena itu sudah tidak menjadi fokusku lagi. Yang penting ia selamat. Begitupun dengan Arif &#8220;aurora&#8221;. Secara mengejutkan dia tampil memberi komen di postingan terdahulu dan bahkan sudah membuat sebuah postingan di blognya. Alhamdulillah&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, yang aku belum dapatkan informasinya adalah beberapa sahabatku semasa kuliah di Padang dulu. Tidak satupun dari mereka yang berhasil kuhubungi. Beberapa di antara mereka kuketahui bertempat tinggal di daerah yang dikabarkan mengalami kerusakan yang cukup parah. Semoga saja mereka juga baik-baik saja.</p>
<p style="text-align: justify;">Ada pemandangan yang mengharukanku yang terjadi di Kweni. Secara spontan pemuda Kweni berkeliling kampung, membawa sebuah kardus bekas mie instan yang sudah dibungkus rapi dan bertuliskan: <span style="color: #ff0000;"><strong>&#8220;Bantuan Solidaritas Gempa Padang&#8221;</strong></span>. Aih, aku tak dapat menyembunyikan keterharuanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitu juga di sekolah putriku, Satira. Mereka mengumpulkan dana solidaritas itu sedikit demi sedikit untuk kemudian mereka serahkan kepadaku agar kuteruskan kepada saudara-saudara di Padang. Mereka menyerahkannya kepadaku setelah tahu bahwa aku akan ke Padang pada hari Rabu, 7 Oktober 2009 mendatang, insya Allah.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi teman-teman&#8230; Postingan ini sekaligus untuk menjawab pertanyaan para sahabat mengenai keadaan keluargaku, dan juga pamit karena aku akan pulang ke Padang pada hari Rabu pagi, 7 Oktober 2009. Dengan demikian, kemungkinan aku tidak update postingan dalam waktu yang cukup lama, kecuali kalau aku berhasil mendapatkan koneksi internet di Padang. Mohon doanya, agar semuanya berjalan lancar dan aku bisa bertemu dengan keluarga dan sahabat blogger yang ada di Padang dengan mudah.</p>
<p style="text-align: justify;">Bila ada yang ingin menghubungiku, silahkan kirim email ke: hardi.vizon@gmail.com</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2009/10/04/pulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>24</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>buber &amp; takjilan</title>
		<link>http://hardivizon.com/2009/09/15/buber-takjilan/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2009/09/15/buber-takjilan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 03:24:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[an-najwa]]></category>
		<category><![CDATA[anak yatim]]></category>
		<category><![CDATA[buka bersama]]></category>
		<category><![CDATA[kweni]]></category>
		<category><![CDATA[santunan]]></category>
		<category><![CDATA[takjilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=1029</guid>
		<description><![CDATA[Ramadhan kali ini, kegiatan berbuka puasa bersama cukup sering aku lakukan. Baik diundang sebagai bagian dari kelompok itu, maupun diundang sebagai penceramah. Kalau diundang sebagai bagian dari kelompok yang mengadakan acara itu, tentulah tidak perlu ada persiapan apa-apa, kecuali membawa badan dengan perut kosong. Tapi, kalau diundang sebagai penceramah, perlu sekali persiapan yang matang. Karena, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2009%2F09%2F15%2Fbuber-takjilan%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Ramadhan kali ini, kegiatan berbuka puasa bersama cukup sering aku lakukan. Baik diundang sebagai bagian dari kelompok itu, maupun diundang sebagai penceramah. Kalau diundang sebagai bagian dari kelompok yang mengadakan acara itu, tentulah tidak perlu ada persiapan apa-apa, kecuali membawa badan dengan perut kosong. Tapi, kalau diundang sebagai penceramah, perlu sekali persiapan yang matang. Karena, konsentrasi audiens tidaklah begitu penuh kepada isi ceramah. Sehingga, perlu enegi lebih untuk membuat ceramah itu tetap menarik.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1030" title="an-najwa (25)" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2009/09/an-najwa-25-150x150.jpg" alt="an-najwa (25)" width="150" height="150" /><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1031" title="an-najwa (31)" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2009/09/an-najwa-31-150x150.jpg" alt="an-najwa (31)" width="150" height="150" /><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1034" title="an-najwa02" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2009/09/an-najwa02-150x150.jpg" alt="an-najwa02" width="150" height="150" /><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1044" title="khaled01" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2009/09/khaled011-150x150.jpg" alt="khaled01" width="150" height="150" /></p>
<p style="text-align: justify;">Selama di Jogja, aku lihat hampir setiap masjid mengadakan takjilan atau pemberian makanan perbukaan bagi orang-orang yang berpuasa. Pemberian takjilan itu dilakukan nyaris setiap hari. Barangkali karena masih kentalnya tradisi kekeluargaan, sehingga acara kumpul-kumpul itupun tetap dilestarikan.<span id="more-1029"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Di masjid kami, An-Najwa-Kweni, juga dilaksanakan kegiatan seperti itu setiap hari. Senin-Rabu, adalah jadwal takjilan bagi anak-anak, Kamis dan Jumat bagi bapak-bapak dan ibu-ibu, sementara Sabtu dan Minggu adalah gilirannya para remaja.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1035" title="an-najwa (16)" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2009/09/an-najwa-16-150x150.jpg" alt="an-najwa (16)" width="150" height="150" /><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1036" title="an-najwa (40)" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2009/09/an-najwa-40-150x150.jpg" alt="an-najwa (40)" width="150" height="150" /><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1037" title="an-najwa (13)" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2009/09/an-najwa-13-150x150.jpg" alt="an-najwa (13)" width="150" height="150" /><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1045" title="an-najwa (48)" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2009/09/an-najwa-48-150x150.jpg" alt="an-najwa (48)" width="150" height="150" /></p>
<p style="text-align: justify;">Tidak seperti tarawih yang makin hari makin sedikit jamaahnya, takjilan cendrung memiliki jamaah yang konstan. Artinya, jumlah yang hadir tidak berkurang dari hari kehari. Yah, barangkali karena takjilan memiliki <em>reward</em> yang pasti, yakni sekotak nasi lengkap dengan lauk pauknya, sementara tarawih, <em>reward</em>nya abstrak, yakni pahala yang tidak kasat mata… <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align: justify;">Tahun ini, kegiatan takjilan kami menjadi lebih istimewa. Karena, setiap Jumat kami mengikutsertakan anak yatim yang berada dalam asuhan masjid untuk berbuka bersama. Dalam kegiatan itupun, kami menyerahkan santunan kepada mereka. Pada jumat pertama kami menyerahkan peralatan shalat, pada jumat kedua paket sembako dan pada jumat kemarin kami serahkan pakaian untuk lebaran. Dan insya Allah pada jumat besok, kami akan serahkan makanan khas lebaran dan uang tunai.</p>
