Posted by Vizon | Posted in Ramadhan, tradisi | Posted on 28-08-2010
Anda tahu dengan lampu colok? Mungkin sebagian kita cukup akrab dengan istilah ini, tapi bagi sebagian lagi, istilah ini sangat asing. Wajar memang, karena lampu colok adalah semacam lentera berbahan bakar minyak tanah, berwadahkan kaleng atau botol bekas dan bersumbukan tali tambang. Yang tentu saja sudah tak ditemukan lagi.
Ya, ini adalah sebuah lampu tradisional yang dulu banyak dipakai oleh masyarakat kita. Namun, karena kemajuan zaman, lampu itupun tergeserkan dan diganti dengan lampu listrik yang jauh lebih praktis dan bersih. Istilah lampu colok banyak digunakan di Sumatera, terutama Riau dan sekitarnya. Kalau di Jawa, istilah ini barangkali sama dengan lampu senthir. Read the rest of this entry »
Posted by Vizon | Posted in bunga rampai | Posted on 17-12-2009
Hijrah, secara fisik bermakna perpindahan seseorang dari suatu tempat ke tempat lain dengan tujuan tertentu. Sementara secara maknawi, hijrah bermakna perpindahan seseorang dari sikap yang tidak baik menjadi lebih baik.
Aku telah mengalami beberapa kali hijrah secara fisik. Pertama, di tahun 1985, setamat dari sekolah dasar, aku hijrah dari tanah kelahiranku, Duri-Riau, menuju desa Gontor di Ponorogo Jawa Timur. Selama enam tahun aku berada di sana. Berbagai pengalaman dan pengetahuan telah kureguk, dan itu telah berhasil memberi pengaruh sangat besar dalam hidupku.
Kedua, pada tahun 1992, aku hijrah ke kota Padang. Karena kecewa tidak dapat melanjutkan kuliah ke Mesir, akupun memilih untuk kuliah di kampung halaman leluhurku itu. Terbersit sebuah niat di hati untuk belajar bersungguh-sungguh demi membuktikan kepada khalayak bahwa lulusan dalam negeri tetap dapat bersaing dengan lulusan luar negeri. Apakah sekarang aku sudah dapat membuktikannya? Entahlah, yang pasti, saat ini aku sangat bersyukur karena dengan kuliah di kota Padang membuatku tidak buta sama sekali dengan adat budaya asalku.
Ketiga, pada tahun 1997, aku hijrah ke kota Pekanbaru. Beasiswa S2 di IAIN Sulthan Syarif Qasim telah mengantarku ke kota itu. Meski aku lahir dan dibesarkan di kota Duri yang berjarak hanya 4 jam perjalanan ke kota Pekanbaru, tapi pengetahuanku akan ibukota propinsi Riau tersebut sangatlah minim. Ketika mulai menginjakkan kaki di kota tersebut, aku cetuskan niat untuk menggali sebanyaknya pengetahuan dan pergaulan di situ. Dan, alhamdulillah, niatan itupun tercapai. Sebuah kampung bernama Limbungan di Rumbai telah menjadi kampung keduaku. Warga di situ telah berhasil memberi makna berarti bagi kehidupanku dan keluarga. Kampung itu, telah sangat identik dengan kami. Read the rest of this entry »
Kunjunganku ke Sumbar ternyata berbonus kopdar dengan beberapa blogger ngetop. Mereka adalah orang-orang yang lumayan akrab di dunia maya, tapi belum pernah bertemu muka.
Padang
Begitu sampai di kota ini, aku coba kontak Imoe dan Arif. Ternyata, cukup sulit untuk bertemu pada situasi seperti ini. Imoe yang tengah sibuk dengan urusan recovery mental anak-anak bersama Lembaga Perlindungan Anak, berusaha mencari celah waktu untuk dapat bertemu. Sementara Arif, yang masih muda belia itupun harus berusaha menyusun strategi agar dapat izin keluar malam dari sang ayah. Akhirnya, dengan berbagai usaha, kamipun berhasil bertemu. Read the rest of this entry »
Posted by vizon | Posted in keluarga | Posted on 14-05-2009
Namanya Muhammad Nazhif Ardhi. Kami ingin memanggilnya Nazhif, tapi lidah cadelnya belum bisa begitu fasih menyebut nama kecil itu. Justru yang muncul adalah Ajib. Karena makna kata “ajib” cukup bagus, yakni dalam bahasa Arab berarti “luar biasa” atau “amazing”, maka kamipun sepakat untuk memanggilnya dengan nama kecil ini.
Hari ini, lima tahun yang lalu, putra ketiga kami ini lahir ke muka bumi. Peristiwa jelang kelahirannya cukup dramatis.
Ketika itu, istriku sudah merasakan pada pagi hari tanda-tanda akan segera melahirkan. Akupun segera mengantarnya ke rumah bersalin yang letaknya tidak jauh dari rumah kami di Rumbai, Pekanbaru. Karena menurut Bu Bidan waktu melahirkan masih lama, maka kami putuskan untuk kembali ke rumah.
Di saat itulah, kakak sepupuku datang. Dia yang tinggalnya di Duri, kebetulan ada keperluan ke Pekanbaru, dan menyengajakan diri untuk mampir. Mengetahui kalau istriku sudah mendekati waktu melahirkan, kakakku pun menawarkan untuk melakukan persalinan di rumah sakit miliknya, di kota Duri. Read the rest of this entry »
Posted by vizon | Posted in pendidikan | Posted on 18-03-2009
“Abang ditempatkan di STAIN Curup!”
“Curup?, dimana itu?”
“Bengkulu bang”
“Apa tidak bisa ditukar?”
“Tidak bang!”
Dialog sembilan tahun yang lalu itu masih terekam dengan jelas di benakku. Ketika itu sahabatku Qohar menelpon memberitahukan penempatanku sebagai dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Curup. Aku sangat kaget menerima kenyataan itu. Betapa tidak? Melalui program pembibitan calon dosen IAIN/STAIN se-Indonesia yang aku ikuti, aku merupakan utusan dari IAIN Pekanbaru, tempat asalku. Seharusnya, di situlah aku ditempatkan. Tapi ini tidak…! ah, galaunya diriku! Read the rest of this entry »