<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SURAU INYIAK &#187; rumah sementara</title>
	<atom:link href="http://hardivizon.com/tag/rumah-sementara/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hardivizon.com</link>
	<description>just another way to know</description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Sep 2010 03:35:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>pintu itu terbuka..</title>
		<link>http://hardivizon.com/2009/05/29/pintu-itu-terbuka/</link>
		<comments>http://hardivizon.com/2009/05/29/pintu-itu-terbuka/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 00:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>vizon</dc:creator>
				<category><![CDATA[jogja]]></category>
		<category><![CDATA[gempa]]></category>
		<category><![CDATA[kweni]]></category>
		<category><![CDATA[qatar]]></category>
		<category><![CDATA[rumah sementara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://surauinyiak.wordpress.com/?p=708</guid>
		<description><![CDATA[Mohon dibaca juga tulisan sebelumnya: untuk dikenang dan dia mengemis. Bangun pagi, badanku terasa segar. Aku tidur pulas semalam rupanya. Agaknya perasaan tenang telah berada kembali di Jogja, membuat tidurku menjadi nyenyak, meski hanya di dalam tenda. Beberapa saat setelah subuh, suasana berangsur-angsur terang oleh sinar matahari yang mulai muncul. Aku berniat membereskan isi rumah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="fblike_button" style="margin: 10px 0;"><iframe src="http://www.facebook.com/plugins/like.php?href=http%3A%2F%2Fhardivizon.com%2F2009%2F05%2F29%2Fpintu-itu-terbuka%2F&amp;layout=standard&amp;show_faces=false&amp;width=450&amp;action=like&amp;colorscheme=light" scrolling="no" frameborder="0" allowTransparency="true" style="border:none; overflow:hidden; width:450px; height:25px"></iframe></div>
<p style="text-align:justify;">Mohon dibaca juga tulisan sebelumnya: <a href="http://surauinyiak.wordpress.com/2009/05/27/untuk-dikenang/">untuk dikenang</a> dan <a href="http://surauinyiak.wordpress.com/2009/05/28/dia-mengemis/">dia mengemis</a>.</p>
<p style="text-align:justify;"><!-- 		@page { margin: 2cm } 		P { margin-bottom: 0.21cm } --></p>
<p style="text-align:justify;">Bangun pagi, badanku terasa segar. Aku tidur pulas semalam rupanya. Agaknya perasaan tenang telah berada kembali di Jogja, membuat tidurku menjadi nyenyak, meski hanya di dalam tenda.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa saat setelah subuh, suasana berangsur-angsur terang oleh sinar matahari yang mulai muncul. Aku berniat membereskan isi rumah yang berantakan dan belum sempat kubereskan sejak gempa tempo hari.</p>
<p style="text-align:justify;">Kubuka pintu masuk dan kulihat rak bukuku masih tergeletak di lantai dengan beberapa buku yang berserakan di sisinya. Rak itu nyaris mencelakakan putri sematawayangku, Satira.<span id="more-708"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-709" title="rak buku" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2009/05/rak-buku.jpg?w=300" alt="rak buku" width="189" height="142" />Ketika itu, Satira sedang menghabiskan sarapannya, dia bersiap akan berangkat sekolah. Posisi duduknya menghadap ke meja bundar rendah yang berada tepat di depan rak berisi penuh buku itu. Istriku menyapu di teras yang berjarak tidak jauh dari situ, ditemani putra bungsuku, Fatih, di dalam <em>babywalker</em>-nya. Di saat mereka sibuk dengan urusan masing-masing, tiba-tiba goncangan hebat itu terjadi. Spontan istriku melempar sapu yang ada di tangannya, menggendong Fatih, dan menarik tangan Satira, lantas berlari keluar rumah. Beberapa detik kemudian, rak itu pun roboh, melemparkan seluruh isinya, menimpa meja yang ada di depannya dan membuat meja itu patah. Aih… seandainya istriku terlambat beberapa detik saja, sulit ku bayangkan apa yang akan terjadi kepada Satira putriku. Tak henti kuucapkan syukur atas semua itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Selesai membereskan rumah, hari sudah mulai beranjak siang. Kubersihkan diriku. Aku berencana hari itu akan memulai petualangan, mencarikan bantuan untuk warga kampung Kweni.