<p style="text-align: justify;"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1038" title="an-najwa (20)" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2009/09/an-najwa-20-150x150.jpg" alt="an-najwa (20)" width="150" height="150" /><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1039" title="an-najwa (36)" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2009/09/an-najwa-36-150x150.jpg" alt="an-najwa (36)" width="150" height="150" /><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1040" title="an-najwa" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2009/09/an-najwa-150x150.jpg" alt="an-najwa" width="150" height="150" /><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-1046" title="an-najwa (27)" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2009/09/an-najwa-27-150x150.jpg" alt="an-najwa (27)" width="150" height="150" /></p>
<p style="text-align: justify;">Alhamdulillah, berkat kerja keras dari pengurus, kami dapat peroleh dana sumbangan dari berbagai pihak untuk berbagi kegembiraan bersama anak-anak yatim tersebut. Dana terbesar yang kami peroleh adalah dari Dr. Khaled yang pernah kuceritakan beberapa waktu yang lalu, dan secara mengejutkan juga berdatangan dari teman-teman <em>blogger</em> dan <em>facebooker.</em> Terima kasih banyak aku haturkan kepada semua yang telah dengan tulus mengulurkan tangannya, tanpa perlu memperlihatkan diri di depan khalayak. Aku sangat yakin, keikhlasan mereka pasti dibalas oleh Allah dengan <em>reward</em> yang jauh lebih besar dari yang mereka sangka.</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi Muhammad pernah bersabda, bahwa salah satu dari tujuh golongan yang akan dilindungi di <em>Padang Mahsyar</em> nanti adalah mereka yang apabila bersedakah, tidak mengumbar perbuatan mereka itu. Analogi yang dipakai adalah, “tangan kirinya tidak mengetahui kalau tangan kanannya sudah bersedekah”.</p>
<p style="text-align: justify;">Semoga kedamaian Ramadhan ini, terus berlanjut hingga di luar Ramadhan. Sekali lagi, terima kasih sahabat. Sungguh luar biasa rasanya, melihat senyum bahagia dari anak-anak itu. Dan itu, mereka persembahkan untuk kita semua… <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2009/09/15/buber-takjilan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>siapakah yatim?</title>
		<link>http://hardivizon.com/2009/08/27/siapakah-yatim/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2009/08/27/siapakah-yatim/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 05:14:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[lingkungan]]></category>
		<category><![CDATA[anak yatim]]></category>
		<category><![CDATA[dr. khalid]]></category>
		<category><![CDATA[kweni]]></category>
		<category><![CDATA[qatar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hardivizon.com/?p=974</guid>
		<description><![CDATA[Setelah tertunda karena sakit, akhirnya Dr. Khalid Hasan Hindawi, pimpinan Yayasan Athiyah Khairiyah dari Qatar jadi juga datang ke kampung Kweni hari Selasa dan Rabu (25-27 Agustus 2009) kemarin. Kedatangan beliau adalah dalam rangka melanjutkan proyek pendirian panti asuhan bagi anak-anak yatim yang ada di Kweni dan sekitarnya. Cerita tentang panti ini, dapat dibaca di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2009%2F08%2F27%2Fsiapakah-yatim%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align: justify;">Setelah tertunda karena sakit, akhirnya Dr. Khalid Hasan Hindawi, pimpinan Yayasan Athiyah Khairiyah dari Qatar jadi juga datang ke kampung Kweni hari Selasa dan Rabu (25-27 Agustus 2009) kemarin. Kedatangan beliau adalah dalam rangka melanjutkan proyek pendirian panti asuhan bagi anak-anak yatim yang ada di Kweni dan sekitarnya. Cerita tentang panti ini, dapat dibaca di postingan lamaku berjudul: &#8220;<a href="http://hardivizon.com/2008/12/15/yatimkah-dia/">yatimkah dia?</a>&#8220;.</p>
<p style="text-align: justify;">Pembangunan panti ini memang tertunda-tunda, lantaran krisis global yang mengakibatkan para donatur dari Qatar tersebut terkena imbasnya. Namun, dengan usaha yang gigih dari Dr. Khalid, maka sedikit demi sedikit berhasil dikumpulkan donasi. Meski tidak bisa langsung membangun secara keseluruhan seperti dalam perencanaan semula, tapi pelan-pelan gedung itu akan terbangun juga secara bertahap.<span id="more-974"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Perkenalanku dengan Dr. Khalid terjadi ketika peristiwa gempa Jogja tempo hari, seperti yang pernah kuceritakan dalam postingan mengenang <a href="http://hardivizon.com/2009/05/29/pintu-itu-terbuka/">3 tahun gempa Jogja</a>. Dari perkenalan itu, berbagai kegiatan sosial kami buat di Kweni, sampai akhirnya rencana pendirian panti asuhan ini tercetus.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam pertemuan dengan anak-anak yatim kemarin, ada sebuah nasehat yang dilontarkan Dr. Khalid yang membuatku terkesan. Begini:</p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><span style="color: #008000;"><em>Anak-anakku sekalian&#8230;</em></span></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><span style="color: #008000;"><em>Kalian patut bergembira dan bersyukur. Karena, meski secara lahiriah kalian telah kehilangan ayah atau ibu dan membuatkan kalian menjadi yatim, tapi kalian tidak sedikitpun luput dari limpahan kasih sayang. Begitu banyak orang-orang baik yang memperhatikan kalian, baik dari segi pendidikan maupun kehidupan.</em></span></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><span style="color: #008000;"><em>Ketahuilah anak-anakku&#8230;<br />
</em></span></p>
<p style="text-align: justify; padding-left: 30px;"><span style="color: #008000;"><em>Ada banyak anak-anak yang memiliki orangtua komplit, tapi kehidupan mereka begitu gersang. Tidak ada kasih sayang dari orangtua. Mereka hidup sendiri di rumah. Orangtuanya sibuk dengan urusan dunianya. Anak-anak itu, meski secara lahiriah berorangtua lengkap, namun pada hakikatnya mereka adalah anak-anak yatim. Yatim dari kasih sayang dan pendidikan.</em></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kalimat itu seolah menampar diriku. Jangan-jangan, aku telah membuat &#8220;yatim&#8221; anak-anakku dengan kesibukanku sendiri dan membuat mereka luput dari perhatianku. Semoga saja tidak demikian&#8230;</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-975 aligncenter" title="vizon dan anak yatim" src="http://hardivizon.com/wp-content/uploads/2009/08/vizon-dan-anak-yatim.JPG" alt="vizon dan anak yatim" width="473" height="355" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2009/08/27/siapakah-yatim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>pintu itu terbuka..</title>
		<link>http://hardivizon.com/2009/05/29/pintu-itu-terbuka/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2009/05/29/pintu-itu-terbuka/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 00:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[kweni]]></category>
		<category><![CDATA[qatar]]></category>
		<category><![CDATA[rumah sementara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/?p=708</guid>
		<description><![CDATA[Mohon dibaca juga tulisan sebelumnya: untuk dikenang dan dia mengemis. Bangun pagi, badanku terasa segar. Aku tidur pulas semalam rupanya. Agaknya perasaan tenang telah berada kembali di Jogja, membuat tidurku menjadi nyenyak, meski hanya di dalam tenda. Beberapa saat setelah subuh, suasana berangsur-angsur terang oleh sinar matahari yang mulai muncul. Aku berniat membereskan isi rumah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2009%2F05%2F29%2Fpintu-itu-terbuka%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align:justify;">Mohon dibaca juga tulisan sebelumnya: <a href="http://surauinyiak.wordpress.com/2009/05/27/untuk-dikenang/">untuk dikenang</a> dan <a href="http://surauinyiak.wordpress.com/2009/05/28/dia-mengemis/">dia mengemis</a>.</p>
<p style="text-align:justify;"><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="text-align:justify;">Bangun pagi, badanku terasa segar. Aku tidur pulas semalam rupanya. Agaknya perasaan tenang telah berada kembali di Jogja, membuat tidurku menjadi nyenyak, meski hanya di dalam tenda.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa saat setelah subuh, suasana berangsur-angsur terang oleh sinar matahari yang mulai muncul. Aku berniat membereskan isi rumah yang berantakan dan belum sempat kubereskan sejak gempa tempo hari.</p>
<p style="text-align:justify;">Kubuka pintu masuk dan kulihat rak bukuku masih tergeletak di lantai dengan beberapa buku yang berserakan di sisinya. Rak itu nyaris mencelakakan putri sematawayangku, Satira.<span id="more-708"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-709" title="rak buku" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2009/05/rak-buku.jpg?w=300" alt="rak buku" width="189" height="142" />Ketika itu, Satira sedang menghabiskan sarapannya, dia bersiap akan berangkat sekolah. Posisi duduknya menghadap ke meja bundar rendah yang berada tepat di depan rak berisi penuh buku itu. Istriku menyapu di teras yang berjarak tidak jauh dari situ, ditemani putra bungsuku, Fatih, di dalam <em>babywalker</em>-nya. Di saat mereka sibuk dengan urusan masing-masing, tiba-tiba goncangan hebat itu terjadi. Spontan istriku melempar sapu yang ada di tangannya, menggendong Fatih, dan menarik tangan Satira, lantas berlari keluar rumah. Beberapa detik kemudian, rak itu pun roboh, melemparkan seluruh isinya, menimpa meja yang ada di depannya dan membuat meja itu patah. Aih… seandainya istriku terlambat beberapa detik saja, sulit ku bayangkan apa yang akan terjadi kepada Satira putriku. Tak henti kuucapkan syukur atas semua itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Selesai membereskan rumah, hari sudah mulai beranjak siang. Kubersihkan diriku. Aku berencana hari itu akan memulai petualangan, mencarikan bantuan untuk warga kampung Kweni.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan rekomendasi dari kakak sepupuku yang bekerja di kantor Wapres, kutemui seorang rekan kerjanya yang ditugaskan mengurusi penanganan bantuan di kantor Gubernur DIY. Tapi sayang, aku terlambat. Bantuan berupa bahan makanan baru saja habis dibagi. Tidak ada yang tersisa. Kucoba pergi ke kantor Bupati, lagi-lagi kondisi yang sama kutemukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tengah kekecewaan itu, tiba-tiba pikiranku tertuju kepada sahabatku, Fakhrurrozi. Sahabatku sesama alumni Gontor yang asli Jogja.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff6600;">&#8220;Zi, apa kabar?&#8221;</span><br />
<span style="color:#339966;">&#8220;Alhamdulillah baik, ente bagaimana Zon? Aman sajakah?&#8221;</span><br />
<span style="color:#ff6600;">&#8220;Keadaanku baik-baik saja, hanya kampungku yang parah&#8221;</span><br />
<span style="color:#339966;">&#8220;Ya, aku dengar Kweni termasuk yang parah”</span><br />
<span style="color:#ff6600;">&#8220;Zi, tolong carikan bantuan makanan dong buat kampungku, kami kekurangan nih&#8221;</span><br />
<span style="color:#339966;">&#8220;Ah, kebetulan sekali. Ini aku baru dapat paket makanan dari relawan Gresik, ente ke sini saja&#8221;</span><br />
<span style="color:#ff6600;">&#8220;Sungguh…? Ok, aku segera ke tempatmu&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanpa pikir panjang, kupacu sepeda motorku ke Tegalsari, Banguntapan, rumah sahabatku itu. Sesampai di sana kulihat pemandangan yang mengharukan sekali. Rumah sahabatku itu dijadikan posko relawan. Banyak relawan yang berdatangan dari berbagai daerah. Ada yang memberi bantuan logistik, ada juga yang memberi bantuan tenaga, membantu membersihkan puing-puing rumah warga. Suasananya terlihat sangat sibuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan mudah kutemukan dirinya. Lelaki bertubuh tambun itu terlihat memberikan arahan kepada beberapa relawan. Melihat kedatanganku, diapun berhenti dari obrolannya dan memperkenalkan diriku kepada teman-temannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#339966;">“Ente lihat mobil pick-up itu?”</span>, ujar Rozi sambil menunjuk ke sebuah mobil di depan rumahnya.<br />
<span style="color:#ff6600;">“Ya, kenapa?”</span><br />
<span style="color:#339966;">“Di dalamnya sudah terdapat 160 paket makanan, kalau ente mau, silahkan bawa ke Kweni”</span><br />
<span style="color:#ff6600;">”Ente serius Zi?”</span><br />
<span style="color:#339966;">“Serius… Kami baru saja dapat dari Gresik, belum kami putuskan akan disalurkan kemana. Pas sekali ente datang, ya sudah, berarti ini adalah rejekinya warga Kweni”</span><br />
<span style="color:#ff6600;">“Alhamdulillah, terima kasih banyak. Bisa kita bawa sekarang?”</span><br />
<span style="color:#339966;">“Ayuk…”</span></p>
<p style="text-align:justify;">Sesampai di Kweni, kutemui Pak RT. Kuberitahukan tentang apa yang baru saja kuperoleh. Bapak yang sudah sepuh itu menyambut dengan sukacita. Tanpa menunggu lebih lama lagi, wargapun kami kumpulkan. Paket yang berisi 10 kg beras, 1 kg gula, mie instant, ikan asin, garam dan minyak goreng itu terbagi dengan rata ke masing-masing kepala keluarga. Ah, tak dapat kusembunyikan, betapa bahagianya diriku melihat senyuman tersungging di wajah mereka. Insya Allah dalam beberapa hari ke depan, mereka tidak akan kelaparan, dan tentunya mereka tidak perlu lagi mengemis di pinggir jalan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak saat itu, aku terlibat aktif di posko relawan-nya Rozi. Berbagai kegiatan kuikuti. Sedikit demi sedikit, bantuan logistik mulai masuk ke Kweni. Sampai akhirnya, bantuan itupun sudah berlebih dan nyaris mubazir. Di saat itulah aku mulai berpikir, bahwa bantuan logistik sudah tidak perlu lagi kucarikan. Ada hal lain yang tidak boleh diabaikan, yakni rumah warga.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurutku, tinggal dalam waktu lama di tenda secara bersama-sama tidaklah baik. Bisa dipastikan nantinya akan muncul persoalan sosial. Namun, untuk kembali ke rumah masing-masing sudahlah pasti tidak mungkin, karena rumah mereka sudah rata dengan tanah. Menunggu reaksi Pemerintah soal rekonstruksi aku sangat yakin akan membutuhkan waktu yang panjang. Dari berita yang kubaca, Pemerintah kala itu sibuk berdebat soal besaran bantuan. Aku tidak tahu pasti apa yang sedang mereka persoalkan. Tapi, yang jelas, aku yakin, kalau bantuan pembangunan kembali rumah warga akan sangat lama terealisir.</p>