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan rekomendasi dari kakak sepupuku yang bekerja di kantor Wapres, kutemui seorang rekan kerjanya yang ditugaskan mengurusi penanganan bantuan di kantor Gubernur DIY. Tapi sayang, aku terlambat. Bantuan berupa bahan makanan baru saja habis dibagi. Tidak ada yang tersisa. Kucoba pergi ke kantor Bupati, lagi-lagi kondisi yang sama kutemukan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tengah kekecewaan itu, tiba-tiba pikiranku tertuju kepada sahabatku, Fakhrurrozi. Sahabatku sesama alumni Gontor yang asli Jogja.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#ff6600;">&#8220;Zi, apa kabar?&#8221;</span><br />
<span style="color:#339966;">&#8220;Alhamdulillah baik, ente bagaimana Zon? Aman sajakah?&#8221;</span><br />
<span style="color:#ff6600;">&#8220;Keadaanku baik-baik saja, hanya kampungku yang parah&#8221;</span><br />
<span style="color:#339966;">&#8220;Ya, aku dengar Kweni termasuk yang parah”</span><br />
<span style="color:#ff6600;">&#8220;Zi, tolong carikan bantuan makanan dong buat kampungku, kami kekurangan nih&#8221;</span><br />
<span style="color:#339966;">&#8220;Ah, kebetulan sekali. Ini aku baru dapat paket makanan dari relawan Gresik, ente ke sini saja&#8221;</span><br />
<span style="color:#ff6600;">&#8220;Sungguh…? Ok, aku segera ke tempatmu&#8221;</span></p>
<p style="text-align:justify;">Tanpa pikir panjang, kupacu sepeda motorku ke Tegalsari, Banguntapan, rumah sahabatku itu. Sesampai di sana kulihat pemandangan yang mengharukan sekali. Rumah sahabatku itu dijadikan posko relawan. Banyak relawan yang berdatangan dari berbagai daerah. Ada yang memberi bantuan logistik, ada juga yang memberi bantuan tenaga, membantu membersihkan puing-puing rumah warga. Suasananya terlihat sangat sibuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan mudah kutemukan dirinya. Lelaki bertubuh tambun itu terlihat memberikan arahan kepada beberapa relawan. Melihat kedatanganku, diapun berhenti dari obrolannya dan memperkenalkan diriku kepada teman-temannya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#339966;">“Ente lihat mobil pick-up itu?”</span>, ujar Rozi sambil menunjuk ke sebuah mobil di depan rumahnya.<br />
<span style="color:#ff6600;">“Ya, kenapa?”</span><br />
<span style="color:#339966;">“Di dalamnya sudah terdapat 160 paket makanan, kalau ente mau, silahkan bawa ke Kweni”</span><br />
<span style="color:#ff6600;">”Ente serius Zi?”</span><br />
<span style="color:#339966;">“Serius… Kami baru saja dapat dari Gresik, belum kami putuskan akan disalurkan kemana. Pas sekali ente datang, ya sudah, berarti ini adalah rejekinya warga Kweni”</span><br />
<span style="color:#ff6600;">“Alhamdulillah, terima kasih banyak. Bisa kita bawa sekarang?”</span><br />
<span style="color:#339966;">“Ayuk…”</span></p>
<p style="text-align:justify;">Sesampai di Kweni, kutemui Pak RT. Kuberitahukan tentang apa yang baru saja kuperoleh. Bapak yang sudah sepuh itu menyambut dengan sukacita. Tanpa menunggu lebih lama lagi, wargapun kami kumpulkan. Paket yang berisi 10 kg beras, 1 kg gula, mie instant, ikan asin, garam dan minyak goreng itu terbagi dengan rata ke masing-masing kepala keluarga. Ah, tak dapat kusembunyikan, betapa bahagianya diriku melihat senyuman tersungging di wajah mereka. Insya Allah dalam beberapa hari ke depan, mereka tidak akan kelaparan, dan tentunya mereka tidak perlu lagi mengemis di pinggir jalan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sejak saat itu, aku terlibat aktif di posko relawan-nya Rozi. Berbagai kegiatan kuikuti. Sedikit demi sedikit, bantuan logistik mulai masuk ke Kweni. Sampai akhirnya, bantuan itupun sudah berlebih dan nyaris mubazir. Di saat itulah aku mulai berpikir, bahwa bantuan logistik sudah tidak perlu lagi kucarikan. Ada hal lain yang tidak boleh diabaikan, yakni rumah warga.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurutku, tinggal dalam waktu lama di tenda secara bersama-sama tidaklah baik. Bisa dipastikan nantinya akan muncul persoalan sosial. Namun, untuk kembali ke rumah masing-masing sudahlah pasti tidak mungkin, karena rumah mereka sudah rata dengan tanah. Menunggu reaksi Pemerintah soal rekonstruksi aku sangat yakin akan membutuhkan waktu yang panjang. Dari berita yang kubaca, Pemerintah kala itu sibuk berdebat soal besaran bantuan. Aku tidak tahu pasti apa yang sedang mereka persoalkan. Tapi, yang jelas, aku yakin, kalau bantuan pembangunan kembali rumah warga akan sangat lama terealisir.</p>