<p style="text-align:justify;">Menyadari hal itu, kulontarkan sebuah ide kepada Pak RT. Yakni, mencarikan bantuan untuk mendirikan rumah-rumah sementara bagi warga. Rumah sementara itu terbuat dari bahan yang sederhana saja yakni bambu, gedek dan atap seng. Ukurannya sekitar 4&#215;4 meter. Intinya hanyalah ingin memindahkan penampungan warga, dari tenda ke bangunan yang sedikit lebih kokoh dan mampu melindungi mereka dari panasnya matahari maupun dinginnya malam. Dan yang terpenting lagi, agar mereka dapat tetap memiliki <em>privacy</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Pak RT menyambut baik usulku itu. Kamipun berbagi tugas. Warga yang memiliki kecakapan di bidang bangunan, diminta untuk menggambar sketsa rumah sementara tersebut dan menghitung biayanya. Aku, bertugas membuat proposal dan menyebarkannya kepada orang-orang yang aku kenal atau lembaga tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">Proposalpun kusebar ke seluruh penjuru dunia, via pos maupun dunia maya. Tanpa harus menunggu lama, email yang kukirim mendapatkan respon. Sedikit demi sedikit, bantuan uang dari sahabat-sahabatku, baik yang di luar negeri maupun dalam negeri mulai berdatangan. Seberapapun uang terkumpul, segera kami belikan bahan dan dirikan rumah sementara yang kami maksud, secara bergotong royong.</p>
<p style="text-align:justify;">Alhamdulillah, selang beberapa minggu, hampir seluruh warga yang rumahnya roboh berhasil kami bangunkan rumah sementara, berlokasi tidak jauh dari rumah aslinya. Dengan demikian, tenda-tenda sudah tidak diperlukan lagi. Warga sudah punya rumah, meski sederhana. Mereka bisa tenang membereskan rumah mereka dan bekerja kembali untuk melanjutkan hidup.</p>
<p style="text-align:justify;">
<div id="attachment_710" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-710" title="barak" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2009/05/barak.jpg?w=300" alt="Rumah Sementara, tempat penampungan warga, sebagai pengganti tenda" width="300" height="225" /></dt>
</dl>
</div>
<dd class="wp-caption-dd">Rumah Sementara, tempat penampungan warga, sebagai pengganti tenda</dd>
<dl></dl>
<div class="mceTemp mceIEcenter">
<dl class="wp-caption   aligncenter">
<dt class="wp-caption-dt"><img class="size-medium wp-image-713 " title="barak2" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2009/05/barak21.jpg?w=300" alt="DR. Khaled, pendonor dari Qatar. Sebagian besar donasi kami peroleh dari beliau" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">DR. Khaled, pendonor dari Qatar. Sebagian besar donasi kami peroleh dari beliau</p></div>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;">Akhirnya, aku sadari bahwa musibah ini memiliki hikmah tersendiri bagiku. Kejadian ini telah membukakan pintu “persaudaraan” bagiku terhadap warga Kweni. Aku yang awalnya pesimis bisa dengan cepat beradaptasi, karena bahasa dan budaya kami yang sangat jauh berbeda, ternyata berjalan dengan cepat, bahkan lebih cepat dari apa yang kubayangkan. Aku tidak sekedar merasa menjadi pendatang di kampung itu, tapi lebih dari itu, aku merasakan kalau Kweni adalah kampungku. Terima kasih Tuhan&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:right;">(<em>mengenang 3 tahun gempa Jogja</em>)</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignright size-medium wp-image-714" title="vizon-barak" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2009/05/vizon-barak.jpg?w=300" alt="vizon-barak" width="173" height="130" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2009/05/29/pintu-itu-terbuka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>dia mengemis..</title>
		<link>http://hardivizon.com/2009/05/28/dia-mengemis/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2009/05/28/dia-mengemis/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 07:33:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[bantul]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[jakarta]]></category>
		<category><![CDATA[kweni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/?p=696</guid>
		<description><![CDATA[Sebelum membaca yang ini, ada baiknya baca dulu tulisan sebelumnya: &#8220;untuk dikenang&#8221; Demi mengurangi trauma anak-anakku karena gempa, kuputuskan untuk mengungsi sementara ke Jakarta. Kupikir, dengan menjauh sementara dari lokasi kejadian itu, akan dapat menjadi semacam terapi buat mereka. Apalagi, sekolah diliburkan selama dua minggu ke depan. Tiga hari setelah gempa itu terjadi, kamipun berangkat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2009%2F05%2F28%2Fdia-mengemis%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align:justify;">Sebelum membaca yang ini, ada baiknya baca dulu tulisan sebelumnya: <a href="http://surauinyiak.wordpress.com/2009/05/27/untuk-dikenang/">&#8220;untuk dikenang&#8221;</a></p>
<p style="text-align:justify;">Demi mengurangi trauma anak-anakku karena gempa, kuputuskan untuk mengungsi sementara ke Jakarta. Kupikir, dengan menjauh sementara dari lokasi kejadian itu, akan dapat menjadi semacam terapi buat mereka. Apalagi, sekolah diliburkan selama dua minggu ke depan. Tiga hari setelah gempa itu terjadi, kamipun berangkat ke Jakarta.</p>
<p style="text-align:justify;">Di Jakarta, kami tinggal di rumah kakak sepupu. Kami dilayani dengan penuh kehangatan. Apalagi kakakku itu tinggal seorang diri. Suaminya sudah tiada, anak semata wayangnya pun sedang kuliah di kota Padang. Jadilah kehadiran kami membuat dirinya merasa terhibur sekali.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi, liburan mendadak itu tidak membuat diriku nyaman. Hatiku gelisah. Pikiranku tidak tenang. Ada semacam rasa bersalah di diri ini. <span id="more-696"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Mataku hampir tidak lepas dari menyaksikan berita di televisi seputar gempa Jogja.  Berbagai visual yang ditampilkan membuatku bergidik, ditambah lagi dengan jumlah korban yang terus meningkat, hingga mencapai angka 6,000. Batinku seakan protes. Aku duduk enak-enakan di sini, sementara jauh di sana, orang-orang yang bernasib sama denganku, mengalami penderitaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Kusampaikan kegelisahanku itu kepada istriku. Aku bermaksud minta izin untuk kembali ke Jogja sendirian, karena aku merasa ada sesuatu yang bisa aku kerjakan, setidaknya membantu meringankan beban tetanggaku. Ternyata, istriku memiliki perasaan yang sama. Maka, dengan bulat kami sepakat untuk kembali ke Jogja, bersama. Kekhawatiranku akan anak-anak, ditepis istriku dengan kalimat: &#8220;anak itu harus imun, jangan biarkan mereka steril&#8221;. Aku lega, dan dengan penuh keyakinan, kuajak lagi mereka ke Jogja.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai di Kweni, aku kaget luar biasa begitu melihat salah seorang tetanggaku mengulurkan sebuah kardus ke taksi yang kami tumpangi dari bandara. Dia mengemis! Oh Tuhan, tak kuasa ku bendung air mataku. Kuhentikan taksi itu, dan kujulurkan kepalaku keluar jendela.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="size-medium wp-image-697 alignleft" title="31ebantul14" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2009/05/31ebantul14.jpg?w=300" alt="31ebantul14" width="160" height="106" />&#8220;Kenapa mengemis Mas?&#8221;<br />
&#8220;Eh, bapak.. sudah pulang?&#8221;<br />
&#8220;Iya&#8230; tapi kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Habis, mau gimana lagi? Tak ada yang bisa kami kerjakan untuk mencari uang, bantuan logistikpun tidak kami dapatkan. Kami perlu makan, tapi tidak ada uang!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Ya Allah&#8230; inikah kenyataan yang sesungguhnya? Aku hampir tak percaya. Mengapa kampungku yang terletak tidak jauh dari jalan raya tidak mendapatkan bantuan, sehingga memaksa warganya untuk mengemis di pinggir jalan? Separah itukah penanganan bencana di negeriku ini? Sungguh, aku tak percaya dengan penglihatanku sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai di mulut gang, kami disambut beberapa tetangga. Mereka membantu menurunkan barang-barang dari taksi dan mengajak masuk ke tenda penampungan yang didirikan di lapangan persis depan rumahku. Hatiku tergetar, betapa hangatnya mereka.</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="size-medium wp-image-698 alignleft" title="30ebantul7-H9" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2009/05/30ebantul7-h9.jpg?w=300" alt="30ebantul7-H9" width="172" height="114" />&#8220;Kok pulang pak?&#8221;, tanya mas Kiman<br />
&#8220;Iya, abis gak tenang di Jakarta&#8221;<br />
&#8220;Gak tenang gimana?&#8221;<br />
&#8220;Setiap saat berita gempa ini kulihat di tipi, mengerikan&#8221;<br />
&#8220;Wah, kami gak nonton sama sekali, soalnya listrik belum juga nyala&#8221;<br />
&#8220;Belum nyala? Selama itu?&#8221;<br />
&#8220;Iya, soalnya di depan sana ada tiang listrik yang roboh, jadi perlu waktu lama untuk memperbaikinya&#8221;<br />
&#8220;Benar juga, saya kemarin sempat melihatnya. Oya, gimana keadaan di sini? Logistik cukup?&#8221;<br />
&#8220;Nah, itulah yang kurang Pak. Kita sedikit sekali dapat bantuan&#8221;<br />
&#8220;Lho, kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Gak ngerti&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Penasaran, kuboca menanyakan soal itu kepada Pak RT. Dari penuturan beliau kuperoleh informasi betapa semrawutnya penyaluran bantuan kepada masyarakat. Sering terjadi rebutan di kelurahan. Akhirnya, hukum rimba berlaku, siapa kuat dia dapat. Beberapa lelaki kampung kami berusaha mencari bantuan logistik kemana saja. Mereka berhasil mendapatkannya, tapi tidak cukup untuk mengisi perut seluruh warga. Perlu usaha yang lebih keras untuk bisa memperoleh yang lebih.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah berbenah dan mendirikan &#8220;tenda darurat&#8221; di halaman, aku pun minta diantar keliling kampung sama mas Kiman. Aku ingin mengetahui bagaimana persisnya keadaan kampung itu, karena sebelumnya aku belum sempat berkeliling. Betapa terkejutnya diriku. Ternyata, hampir 80% rumah di kampungku itu rata dengan tanah. Aku bergidik!</p>
<p><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-699" title="kweni1" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2009/05/kweni1.jpg?w=150" alt="kweni1" width="150" height="110" /><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-700" title="kweni2" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2009/05/kweni2.jpg?w=150" alt="kweni2" width="150" height="106" /><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-701" title="kweni3" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2009/05/kweni3.jpg?w=150" alt="kweni3" width="150" height="112" /><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-702" title="kweni4" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2009/05/kweni4.jpg?w=150" alt="kweni4" width="150" height="112" /></p>
<p style="text-align:justify;">Malam hari, di tengah kegelapan, di tenda penampungan, aku merenung. Pikiranku sangat terganggu dengan kenyataan tetanggaku yang terpaksa mengemis. Aku tidak bisa terima keadaan itu. Aku sangat yakin, pasti ada jalan yang lebih terhormat untuk memperoleh bantuan. Lelah dengan fisik dan pikiran, akupun tertidur. Aku berdoa, semoga besok dapat melakukan sesuatu yang berguna bagi mereka&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;"><em>bersambung&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2009/05/28/dia-mengemis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>untuk dikenang</title>
		<link>http://hardivizon.com/2009/05/27/untuk-dikenang/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2009/05/27/untuk-dikenang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 May 2009 06:04:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[bantul]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[gontor]]></category>
		<category><![CDATA[klaten]]></category>
		<category><![CDATA[kweni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/?p=687</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini,  tiga tahun yang lalu, bumi Yogyakarta dan sekitarnya luluh lantak oleh goncangan gempa bumi. Peristiwa itu bagiku seolah ucapan &#8220;Selamat Datang&#8221; yang amat dahsyat dan istimewa. Keberadaan kami di kampung Kweni belumlah lagi lama, tidak lebih dari sebulan. Belum banyak tetangga yang kami kenal secara akrab. Terasa cukup sulit bagi kami untuk bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2009%2F05%2F27%2Funtuk-dikenang%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align:justify;">Hari ini,  tiga tahun yang lalu, bumi Yogyakarta dan sekitarnya luluh lantak oleh goncangan gempa bumi. Peristiwa itu bagiku seolah ucapan &#8220;Selamat Datang&#8221; yang amat dahsyat dan istimewa. Keberadaan kami di kampung Kweni belumlah lagi lama, tidak lebih dari sebulan. Belum banyak tetangga yang kami kenal secara akrab. Terasa cukup sulit bagi kami untuk bisa berinteraksi dengan warga. Barangkali karena budaya dan bahasa kami yang jauh dari kata &#8220;sama&#8221;. Namun, peristiwa gempa bumi itu telah mempercepat semuanya. Kali ini, aku ingin menceritakannya kembali, untuk dapat mengabadikan kenangan itu bersama sahabat semua.</p>
<p style="text-align:justify;">Sabtu pagi, 27 Mei 2006, aku sedang berada di Pondok Modern Gontor Ponorogo Jawa Timur dalam rangka menghadiri Temu Akbar Alumni pada peringatan 80 tahun berdirinya pesantren tersebut. Setelah salat Subuh, aku mengajak beberapa teman untuk napak tilas di setiap sudut pesantren yang pernah menjadi bagian penting hidup kami. Satu persatu area pesantren kami lewati sambil menceritakan segala memori yang berkaitan dengan lokasi itu. Tentu saja, kegiatan itu mengundang tawa. Ya, kami menertawakan keluguan kami dahulu&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Ketika sampai di depan gedung olah raga, tiba-tiba langkah kami terhenti. Secara mengejutkan, bumi bergoncang. Meski tidak terlalu keras, tapi cukup mengagetkan. Sekonyong kami lihat para santri berhamburan dari asrama-asrama mereka. Suasana gaduh segera terasa. Jantungku berdegup kencang.<span id="more-687"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Belum lagi habis keterkejutanku, ponselku berdering. Dari istriku rupanya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Wan, barusan ada gempa!&#8221;, ujar istriku dengan nafas yang masih belum teratur.<br />
&#8220;Ya, di sini juga terasa, tapi hanya sebentar&#8221;<br />
&#8220;Di sini keras sekali&#8221;<br />
&#8220;Oya?&#8221;<br />
&#8220;Rumah mbah Karto rata dengan tanah, rumah Mas Sigit juga&#8230;!&#8221;<br />
&#8220;Ha&#8230;? separah itu? rumah kita bagaimana?&#8221;<br />
&#8220;Rumah kita tidak apa-apa, hanya barang-barang saja yang berantakan. Sekarang kami di luar, ndak berani masuk rumah&#8221;<br />
&#8220;Subhanallah&#8230; ya sudah, saya pulang sekarang&#8221;<br />