<p style="text-align:justify;">Menyadari hal itu, kulontarkan sebuah ide kepada Pak RT. Yakni, mencarikan bantuan untuk mendirikan rumah-rumah sementara bagi warga. Rumah sementara itu terbuat dari bahan yang sederhana saja yakni bambu, gedek dan atap seng. Ukurannya sekitar 4&#215;4 meter. Intinya hanyalah ingin memindahkan penampungan warga, dari tenda ke bangunan yang sedikit lebih kokoh dan mampu melindungi mereka dari panasnya matahari maupun dinginnya malam. Dan yang terpenting lagi, agar mereka dapat tetap memiliki <em>privacy</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Pak RT menyambut baik usulku itu. Kamipun berbagi tugas. Warga yang memiliki kecakapan di bidang bangunan, diminta untuk menggambar sketsa rumah sementara tersebut dan menghitung biayanya. Aku, bertugas membuat proposal dan menyebarkannya kepada orang-orang yang aku kenal atau lembaga tertentu.</p>
<p style="text-align:justify;">Proposalpun kusebar ke seluruh penjuru dunia, via pos maupun dunia maya. Tanpa harus menunggu lama, email yang kukirim mendapatkan respon. Sedikit demi sedikit, bantuan uang dari sahabat-sahabatku, baik yang di luar negeri maupun dalam negeri mulai berdatangan. Seberapapun uang terkumpul, segera kami belikan bahan dan dirikan rumah sementara yang kami maksud, secara bergotong royong.</p>
<p style="text-align:justify;">Alhamdulillah, selang beberapa minggu, hampir seluruh warga yang rumahnya roboh berhasil kami bangunkan rumah sementara, berlokasi tidak jauh dari rumah aslinya. Dengan demikian, tenda-tenda sudah tidak diperlukan lagi. Warga sudah punya rumah, meski sederhana. Mereka bisa tenang membereskan rumah mereka dan bekerja kembali untuk melanjutkan hidup.</p>
<p style="text-align:justify;">
<div id="attachment_710" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-710" title="barak" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2009/05/barak.jpg?w=300" alt="Rumah Sementara, tempat penampungan warga, sebagai pengganti tenda" width="300" height="225" /></dt>
</dl>
</div>
<dd class="wp-caption-dd">Rumah Sementara, tempat penampungan warga, sebagai pengganti tenda</dd>
<dl></dl>
<div class="mceTemp mceIEcenter">
<dl class="wp-caption   aligncenter">
<dt class="wp-caption-dt"><img class="size-medium wp-image-713 " title="barak2" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2009/05/barak21.jpg?w=300" alt="DR. Khaled, pendonor dari Qatar. Sebagian besar donasi kami peroleh dari beliau" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">DR. Khaled, pendonor dari Qatar. Sebagian besar donasi kami peroleh dari beliau</p></div>
<p style="margin-bottom:0;text-align:justify;">Akhirnya, aku sadari bahwa musibah ini memiliki hikmah tersendiri bagiku. Kejadian ini telah membukakan pintu “persaudaraan” bagiku terhadap warga Kweni. Aku yang awalnya pesimis bisa dengan cepat beradaptasi, karena bahasa dan budaya kami yang sangat jauh berbeda, ternyata berjalan dengan cepat, bahkan lebih cepat dari apa yang kubayangkan. Aku tidak sekedar merasa menjadi pendatang di kampung itu, tapi lebih dari itu, aku merasakan kalau Kweni adalah kampungku. Terima kasih Tuhan&#8230; <img src='http://hardivizon.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:right;">(<em>mengenang 3 tahun gempa Jogja</em>)</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="alignright size-medium wp-image-714" title="vizon-barak" src="http://surauinyiak.files.wordpress.com/2009/05/vizon-barak.jpg?w=300" alt="vizon-barak" width="173" height="130" /></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hardivizon.com/2009/05/29/pintu-itu-terbuka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