&#8220;Tapi, acaranya?&#8221;<br />
&#8220;Bertemu kalian jauh lebih penting daripada mengikuti acara itu&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Segera saja aku pamit kepada teman-temanku untuk segera kembali ke Jogja. Beberapa teman yang sama-sama berasal dari Jogja kutawari untuk ikut kembali. Berbagai alasan mereka lontarkan yang intinya adalah mereka ingin tetap ada di Gontor. Ah, aku tidak peduli, bagiku, memastikan keselamatan keluargaku jauh lebih penting dari itu semua. Apalagi kami yang baru saja merantau ke kota itu, tidak ada sanak saudara yang akan membantu kami.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan segala upaya, akhirnya aku berhasil mendapatkan travel yang akan berangkat ke Jogja dari Ponorogo via Imogiri. Alhamdulillah, batinku, ini akan mempercepat perjalananku. Karena, bila harus naik bus via Madiun, kemungkinan besar sore hari aku baru sampai. Dengan melewati jalur Wonogiri, perjalanan hanya butuh lebih kurang 4 jam.</p>
<p style="text-align:justify;">Dalam travel, selain diriku, terdapat 4 penumpang, yang semuanya adalah mahasiswa. Baru berjalan lebih kurang setengah jam, para mahasiswa tersebut mendapat telpon dari orangtua mereka masing-masing, menyuruh mereka untuk membatalkan keberangkatan ke Jogja. Ternyata, berita soal gempa Jogja telah tersiar di televisi. Kengerian mulai merasuki para orangtua itu sehingga menyuruh anak-anak mereka untuk kembali.</p>
<p style="text-align:justify;">Keempat mahasiswa itupun turun di jalan. Tinggallah diriku sendiri di mobil travel itu. Kulirik sang sopir.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mas, masih mau melanjutkan perjalanan?&#8221;, ujarku<br />
&#8220;Masih Pak, memangnya kenapa?&#8221;<br />
&#8220;Kalau mas takut, tidak apa-apa, tidak usah dilanjutkan. Tapi, tolong carikan aku kendaraan yang dapat mengantarku ke Jogja hari ini juga. Keluargaku ada di sana Mas!&#8221;<br />
&#8220;Jangan khawatir Pak, saya akan hantarkan Bapak sampai Jogja, apapun yang terjadi&#8221;<br />
&#8220;Sungguh Mas?&#8221;<br />
&#8220;Iya Pak&#8221;<br />
&#8220;Alhamdulillah, terima kasih banyak Mas&#8221;<br />
&#8220;Sama-sama Pak&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Tak henti ku ucapkan syukur di hatiku. Kalimat si Mas Sopir itu mampu membantu menenangkan diriku. Karena, dari sejak terakhir ditelpon istriku tadi, praktis hubungan telpon terputus sama sekali. Sama sekali aku tidak bisa menghubungi mereka, untuk mengetahui keadaan. Perasaanku campur aduk.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu jam kemudian, tiba-tiba ponselku berbunyi. Dari sekolah Afif.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Halo&#8221;<br />
&#8220;Wan, Icha sekarang di sekolah Afif, menjemputnya&#8221;, jawab istriku dengan sedikit isakan yang tertahan<br />
&#8220;Bagaimana keadaan?&#8221;<br />
&#8220;Tadi ada isyu tsunami, kami berlarian menuju Utara. Tapi, Ajib&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Iya, kenapa Ajib?&#8221;<br />
&#8220;Dia terpisah dari kami, tidak tahu sekarang ada di mana&#8221;<br />
&#8220;Astaghfirullah&#8230;!&#8221;, bergidik bulu romaku, setetes air hangat mengalir dari sudut mataku, &#8220;Terus?&#8221;<br />
&#8220;Tapi mudah-mudahan dia ada bersama Evan (adikku yang juga kuliah di Jogja), soalnya tadi Icha lihat sekilas ada Evan dekatnya&#8221;<br />
&#8220;Ya, mudah-mudahan&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Jantungku bergemuruh. Ingin rasanya ku terbang, tapi tentu tidak bisa. Kucoba menghubungi Evan adikku. Lagi-lagi tidak bisa. Sekonyong-konyong ada sms masuk, dari sahabatku Rahmawan yang bertempat tinggal di Babarsari, Utara kota Jogja; &#8220;Segera pulang, Jogja hacur!&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Deng&#8230;! Pesan singkat itu semakin membuatku gelisah. Kubalas, tapi gagal. Aih, rupanya sms itu dia kirim dari dua jam yang lalu lagi. Tak henti kuucapkan doa, agar aku bisa segera sampai dan menemukan keluargaku baik-baik saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Memasuki daerah Klaten, kami saksikan pemandangan yang tak kalah mengaduk-aduk emosi. Kendaraan-kendaraan memutar balik, penduduk berlarian ke arah kami.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Segera balik!&#8221;, seru salah seorang sopir bus kepada kami<br />
&#8220;Ada apa Mas?&#8221;, sahut sopor travelku<br />
&#8220;Air naik&#8221;, ujarnya</p>
<p style="text-align:justify;">Ah, kepanikan telah melanda penduduk. Sama seperti yang dialami istriku, rupanya penduduk termakan isyu bahwa telah terjadi tsunami di laut selatan. Agaknya, bayangan tsunami Aceh yang belum lama berselang masih menghantui mereka. Ketakutan akan hal itu wajar saja. Kembali kulirik Mas Sopir.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Mas, masih mau lanjut?&#8221;<br />
&#8220;Tenang saja Pak, kita lanjut&#8221;<br />
&#8220;Tapi&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Halah, paling itu hanya isyu Pak. Nanti kita buktikan. Di depan ada sungai. Kita lihat, bila airnya deras, berarti benar telah terjadi tsunami&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Selang beberapa menit kemudian, kami bertemu dengan sungai yang dimaksudnya. Ternyata benar, air sungai itu sama sekali tidak deras, bahkan nyaris kering.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Tu kan Pak?, itu semua hanya isyu&#8221;<br />
&#8220;Yah, terima kasih Mas, njenengan bisa menenangkanku&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Perlahan kami beringsut menuju Jogja. Sepanjang jalan kulihat banyak rumah yang sudah rata dengan tanah, begitu juga dengan orang-orang yang mengalami luka. Aku bergidik. Ah, benar-benar parah rupanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tepat pukul 11.00 wib, kami memasuki kota Jogja. Candi Prambanan kami lalui. Ternyata, candi kebanggaan Jogja itupun mengalami nasib yang sangat mengenaskan. Terlihat dari kejauhan kalau candi itu rusak. Sudah pasti akan butuh waktu lama untuk memperbaikinya kembali.</p>
<p style="text-align:justify;">Sampai di mulut gang rumahku, mobil travel berhenti. Kami tidak bisa masuk! Gang itu tertutup oleh reruntuhan rumah tetanggaku. Tak sabar lagi, aku langsung melompat turun. Kuucapkan terima kasih kepada si Mas Sopir yang luar biasa itu. Kuterjang reruntuhan itu. Aku serasa melayang. Ingin segera kutemui keluargaku.</p>
<div id="attachment_691" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-691" title="gempa-kweni" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2009/05/p5282464.jpg?w=300" alt="gempa-kweni" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Reruntuhan yang menutup akses jalan ke rumahku. Sahabat blogger pernah melewati jalan ini</p></div>
<p style="text-align:center;">
<p style="text-align:justify;">Begitu sampai di depan rumah, anak-anakku berlarian menyambutku. Mereka menangis. Mereka ketakutan. Kupeluk mereka semua, kuberikan seluruh kedamaian kepada mereka, kuyakinkan bahwa mereka sudah aman.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan&#8230; aku lega sekarang, telah bertemu mereka, apalagi Ajib juga ada di situ&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">
<div id="attachment_693" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-693" title="gempa-pendopo" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2009/05/dsc03798.jpg?w=300" alt="Pendopo yang pernah sahabat blogger gunakan untuk &quot;bermain bersama bocah Kweni&quot;" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Pendopo yang pernah sahabat blogger gunakan untuk &quot;bermain bersama bocah Kweni&quot;</p></div>
<p style="text-align:justify;"><em>bersambung&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2009/05/27/untuk-dikenang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ketamuan</title>
		<link>http://hardivizon.com/2009/01/30/ketamuan/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2009/01/30/ketamuan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Jan 2009 01:33:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[bocah]]></category>
		<category><![CDATA[dyah suminar]]></category>
		<category><![CDATA[imelda courtier]]></category>
		<category><![CDATA[kweni]]></category>
		<category><![CDATA[lala purwono]]></category>
		<category><![CDATA[menghormati tamu]]></category>
		<category><![CDATA[tutinonka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/?p=416</guid>
		<description><![CDATA[Awal tahun 2009 ini aku diberikan keberkahan yang luar biasa, yakni kedatangan tamu yang lumayan sering. Ada yang memang kebetulan liburan ke Jogja, kemudian menemuiku dan ada juga yang memang sengaja bertemu denganku. Yang spesial adalah rombongan teman sejawatku dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Curup Bengkulu. Mereka mengadakan studi tour ke Solo dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2009%2F01%2F30%2Fketamuan%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align:justify;">Awal tahun 2009 ini aku diberikan keberkahan yang luar biasa, yakni kedatangan tamu yang lumayan sering. Ada yang memang kebetulan liburan ke Jogja, kemudian menemuiku dan ada juga yang memang sengaja bertemu denganku.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang spesial adalah rombongan teman sejawatku dari <a href="http://www.staincurup.ac.id">Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Curup Bengkulu</a>. Mereka mengadakan studi tour ke Solo dan Jogja. Karena aku ada di Jogja, maka aku diminta untuk mengatur segala kebutuhan mereka selama di Jogja; penginapan, makan, <em>city tour</em>, dan yang terpenting urusan ke lembaga-lembaga yang akan mereka kunjungi. Seru sekali. Jumlah mereka 63 orang. Kehadiran mereka cukup memberikan kebahagiaan tersendiri bagiku. Setidaknya, mereka tahu kalau &#8220;amanah&#8221; tugas belajarku sedang aku jalankan dengan baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Yang paling istimewa adalah kehadiran kedua orangtuaku. Kerinduaku kepada mereka memang luar biasa besarnya. Tapi, keadaan membuatku tidak bisa sering-sering pulang kampung. Terakhir aku pulang 2 tahun yang lalu. Itupun aku pulang sendiri, tanpa membawa cucu-cucu mereka. Sebetulnya aku sedikit kecewa, karena sesungguhnya yang mereka rindui itu cucu-cucunya bukan aku..! Oh nasib&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> <span id="more-416"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Memuliakan tamu merupakan ciri khas budaya timur yang kita miliki. Bahkan dalam Islam, tingkat keimanan seseorang dapat dilihat dari cara dia menghormati dan memuliakan tamunya. <a href="http://hadith.al-islam.com/bayan/tree.asp?Lang=ind&amp;ID=730">Rasulullah bersabda</a> : “<em>Barang siapa iman kepada Allah dan hari akihirat, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhirat maka hendaklah ia menghormati tamunya.</em>” ( HR. Asy-Syaukhani / Bukhari-Muslim).</p>
<p style="text-align:justify;">Ini merupakan dua aplikasi <a href="http://blog.its.ac.id/indramuslim/2008/01/25/i-h-t-i-r-a-m-saling-hormat-menghormati/">wujud kebenaran iman yang benar</a>, dengan kata lain bahwa setiap seorang mukmin punya tanggung jawab untuk: <em>pertama</em>, bersikap dan berperilaku baik terhadap tetangga, sikap saling menghormati menimbulkan pergaulan yang sehat dan kehidupan yang tentram, sebaliknya berbuat atau berperangai buruk terhadap tetangga akan memperburuk pula terhadap pergaulan di masyarakat; <em>kedua</em>, menghormati dan memuliakan tamu, siapa pun orangnya, akan memperlihatkan bagaimana kepribadian sang tuan rumah; sebaik dia memperlakukan tamunya, sebaik itu pulalah kepribadiannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Nah, di bulan Maret 2009 nanti, tepatnya tanggal 7 sampai 9, aku bakal kedatangan tamu istimewa lagi. Mereka adalah orang-orang yang selalu dekat di monitor tapi jauh di mata&#8230; Ketika onechan <a href="http://imelda.coutrier.com/2009/01/27/aku-ingin-pergi-jauuuhhh/">Imelda</a> mengontakku via email dan mengatakan akan kopi darat di Jogja, aku bahagianya luar biasa. Wah, bakal kedatangan tamu istimewa nih. Bertambah istimewa karena bakal ada beberapa selebriti jagat maya yang juga ikuta, di antaranya <a href="http://jeunglala.wordpress.com/2009/01/28/the-events/">Jeunglala</a>. Aku ingin membuktikan pujian bro <a href="http://heryazwan.wordpress.com/2008/11/15/peluncuran-buku-the-blings-of-my-life/">Hery Azwan</a>, kalau bacot Lala sama dahsyatnya dengan tulisannya, hehe&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Bermain bersama bocah Kweni&#8221; adalah salah satu kegiatan yang akan aku gelar buat menyambut kehadiran tamu-tamu istimewa ini. Bocah Kweni adalah &#8220;anak-anakku&#8221; yang pernah kuceritakan dalam postingan &#8220;<a href="http://surauinyiak.wordpress.com/2008/12/15/yatimkah-dia/">yatimkah dia?</a>&#8220;.  Mereka sedang kupersiapkan untuk memberikan surprise bagi tamu-tamu istimewa ini&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Detail tentang acara ini dapat dilihat di sini [<a href="http://imelda.coutrier.com/2009/01/27/aku-ingin-pergi-jauuuhhh/">click me!</a>].</p>
<p style="text-align:justify;">Aku berharap acara ini dapat dihadiri oleh sahabat-sahabat semua, terutama <a href="http://dyahsuminar.com/">Bunda Dyah</a>. Semoga <a href="http://tutinonka.wordpress.com/">Bu Tuti</a> bisa merayu beliau, hehe&#8230; Buat sahabat yang mau ikutan, terutama yang di Jogja, silahkan beritahu di kotak komentar ya&#8230;</p>
<p style="text-align:justify;">Duh&#8230; udah gak sabar menunggu Maret nih&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2009/01/30/ketamuan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Badindin; kambangkan budayo kito</title>
		<link>http://hardivizon.com/2008/08/27/badindin-kambangkan-budayo-kito/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2008/08/27/badindin-kambangkan-budayo-kito/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Aug 2008 05:16:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[tradisi]]></category>
		<category><![CDATA[17 agustus]]></category>
		<category><![CDATA[badindin]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[bantul]]></category>
		<category><![CDATA[batak]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[cinta laura]]></category>
		<category><![CDATA[indang]]></category>
		<category><![CDATA[jawa]]></category>
		<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[kweni]]></category>
		<category><![CDATA[minang]]></category>
		<category><![CDATA[sinetron]]></category>
		<category><![CDATA[sunda]]></category>
		<category><![CDATA[tari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Banyak ragamnyo Budayo datang Budayo kito Kambangkan juo&#8230; Itulah penggalan dari bait lagu pengiring tari Indang, yang juga sering disebut dengan tari badindin, asal Minangkabau (Sumatera Barat). Sebetulnya, aku sudah cukup sering mendengarkan lagu ini. Tapi, entah kenapa, baru kali ini bait-bait lagu itu menjadi perhatianku. Gara-garanya adalah dalam satu minggu kemarin, setiap sore, rumahku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2008%2F08%2F27%2Fbadindin-kambangkan-budayo-kito%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<blockquote><p><span style="color:#ff0000;"><em>Banyak ragamnyo<br />
Budayo datang<br />
Budayo kito<br />
Kambangkan juo&#8230;</em></span></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Itulah penggalan dari bait lagu pengiring <a href="http://www.cimbuak.net/content/view/1046/4/">tari Indang</a>, yang juga sering disebut dengan tari badindin, asal <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Minangkabau">Minangkabau</a> (Sumatera Barat).</p>
<p style="text-align:justify;">Sebetulnya, aku sudah cukup sering mendengarkan lagu ini. Tapi, entah kenapa, baru kali ini bait-bait lagu itu menjadi perhatianku.<span id="more-144"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Gara-garanya adalah dalam satu minggu kemarin, setiap sore, rumahku selalu ramai dengan bocah-bocah. Mereka sedang dilatih menarikan tari indang tersebut oleh istriku. Bocah-bocah itu adalah teman-teman putriku Satira. Mereka minta dilatih tarian tersebut buat tampil dalam acara pentas seni 17 agustusan di kampung kami, Kweni Rt. 03 Bantul.</p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2008/08/vizon-badindin-301.jpg"><img class="size-medium wp-image-148 aligncenter" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2008/08/vizon-badindin-301.jpg?w=300" alt="" width="158" height="120" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Kalau dipikir-pikir, aneh juga. Masa di kampung Jawa menampilkan tarian Minang? <em>Whatever</em>-lah, yang jelas aku lihat bocah-bocah itu berlatih dengan semangat. Istriku pun ikut-ikutan semangat. Muncul lagi deh hobi lamanya. Aku patut acungi jempol buat istriku, bakatnya buat &#8220;menaklukkan&#8221; anak-anak top banget. Hanya dalam beberapa saat, bocah-bocah centil itu dengan mudahnya <em>manut </em>dengan arahan istriku. Wajarlah, kalau di sekolahnya dia selalu dapat prediket guru favorit&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2008/08/vizon-badindin-231.jpg"><img class="size-medium wp-image-146 aligncenter" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2008/08/vizon-badindin-231.jpg?w=300" alt="" width="157" height="118" /></a>Kembali ke <span style="text-decoration:line-through;">laptop</span> syair lagu indang&#8230; Karena setiap hari aku mendengarkan lagu tersebut, akhirnya aku hampir hapal. Dan di antara syairnya, yang paling berkesan adalah syair yang di atas tadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Pesan itu sungguh luar biasa menurutku. Karena, budaya kita sedikit demi sedikit sudah mulai tergerus oleh budaya-budaya dari luar, terutama budaya barat. Hampir bisa dipastikan bahwa sebagian besar generasi muda sekarang tidak memahami dengan baik budaya aslinya. Mereka lebih bangga menjadi &#8220;bule&#8221; ketimbang jadi &#8220;thole&#8221;.</p>
<p style="text-align:justify;">Berita berikut ini patut untuk direnungi:</p>
<blockquote>
<h3><strong><a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/11/21544654/169.bahasa.daerah.terancam.punah">169 Bahasa Daerah Terancam Punah</a></strong></h3>
<p style="text-align:justify;"><em>KOMPAS, Senin, 11 Agustus 2008</em><br />
Perkembangan bahasa daerah dewasa ini mencemaskan. Dari 742 bahasa daerah di Indonesia, hanya 13 bahasa yang penuturnya di atas satu juta orang. Artinya, terdapat 729 bahasa daerah lainnya yang berpenutur di bawah satu juga orang. Di antara 729 bahasa daerah, 169 di antaranya terancam punah, karena berpenutur kurang dari 500 orang. <em>selengkapnya klik [<a href="http://www.kompas.com/read/xml/2008/08/11/21544654/169.bahasa.daerah.terancam.punah">disini</a>]</em></p></blockquote>
<p style="text-align:justify;">Melihat dari perkembangan bahasa anak muda sekarang, bisa dipastikan bahwa ancaman kepunahan bahasa daerah akan menjadi nyata. Ini perlu menjadi renungan. Contoh terdekat bagiku adalah anak-anakku sendiri. Tidak satupun dari mereka yang fasih berbahasa Minang. Padahal, setiap hari aku menggunakan bahasa tersebut bersama istriku. Tapi, aku tidak terlalu sedih-sedih amat. Ternyata, mereka sangat fasih berbahasa Jawa, terutama si Uni, putriku satu-satunya. Seringkali dia kujadikan penerjemah dadakan kalau ada kosakata Jawa yang aku tidak mengerti. Lucu juga ya&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Yah&#8230; setidaknya, anak-anakku masih menguasai salah satu bahasa daerah Indonesia.</p>
<p style="text-align:justify;">Jagat hiburan memberi kontribusi terbesar menurutku dalam proses pemunahan bahasa daerah. Kita bisa lihat betapa <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cinta_Laura">Cinta Laura</a> yang digadang-gadang menjadi ikon anak muda dengan lidah bulenya, selalu mendapatkan peran dalam sinetronnya sebagai anak orang kaya atau sejenisnya. Sementara, di sisi lain, peran-peran di sinetron yang menggunakan logat daerah tertentu, selalu merupakan tokoh tertindas. Contoh, tokoh pe-er-te selalu berlogat <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Jawa">Jawa</a>, tukang kebun yang lugu diperankan dengan logat <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda">Sunda</a>, tokoh penjahat seringkali berlogat <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Batak">Batak</a> dan tokoh licik disuruh berlogat Minang.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan perlakuan seperti ini, tentulah sudah tertanam suatu paradigma dalam masyarakat bahwa bila ingin menjadi orang modern, kudu <a href="http://ngelamunista.blogspot.com/2008/02/quotes-from-cinta-laura.html">berlogat ala Cinta Laura</a>, tapi kalau tetap berlogat daerah, siap-siap tetap menjadi orang kampung yang tidak akan maju.</p>
<p style="text-align:justify;">Barangkali pendapatku ini salah, tapi setidaknya ini bisa dijadikan renungan buat diriku sendiri terutama. Semodern apapun era yang sedang dihadapi, hendaklah budaya kita tetap dipertahankan dan dikembangkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Pernah dalam sebuah seminar internasional, salah satu panelis bule ketika itu berkomentar; &#8220;Saya heran, kenapa orang Indonesia berusaha sekuat tenaga untuk bisa menuturkan bahasa Inggris seperti kami, padahal yang terpenting bagi kita adalah bagaimana bisa saling memahami maksud satu sama lain, tanpa harus menyamakan cara pengucapan&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">So&#8230;.? <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  #@$%^&amp;*</p>
<p><a href="http://www.mylivesignature.com" target="_blank"><img style="border:none;background:transparent;" src="http://signatures.mylivesignature.com/54486/280/9DF7C88CB6AC231ABE4DB1E046019027.png" alt="" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2008/08/27/badindin-kambangkan-budayo-kito/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
